TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 98. Pemulihan 1


__ADS_3

Almya sedang mendorong kursi roda yang di duduki oleh Intan, di sebelah mereka ada Maya yang mengikutinya. Hari ini adalah hari Sabtu, Hari dimana Cindy mengatakan akan mengobari Arin dan Intan menggunakan Healingpod. Awalnya keduanya sangat enggan dan ingin menolak permintaan itu, sampai akhirnya pada jumat malam Maya mendapat telepon dari Cindy, gadis itu mengatakan persiapan sudah selesai. Dengan begitu keduanya tidak dapat menolak lagi.


Wajah Intan sangat terlihat cemas saat ini, dia takut untuk bertemu kembali dengan Arin saat ini, setelah dirinya sadar, dia terus menerus mencemaskan temannya, tapi setelah mengingat apa yang telah dia lakukan saat itu, ia menjadi ragu dan tidak ingin menemui Arin hingga dia siap.


“A.. Apa-.”


Gadis itu ingin mengatakan sesuatu tapi berhenti.


“Kenapa tan ?”


Almya bertanya tetapi Intan tidak menjawab lalu menundukan kepalanya.


Sesampainya di depan rumah sakit mereka di sambut oleh seseorang yang membawa mobil.


“Apakah kamu Almya ?”


“Iya.”


“Lalu gadis itu adalah Intan kan ?”


“Benar, Anda siapa ya ?”


“Nona muda kami, meminta untuk menjemput kalian !”


Setelah mendengar itu, mereka menyadari kalau orang itu adalah orang yang di minta Cindy untuk menjemput mereka.


“Kalau gitu ayo masuk !.”


“Arin-, Cindy mana ya ?”


“Mereka sudah berangkat terlebih dahulu.”


“.…..”


Mendengar itu, ekspresi Intan terlihat kecewa, tapi pada saat bersamaan dia merasa sangat lega karena tidak akan bertemu dengan Arin.


Almya serta Maya yang menyadari itu menghela nafas mereka.


Maya mengangkat Intan masuk ke dalam mobil, sedangkan Almya melipat kursi dan memasukannya ke bagasi mobil.


Dalam perjalanan Intan diam dan terlihat sangat gelisah, karena dia saat ini tidak mau bertemu dulu dengan Arin, karena tidak harus berbuat, berkata apa kepadanya.


Sampai tampa dia sadari akhirnya mobil itu sudah sampai di Universitas selatan, mereka turun lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung. di sana mereka di sambut oleh Haqi serta Alvan yang berdiri di depan pintu utama.

__ADS_1


“Kalian sudah datang !”


“Yo Prince.”


Dengan wajah mengejek Maya memanggilnya.


“Itu kah Hal yang pertama kamu katakan ?”


Dengan jengkel Alvan membalasnya.


“Prince itu adalah sebutanmu kan !.”


“Berisik gadis pemarah.”


“Sudah, Sudah.”


Sambil tertawa Haqi menghentikan mereka.


“Oh iya mana Arin ?.”


Almya bertanya.


“Ah itu mereka tadi bilang mau makan, jadi lagi beli sesuatu di kantin, bentar lagi juga balik lagi, jadi ayo sekarang kita ke lab Maria.”


Haqi berjalan di ikuti oleh semuanya dari belakang.


“Bentar, Itu Arin jalan ?”


“Bukannya tulang pada kakinya retak ?, aku melihat kedua kakinya menggunakan Gips saat terakhir berkunjung ke kamar !”


Almya dan Maya yang terkejut tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.


“Ahahaha… itu-.”


Haqi menjawab dengan ragu.


“Dia bilang ingin berjalan sendiri, meskipun kami dengan keras menolak, tapi gadis itu langsung merobeknya lalu berdiri dari kasur.”


“Normalnya manusia akan mengalami sakit dengan luka seperti itu.”


Alvan berbicara dengan ekspresi heran di wajahnya.


Mereka datang mendekati ketiga gadis itu, mereka saling menyapa, Arin juga menyapa Almya, tetapi dia melewati Maya serta Intan lalu berjalan menuju lab dimana Maria.

__ADS_1


Semua orang menyadari kalau gadis itu menghindari Intan dan Maya saat ini, mereka mengikutinya dari belakang.


Almya, Maya dan Intan terkejut dengan keamanan yang berada di lorong lab, mereka ketakutan melihat robot yang sedang melakukan patroli, akhirnya Haqi menjelaskan sedikit kenapa keamanan menjadi seperti ini.


“Sungguh ?”


“Karena penelitian Maria di curi ?”


“Haha, yah dia adalah salah satu peneliti ternama di pulau Aurora kan-, memang wajar sih kalau lab tertama kecolongan pasti akan gini.”


Sebuah adegan gila muncur dalam pikiran Almya, dia membayangkan semua Robot, yang sedang berpatroli di sana mengincar mereka lalu menyerang secara membabi buta, akhirnya dia tidak dapat menyembunyikan ekspresi takut, wajahnya mulai membiru.


Mereka terus berbicang sampai akhirnya, Maya melihat kearah Arin yang berjalan seakan kakinya baik-baik saja.


“Hey.. Apa kakimu tidak sakit ?”


Meskipun dia tau sedang dihindari, tapi dengan cuek dia bertanya.


“Sakit ?”


Ada selang waktu beberapa detik sampai pertanyaan itu di jawab.


“Rasa sakit yang kurasakan sudah mati, hari itu.”


Tanpa membalikan badannya dia berjalan terus, tentu saja Arin merasakan sakit di seluruh badannya, efek tekanan dari gravitasi yang digunakan oleh Intan, sampai sekarang masih terasa oleh tubuhnya, jika itu orang biasa pasti akan langsung menangis jika tersenggol sedikit saja, tapi Arin mampu berjalan seperti biasa tanpa masalah, gadis itu berjalan sembari melihat telapak tangannya.


Mendengar perkataan itu semua orang berhenti berjalan.


Haqi mengepalkan tangannya sekuat tenaga, Alvan serta Cindy saling memandangi satu sama lain, Gina memasang ekspresi sedih berdiam sebentar tapi langsung mengejarnya.


“ARIN JALANNYA PELAN-PELAN.”


“Ya.”


(Huh.. Mati ya, tanpa basa basi dengan mengatakan itu.)


Maya menggaruk kepalanya, dengan ekspresi rumit di wajahnya.


(Arin.)


Intan yang tidak tau harus berbuat apa hanya dapat memanggil nama sahabatnya di dalam hati, yang bisa dia lakukan saat ini hanya menyesali apa yang telah dia perbuat.


“Ayo jalan.”

__ADS_1


Cindy mengajak semuanya untuk kembali berjalan, sama dengan semua orang tentu dia mencemaskan Arin, Seorang gadis yang usianya sama seperti dirinya, tetapi memiliki ekspresi, tingkah laku yang berbeda dari gadis SMA pada umumnya.


Semua orangpun mengangguk lalu mengikuti gadis itu dengan perlahan.


__ADS_2