
“Maaf sudah ganggu ya Rin.”
Mereka akhirnya meminta maaf sembari menundukan kepalanya.
Arin berjalan kearah sebuah batu, diatasnya ada sebuah botol minum yang sudah dibelinya.
“Tidak apa-apa aku memang ingin beristirahat.”
Dia membuka botol itu lalu meminumnya, Setelah selesai ia menetakannya kembali di atas batu, lalu berbaring di rumput lalu menatap kearah langit.
Arin sangat santai, tidak peduli dengan sekitarnya. Ketiga orang itu menatap Arin lalu duduk di rumput sembari melihat air sungai yang mengalir.
Maya, Naila dan Riana membicarakan kegiatan apa yang akan mereka lakukan selama liburan kali ini. Ketiganya terlihat mengobrol dengan santai, Maya memandangi Arin yang hanya diam menatap langit.
(Apa dia sedang memikirkan Intan ?)
Pemikiran itu salah besar, Saat ini Arin hanya diam menghitung awan, dan melihat-lihat bentuk dari mereka yang unik.
(50, 51, 52, ah yang itu bentuknya kaya burung.)
Arin tidak ingin memikirkan apapun, dia hanya ingin bersantai.
“Apa yang akan kamu lakukan saat libur rin ?”
Riana bertanya sembari menoleh ke samping.
“.....”
“.....”
“Membaca komik, novel, bersantai.”
Dengan jeda yang cukup panjang dia menjawabnya.
“Bersantai ya, seperti sekarang ?”
“Ya.”
Jawabanya benar-benar sangat singkat, Riana terlihat sangat kesepian karena itu, setelah berlatih bersama, Arin yang membantu Tim basket menuju kemenangan. Saat itu Dia terlihat lebih akrab tidak seperti sekarang.
(Kalau bukan karena pertengkarannya dengan Intan, apakah kami akan lebih dekat dengannya ?)
Dia benar-benar berharap dapat menjadi dekat dengan Arin, Riana sangat menghormatinya sejak pertama kali bertemu dan bertanding. Dengan gerakan halus yang sangat indah, membuat dirinya terpesona dengan gadis itu.
__ADS_1
“Kalau aku ingin berlibur ke pantai !”
Naila mengajukan pendapatnya, matanya terlihat bersinar seperti anak kecil yang di berikan sebuah hadiah.
“Gimana kalau kita pergi bersama seluruh anggota klub basket ?”
Riana tersenyum lalu menoleh sembari berbicara, angin berhebus menghembuskan rambutnya. Jika lawannya adalah seorang pria, saat melihat itu mereka mungkin akan langsung jatuh cinta dengannya.
“Ide bagus kak, aku setuju.”
Naila berdiri lalu meloncat-loncat, terlihat dari ekspresinya kalau saat ini dia sangat senang.
“Gimana kalau kamu ikut rin ?”
“Tidak.”
“Eh !!!”
“.....”
Arin hanya diam tanpa ekspresi sembari menikmati angin yang berhembus di sekitarnya.
“Kapan kau akan berbaikan dengan Intan ?”
Karena rasa penasaran yang sudah menumpuk, akhirnya Maya bertanya dengan Nada datar, Riana serta Naila memasang ekspresi cemas sembari memandanginya.
(Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, padahal kamu yang bilang untuk menjauhkan topik ini !)
Naila terlihat sangat kesal lalu menyikut perut Maya dengan cukup keras.
Suasana di sekitar mereka menjadi sangat canggung, tidak ada satupun orang yang berbicara sampai akhirnya suara terdengar dari gadis yang sedang berbaring.
“Apa kamu bertanya padaku ?”
“Tentu !”
“.....”
“Diantara kita semua, yang bertengkar dengan Intan cuman kamu !”
Mata kedua gadis yang berada di pinggir Maya, saat ini sangat menakutkan, tatapan mereka sangat sinis seolah-olah bisa membunuh lawan hanya dengan menatapnya.
Riana dan Naila sangat marah, karena bagi mereka ini pertanyaan sensitif yang harusnya tidak ditanyakan seperti ini dengan wajah datar seperti itu.
__ADS_1
“Entahlah.”
“Hah ?”
Bukan hanya Maya, Riana serta Naila terkejut dengan jawaban dari Arin, dari nadanya gadis itu seolah-olah tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan ini. Dalam pemikiran mereka bertiga, yang sudah melihat Arin serta Intan melakukan duet secara langsung. Ketiganya berpikir bahwa ikatan persahabatan mereka sangat dekat, tetapi nada dari jawaban Arin terdengar kalau gadis itu sudah tidak peduli lagi.
“Jadi kamu tidak ingin berbaikan dengan Intan ?”
Maya meremas rumput yang berada di tangannya.
Arin menutup matanya, dia tidak menjawab pertanyaan itu sama sekali, semua orang yang berada di sana hanya diam menatap kearahnya.
Sampai akhirnya Arin perlahan berdiri lalu berjalan mengambil botol minumnya, menutup wajahnya menggunakan hodie lalu berjalan menjauh mereka, tetapi gadis itu diam untuk sesaat lalu menoleh ke belakang.
“Aku sudah tidak peduli !”
Dengan nada datar, tatapan tajam gadis itu berbicara.
Mendengar jawaban serta ekspresi Arin, ketiganya hanya diam sembari melihat gadis itu berjalan menjauh dari mereka.
“Ekspresi Arin menakutkan !”
“Benar, ini pertama kalinya aku melihat itu !”
Berbeda dengan Riana dan Naila, Maya benar-benar terkejut, dia hanya diam tanpa berbicara sama sekali, dia pernah sekali melihat tatapan menyeramkan dari Arin, itu adalah saat dia keluar dari rumah sakit, saat mereka menjenguk Intan yang di serang oleh orang-orang dari SMA Utara.
(Apa dia serius ?)
Ekspresi menakutkan yang dikeluarkan tadi adalah ketika Arin benar-benar Marah dan kesal akan sesuatu, Maya merasakan kalau amarahnya disalurkan kepadanya bulu kuduknya berdiri, meskipun ia pernah melihatnya, tetapi waktu itu tidak dikeluarkan untuk dirinya, tetapi kepada orang lain. Sekarang dia dapat merasakan aura membunuh yang dikeluarkan oleh Arin.
“Dugaanku benar, kalau gadis itu tidak boleh di buat marah !”
Dengan nada kecil Maya bergumam.
Kedua orang yang berada di sampingnya mendengar itu memiringkan kepala mereka dengan terheran-heran.
“Kenapa May ?”
“Ah tidak.”
“Tapi-.”
“Aku hanya berpikir.”
__ADS_1
Maya menoleh kepada Riana dan Naila.
“Apakah Arin serius mengatakan, kalau dia sudah tidak peduli lagi !”