TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 85. Pengintaian 3


__ADS_3

Sssttt… sssttt… sssttt…


Empat orang pria sedang memandangi sebuah layar monitor, pada monitor itu terlihat tulisan drone 01, layar yang di tampilkan hitam.


“Apa yang terjadi ?”


“Entah lah, tapi sabungan dengan drone nomer 1 telah terputus begitu saja.”


Saat drone yang mereka kendalikan sedang mengawasi 4 orang yang berdiri di atap rumah sakit barat, tiba-tiba saja sinyalnya terputus. Mereka terlihat sangat kesal dengan kejadian ini.


“Haaaaa… Penyadap yang kita simpan juga sudah di hancurkan oleh Prince.”


“Rank S sunggu hebat ya, Gimana dengan data sisanya ?, apa kalian sudah dapat mengetahui mereka ?”


Orang yang duduk depan komputer membuka sebuah file dan memperlihatkan kepada rekan-rekannya.


“Rank S Alvan, Rank A Maria, Chanan, Cindy. Rank B Kalia, Haqi, lalu Rank E Arin, Gina. mereka adalah orang-orang yang selalu berinteraksi dengan wanita bernama Maria.”


“Sebentar, gadis yang diatap tadi siapa tidak ada dalam daftar ini ?”


Orang itu menujuk dan memandangi daftar nama yang keluar.


“Ah sebentar anak itu kalau tidak salah ini.”


Dia mengeluarkan data milik Ina dan menunjukannya kepada seluruh anggota.


“Tunggu bukannya anak ini ?”


“Ina dari SMA Utara, Dia tertangkap oleh shield kan, kenapa anak ini bisa berkumpul dengan mereka ?”


Salah satu dari mereka bangkit dan berdiri mendekati monitor, karena melihat wajah yang dia kenal.

__ADS_1


“Kau mengenalnya ?”


“Tentu saja aku yang memberikan obat kepada kevin serta teman-temannya, dan gadis ini adalah salah satu dari mereka !!”


“Itu benar terlebih lagi, kemungkinan besar dia lah yang memberikan obat itu kepada gadis bernama Maria.”


“Sialan, seharusnya kita melakukan sesuatu kepada gadis itu, waktu kita menyelamatkan Kevin dan teman-temannya.”


Pria itu terlihat kesal dan membandingkan tanggannya keatas meja.


“Tenang lagi pula kita sudah mengambil obat itu kembali.”


“Benar.”


“Karena di sana Ada Prince, Kita akan sulit untuk memata-matai mereka menggunakan penyadap atau drone.”


Salah satu pria yang dari tadi diam, menggunakan jaket berwarna hitam berdiri dan berbicara.


“Apa kamu akan turun tangan sendiri ?”


“Tidak…”


Pria itu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


“Kita akan gunakan mereka.”


“Mereka ?”


“Orang-orang bodoh yang memakan pil yang kita berikan.”


------------------------------------

__ADS_1


Terjadi kepanikan yang luar biasa di rumah sakit barat, Pasien serta keluarga bersikeras pergi keluar meninggalkan rumah sakit, meskipun kondisi pasien yang di rawat belum stabil dan sehat. Mereka sangat ketakutan dengan bom yang meledag, meskipun setelah itu tidak terjadi apa-apa.


Beberapa media langsung meliput kejadian itu dan membuat kepanikan semakin menjadi-jadi, Setelah melakukan penyelidikan, petugas keamanan mengatakan bahwa ledakan itu disebabkan akibat oleh konsletnya alus listri pada gardu yang berada di lingkungan sekitar itu. Mereka berusaha memanipulasi media agar kepanikan berkurang.


Tetapi tetap saja orang-orang tidak langsung percaya, karena jika terjadinya konslet seharusnya lampu di kota itu akan mati, tetapi ini tidak.


Jam menunjukan pukul 00.20 situasi rumah sakit menjadi sepi dan hanya tersisa beberapa orang saja.


Alvan yang masih bangun berdiri dan menggunakan kekuatannya untuk mengecek apakah ada penyadap yang terpasang di ruangan 608 dimana Arin di rawat. Dia dengan hati-hati mengeluarkan elektromagnetik, agar alat kesehatan tidak rusak karena terkena kekuatan miliknya.


Terlihat Ina dan Gina yang tertidur di sofa dan Maria duduk pada kursi di dekat jendela, sedangkan Arin yang berbaring di kasur, seluruh tubuhnya di tutupi oleh selimut.


Alvan berjalan mendekati kasur itu dan merangkak ke bawah tempat tidur.


(Sejak kapan ?)


Dia mengambil sebuah benda seukurang kancing yang menempel di sana.


(Tidak kusangka bahkan mereka dapat memasang penyadap di dalam kamar ini tanpa kita ketahui.)


Alvan kembali mengecek dengan teliti dan berjalan kearah kulkas.


Dia melihat kebelakang mesin itu lalu mengambil kembali sebuah benda.


(Baiklah, Kurasa mereka hanya memasang 2 penyadap dalam kamar ini.)


Szzzzzztttt… Bam….!!


Terjadi ledakan kecil pada telapak tangan miliknya, Alvan memegang kedua benda itu dan mengaliri nya dengan listrik.


“Siapa mereka ?, bahkan bisa sampai memasang benda seperti ini di kamar ini.”

__ADS_1


Kemudian dia berjalan kearah meja dan mengambil sebuah cemilan lalu duduk di kursi. Dia berjaga-jaga dengan sangat waspada malam ini.


__ADS_2