
Waktu menunjukan pukul 14.20, suasana disebuah salah satu super market terbesar di daerah Barat Pulau aurora cukup ramai. Para pengunjung dikejutkan dengan seorang gadis yang sedang mendorong sebuah Shopping cart penuh dengan makanan seperti, cokelat, kripik kentang, pocky, dan makanan ringan lainya.
Seorang kasir yang menghitung barang yang di beli oleh gadis itu hanya dapat terkejut dengan jumlah yang dia bawa. Antrian yang sangat panjang terjadi di belakangnya.
“Kali ini aku sangat kesal.”
Dia menatap tajam kearah barang yang sedang dihitung.
“Sepertinya ini masih belum cukup untuk diriku sendiri, karena aku sendir,i jika membeli lebih banyak dari ini akan sulit untuk membawanya.”
Mendengar ucapan dari gadis yang berada dihadapannya saat ini, kasir itu hanya dapat menggelengkan kepalanya.
(Bentar-bentar, kamu membeli semua ini untuk dirimu sendiri, dan belum cukup ?)
“Oh iya aku juga suduh menyuruh Cindy untuk membeli makanan kan ? kukukukukukuku…”
Kasir itu mempercepat menghitung kerjaanya karena dia merasa takut dengan tawa senyuman dari gadis yang berada di depannya.
10 menit berlalu dia keluar membawa semua barang bawaan miliknya menuju rumah sakit Barat. Sepanjang jalan seluruh orang memperhatikan.
Dia sangat menarik perhatian, karena membawa 10 kantung plastik besar, masing-masing tangannya memegang 5.
“Kak Maria ?”
Seseorang memanggilnya dari belakang dia berhenti dan menoleh.
Di sana terlihat ada dua orang gadis yang berdiri dengan ekspresi heran dan menahan tawa mereka.
“Ah Kalia.”
“Kenapa belanjannya sendirian kak ?”’
“Sendirian ?”
Maria memiringkan kepalanya.
“Ah maksudmu ini ?, ini cemilan untukku kok !!!!!”
Sembari melihat ke tangan kanannya.
“Ehhh ?”
“Aku gak salah dengar kan ?”
Kalia berbisik kepada orang yang berada di sebelahnya.
“Tidak hahaha.”
“Siapa yang bersamamu ?”
“Ah ini adalah Devina, ketua kelas di kelas Arin.”
“Perkenalkan aku Devina kak.”
“Aku Maria, Kalian mau menjenguk Arin ?”
“Iya.”
__ADS_1
“Kalau gitu kita pergi bersama saja.”
“Boleh kak, dan biar kami bantu bawa membawa itu.”
“Tidak usah, aku bisa bawa ini sendirian.”
“Bukan seperti itu kakak.”
Kalia melihat sekitarnya dan beberapa orang memandangi mereka.
“Dari tadi Kak Maria dilihatin sama banyak orang.”
“Hahaha aku sih tidak peduli.”
“Tidak-tidak kami akan bantu bawa.”
Setelah mengatakan itu keduanya mengambil masing-masing 3 plastik.
“Baiklah kalau gitu, ayo pergi.”
“Iya.”
------------------------------------
“Kalia lama ya.”
Terlihat empat orang sedang duduk di sofa yang berada di ruangan 608.
“Maria juga belum kembali, padahal dia bilang akan pergi sebentar.”
“Ngomong-ngomong, bukannya ini terlalu banyak ?”
Gina memperhatikan meja yang penuh dengan berbagai jenis makanan. Dan mengambil salah satunya.
“Ini dua kali lipat dari yang kita beli waktu itu sih ya al !!”
Cindy melihat Alvan.
“Benar, waktu itu semuanya di makan oleh kak Maria, kita sama sekali tidak kebagian hahaha.”
“Iya sih, dia makannya sangat banyak hahah.”
Di saat ketiga orang itu sedang berbicara, Ina yang berada di sebelah Gina hanya bisa diam dan duduk karena gugup dengan orang yang tidak dia kenal.
(Aku tidak tau harus berbicara apa. Terlebih lagi awalnya aku pernah menyerang mereka.)
Saat pertama kali masuk ke ruangan 608 Cindy dan Alvan terkejut dengan wajah yang tidak asing. Mereka cukup waspada sampai akhirnya Gina bilang kalau Ina adalah teman Arin. Akhirnya mereka berkenalan.
“Ambillah jangan sungkan, pilih yang suka.”
Cindy menatap Ina dan mengajaknya berbicara.”
“I..iya, terima kasih banyak.”
Gadis itu menjawab dengan ragu.
“Jika itu dulu, mungkin aku akan menyimpan dendam. Tapi-.”
__ADS_1
Dia melihat gadis yang berbicara kepadanya menatap kearah Arin yang sedang berbaring dan menonton televisi.
“Biarkanlah yang sudah berlalu. Mulai sekarang kita akan berteman.”
Cindy tersenyum dan menatapnya. Ina melihat itu sangat senang dan mengeluarkan sedikit air mata.
“Terima kasih banyak.”
Alvan memperhatikan mereka tersenyum. Dia sangat senang melihat sahabatnya menjadi lebih terbuka dan ramah kepada siapapun.
TOK, TOK!!!!!!
Terdengar suara ketukan dari arah pitu.
Gina berdiri dan berjalan, tetapi sebelum sampai pintu itu terbuka.
“Maaf kami telat.”
“Eh ?”
Maria masuk dan tersenyum. Tetapi kedua gadis yang berada di belakangnya terlihat sedikit kelelahan. Dia sangat terkejut dengan 3 orang yang membawa kantung plastik besar di tangan mereka.
“Apa-apaan barang bawaanmu itu ?”
“Makanan.”
Dengan senyum lebar gadis itu mengangkan tangan katannya yang membawa dua plastik besar.
“Haaaaaaaah…”
Gina berjalan kembali menuju sofa. Maria, Kalia dan Devina mengikutinya dari belakang.
“Hoooo, ternyata makanan di sini juga sudah siap.”
Devina dan Kalia menyimpan plastik itu di lantai, mereka memegang bahu karena terasa pegal dengan barang bawaan.
“Tidak ku sangka kalau plastik ini akan sangat benar.”
“Benar, terlebih lagi kak Maria membawa mebawa itu dengan santai."
Setelah meletakan barang bawaanya Maria pergi menuju Arin dan mulai mengajaknya bicara dan memeriksa kondisinya.
“Lia kamu lama.”
Cindy memasang ekspresi kesal.
“Maaf-maaf guru menyuruh kami tadi.”
Di saat mereka sedang mengobrol Alvan berdiri dan berjalan kearah jendela dan mulai memperhatikan sesuatu. Ina yang menyadari itu bertanya.
“Ada apa Alvan ?”
“Tidak apa-apa kok.”
Dia tersenyum dan terus memandangi keluar jendela.
(Aku sangat yakin ada sesuatu yang memperhatikan kita. Tapi dari mana ?)
__ADS_1