
Terlihat dua orang sedang berada di dalam laboratorium, mereka sedang melakukan Check akhir pada mesin healingpod, keduanya sangat berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan pada sistem.
“Yosh.. aku sudah mengatur semuanya, sekarang tinggal Arin dan Intannya.”
“Baguslah-, Ah mereka sedang menuju ke sini, jadi langsung persiapkan saja.”
Maria menggunakan Angel Eyes miliknya untuk memeriksa posisi Arin.
“Menggunakan kekuatan seperti itu-, kamu kaya stalker tau.”
“Tidak apa-apa kok, lagi pula kita itu stalker Arin kan.”
“Stalker itu kamu !”
“Siapa yang memberikan Smartwatch dengan alat pelacak kepadanya ?”
Dengan senyuman Maria mengejek sembari melihat kearah Chanan, melihat ejekan itu dia memasang wajah kesal.
“Sssssss… Sialan terserah !”
“Hahaha.”
“Kalau gitu tinggal Intan ya !”
“Eh tapi Mereka sekarang sedang menuju bersama ke sini loh !”
Gadis itu memperhatikan orang-orang yang sedang berjalan menuju tempatnya berada.
“Ha ?”
“.…..”
“Kapan mereka datang ?”
“Entahlah.”
“Apa tidak, apa-apa keduanya bertemu seperti itu ?”
Chanan memasang ekspresi cemas, tentu termasuk semua orang yang bersamanya, mereka sengaja untuk menghindari keduanya untuk bertemu.
“Oleh karena itu, kita juga memisahkan mobil yang membawa mereka kan ?”
“Aku tidak tau, tapi sepertinya Arin tidak peduli.”
“Tidak peduli ?”
“Ya.”
Maria berjalan mendekati pintu masuk.
“Kami kembali.”
Di sana terlihat Arin dan Gina yang datang lalu masuk ke dalam ruangan.
“Katanya bareng tapi ko cuman ber 2 ?”
Chanan bergumam dari jauh.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, akhirnya semua orang telah berkumpul di laboratorium Maria. setelah mengobrol cukup lama akhirnya Chanan untuk segera memulai pengobatan, Arin masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya menggunakan baju renang, sedangkan para lelaki diusir oleh Gina, untuk menunggu di luar.
“Intan juga mau ganti ?”
Almya bertanya.
“.….”
“Boleh saja, tapi jangan melepaskan perban dan gips yang dikenakan.”
Intan tidak menjawab itu, dari tadi hanya menundukan kepalanya, akhirnya Maria yang menjawabnya.
“Tapi akan sulit ganti menggunakan baju renang dengan tubuhnya saat ini.”
Maya berbicara.
“Betul pasti akan sakit kan, pas ganti pakaiannya.”
“Tapi lebih baik ganti sih, karena dianjurkannya telajang atau menggunakanas pakaian renang tipis ini hahaha.”
Maria menjelaskan sembari tertawa, semuanya terkejut dengan fakta itu.
“Gimana mau telanjang ?”
Intan terkejut lalu menggelengkan kepalanya, ekspresi Aneh dia keluarkan.
“Kalau gitu lebih baik 2 orang yang bantu Intan, Gina sama Mya aja yang bantu setelah Arin.”
Arin keluar dari kamar mandi sudah mengenakan paiakan renang.
Dia berjalan menuju Maria yang sedang berdiri dekat meja kerjanya, Almya mendoron Intan masuk ke kamar mandi, diikuti oleh Gina yang memegang pakaian renang.
Arin dengan tatapan serius memandang, dirinya benar-benar tidak ingin bertatapan dengan Intan saat ini, dia hanya ingin diam sendirian tanpa gangguan siapapun.
“Maaf tapi tidak, karena akan ribet nantinya, lebih baik di nyalakannya bersamaan saja.”
Semua orang tau Arin ingn menghindari sahabatnya itu sebanyak yang ia bisa.
Maria tersenyum mencoba membohonginya, dari lubuk hatinya yang paling dalam , dia sangat ingin melihat kedua gadis itu kembali seperti semua, dia memejamkan matanya lalu melihat kilasan saat ketiga sahabat itu tertawa dan bercanda bersama.
“Cih.”
Arin menjetikan lidahnya, Halisnya menyimpit sembari mengepalkan kedua tangannya, lalu berjalan untuk duduk di kursi.
Almya dan Gina cukup kesusahan untuk membantu Intan berganti pakaian, Erangan gadis itu keluarkan saat tubuhnya digerakan, gips pada leher membuatnya kesulitan saat ingin mengganti baju, efek dari pukulan Arin masih terasa sangat sakit di setiap bagian tubuh, tulang-tulang pada tubuhnya terasa seperti disengat oleh sesuatu yang membuatnya mengeluarkan air mata, kedua gadis yang membantunya hanya bisa meminta maaf serta menyemangatinya.
5 menit kemudian ketiga orang itu keluar dari kamar mandi.
“Kami sudah selesai.”
Terlihat Intan yang masih di balut oleh perban sudah mengenakan Pakaian renang yang disiapkan oleh Maria.
“Baiklah ayo kita mulai.”
Maria memandu Arin untuk masuk ke dalam healingpod, Arin berjalan dengan ekspresi datar, setelah gadis itu berbaring dia memasangkan sebuah oksigen ke wajahnya untuk membantunya bernafas. Setelah itu dia mengangkat Intan dengan perlahan serta hati-hati, lalu melakukan hal yang sama.
“Kalian bernafas seperti biasa aja ya, nanti saat mesin menyala, akan ada cairan liquid yang keluar dan menutupi seluruh tubuh kalian, relaks saja karena kalian juga akan terbius lalu tertidur.”
__ADS_1
Kedua gadis itu menganggukan kepalanya.
“Kalau gitu kita mulai.”
Almya serta Maya berjalan dan melihat Intan, sedangkan Cindy mendekati Arin.
Maria mulai berjalan menuju meja kerjanya, dia menekan Enter pada keyboard lalu tersenyum kepada Arin.
Mesin itu mulai tertutup, lalu cairan mulai mengisinya, beberapa saat kemudian Mata Arin dan Intan tertutup.
“Oke kalau gitu kita tunggu saja.”
“Berapa lama kak ?”
“8 jam !”
“Eh bukannya lama ?”
“Tentu saja lama, kalian pikir luka yang mereka derita itu normal ?”
Maria menjelaskan.
“Bahkan ada orang yang sampai berbulan-bulan, diam di dalam healingpod tapi tidak sembuh-sembuh, kalian harusnya bersyukur.”
“Baiklah.”
Semua orang akhirnya menganggukan kepala mereka.
Cindy berjalan ke pintu menyuruh ketiga pria yang menunggu di luar masuk.
“Oh sudah di mulai ?”
“Iya.”
“Kalau gitu mau ngapain selagi menunggu ?”
Chanan bertanya.
“Yang lainya bebas, tapi Alvan dan Haqi tidak boleh pergi keluar univeritas selatan.”
“Ga boleh ?”
Mendengar pernyataan itu Almya kebingungan.
“Ah… ti-.”
“Itu karena kalau ada apa-apa mereka bisa langsung membantu mereka, YA KAN ?”
Gina pergi ke hadapan mya lalu memegang bahunya, lalu dia berbalik menatap para lelaki dengan senyuman yang menakutkan.
“Iya.”
Ketiga pria itu terkejut lalu menjawab sembari wajahnya membiru.
Maria mengajak semua orang untuk pergi ke kantin untuk membeli makanan, karena beberapa dari mereka belum sarapan, semuanya setuju lalu berangkat.
Chanan memantau healingpod menggunakan handphone miliknya, karena keamanan di laboratorium meninggkat, mereka tidak terlalu khawatir akan terjadinya penyerangan di sini, jadi mereka cukup leluasa untuk pergi.
__ADS_1
Tetapi tetap saja mereka takut terjadi sesuatu, akhirnya semuanya sepakat kalau mereka tidak akan pergi terlalu jauh.
Tentu saja Maya serta Almya tidak tahu apa-apa tentang anggota Arin yang telah menjadi Incaran. Semuanya menyembunyikan fakta ini karena tidak ingin melibatkan mereka lebih lanjut, tetapi Maya sudah cukup curiga karena Maria yang menyebabkan ledakan di Rumah sakit.