
“HEY KALIAN BERDUA AYO CEPAT.”
Terlihat tiga orang gadis sedang memanggil teman mereka yang sedang melihat pohon, di atas sana ada sebuah kucing kecil yang terus mengeong, seakan di minta untuk di selamatkan.
“Kalian berdua ngapain sih, ngeliatin pohon kaya gitu.”
“Arin, Nia bukannya mau beli Makan ayo cepat.”
Mereka berjalan mendekati dua gadis itu.
Nia berjalan mendekati pohon lalu mencoba memanjatnya, Arin yang melihat itu menatap lalu menyuruhnya untuk berhati-hati, dia memanjat dengan perlahan sembari mendengar teriakan teman-temannya yang terlihat cukup gelisah melihat tindakan dirinya.
“Ini anak tiba-tiba naik ke atas pohon.”
“Ah, ternyata kucing.”
“Iya, dari tadi kucingnya terus mengeong.”
Arin menjawab sembari memperhatikan ketiga orang yang berjalan mendekatinya.
“Haha, seorang gadis SMA memanjat ke atas pohon menggunakan rok, Nia beneran ga tau malu ya.”
“BERISIK BILA.”
Seorang gadis bernama Salsabila mengejek Nia, Karena seorang gadis sedang memanjat pohon yang cukup tinggi, di tengah kota, menggunakan seragam sekolah.
Gadis itu adalah salah satu pemain Inti di SMP Barat. Saat ini Arin sedang berjalan pulang bersama Intan, Citra, Salsabila, Nia. Mereka selesai latihan basket dan saat ini sedang berjalan menuju tempat makan favorit mereka.
Nia menaiki pohon itu dengan mudah lalu mencoba mendekat kearah batang pohon yang terdapat kucing kecil, saat dia sedang berusaha mendekati ke sana kucing itu terlihat ketakutan lalu mengeong cukup keras.
“Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu.”
Saat dia meraih badannya, tiba-tiba kucing terkejut lalu menggigit tangan kanannya.
“Aw…”
Gigitan itu terasa sangat sakit, Dengan spontan dia mengibaskan tangannya, kucing itu ikut terdorong dan terhempas jatuh ke bawah. Arin yang melihat itu dengan spontan melompat kearah kucing itu terjatuh.
“Meeeeooww.”
Kucing itu jatuh di ke punggung Arin lalu lari menjauh karena ketakutan.
“Arin kamu ga apa-apa ?”
Nia yang berada di atas pohon mencemaskannya sembari melihat tangan kananya yang mengeluarkan darah.
__ADS_1
Arin membalikan badannya lalu melihat kearah kucing itu berlari sambil tersenyum, ketiga orang yang berada di belakangnya berjalan mendekatinya dan membantunya berdiri.
“Kamu ga apa-apa rin >”
“Ya, yang penting kucing itu selamat tan.”
“Tapi gimana caranya kucing kecil seperti itu bisa naik ke atas pohon.”
Citra melihat sekelilingnya sembari memperhatikan sekitarnya, kedua tangannya di simpan pada pinggang.
“Mungkin karena di kejar oleh Anjing atau hewan lainya kan, anak itu pasti panik dan terpisah dari ibunya.”
Salsabila menjawab sembari melihat ke atas pohon.
“Nia, apa tangan mu baik-baik saja ?, cepat turun ke-.”
Sebelum dia beres mengucapkan perkataanya, Nia dengan santai melompat ke tanah. Teman-temannya terkejut lalu memasang wajah cemas.
“WOI.”
“Hahaha tenang saja.”
Gadis itu mendarat dengan selamat, tetapi karena kurang seimbang iya terjatuh lalu terduduk di tanah. Salsabila menghampiri gadis itu sembari melihatnya dengan ekspresi yang kesal.
“Eh aku juga ?”
Arin yang dibantu berdiri oleh Intan, terkejut dirinya disalahkan juga.
“TENTU SAJA, YANG SATU NAIK KE ATAS POHON LALU LOMPAT SEPERTI ITU, YANG SATU LAGI LANGSUNG LONCAT KEARAH KUCING YANG MAU JATUH.”
Terlihat dari raut wajahnya, gadis itu sangat marah karena mencemaskan kedua temannya yang bertindak gegabah untuk menyelamatkan satu ekor kucing.
“EMANG BAGUS NYELAMETIN KUCING, TAPI BISA GA SIH HARGAIN DIRI KALIAN SENDIRI JUGA.”
“Hahaha, tenang lah Bila.”
Citra yang melihat itu tertawa lalu berusaha menenangkannya.
“MEREKA SELALU SEPERTI INI TAU, BANTUIN ORANG GA JELAS, ATAU APAPUN ITU.”
Salsabila yang marah meraih bahu Nia lalu menggoyang-goyangkannya dengan keras.
“Ahaha maaf, maaf.”
“Sudah-sudah, keburu makin sore ayo cepat kita beli makan.”
__ADS_1
Intan berusaha menenangkan mereka lalu mengajaknya untuk segera pergi ke family restaurant yang biasa mereka kunjungi.
“Baiklah.”
“Apa tanganmu baik-baik saja.”
Arin melihat tangan kanan sahabatnya berdarah mendekat, terlihat dari ekspresinya dia sangat mencemaskan luka itu. darah keluar cukup banyak.
“Iya, kucing itu menggigitku dengan kuat.”
Sembari mengambil sebuah saputangan dari sakunya dia mengelap lukanya.
“Obatin dulu, nanti infeksi.”
“Kita ke restauran dulu aja, nanti aku cuci di toilet.”
Gadis itu tersenyum kepada teman-temannya.
Semua orang setuju lalu mereka semua berjalan bersama, sesampainya di sana mereka langsung memesan makanan, Nia dan Intan berjalan ke toilet untuk membersihkan lukanya.
Setelah selesai semuanya berkumpul di meja makan lalu mereka makan sembari berbincang dan bercanda bersama. Salsabila yang masih kesal terus saja memarahi Nia yang ceroboh, teman-temannya yang lain tertawa, terkadang pelayang datang menghampiri mereka lalu menegur, karena terlalu berisik dan mengganggu pelanggan lain.
Arin tersenyum melihat tingkah laku dari teman-temannya, senyum puas terlihat dari ekspresinya, dirinya sangat senang dengan situasi mereka saat ini, bisa berbincang serta bercanda bersama semua teman-teman yang sangat dia sayangi. Meskipun tidak semua dari anggota klub basket berkumpul dia sangat senang. Dia berharap kalau momen itu terus berlanjut dan tidak pernah akan berhenti.
Namun, tiba-tiba saja lampu dari restoran mati, Arin terkejut melihat ke atap.
“Ko lampunya mati ya ?”
Saat pandangannya kembali, meja yang dia duduki sudah tidak ada orang, gadis itu terkejut karena tidak dapat melihat teman-temannya dimanapun. Lalu dia tersadar kalau seluruh di restoran tidak ada orang, dan suasana di sana sangat gelap dan menakutkan.
Gadis itu berdiri lalu berjalan mencari teman-temannya, dia berkeliling di dalam restoran tetapi hasilnya nihil, lalu saat dia membuka pintu keluar, pemandangan dari kota hancur sedang menantinya.
Mobil terbalik, beberapa dari mereka terbakar, pepohonan yang rubuh, gedung yang rusak serta terbakar. Arin terkejut, merasa takut lalu berusaha kembali menuju restoran, tetapi saat dia berbalik, restoran itu menghilang dari hadapannya, semua pemandangan yang dilihatnya hanya pemandangan kota yang telah hancur oleh badai yang besar.
Gadis itu berjalan secara perlahan sembari tubuhnya bergetar, eskpresi ketakutan dikeluarkan olehnya, wajahnya membiru.
“Nia, Intan, Citra, Bila, dimana kalian.”
Dia terus memanggil nama teman-temannya dan berusaha mencari mereka keberbagai tempat. Arin memang ketakutan tetapi dia lebih menghawatirkan kondisi dari teman-temannya saat ini. Jadi dia terus melangkah dan berjalan memutari kota yang hancur itu.
Dari kejauhan dia dapat melihat ada sebuah mobil yang terbalik di pinggir jalan, terlihat darah di sekitar jalan, Arin berjalan menghampiri itu perlahan.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHH.”
Nia salah satu sahabat baiknya sudah tertimpa oleh mobil, darah keluar dari beberapa bagian di tubuhnya, dia hanya dapat teriak ketakutan melihat itu, lututnya terasa lemas lalu terjatuh ke tanah, Arin hanya dapat mengangis dan tidak dapat menggerakan tubuhnya melihat adegan di hadapannya.
__ADS_1