
Riana memegang bola dan melakukan Three poin shot, bola tidak masuk dan memantul Mika gagal melakukan rebound dan musuh mendapatkan bola, dia langsung melempar sekuat tenaga, seseorang berdiri di bawah Ring, tidak ada yang menyadari keberadaanya dia melakukan Shoot dan mendapatkan poin.
(Sejak kapan dia berada di sana.)
Maya kembali mengambil bola. Dia mengoper kepada Lina tetapi musuh memontongnya dan langsung melakukan Shooting.
Para pemain SMA Barat terkejut dengan kehadiran musuh yang muncul secara mendadak.
“Ayo tetap semangat.”
Riana menyemangati teman-temamnnya.
Arin menatap kearah pelatih musuh, orang itu menyadari tatapannya dan malah tersenyum, dia sedikit kesal melihat itu.
(Aku ingin memukul wajah itu.)
Alvan berdiri dan mendekat kearah besi pembatas di lantai 2.
(Sudah pasti orang itu menggunakan kekuatan, Sekarang apa yang harus kulakukan tapi Arin belum memberikan sinyal.)
“Alvan ?”
Cindy mengikutinya.
“Tidak apa-apa.”
Saat ini keadaan berbalik dan SMA Utama membalikan keadaan skor saat ini adalah 20 vs 23. Riana melakuka defend, musuh di depannya sedang melakukan dribble dan berhenti di depan garis three poin, dia memperhatikan musuh dengan serius akan tetapi tiba-tiba musuh yang dihadapannya sudah tidak ada dan melakukan shoot di pinggirnya.
(Sial apa yang tejadi kenapa musuh tiba-tiba menghilang.)
Kana yang melihat timnya terdesak melakukan Time out.
“Hey apa yang kalian lakukan ?. dari tadi musuh di biarkan sendiri seperti itu, dan Riana lakukan lah blok kenapa kamu hanya diam menatap kearah yang tidak ada orangnya.”
Dia memarahi pemainnya karena menurutnya itu kecerobohan mereka.
“Tapi pelatih, saat aku sadar orang itu sudah tidak ada.”
“Jangan alasan kalian.”
“Itulah kenyataanya, bukan pelatih juga sudah mendengar rumornya itu nyata.”
Naila berbicara.
“Apa yang kalian katakan ? mereka jelas hanya berjalan dan berlari seperti biasa jangan banyak alasan seperti itu.”
Mereka kembali ke lapangan dan permainan berlanjut. Kana terus berbicara dan terlihat kesal dengan keadaan saat ini. Arin menatapnya.
“Pelatih tidak ada gunanya kau mengeluh seperti itu.”
“Tapi Arin mereka membiarkan musuh melewatinya dengan mudah.”
Arin menatap waktu tersisa adalah 4 menit.
“Aku akan bermain.”
Dia berdiri dan melepaskan jaket dan melipatnya.
“Baiklah kau akan menggantikan Sheila.”
Wasit meniup peluit dan Arin berjalan memasuki lapangan.
“Semangat Rin.”
Sheila kembali menuju kursi cadangan dan mulai meminum air, dia terlihat sangat kelelahan.
“Apakah Akhirnya Dewi Athena yang di rumorkan turun tangan ?”
Terlihat Seseorang dari tim lawan mengejeknya.
“Dewi sebenarnya itu aku Freya.”
__ADS_1
Dia tidak menanggapi musuh dan berjalan kearah Maya dan memberikan beberapa instruksi.
Arin mendribble bola menuju wilayah musuh, orang yang tadi mengejeknya berhadapan dengannya, dia melakukan dribble fake kearah kiri dan mengopernya kepada Maya yang berada di sudut lapangan dan langsung melakukan Shoot mereka berhasil mendapatkan 3 poin.
Musuh melakukan serangan cepat dan mengoper terus menerus kepada temannya untuk membuat mereka kebingungan. Freya yang mendapatkan dan langsung melakukan Shoot tetapi Arin berhasil membloknya dan bola keluar lapangan.
Tim musuh kembali mengoper kepada Freya dan dia berada dihadapan Arin, orang itu tersenyum. Dan tiba-tiba sudah melakukan shooting tanpa disadari, mereka berhasil mencetak poin.
(Bukan Mind Control,tetapi Visual Inhibition, kekuatan manipulasi pengelihatanya, ini sulit.)
Waktu yang tersisa tinggal 30 detik. Riana langsung memberikan bola kepada Arin. Dia melakukan dribble dan melihat kearah papan skor untuk melihat waktu. Waktu terisa 5 detik lagi. Dia langsung meleparkan Bola. Seluruh pemain dan penonton melihat itu, terdengar teriakan Maria yang menyemangatinya dengan keras, saat bola berada di udara Bel pertandingan berakhir berbunyi bola pun masuk dan mereka mendapatkan 3 poin di akhir babak ke 2.
------------------------------------
“Siapa gadis itu dia sangat hebat melakukan Buzzer beater dari setengah lapangan.”
“Apa kau tidak mengetahuiya ?”
“Dia adalah Athena.”
“Athena ?”
“Itu julukannya, dia pemain Jenius saat di SMP, aku juga tidak menyangka kalau dia benar-benar kembali bermain basket kembali.”
“Awalnya dia menghilang tiba-tiba, dan sekarang pun muncul tiba-tiba sebagai pemain dari SMA Barat.”
“Gerakan Halus dan sempurna miliknya itu, Memang benar dia Arin dari SMP Barat.”
“Beruntung sekali kita menonton pertandingan Come back miliknya.”
Berbagai reaksi keluar Saat ArIn mulai bermain, banyak orang yang membicarakannya dan di akhir Quarter dia melakukan Buzzer beaters di akhir menit para penonton menyadari indentitasnya.
“Kita tidak menyadarinya karena dia selalu menutupi kepalanya dengan Hodie.”
“Dan entah kenapa dia terlihat berbeda dengan waktu SMP.”
Maria mendengar percakapan Para penonton tersenyum dengan bangga.
“Benar Karena kecurangan adalah hal yang paling dia benci.”
Haqi melanjutkan perkataan temannya.
“Seperti yang Kak Haqi bilang kalau Arin akan main di menit akhir.”
Cindy melihatnya dan memasang wajah kagum.
“Benar itu sangat hebat, Aku tidak menyangka Akan benar-benar terjadi.”
“Terima kasih, Tapi kekuatan ini sangat sulit untuk digunakan.”
Dia tersipu malu karena jarang ada orang yang menuji kekuatannya, Dulu sebelum dia berlatih dengan keras orang-orang dari SMA nya dulu mengejek dia karena memiliki kekuatan bagus tetapi tidak dapat menggunakannya dengan baik.
“Jangan senang dulu, Kalian sendiri tadi melihatnya dengan jelas, Arin membiarkan Kapter tim lawan melakukan shoot dihadapannya tanpa melakukan blok.”
“Apa yang Chanan katakan benar.”
Chanan dan Alvan sangat serius dan menegur temannya.
“Memang benar, Jadi menurut mu apa kekuatan Orang yang berdiri di sana ?”
Maria tiba-tiba menjadi serius.
“Saat berdiskusi dengan Arin saat ada Gina waktu itu, kami menyimpulkan kalau dia memiliki kekuatan Visual Inhibation, kekuatan untuk menghambat atau memanipulasi pengelihatan.”
“Baiklah kalian Jangan berbicara terlalu keras karena kita tidak tau apa ada musuh di sekitar kita.”
Semua orang setuju dengan perkataan Haqi lalu membicarakanya dengan pelan.
“Tapi karena teriakan penonton lain sangat berisik jadi seharusnya aman.”
“Prince apa kamu merasakannya ?”
__ADS_1
Maria menatapinya.
“aku bisa merasakan orang itu mengeluarkan Gelombang ESP beberapa kali, tapi ada yang aneh.”
“Kenapa ?”
“Kalian taukan setiap manusia memiliki gelombang otak atau ESP yang berbeda, tetapi aku pernah merasakan ini.”
“Dimana ?”
“Saat menyelamatkan Cindy.”
Semua terkejut dan memandang kearahnya.
“Kekuatanku adalah elekro jadi aku bisa merasakan sebuah gelombang yang dipancarkan seseorang, dan dapat membedakan orang lain tanpa melihatnya, tapi orang itu terasa sangat sama dengan orang yang melakukan Telekinesis waktu itu.”
“Hmmm. Mungkin dia keluarganya.”
Cindy menjawab.
“Tidak mungkin, meski itu adalah orang tua atau sodara mereka tetap akan berbeda sedikit, tapi kali ini benar-benar sama, dan itu tidak mungkin terjadi.”
“Yang Alvan katakan itu benar, gelombang otak setiap manusia yang menggunakan keuatan ESP akan berbeda, Kecuali kamu memiliki orang yang 99% kecocokannya sama denganmu dan hal itu hanya bisa dilakukan dengan mengkloning orang itu.”
Chanan menjelaskan apa yang ingin dikatakan oleh Alvan.
“Itu yang ingin aku katakan.”
“Tapi Clone itu dilarang oleh pemerintah dunia iyakan ?”
Maria memiringkan kepalanya.
“Memang benar, tapi pasti saja ada orang yang melakukan penelitian gila.”
“Jadi maksudmu mereka adalah Sebuah Cloning?”
“Kurasa tidak ria, kali ini mungkin kita semua terlibat sesuatu yang lebih rumit dari kita bayangkan.”
Chanan mengenggam kedua tangannya dan mulai memikirkan sesuatu.
“Pil itu aku ingin sekali menelitinya.”
Maria memandang kearah Arin.
Bel pertandingan ketiga sudah dimulai dan para pemain mulai berjalan menuju lapangan.
“Cindy apa benar pil yang dibicarakan ini dapat meningkatkan kekuatan.”
Kalia yang telah mendengar cerita darinya bertanya.
“Saat mereka sedang terpojok oleh Arin, pria itu memakan sebuah pil dan aura di sekitarnya berubah, kekuatannya meningkat drastis seluruh pohon terangkat dan menyebabkan tanah di sekitar kami bergetar.”
“Aku ingin makan pil itu supaya kuat.”
Daniel malah membuat wajah iri.
“Tapi tidak lama setelah itu dia memuntahkan darah dan terjatuh di tanah.”
Cindy menatap Daniel dan tersenyum mengejek.
“ Jadi apa kamu masih ingin meningkatkan kekuatanmu secara instan, dengan resiko seperti itu ?”
“Tidak.. Tidak.. terima kasih banyak.”
Dia menggelengkan kepalanya.
Cindy menundukan kepalanya dan melihat tangannya yang terluka.
(Jika apa yang dikatakan semuanya benar dan kasus ini saling berkaitan, aku tidak tau apa yang akan terjadi, Petugas keamanan saja sampai terlibat dan Shield turun tangan.)
Kalia yang berada di sebelahnya mecemaskannya karena memasang ekspresi menyeramkan.
__ADS_1
“Ah maaf, tidak apa-apa kok.”