TRIGGER

TRIGGER
BAB 3, Chapter 66 Pertemuan (3)


__ADS_3

“Apa aku bisa menjadi kuat sepertimu ?”


Ina berjalan di samping Arin dan bertanya.


“Bisa.”


Dia sangat terpesona oleh gadis yang berjalan di sampingnya. Seorang Trigger dengan kekuatan yang sangat kuat, bahkan dapat mengalahkan 3 orang berandalan yang berusaha mengganggu mereka.


“Bagaimana caranya ?”


“Latihan.”


Saat bertemu dengan 3 pria tadi mood Arin kembali memburuk dan benar-benar memasang ekspresi sangat menakutkan. Ina merasa takut untuk bertanya lebih lanjut dan diam sampai mereka sampai di apartemen miliknya.


“Di sini aku tinggal sementara.”


Dia menunjuk kearah Apartemen dengan tinggi 15 lantai dan sangat luas.


“Ayo masuk.”


“Tidak, sudah malam dan harus cepat pulang, jadi aku tunggu disini.”


Sekarang sudah jam 00.10 dan Arin belum kembali ke rumahnya. Jika Amalia mengetahui ini dia pasti akan dimarahi habis-habisan olehnya.


“Kalau gitu tunggu sebentar aku akan mencarinya dulu.”


Ina dan masuk dia menaiki lift menuju lantai 11 dimana dia tinggal. Arin menunggu di pintu masuk dan tidak berdiam di lobby. Arin berjalan dan melihat sekitarnya dia mendekati pohon yang berada di depan Apartemen dan menyenderkan badannya, lalu melihat jam pada hanphone miliknya.


Sudah 10 menit berlalu tapi Ina masih belum turun. Arin melihat kearah atas dan melihat dedaunan yang bergoyang oleh angin. Dia melihat langit gelap yang dihiasi oleh Bintang-bintang dan bulan.


(Suasana seperti ini, sangat cocok untuk orang sepertiku.)


Semenjak Nia meninggal Arin menjadi lebih suka menyendiri dan pergi ke tempat-tempat sepi sendirian untuk menenangkan dirinya.


Pintu lift terbuka dan terlihat Ina berlari menghampirinya.


“Maaf lama Aku lupa menyimpannya dan mencarinya dulu.”


Dihadapan Arin dia menundukan badannya dan mengatur pernafasannya.


“Tidak apa-apa.”


“Kalau gitu ini.”


Arin mengambilnya.


“Makasih.”


Dia mengatakannya tanpa ekspresi dan terkesan aneh, tetapi Ina tersenyum.

__ADS_1


“Kalau gitu aku kembali dulu.”


“Tunggu.”


Saat Arin berbalik dan ingin berjalan. Ina menghentikannya dan mengulurkan tangannya.


“Jika tidak keberatan, Aku Ina mulai semester depan akan bersekolah di SMA Barat Mohon Bantuannya.”


Arin melihat tangan itu dan menatapnya cukup lama, lalu dia berjalan dan meraih tangan itu.


“Arin, SMA Barat Kelas 1 F.”


Ina merasa sangat senang saat ini, tetapi dia sangat merasa cemas kepada teman yang baru saja di dapatkannya karena akan pulang sendirian.


“Terlalu malam untuk seorang gadis pulang sendiri.”


Melihat Raut wajah yang dikeluarkan orang di hadapannya Arin seperti melihat Maria yang sedang mencemaskan dia.


“Tenang saja.”


“Tapi…”


Mereka saling bertatapan.


“Aku ingin bertanya satu hal.”


“Kenapa saat melawan ketiga pria tadi kamu tidak mengedalikan pikiran mereka ?”


“Ah itu.”


Jika Ina menggunakan Mind Control miliknya tadi, Pertarungan Arin dengan ketiga berandalan yang mengganggu mereka tidak akan terjadi. Tetapi dia malah bersembunyi dan gemetaran.


“Kau takut menggunakan kekuatanmu kan ?.”


“Iya, aku merasa sangat sulit jika mengingat apa yang aku lakukan.”


Setelah mengatakan itu keduanya diam untuk beberapa saat.


“Kalau gitu kau tidak perlu mencemaskanku.”


Tatapannya seperti elang yang sedang mencari mangsa dengan ekspresi sangat dingin menatap Ina saat ini.


“Karena jika ada seseorang yang menghalangi jalanku, entah siapapun itu pasti akan ku buat dia menyesal.”


Arin berbalik dan berjalan, Ina melihat dan mendengar perkataanya diam dan merasa ketakutan untuk sesaat. Dia berusaha mengerjarnya tetapi seluruh angin berkumpul di bawah Arin dan melontarkannya ke langit dan menghilang begitu saja.


------------------------------------


“APA CERITA INI BENAR ?”

__ADS_1


Almya yang sudah mendengar cerita lengkapnya dari Intan berteriak karena tidak percaya karena Nia sudah tidak ada. Dia sangat terkejut karena dia kenal dengan Nia dan Arin.


“Apa ini sungguhan ?”


“Iya, karena itulah sikap Arin berubah, bahkan menjadi seorang trigger.”


Informasi mendadak yang dia terima mengejutkannya, dia terlihat lebih panik dari adiknya yang coba dia tenangkan. Kemudian dia duduk di lantai dan berpikir untuk beberapa saat.


“Jadi gitu ya, kamu kesal sama Arin karena tidak memberitahukan ini ya !.”


Intan mengangguk.


“Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama tan, tapi tindakanmu menekannya seperti itu keterlaluan.”


“Karena itu aku ingin meminta maaf kepadanya.”


Almya berdiri dan memegang bahu Adiknya yang duduk di kasur.


“KALAU GITU MINTA MAAF LANGSUNG, aku paling tidak suka dengan seseorang yang berbelit-belit seperti ini.”


Dia menaikan nanda bicaranya.


“Tapi kak Arin tidak masuk sekolah selama 2 hari, dan saat dia masuk dia kembali menjadi seperti saat pertama kali masuk sekolah ini salahku.”


“Bayangkan kamu ada di posisi anak itu saat ini.”


Setelah berbicara seperti itu kepada Arin, Intan selalu membayangkan bagaimana kalau dia berada di posisinya saat itu dan apa yang akan dia lakukan.


“Aku sudah memikirkan hal itu, dan mungkin aku juga akan menyembunyikannya dari Arin.”


“Memang benar, tapi lambat laun dia akan mengetahuinya juga.”


“Tapi lebih baik aku yang sakit dari pada melihat teman baikku ikut menangis.”


Saat Intan mengatakan kalimatnya Almya tersenyum.


“Kau tau sendiri.”


Dia menyadari apa yang dirasakan oleh Arin, dia tidak ingin melihat Intan menangis karena dia adalah salah satu dari teman baiknya.


“Kenapa aku baru menyadari ini, Terima kasih kak.”


“Haha tentu saja, jika kamu mengalami kesulitan bicaralah padaku, Sekarang sudah malam. Besok juga kita ada ujian lebih baik cepat tidur.”


Setelah mengatakan itu dia pergi meniggalkan kamar Intan.


“Benar Arin pasti berpikir seperti itu, tapi kenapa aku malah bersikap sebaliknya, apapun yang terjadi aku akan meminta maaf kepadanya.”


Intan membaringkan tubuhnya di atas kasur dan membulatkan tekadnya agar dapat kembali berbaikan dengan sahabat baiknya.

__ADS_1


__ADS_2