
Terdengar suara para murid yang tertawa dari sebuah kelas, terlihat di sana seorang gadis sendirian duduk di jendela dan memandangi langit. Sudah tiga hari berlalu sejak Ia berlatih Boxing. Selama tiga hari ini setiap pulang sekolah Arin selalu diikutin Alvan, baginya ini sangat menjengkelkan akan tetapi, itu adalah permintaan dari ibunya sendiri, jadi dengan sangat terpaksa dia membiarkannya, karena tidak ingin membuat ibunya menjadi cemas.
Dari pintu kelas terlihat dua orang gadis datang menghampirinya.
“Oh kamu disini Rin.”
“Kenapa ?.”
“Engga kok nyariin aja.”
“.…..”
Kedua gadis itu mengambil kursi dan duduk menghadap ke arah Arin.
“Kamu tau saat ini ada sebuah rumor yang jadi perbincangan di sekolah loh.”
“Ya dan itu berkaitan denganmu, jadi dengarkan apa yang Itan katakan.”
“.….”
Dengan heran Arin menatap kearah keduanya.
“Katanya kalau pangeran sedang jatuh cinta dengan seseorang dari kelas kita.”
“Dan orang itu adalah kamu Rin.”
“Seseorang melihat pangeran mengikuti mu saat sepulang sekolah, apa itu benar ?.”
“Cih..!!”
Kemudian Arin memalingkan pandanganya kearah jendela.
“WOI.”
Maya terlihat agak marah dengan sikapnya dan berteriak.
“Sudahlah May, aku hanya mencemaskanmu Rin jika itu mengganggumu aku akan mendatangi pangeran dan berbicara denganya untukmu.”
“Merepotkan.”
Dengan malas , akhirnya Arin menjelaskan situasinya kepada Intan.
“Karena itu kamu aku akan menjelaskanya dengan singkat.”
“.…..”
“.…..”
“Dia melakukan itu karena disuruh oleh ibuku, itu saja.”
“Haa.. ?”
“Sangat menjekelkan melihat dia mengikutiku, aku tidak ingin membicarakannya.”
“Baiklah, maaf ganggu ya Rin, ayo may.”
Akhirnya keduanya pun pergi keluar kelas meninggalkan Arin sendirian.
“KIIIIII NGESELIN TUH ANAK PENGEN RASANYA AKU PUKUL SEKALI.”
“Jangan kalau kamu mukul Arin aku juga bakal pukul kamu loh hahaha.”
“Kamu belain dia terus ya.”
“Ya karena ga ada Nia di sini jadi rasanya aku harus melakukan itu sekarang.”
“Nia ya ?, aku belum pernah melihatnya padahal sama-sama anak basket kan, setidaknya dipertandingan ketemu.”
“Ya semenjak kelas 2 juga aku tidak pernah melihatnya, aku juga ingin bertemu denganya kembali.”
Dengan ternyesum Intan berbicara, Maya yang melihat itu bernapas menghela nafas dan mereka berjalan menuju kantin untuk membeli minuman.
Setelah beberapa saat mereka berjalan terlihat Alvan keluar dari toilet pria, dan dia sendirian tidak bersama teman-teman atau para fansnya. Tanpa melewatkan kesempatan ini Intan datang menghampirinya.
“May itu pangeran ayo kita tanya langsung.”
“Seriusan ?”
“Ya ?.”
“Akhh baiklah, terserah kamu saja.”
Keduanya menghampiri Alvan dan menyapanya.
“Kamu Alvan dari kelas A kan ?.”
Dia menoleh ke arah keduanya dan menjawab.
“Iya itu aku, ada keperluan apa ?.”
“Katanya kau saat ini sedang mengikuti salah satu temanku, aku disini untuk menanyakan kebenarannya.”
__ADS_1
“Teman ?.”
Dengan heran Alvan memegang kepalanya dan berpikir sejenak.
“Ah kalian berdua yang waktu itu makan dengan Arin di kantin ya.”
“Jawab saja pertanyaanya.”
Dengan tegas Maya menatapnya.
“Iya itu benar.”
“Apa alasannya ?.”
“Ya karena kalian temannya, rasanya tidak masalah.”
(Entah kenapa aku kesal dibilang salah satu dari teman Arin)
Maya berbicara di dalam hatinya.
“Ini adalah permintaan dari ibunya.”
“Ya Arin juga mengatakan itu.”
“Kenapa kalian bisa kenal ?.”
“Kedua ayah kami adalah teman lama, dan saat ini aku tinggal di apartemen yang dikelola oleh ibunya.”
“Ah.. jadi gitu.”
“Kalian juga tau kan situasi saat ini, sekolah kita sedang diserang dan bahkan polisi ikut membantu dalam pencarian tetapi masih belum menemukan para pelaku.”
“Ya para sekolah kita juga sedang mencari relawan untuk menjadi tim patroli.”
“Tante Amalia datang ke kamarku, dengan ekspresi sedih dia memohon kepadaku, siapa pun yang melihat itu pasti tidak akan sanggup menolaknya.”
Intan dan Maya yang melihat ekspresi Alvan yang sedang kebingungan.
“Aku sangat kebingungan saat ini, jika diketahui oleh Cindy dan yang lainya, mungkin akan mendapatkan masalah.”
“Maksudmu para knighit of prince ?.”
dengan mengejek Maya menjawabnya
“Uhuk… uhuk… , jangan sebutkan nama itu memalukan, ngomong kalian tau dari mana aku mengikuti Arin.”
“Sudah menjadi rumor saat ini kalau kau mencintai Arin dan menjadi Stalkernya.”
“Begitulah kenyataanya.”
“Bisa gawat kalau diketahui oleh mereka, aku harus segera melakukan sesuatu, padahal aku sudah mengguakan kekuatan untuk merasakan orang disekitar untuk berjaga-jaga, akh sialan.”
“Memalukan sekali untuk orang berperingkat S.:
“Ukhhh…!!”
“Hey May ga sopan.”
“Hahaha.”
“Kalau gitu makasih ya udah mau ngasih tau, sampai jumpa.”
Dengan begitu keduanya berbalik badan dan mulai berjalan akan tetapi Alvan memanggil mereka berdua kembali.
“Eh tunggu ada yang mau aku tanyakan.”
“Oh apa itu ?.”
“Apa kau berteman dengan Arin cukup lama ?.”
“Ya saat SMP kami cukup dekat.”
“Kalau begitu, apa kalian tau apa yang terjadi pada Arin 1 tahun yang lalu ?.”
Dengan wajah bingung Intan menjawab pertanyaanya.
“Tidak tahu, memang terjadi sesuatu 1 tahun yang lalu pada Arin ?.”
“Gak tau ya ?, padahal ku pikir akhirnya menemukan titik terang, kalau gitu makasih, sampai jumpa lagi.”
Ia pergi meninggalkan Maya dan Intan, mereka berjalan kembali menuju kantin.
------------------------------------
Terdengar suara orang yang sedang mengobrol di taman sekolah, mereka bercanda dan berdiskusi akan apa yang mereka lakukan.
“Nanti sore kita akan patroli kemana nih.”
“Bukanya nanti ketua disiplin yang akan membagi areanya.”
“Bosen juga sih cuman berjalan-jalan sampai jam 6 sore.”
__ADS_1
“Ya mau bagaimana lagikan.”
“Bukannya alvan terlalu lama ya ?.”
Cindy bertanya kepada teman-temanya.
“Hoho mungkin dia sedang mengintai gadis itu.”
“GADIS APA MAKSUDMU ?.”
Para wanita yang berkumpul disana berteriak kepada teman laki-laki yang berbicara dan menarik kerahnya.
“Ya ada rumor katanya, setiap pulang sekolah dia mengikuti seorang gadis.”
“Ya dan bukannya belakangan ini saat mau melakukan patroli dia selalu datang terlambat.”
“SIAPA GADIS ITU ?,AKAN KU KULITI DIA.”
“Bukannya hak Alvan kan untuk menyukai seseorang !!.”
“DIAM.”
Para wanita memasang muka marah dan memaki teman prianya. Tidak lama setelah itu Alvan kembali dan menanyakan situasi yang dia lihat saat ini.
“Ada apa ini ?.”
“Ah engga ada apa apa ko Al.”
“Ya mereka ngeselin jadi dimarahin.”
“Ah baiklah.”
Alvan tidak percaya dengan ucapan para wanita dan memandangi teman-temannya yang seakan ingin menangis.
Ting, tong..
“Ah udah bel lagi aja.”
“Ya ayo kembali.”
Akhirnya mereka bergegas kembali menuju kelasnya masing-masing. Di jalan menuju kelas Cindy bertanya pada Alvan.
“Al belakangan ini sebelum kumpul kamu kemana ?.”
“Ah engga ko aku cuman ke toilet sebentar.”
(Apakah Cindy sudah mendengar rumor itu.?)
“Benarkah ?.”
“Iya, ah ayo cepat cin kalau tidak kita akan telat.”
Dia mengalihkan perhatian dan berlari menuju kelas.
(Baiklah nanti aku akan mengikuti dia kemana.)
------------------------------------
Setelah kelas selesai Alvan lansung menghilang entah kemana, setelah itu Cindy bertanya kepada para anggota Knight of Prince melalui grup diaplikasi Lime. Akhirnya mereka semua bergerak mencarinya atas peritah dari Cindy. 5 menit kemudian Cindy menerima telepon dari salah satu anggota yang melihat Alvan, karena mereka tau Alvan dapat merasakan sesuatu jika ada yang mengikutinya. Para anggota menjaga jarak dititik butanya sampai Cindy datang.
Di sana mereka melihat seorang gadis berjalan di depan Alvan dengan jarak 10 meter.
“Hey bukannya yang di sana itu si Ratu es ?.”
“Apakah itu type yang pangeran sukai ?.”
“Tidak boleh dibiarkan, besok kita hampiri dia.”
Cindy merasa penah melihat orang itu entah dimana, akhirnya dia mengingat kalau itu adalah salah satu gadis yang berata di super market saat malam hari.
“Hey Cindy dengar tidak ?.”
“Ah ya maaf aku melamun senbentar.”
“Ya besok kita bertiga yang akan langsung mendatanginya. Tidak usah membawa semua anggota karena Alvan mungkin dapat mengetahunya.”
“Baik.”
Dengan begitu mereka sepakat, besok siang saat istirahat mereka akan mendatangi Arin.
------------------------------------
Saat istirahat sekolah,tiga orang wanita mendatangi kelas F dan mencari Arin, seluruh kelas F melihat adegan tersebut dan mulai berbicara tentang itu.
“Ikuti kami sebentar.”
“Huuu.”
Arin menghela nafas dan berdiri mengikuti mereka, dengan memasang wajah kesal.
(Apa harus aku buat mereka tidak pernah bisa beridiri lagi.)
__ADS_1