TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 19. Anggota klub basket


__ADS_3

Arin mengikuti Maya dan Kana yang berjalan di depannya menuju gedung olahraga. Saat istirahat sekolah dia datang ke kelas F dan mengatakan kepada Arin untuk datang saat latihan sore nanti dan akan diperkenalkan ke anggota yang lainya.


“Arin nanti sore dateng ke tempat latihan dulu ya, buat dikenalin ke anggota yang lain.”


“Ya terserah saja.”


Dia menjawab itu dengan santai.


“Apakah persyaratanya sudah selesai ?.”


Tanya Maya.


“Kukuku ya itu mah mudah diurusnya.”


Saat ini ia mengenakan pakaian sekolah karena dia tidak membawa baju olahraga. Saat di ruang ganti Maya ingin meminjamkanya tetapi dia bilang tidak usah, karena hari ini hanya ingin melihat saja, dan ia tidak bilang akan ikut latihan.


“Baiklah seperti yang ku katakan kemarin sore, kalau hari ini akan ada murid yang akan membantu untuk mengisi ke kosongan saat turnamen.”


Semua murid klub basket duduk dan melihat ke arah Arin yang berdiri dengan Kana dan Maya.


“Kalau begitu perkenalkan dirimu.”


“Namaku Arin kelas 1 F.”


Semua orang yang telah mengikuti kejuaraan basket saat SMP pasti familiar dengan wajahnya. Akan tetapi tidak semua orang di ekskul basket ini mengetahui Arin pernah menjuarai kejuaraan dan dia sangat terkenal dikalangan para pemain basket.


“Sekarang giliran kalian anak anak, dimulai dari kanan.”


Seorang berambut panjang berdiri, tingginya sekitar 160 cm. Dan mengenalkan diri


“Aku Lina kelas 2 B, mohon bantuanya.”


Kemudian gadis di sebelahnya berdiri rambutnya pendek dengan model Soft layer tinggi 160 cm.


“Mika kelas 2 C, mohon bantuanya.”


“Riana kelas 3 A mohon bantuanya.”


Riana memiliki wajah cantik dan bentuk tubuh yang sangat ideal, dia sangat terkenal dikalangan siswa pria di sekolah, tingginya sekitar 168cm.


“Sheila kelas 2 C mohon bantuanya.”


“Yo aku Naila kelas 1 A salam kenal Rin.”


Sheila memiliki rambut panjang, sedangkan Naila panjang rambutnya sebahu dan tinggi mereka berdua sekitar 165 cm.


Ketika orang selanjutnya berdiri dia tidak berbicara dan menatap Arin dengan sangat tajam dan berteriak.


“PELATIH AKU TIDAK TERIMA INI.”


“Apa maksud mu Olivia ?.”


“Kenapa orang sepertinya yang harus menggantikan Senior kita.”


“Ya aku juga tidak setuju.”


Ada dua gadis yang tampaknya tidak setuju dan berbicara. Dua orang terakhir yang belum memperkenalkan diri menatapnya dengan sinis dan terus berteriak.


“Orang ini si RATU ES itu kan ?.”


“Orang sombong yang bahkan tidak memiliki teman.”


“Hooo… jadi maksud kalian ?.”


“Orang sepertinya bahkan tidak akan dapat bermain dalam tim.”


“Dia hanya akan merusak keseimbangan tim saja.”


Anggota klub lainya hanya diam melihat adegan di depannya saat ini, mereka sedang memperhatikan Arin karena wajahnya terlihat sangat familiar bagi mereka.


“Jadi apakah kalian tau siapa dia ?.”


“SI RATU ES SIALAN ITU KAN ?.”


Arin yang mendengar ejekan itu melihat kearah Maya dan bertanya kepadanya.


“Ratu Es ? apa itu.”


“Julukan mu ?”


“Haaa ?”


Dengan wajah bingung memiringkan kepalanya.


“Orang yang bahkan tidak punya teman, dan tidak ramah ke orang lain, kita bahkan tidak tau dia bisa bermain basket atau tidak.”


“Ya orang yang tidak memiliki teman, atau bahkan tidak ada yang mau berteman dengannya, tidak mungkin bisa bermain basket.”


“Hey kalian berdua mulai keterlaluan.”


Kana mendekati keduanya dan mulai berbicara.

__ADS_1


“Kalau teman, Aku ini temannya jadi ada masalah ?”


Maya melangkah maju kearah meraka dan memasang wajah masa bodoh


“Diam kamu Maya, jangan membantunya.”


“Ya.”


Dari belakang Arin memegang bahu Maya dan melangkah ke hadapan mereka berdua,


“Ya aku tidak memiliki teman.”


Kemudian mereka saling bertatapan.


“Kau mengatakan aku tidak mungkin bisa bermain basket ?, siapa kalian ? aku tidak pernah melihat wajah kalian sama sekali ?.”


“APA MAKSUDMU ?.”


“SIALAN KAU MENGHINA KAMI ?.”


Kemudian dia pergi menuju lapangan di sana ada bola basket Arin mengambilnya dan melemparkan kearah Tina dan Olivia.


“Asal kalian tau, aku di sini karena permintaan Intan, JIKA BUKAN KARENA DIA MANA MAU AKU BERMAIN DENGAN KALIAN.”


Dengan tatapan tajam dia menatap mereka berdua.


“Kalau begitu kalahkan aku dalam basket, kemarilah One on one ?.”


“SIAPA TAKUT SIAP SIAP SAJA KAU.”


“Biar aku yang main via akan ku buat dia menyesal.”


“Yah baiklah aku akan menjadi wasitnya.”


Kana frustasi dengan sikap kedua muridnnya dan menyetujui pertandingan diantara keduanya.


“Baiklah setengah lapang orang yang berhasil mencetak 5 angka duluan dia yang menang, kalau gitu kita akan undi dengan koin.”


“Tidak usah pelatih dari dia saja beri dia kesempatan memegang bola.”


Tina mengejek.


“Huuuh baiklah terserah.”


Keduanya sudah bersiap di lapangan. Kemudian ia mengoper kepada Tina dan dia mengembalikannya. Dia memasang posisi defend di depan musuh, dengan sombong sambil tersenyum. Lalu Arin mundur selangkah dan melakukan Three poin shoot dengan sangat mulus.


“HAH ?.”


“Keberuntungan.”


(Sialan)


------------------------------------


Tina terlihat kelelahan di tengah lapangan yang mencoba merebut bola dari Arin poin saat ini 4 vs 0 kemenangan telak baginya.


Arin melakukan fake dribble kembali kearah kanan tapi kali ini musuh menyadarinya lalu saat dia mau melangkah kearah kiri dia mundur selangkah. Tina terkejut dengan gerakan tiba tiba itu terjatuh, kemudian ia melakukan Shoot dengan mulus tanpa ada penjagaan sama sekali.


“Lemah, ku kira kalian sangat kuat sampai berani mengataiku.”


“CIH.”


Arin menatap kearah Tina yang masih terjatuh di lantai.


“Ohh aku tidak tau kalau dia sekuat ini.”


“Awalnya aku kira salah orang karena ekspresi mereka berbeda.”


“Ya tapi telah melihat itu aku yakin kalau dia adalah Athena.”


“Athena ?.”


Maya bertanya kepada seniornya


“Ya saat kejuaraan SMP ada tiga orang yang sangat menonjol, salah satunya adalah dia.”


“Dewi Athena adalah julukan gadis itu, anak itu memimpin tim dengan strategi yang sangat brilian.”


“Bukan hanya itu gerakan tipuan dan shooting yang dia lakukan itu sangat mulus dan indah, melihat dari dekat beneran seperti dewi, aku sangat mengagumi gadis itu dari dulu.”


Riana tersenyum dan melihat kearah Arin.


“Tapi ku pikir tadi dia adalah si Destroyer.”


“Haa ? apa lagi itu ka Mika ?”


Tanya Maya


“Oh itu adalah kapten dari timnya dia bermain dengan mengandalkan tubuhnya dan sangat kuat. Saat melawanya aku terjatuh saat ingin manahanya melakukan dribble.”


“Kalau tidak salah namanya itu Nia kan ?.”

__ADS_1


“Kaya pernah dengar--, kalau gitu satu lagi siapa ?”


Para senior di klubnya melihat kearahnya


“Sahabat mu tau ?”


“EEEEEEH, ? Seriusan ?”


“Kalau tidak salah sebutannya adalah Shachihoko.”


“Bentar.. bentar… kalau tidak salah itu nama salah satu dewa dari jepang kan ?.”


“Iya dewa pelindung yang akan melindungi berbagai macam bencana alam.”


“HAHAHA sungguh ?, saat dia sembuh aku akan memanggilnya itu .”


Maya tertawa terbahak bahak mendengar penjelasan dari Sheila


Berbeda denganya Olivia terkejut dengan hasil pentandingan dan setelah dia mendengar cerita dari seniornya, wajahnya menjadi semakin suram tak karuan.


(Apa tidak mungkin.)


“KAU YANG DI SANA.”


Arin berteriak kearah para penonton.


“Kau juga kemari lawan aku.”


Dia dengan gugup melakang maju dan bebicara.


“Ti- tidak a- a- aku.”


“Kalau kau tidak bisa sendiri dua lawan satu juga aku tidak masalah sama sekali.”


Olivia menatap Tina yang berdiri dari lantai dan menatapnya.


“SUDAH CUKUP, ini cukup kalian sudah melihat kemampuan Arin kan. Ini adalah pelajaran untuk kalian berdua.”


Semua anggota mendekati pelatih dan mendengarkanya berbicara.


“Kalian tidak boleh memandang orang hanya sekali lihat atau dari rumornya, itu pelajaran kalian hari ini.”


“Baik pelatih.”


Mereka berdua meminta maaf kepada Kana.


“Kalau gitu, aku sudah boleh kembali ?.”


“Ga ikut latihan Rin ?.”


Tanya Naila dan Riana.


“Perjanjianya, aku menjadi pemain cadangan, hari ini memperkenalkan diri serta aku ada keperluan.”


“Iya itu terserah kamu Rin, tapi kalau ingin pulang hati hati di jalanya.”


“Tenang saja.”


Kemudian dengan sikap tak acuh Arin melangkah keluar dari gedung.


“Sifatnya beneran berbeda, apa yang tejadi ?.”


“Ya raut wajahnya saja sudah seperti orang yang berbeda .”


“Tapi skills dan kemampuanya sama sekali tidak menurun.”


Para senior melihat Arin dari belakang dan membicarakannya.


“May apa gak apa-apa dia pergi sendirian ?.”


“Mungkin, atau ku pikir emang itu yang dia rencanakan.”


“Rencanakan ?.”


“Sia pasti mencari orang yang membuat Intan masuk rumah sakit hahaha.”


“EH bukanya itu bahaya, dia Rank E loh kita harus menghentikanya ?.”


Naila dengan panik langsung berlari mengejar Arin tetapi tanganya di tarik dari belakang oleh Maya.


“Tenang lah, jika kamu mengganggu dia mungkin kamu yang akan di hajar duluan, seseorang yang melihat raut wajahnya yang keluar setelah menjenguk Intan pasti akan lari ketakutan.”


“Tapi lawanya adalah Esper tau.”


“Begitukah ?.”


Dengan wajah tersenyum melihat keluar gedung.


“Haa ?.”


“Aku ingin tau rahasia apa lagi yang dia sembunyikan hahaha.”

__ADS_1


“Oi cepat jelaskan kepadaku dengan benar agar aku mengerti, MAYA WOI.”


Naila mengejar Maya yang menuju kearah pelatih sambil memaksanya untuk mengatakan alasan yang jelas.


__ADS_2