
Hari minggu tanggal 22 juli, di saat semua orang sedang menikmati hari libur mereka, para murid dari seluruh sekolah di pulau Aurora harus masuk sekolah dan melakukan tes kemampuan Esper mereka. Terlihat SMA Barat dipenuhi dengan para murid yang mengenakan seragam olahraga.
“Hari minggu harus ke sekolah sial.”
“Tapi setelah ini kita akan liburan musim panaskan.
“Benar jadi tahan lah karena besok adalah hari ini dan besok adalah hari terakhir ke sekolah.”
Beberapa murid kecewa karena harusnya mereka sedang menikmati hari liburnya tetapi harus masuk.
Terlihat di sebuah ruangan para murid sedang di tes oleh guru mereka. Tes dasar untuk para Rank E seperti psikotes, membedakan sebuah gambar, memilih gambar yang menurut mereka cocok, dan menebak isi dalam sebuah box yang disediakan oleh para guru.
Jika sudah diketahui seseorang memiliki kemampuan dan menjadi Rank D sampai ke A mereka akan menjalani tes yang cocok dengan kekuatan masing-masing.
Terlihat Maya sedang melemparkan Sebuah besi menggunakan teleportasi miliknya. Guru itu mengukur jarak dari hasil lemparannya.
“Maya kelas F, Teleport Rank A.”
Setelah mendengar itu dia menjauh dan duduk di pinggir lapangan. Intan yang tesnya telah berakhir mengampirinya.
“Sudah selesai may ?”
“Eh tan, Gimana Rank mu ?”
Intan duduk di sebelahnya dan memengangi lututnya.
“Seperti biasa Rank B.”
“Hahaha.”
Saat mereka sedang berbicara terlihat dari arah kolam renang terdengar suara ledakan dengan sangat kuat di setai dengan Air kolam yang melambung ke udara dengan sangat tinggi. Di sekeliling tempat itu terlihat para wanita mengerumuninya.
“Hahaha bisa membuat Air terlontar seperti itu.”
“Hebat ya Rank S itu !”
Mereka berdua melihat kesana.
“Kyaaaaa….”
“Prince.”
“Seperti yang di harapkan dari pangeran kita.”
Para gadis yang menonton dari jauh, sangat berisik.
Bzzzzzttttt… Bam… Bam..
Alvan mengumpulkan elektrik di tangan kanannya menjadi bola sangat terang berwarna biru, lalu bola itu terbang ke udara dan menuju titik yang telah ditentukan oleh para pengawas. Saat sampai pada target bola itu menyambar kolam seperti petir yang turun dari langit dan membuat isi air berkurang.
“Alvan Kelas A, Rank S.”
Terdengar suara tepuk tangan dari orang-orang yang berada disekitarnya. Dia berjalan keluar dari sana dan menuju kearah Cindy dan Kalia yang sedang menunggu di pintu keluar.
“Gimana Al ?”
“Seperti biasa, lagi pula itu rank tertinggikan ?”
“Haha Cindy bodoh ya.”
“Diam kamu.”
Mereka bertiga berjalan keluar karena tes yang dijalaninya sudah selesai.
“Daniel mana ?”
Alvan bertanya.
“Kayanya belum selesai deh.”
“Ke kantin yu beli makan.”
__ADS_1
Cindy mengajak kedua temannya untuk membeli makanan di kantin.
“Boleh.”
“Tapi kita makannya di atap ya ?”
“Kenapa di sana ?”
“Kalian akan tahu nanti.”
Mereka pun pergi menuju kantin dan membeli beberapa makanan, Cindy membeli dua bento (bekal makan siang khas jepang). Kalia dan Alvan membeli Sandwich dan minuman, makanan ringan lainnya. Kemudian pergi menuju atap sekolah.
------------------------------------
Seorang gadis sedang berbaring di lantai, dia mengenakan jaket dan menggunakan earbuds dan mendengarkan sebuah lagu sembari memandangi awan yang sedang bergerak. Di tangan kananya dia memegang sebuah cutter berwarna merah. Dia merasakan ada tiga orang yang sedang menuju atap sekolah. Tidak lama kemudian ketiga orang itu membuka pintu.
“Sudah kuduga kamu di sini.”
Cindy dengan santai menghampiri Arin yang sedang berbaring di lantai. Kalian dan Alvan sedikit ragu karena mereka tidak ingin mengganggunya.
“Kalian berdua ayo ke sini.”
Dia memanggil kedua temannya yang terlihat ragu untuk mendekat, mereka melihat kearah Arin tetapi tidak mengeluarkan reaksi apapun lalu saling memandang.
“Gimana ?”
“Cindy sudah di sana, ayo !”
Akhirnya mereka sepakat dan mendekat.
Kemudian Cindy duduk di lantai dekat Arin diikuti oleh Alvan dan Kalia. Lalu mereka membuka makanan yang di beli dan membukanya.
“Hey makan dulu.”
Melihat mengajak bicara dengan Arin, kedua temannya merasa cemas.
(Hentikan Cindy.)
“Berisik.”
Arin menjawab.
“Jika kamu tidak makan, aku akan bilang kepada kak Maria !”
Mendengar nama Maria disebutkan dia bangkit dan melihat kearah Cindy dengan kesal, tetapi dia malah tersenyum.
“Makan lah aku beli bento untukmu makan.”
Cindy menyerahkan kotak makan itu. Arin duduk di sebelahnya menerima itu dengan wajah kesal. Dia membuka kotak makan itu dan melihat isinya, di dalamnya ada nasi, karage, yakiniku dan salad.
“Dari mana kau tahu ?”
Arin memandang Cindy dan bertanya.
“Tentu saja kak Maria, emangnya dari siapa lagi ?”
Menu makanan yang Cindy beli adalah makan yang biasa Arin makan dengan Nia saat sedang istirahat sekolah atau bermain bersama teman-temannya.
“Kak Maria melakukan sesuatu yang tidak berguna.”
Arin memalingkan wajahnya dan berbicara sangat pelan.
“Sejak kapan kamu dekat dengan Kak Maria Cin ?”
Alvan bertanya.
“Tidak dekat ko, aku hanya menanyakan beberapa hal kepadanya.”
Cindy tersenyum.
“Sudah lah kalian ayo makan dulu aku lapar nih.”
__ADS_1
Kalia mencoba mencairkan suasana dan mengajak mereka makan.
“Baiklah hahaha.”
Mereka berempat mulai membuka makanan masing-masing dan memakannya sembari mengobrol. Tetapi Arin hanya makan dan diam, dia makan dengan perlahan seakan memikirkan hal lain.
“Gimana rank milikmu rin ?”
Cindy berusaha mengajaknya berbicara.
“E.”
Dia menjawabnya dengan singkat..
“Kamu sangat kuatkan, Mungkin rank mu sama dengan milik Al.”
“Kenapa kamu tidak mencoba mengikuti tes agar terdaftar secara resmi ?”
Kalia bertanya karena penasaran.
“.……”
Alvan melihat bahwa Arin merasa tidak nyaman mencoba menghentikan kedua temannya yang bertanya.
“Kalian berdua hentikan, itu adalah hak dia kan ?”
“Maaf.”
Arin meletakan kotak makanannya dan memandangi ketiga orang itu secara bergantian.
“Kalian senang menjadi sebuah kelinci percobaan ?”
Terkejut dengan ucapannya ketiga orang itu berhenti makan.
“Kelinci percobaan ?”
“Apa maksudmu ?”
“Kenapa pemerintah dunia membuat sebuah pulau dan menempatkan semua Esper untuk tinggal di sana ?.”
Dia menjelaskan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Cari dan kalian akan paham sendiri !.”
Tiba-tiba ekspresinya menjadi sangat menakutkan. Alvan melihat itu hatinya terasa sakit karena melihat seorang gadis bisa sampai seperti ini.
(Sebenarnya apa saja yang terjadi kepadanya, apa benar hanya karena kehilangan sahabat baiknya dia menjadi seperti ini ?)
“Maaf ya berbicara yang tidak-tidak.”
Kalia merasa takut kalau Arin menjadi marah dan ingin merubah suasana hatinya berbicara dan tersenyum.
“Lagi pula aku tidak ingin memiliki kekuatan ini.”
Akan tetapi Arin terus melanjutkan bicaranya dan menatap kearah Alvan.
“Prince, apa yang kau dapatkan setelah menjadi rank S ?”
“Ah…”
Mendengar perkataan Arin dia menundukan kepalanya dan mengingat masa lalunya. Dia terus di puji oleh orang di sekitarnya karena memiliki kekuatan Rank A pada usia yang sangat muda. Lalu beberapa tahun setelahnya mencapai Rank S.
orang-orang di sekitarnya mulai mendekati dia dengan maksud tertentu dan ingin memanfaatkan dirinya karena memiliki kekuatan dan kekayaan di saat yang bersamaan.
“Percuma saja memiliki kekuatan, tapi tidak dapat menyelamatkan orang yang penting bagimu.”
Arin mengambil kembali bento miliknya dan mulai makan tanpa memperdulikan sekitarnya. Cindy memandang kearah Kalia, gadis memasang ekspresi sedih seolah akan menangis setelah mendengar perkataan tadi, lalu dia melihat sahabatnya Alvan yang sedang mengepalkan kedua tangannya.
(Serba salah gini.)
Cindy menarik nafasnya agar tenang. Mereka pun kembali melanjutkan makan untuk menghabiskan makanan yang mereka beli tanpa ada yang berbicara.
__ADS_1
Dari balik pintu terlihat ada dua orang yang sedang mengintip keempat orang itu. Mereka diam dan memperhatikan mereka dari kejauhan.