TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 113. Menginap


__ADS_3

Seorang gadis keluar dari kamar mandi, dia berjalan menuju ruangan tengah dimana semua orang sedang berkumpul, terlihat empat orang sedang bermain game bersama.


“Sudah mandinya ?”


“Iya kak.”


“Kalau udah keluar dari kamar mandi, berarti udah beres !”


“Bodoh ya Maria.”


Chanan dan Haqi mengejeknya sembari tersenyum mengejek.


“BERANI YA ?”


Maria yang kesal mendekati mereka lalu memukul perutnya. Gina melihat kelakuan teman-temannya hanya dapat tertawa.


“Kemana Arin ?”


Karena tidak dapat melihat keberadaan gadis itu Ina bertanya sembari melihat sekitarnya.


“Ke kamarnya, keatas aja kalau mau !”


Gina menjawab sembari menunjuk kearah tangga.


“Ah.. engga deh.”


Ini adalah kunjungan pertamanya ke rumah Arin, oleh karena itu dia tidak ingin melakukan hal yang tidak sopan dengan masuk ke kamar gadis itu. Karena akhirnya dia mendapatkan seseorang yang dapat di sebut teman, dia tidak ingin membuatnya membenci dirinya.


Ina berjalan mendekat kearah sofa lalu melihat kearah televisi.


Dari arah tangga terdengar langkah kaki, Arin turun dengan perlahan, gadis itu mengenakan celana jeans panjang dan jaket, ia mengenakan masker berwarna hitam.


“Eh ?, mau kemana rin ?”


Ina cukup terkejut dengan tampilannya, karena tidak mungkin menggunakan pakaian seperti itu di dalam rumah.


“Jalan-jalan sebentar !”


Dia berjalan perlahan menuju pintu keluar.


“Kak aku pergi dulu, jagain rumah.”


“Arin beli cemilan ya !”


Perlahan Arin memperhatikan Ina, dia terlihat sangat canggung, mungkin alasan utamanya karena gadis itu akan menginap tetapi pemilik rumahnya pergi keluar. Sedangkan orang yang ada di rumah Arin adalah para penghuni Apartemen Stars. Meskipun sudah lama kenal dengan Arin, tetapi apa tidak apa-apa membiarkan orang lain berada di rumahnya seperti itu ?.


Arin berhenti lalu menoleh kearah Ina.


“Anggap saja seperti rumah sendiri, kamu bebas melakukan apapun !”


Dengan nada datar gadis itu berbicara lalu membuka pintu, pergi keluar rumah.


“Apa tidak apa-apa hanya kita yang diam di rumah ?”

__ADS_1


“Santai aja Ina, Kita sudah sering seperti ini ko !”


“Benar, Kalau tante ada di rumah juga dia bakal bakal ikut bermain game bersama kami.”


Chanan serta Gina berbicara bergantian sembari tersenyum.


Mereka berempat benar-benar terlihat sudah terbiasa dengan situasi ini. Ina merasa takjub dan takut di saat yang bersamaan. Kepercayaan mereka dapat terlihat dengan jelas. Ina sangat merasa iri dengan ikatan mereka.


(Dulu aku juga punya seorang teman, tapi saat Kevin dan teman-temannya menfaatkan diriku dia pergi dengan mudahnya.)


“Hey jangan dia saja ayo main lagi Ina.”


“Gantikan aku, aku benar-benar kelelahan !”


“Ayo kita kalahkan lagi Maria.”


“Kali ini kami tidak akan kalah.”


Mendengar ajakan keempar orang itu Ina tersenyum, berjalan mendekati mereka.


------------------------------------


Arin Sedang melompat-lompat diatap rumah dan gedung. Dia sedang menju tempat favoritnya, gedung tertinggi di wilayah Barat.


Karena sudah mulai libur, terlihat banyak sekali orang di jalanan, cafe, restoran dan toko-toko lainya terlihat penuh. Meskipun beberapa pelajar pulang kampung ke halaman mereka tetapi, Banyak sekali turis yang datang ke pulau Aurora untuk liburan mereka.


Setelah sampai di tempat tujuan dia memandangi langit malam yang dihiasi oleh bintang-bintang terang. Beberapa rasi bintang dapat terlihat.


Dengan kekuatan Aerokinesis miliknya Arin mampu melontarkan diri untuk melompat jauh, tapi sangat mustahil menggunakan angin untuk terbang di langit. Dia juga sudah mencoba berbagai metode tetapi hasilnya gagal. Dia pernah membuat sebuah tornado besar lalu melompat ke dalamnya dengan tujuan akan terbang di langit seperti dewa dewa pada cerita mitologi. Tetapi itu adalah kesalahan besar, Arin terobang-abing ke sana kemari, seluruh tubuhnya terluka akibat benturan dari barang-barang yang terbawa terbang oleh angin itu, dan bahunya patah akibat terhempas jauh.


“Huuuh.”


Arin menghembuskan nafasnya sembari menikmati Angin yang berhembus kearahya.


------------------------------------


“Sialan kenapa aku masih harus mengerjakan perkerjaan sekolah !”


Seorang gadis sedang berjalan seorang diri, di sekitarnya cukup sepi tidak, dia sedang berjalan untuk kembali menuju apartemen dimana dia tinggal.


“Aku menyesal bergabung dengan komiter disiplin !”


Ekspresi gadis itu sangat kesal, dapat terlihat dari matannya.


“Padahal teman-teman yang lain mengajak untuk bermain, tapi aku harus membantu guru, sungguh menyebalkan !”


Gadis itu adalah Devina, dia dimintai oleh beberapa guru untuk membantunya mengisi beberapa formulir untuk kepentingan sekolah, beberapa orang dari komite disiplin serta anggota osis juga ikut serta.


Di belokan sebelum menuju apartemennya dia melihat ada sekitar 10 anak muda sedang mengobrol di pinggir jalan. Devina merasa tidak enak akan sesuatu, tetapi karena sudah dekat dengan tempat tujuan dia berjalan dengan normal.


“Wah ada gadis cantik !”


Tiba-tiba seseorang dari mereka memandanginya lalu berbicara sembari berjalan kearahnya.

__ADS_1


“Wah benar.”


“Kamu mau kemana ?”


“Ayo mengobrol sama kami !”


“Benar jika tidak ada kerjaan, bermain dengan kami di sini.”


Devina menyimpitkan matanya lalu mundur satu langkah untuk menjauhi orang-orang itu. Dia benar-benar tidak menanggapi perkatan mereka dan hanya diam, dia ingin segera pergi meniggalkan tempat ini, tetapi para pria itu malah mengelilinginya.


(SIAL, PADAHAL SUDAH DEKAT, TAU GINI AKU CARI JALAN LAIN.)


Padahal dia sendiri yang selalu memberi peringatan kepada para murid di SMA Barat untuk menghindari tempat-tempat sepi, kalau melihat orang-orang mencurigakan segera menjauh dari mereka. Tapi kali ini dia sendiri tidak mematuhi itu lalu mendapatkan getahnya.


“Kenapa tidak di jawab.”


“Wajah marahmu terlihat cantik tau.”


Terlihat beberapa orang melewati tempat itu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang membantu Devina yang dikelilingi oleh 10 orang pria, dari penampilannya mereka terlihat seperti sebuah gangster, dapat terlihat dari rambut dan beberapa tato yang ada di tangan.


Orang-orang yang melewati tempat itu secara spontan dengan cepat menjauh dari sana, mereka tidak ingin terlibat masalah.


(HAH, banyak orang yang melihat tetapi langsung pergi.)


Devina kesal melihat orang-orang yang seolah-olah tidak peduli dengannya.


(Tapi ya, mana ada orang bodoh yang akan terjun ke dalam masalah demi menyelamatkan seorang wanita.)


“Siapa nama mu ?”


“Hey ayolah jawab pertanyaan kami !”


“Benar jangan diam saja.”


Devina benar-benar kesal, emosinya tidak dapat di tahan lagi, tetapi apakah seorang gadis melawan 10 orang pria akan dapat menang ?, terlebih lagi dia tidak tau jika orang-orang ini akan menggunakan kekuatan jika dia melawannya.


Salah satu pria menekat lalu menggandengnya dari belakang.


Gadis itu mengkerutkan keningnya lalu dengan kerus menyikut pria itu dan berbalik lalu menendangnya.


“Ukh !”


Pria itu terjatuh ke tanah sembari memegang perutnya.


Devina tidak menyia-nyiakan kesempatan, di saat mereka lengah dia langsung berlari sekuat tenaganya menjauh dari mereka.


”Hey apa kamu tidak apa-apa.”


“Sial cepat kejar gadis itu.”


“Kita harus membuatnya menyesal !”


Kedua pria mengecek temannya yang terjatuh, sedangkan sisanya berlari mengejar Devina yang melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2