TRIGGER

TRIGGER
BAB 2, Chapter 55. kebenaran (3)


__ADS_3

“Uwah, Arin membeli 2 kebab tidakku sangka perutmu cukup besar juga.”


Cindy melihatnya duduk dan di atas meja di depannya ada 1 minuman dan 2 bungkus kebab spesial.


“Dia baru saja bertanding dan kelelahan jadi itu wajar Cindy.”


Kalia yang duduk disebelahnya berbicara.


“Harusnya kamu liat kak Maria, dia membeli 4 dengan ukuran eksra besar.”


Dia menujuk ke sebelah Arin .


“Aku sudah pernah melihatnya makan banyak, jadi tidak terlalu terkejut haha.”


Setelah berkumpul dengan Arin mereka mencari makanan, beberapa dari mereka ada yang membeli kebab, crepe dan rice box. Dan pergi ke tempat dimana mereka makan bersama di hari pertama pertandingan.


“Chanan kemana ?,dia tidak kembali-kembali.”


“Ke toiletnya lama, mungkin sakit perut.”


Alvan menjawab pertanyaan Haqi.


Dari kejauhan terlihat Chanan berlari dan mendekati mereka.


“Maaf menunggu,”


Sambil menghela nafas wajahnya terlihat panik.


“Ada apa denganmu ?”


Haqi  bertanya.


“Tidak apa-apa kok.”


Dia duduk di kursi yang kosong.


“Nih aku belikan Rice box.”


“Terima kasih.”


Haqi memberikan makanan kepadanya.


“Entah kenapa aku tidak bisa tenang dengam anggota ini.”


Daniel duduk disebelah Alvan dan menatap Arin yang sedang makan.


“Kamu lebay Daniel.”


Cindy menegurnya.


Mereka menghabiskan waktu dan makan bersama sambil berbicara ringan.


------------------------------------


Saat mereka sedang asik berbicara dan bercanda, terlihat 4 orang sedang belari menuju kearah mereka.


“Intan ku bilang tunggu.”


Kirana yang mengikutinya dari belakang.


“Rin, Intan ke sini, dia terlihat sedang panik.”

__ADS_1


“Aku melihatnya.”


“ARIN.”


Intan berteriak dari jauh, lalu berlari sekuat tenaga menujunya, Arin melihat itu berdiri dan berjalan perlahan menghampirinya.


“Ada apa ?”


“KENAPA ?”


“Haa… ?”


Intan berhenti di depannya dan memegangi bahunya.


“KENAPA… KENAPA…KENAPA.. KENAPA…?”


“INTAN.”


Kirana dan dua orang lainnya berhenti dan berdiri di belakangnya, lalu berteriak melihat kelakuannya adik kelasnya. Dia berjalan untuk menghentikannya Intan yang sedang tidak stabil. akan tetapi tangannya ditarik oleh Citra.


“Kak kirana.”


Dia melihat ke belakang dan melihat gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.


“Kirana, cepat atau lembat mereka akan seperti ini juga, kita lihat saja dulu untuk saat ini.”


Danti berbicara.


Kirana menarik nafasnya dan memperhatikan situasi. Semua orang saat ini sedang menatap kearah Intan dan kebingungan dengan apa yang terjadi.


“Apa terjadi sesuatu ?”


“Ria cepat atau lambat hal ini akan terjadi, jadi kumohon diam dan duduk.”


“Apa maksudmu ?”


“Duduk lah dan perhatikan saja.”


Karena merasakan tangan Hai yang bergetar, Dia kembali duduk dan mulai memperhatikan mereka.


“KENAPA ?”


Intan mulai menangis dihadapan Arin, dia hanya diam dan melihat temannya.


“KENAPA KAMU TIDAK MEMBERI TAHUKU KALAU NIA SUDAH TIDAK ADA.”


Cengkraman dibahunya semakin keras dan Arin mulai merasakan sakit. Dia hanya diam dan tidak menjawab apa-apa. Chanan dan Maria yang mendengar ucapan itu menatap Haqi, dia hanya menggelengkan kepalanya.


“APA AKU BUKAN TEMAN MU ?, KITA SELALU BERSAMA DULU, KENAPA KAMU BEGITU KEJAM SAMPAI MEMBUNYIKANNYA DARIKU.”


Arin melihat ke belakangnya di sana ada Citra yang menganggukan kepalanya.


(Tau dari Citra ya.)


“KUMOHON JAWAB LAH, JANGAN DIAM SAJA.”


“.….”


“ARIN.”


“..…”

__ADS_1


“KENAPA KAMU TIDAK BERBICARA ?”


Dia kebingungan untuk menjawab pertanyaan Intan, Alasan utama dia tidak mengatakannnya karena tidak ingin mengingat kembali kenangan buruk yang ada di ingatannya.


Tubuh Arin digoyangkan dengan cukup keras dan cepat.


Citra yang melihat itu lama kelamaan kesal dengan sikap temannya, dia berjalan mendekati keduanya.


PLAK!!!!!!


Dia menarik lengan Intan lalu menamparnya.


“Intan, hentikan sikap mu ini.”


“DIAM CITRA, SAAT INI AKU SEDANG BERBICARA DENGAN ARIN.”


“HENTIKAN KEEGOISAN MU.”


Citra berteriak.


“YANG PALING MENDERITA ITU ARIN, DIA MELIHAT SAHABATNYA SENDIRI MATI DI DEPAN MATANYA, ITU MUNGKIN ALASAN DIA TIDAK INGIN MEMBICARAKAN INI KARENA TIDAK INGIN MENGINGAT KEMBALI INGATAN MENGERIKAN ITU.”


Fakta baru terungkap dari mulut temannya, Intan yang melihat itu terjatuh ke tanah lalu menutupi wajah dengan kedua tangannya, dia menangis sangat keras. Arin hanya melihat itu, Citra memeluknya.


Alvan, Cindy, Kalia, Dan Daniel sangat terkejut dengan adegan terjadi di depan mereka, dia melihat kearah ketiga orang yang sepertinya mengetahui situasi ini, tapi mereka terlihat sangat murung dan hanya diam.


(Kak Maria seperti akan menangis lagi.)


Cindy melihatnya yang sedang menahan diri agar tidak menangis.


“Untuk saat ini kalian tenangkan diri terlebih dahulu dan bicarakan ini nanti.”


Citra memandangi Arin.


“Ya.”


Kirana dan Danti mendekati mereka dan mengangkat Intan yang sedang menangis.


“Kami pergi dulu ya.”


Mereka pergi menjauh, Maria berdiri dan berjalan menghampiri Arin yang terdiam


“Arin ?”


“Tidak apa-apa.”


Dia memeluknya dari belakang.


“Ayo pulang.”


Dia mengajak Arin untuk kembali, Haqi dan Chanan berdiri dan membawa barang bawaan mereka.


“Semuanya maaf tapi kami akan kembali duluan.”


Haqi membawa tas Maria dan berjalan menjauh.


“Cindy, Alvan bisa bawakan barang Arin ?”


“Serahkan pada kami.”


Mereka setuju dan hanya tersenyum. Maria menarik lengan Arin dan berjalan menjauhi mereka diikuti oleh kedua orang yang dibelakangnya.

__ADS_1


__ADS_2