TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 15. Perasaan Maria


__ADS_3

Setelah terjadi bentrok antara Arin dan Knight of Prince, Dia belajar seperti biasa di kelas. Saat kelas berakhir dan waktunya pulang Intan dan Maya datang menghampirinya.


“Rin aku antar sampai gerbang sekolah.”


“Gak usah.kamu ada latiihan kan.”


“Ya sekalian aja.”


“Terserah deh.”


Keduanya pun mengikuti Arin yang berjalan di depan, banyak orang yang melihat kearahnya karena jaket yang dia kenakan robek di sebagian tempat akibat serangan Air yang dilancarkan oleh Cindy. Dan sepertinya seisi sekolah sudah tahu apa yang terjadi padanya. Sepanjang jalan menuju gerbang sekolah hampir semua siswa dan siswi melihat ketiganya.


“Kalau gitu hanya bisa mengantar sampai di sini.”


“Ya makasih.”


“Kalau gitu hati-hati ya.”


Dengan begitu Intan melambaikan tangannya ke arah Arin yang berjalan menjauh dari sekolah.


”Baiklah sekarang teleport ke orang itu May.”


“Okay.”


Setelah itu Maya memegang tangan Intan dan keduanya menghilang dari gerbang sekolah. Kemudian mereka muncul di sebuah gang yang tidak jauh dari situ. Di sana ada seorang siswa laki-laki yang sedang mengikuti Arin. Saat dekat dengan sekolah Alvan mengikuti Arin dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh Cindy dan yang lainya.


“Lebih baik kamu menjauh dari Arin.”


“WAAH.”


Alvan terkejut dengan suara yang tiiba-tiba datang dari belakangnya.


“Ah itu kalian, membuatku takut aku pikir tadi itu Cindy.”


“Sudah terlambat untuk mengatakan itu.”


“Ya dasar pangeran bodoh.”


Dia sedikit terkejut dengan ejekan Maya dan bertanya.


“Apa maksud kalian berdua.?”


“Aku tidak tahu apakah kau pura-pura bodoh atau emang bodoh.”


“Lihat Jaket yang Arin kenakan, itu terjadi karenamu.”


Setelah mendengar perkataan keduanya dia melihat ke arah Arin, jaket yang biasa dia kenakan robek dibeberapa tempat.


“Hah.. jaketnya ? katakan padaku apa yang terjadi pada Arin ?.”


“Sudahlah aku sudah malas, Hari ini saja akan ku maafkan kamu untuk mengantar Arin pulang dengan selamat. TAPI MULAI BESOK MENJAUH DARINYA.”


“Tunggu jelaskan pad-.”


Setelah mengatakan itu Maya memegang kembali tangan Intan dan menghilang dari hadapanya.


“Apakah Cindy yang melakukan itu ?, apa yang harus ku lakukan.”


Setelah mengatakan itu dia mengikuti Arin


------------------------------------


Di depan apartemen ada tiga orang wanita sedang membersihkan halaman terlihat ibunya sedang menyapu dan dua orang lainya mencabuti rumpur liar, kemudian Arin menghampirinya dan menyapa mereka.


“Aku pulang bu.”


“Selamat datang rin ayo bantuin ibu ber--,


Dia menyapu sambil berbicara dan melihat kearah anaknya yang ternyata jaket, dan rok dia kenakan sudah robek


“HEY KAMU KENAPA ARIN !!”


Dengan berteriak ibunya berbicara, membuat dua orang yang sedang fokus mencabuti rumput melihat ke arah mereka dan menghampirinya


“Tadi terjatuh di sekolah .”


“JANGAN BOHONG MASA JATUH SAMPE ROBEK GITU JAKET KAMU.”


“Kamu gak apa - apa Rin?.”


“Tante tenanglah.”


Maria ikut bertanya di sebelahnya ada Gina.


Gina adalah penghuni kamar nomer 13, memiliki rambut pendek dengan tinggi sekitar 155cm.

__ADS_1


“Kalau ibu tidak percaya tanya saja pada Stalker yang bersembunyi di balik tiang itu.”


Arin menunjuk kearah tiang dimana Alvan sedang bersembunyi, Dengan tersenyum dia keluar dari sana.


“Selamat sore tante.”


“Apa yang Arin katakan benar ?.”


Alvan menyadari tatapan sinis dari Arin.


“Iya tante itu benar.”


“Jangan bohong.”


“Benar ko.”


“Kalau gitu aku ke rumah mau ganti baju.”


Dia mengalihkan perhatian ibunya


“Tunggu biar ibu cek kondisi kamu dulu.”


Dengan begitu Arin menuju ke rumahnya dan diikuti dengan Amalia yang tampak sangat cemas. S


etelah melihatnya sampai dengan selamat Alvan berbalik untuk kembali ke sekolah karena harus melakukan partoli bersama komite disiplin. Tetapi sesaat dia berbalik dan ingin pergi bahunya disentuh seseorang dan dicengkram dengan kuat, membuatnya merasakan sedikit sakit.


“YO NAK ALVAN IKUT DENGAN KAMI SEBENTAR.”


------------------------------------


Dengan begitu dia dibawa ke depan kamar Haqi.


“JADI APA YANG SEBENARNYA KEPADA ADIKKU.”


“Alvan ya, lebih baik kamu tidak usah berbohong kepada Ria, karena percuma saja.”


Terlihat dia sedang duduk Bersimpuh di atas tanah. (ketika seseorang meletakan diri pada lantai dengan cara melipatkan kedua kakinya ke belakang sebagai tumpuan badan).


“JIKA BERANI BERBOHONG AKAN KU BUAT JADI BAHAN PERCOBAANKU.”


“Aku tidak tau ka.?”


“HOOO ANAK INI BERANI BERBOHONG”


“HENTIKAN ...”


Seseorang datang dan menghentikannya.


------------------------------------


Beberapa menit sebelumya.


“Malam ini ada event ya, akan ku ajak chanan untuk bermain.”


Haqi yang baru pulang kuliah dan berjalan menuju apartemen. Sesampainya di sana dari kejauhan dia melihat Alvan yang duduk di tanah dan Maria yang terlihat sangat marah. Dia langsung berlari menuju mereka dan menghentikan Maria, Dan berdiri di depan Alvan.


“Tunggu Maria apa yang kau lakukan, kepada anak baru ?”


“HAA ? HARUS KAH KU MULAI DARI DIRIMU HAQI”


Dia melihat tatapan itu malah bersembunyi dibalik Alvan dengan ketakutan. Seluruh tubuhnya bergetar karena mengingat amukan Maria.


(Sudah lama Maria tidak mengamuk sampai seperti ini.)


“Haha lucu sekali Qi, mau menolong tapi malah bersembunyi di belakangnya.”


Gina melihat itu tertawa terbahak-bahak, dan mengambil handphone lalu memfoto kejadian ini.


“Akankku bagikan ke yang lainya hahahaha.”


“HENTIKAN GINA OI.”


Setelah puas tertawa dan memfoto adegan di depannya dia menghentikan Maria yang sangat marah.


“Oke Ria tenang dulu, karena ada Haqi biarkan dia meyakinkan Anak itu supaya tidak berbohong.”


“Gina sialan, jelaskan dulu situasinya.”


Setelah itu dia menjelaskan situasi yang terjadi saat ini.


“Ah jadi gitu, Alvan lebih baik kamu tidak berbohong kepadanya karena dia bisa tau saat seseorang sedang berbohong.”


Dengan kekuatanya Maria dapat melihat seluruh bagian dari tubuh manusia. Karena pengalamanya sejak kecil dia dapat membedakan saat seseorang sedang berbohong melalui kecepatan detak jantung seseorang.


“Tapi aku beneran tidak tau.”

__ADS_1


Mendengar itu Maria terlihat sangat marah.


“Benar ?”


“Ya aku juga baru tahu saat di jalan mau pulang, jadi aku beneran tidak tau apa yang terjadi.”


Setelah memeriksa detak jantung nya berdetak dengan normal dia menjawab


“Sepetrinya tidak ada kebohongan.”


“Tentu saja.”


“Tapi aku tau kalau yang pertama itu kebohongan, jadi cepat katakan semua yang kamu tau.”


“Lebih baik jangan membuatnya lebih marah dari ini. karena akan sangat menakutkan.”


Haqi berbisik kepada Alvan.


“Mungkin saja yang melakukanya adalah temankku dan para wanita itu.”


“.……”


“..…..”


“.……”


“Haqi kau tau kan kalau aku cukup terkenal di sekolah.”


“Ya, sampai ke kampus ku pun kau terkenal.”


“Yang melakukannya mungkin adalah para fansku.”


Dia menjelaskan apa yang dia tau kepada ketiga orang di depannya


“Aku juga sudah dengar dari beberapa orang kalau mereka selalu membully ketika siswa wanita datang untuk dekat denganku, bahkan sampai ada yang tidak pernah kembali ke sekolah.”


Ketiganya mendengar perkataan Alvan dan ekspresi mereka berubah..


“Pendirinya adalah teman masa kecilku, dari dulu aku sudah menyuruh dia untuk membubarkan, mereka lebih menyebalkan dari pada wanita yang menyatakan cintanya kepadaku.”


Dia memasang wajah kesal saat membicarakan ini.


“Baiklah sepertinya, kau tidak berbohong, kalau begitu terima kasih.”


Setelah mengatakan itu Maria melangkah kearah jalan.


“Ria mau kemana ?.”


“Untuk apa kau bertanya begitu Gin ?.”


Dengan senyum menyeramkan dia melanjutkan bicaranya.


“TENTU SAJA MEMBUAT ORANG YANG MENGGANGU ADIKKU MENYESALINYA SEUMUR HIDUP.”


“Tenanglah jika kamu melakukan sesuatu semuanya mungkin akan lebih rumit.”


“Benar dan juga kau mungkin akan dianggap sebagai tersangka dalam penyerangan yang terjadi terhadap SMA Barat.”


“JADI KALIAN MENYURUHKU DIAM ?.”


Dengan kesal dan sedikit air mata keluar dari matanya.


“AKU SUDAH BERJANJI KEPADA DIRIKU SENDIRI SATU TAHUN YANG LALU, JIKA ADA YANG MEMBUAT ARIN MENANGIS AKU AKAN MEMBUATNYA MENDERITA.”


Semua orang yang melihat adegan Maria teriak, lalu mengeluarkan air mata diam tidak berbicara apa- apa, Gina melangkan maju mendeketinya dan mulai memeluk dan mengelus kepalanya perlahan.


“Tenanglah, jika kamu berteriak lebih dari ini, Arin akan mendengar keributan dan datang kesini.


Kemudian kedua tanganya memegang bahu Maria dan menatap lurus ke arahnya.


“Kami semua tau perasaan kamu, jika Arin melihat kamu menangis mungkin dia akan lebih sedih dari sekarang. Dan juga jika terjadi kesalahan, lalu kamu malah ditahan oleh petugas, kami semua juga akan ikut sedih. Jadi untuk sekarang tenanglah dan bersabar.”


Lalu Gina memeluk kembali Maria dengan erat.


“Arin dia tadi tidak terlihat habis menangis seperti dulu, lagi pula kau sendiri yang melatih dia dan mengajarinya beladirikan, dia sudah tidak lemah dan kuat, jadi kita lihat dulu apa yang terjadi untuk saat ini.”


Alvan dan Haqi yang melhat keduanya hanya bisa diam dan tidak berbicara apa apa.


“Van.”


“Ya?.”


“Untuk saat ini kamu lakukan sesuatu kepada Fans mu itu.”


Alvan melihat dan dia sangat terkejut melihat ekspresi marah yang ditunjukan oleh Haqi.

__ADS_1


__ADS_2