TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 116. Keributan di malam hari 3


__ADS_3

Arin melihat jam yang berada dihandphone miliknya, pukul menunjukan pukul 23.12, lalu ada sebuah pesan yang masuk. ‘Jangan lupa beli makanan Rin’, pesan itu dari Maria mengingatkan gadis itu untuk membeli cemilan.


“Ya, tenang saja aku tidak akan lupa!”


dia pun pergi untuk membeli beberapa makanan.


Terlihat gadis itu membawa 2 kantung plastik di tangannya. Dia melompat-lompat di atap.


“Apa itu ?”


Dia mendengar suara ledakan dari suatu tempat lalu menuju ke sana.


Arin berdiri diatap gedung mengamati situasi. Dia melihat seorang gadis tengah dikeroyok oleh beberapa pria, gadis itu sedang terpojok tidak berdaya, kemudian dia meletakan barang belanjaanya lalu melompat ke bawah.


------------------------------------


(Tidak kusangka kalau gadis ini adalah ketua kelas.)


Dia berencana meninggalkan gadis itu setelah mengalahkan semua berandalan yang mengganggunya, tetapi saat pertama kali mengetahui kalau gadis yang di serang adalah orang yang dikenalinya, mau tidak mau dia tidak dapat melakukan itu. Terlebih lagi Devina pernah membantunya saat Arin diganggu oleh para Knight of Prince. Karena tidak ingin berhutang budi, akhirnya mau tidak mau dia mengungkapkan identitas dirinya.


“Arin, kamu sunggu Arin ?”


Dengan ekspresi terkejut gadis itu berbicara.


Devina tidak menyangka kalau orang yang sudah menyelamatkannya adalah Arin. Seseorang yang seharusnya memiliki Rank E dari kelas F, tetapi saat ini dia memperlihatkan kekuatan yang setara dengan Rank A.


“Kenapa bisa ah.. ?”


Sembari berbicara Devina mengerang kesakitan.


Arin tidak menjawab pertanyaanya lalu berjalan kearahnya, dia mengambil sebuah sapu tangan dari saku jaket miliknya lalu mengelap darah yang menutupi mata kanan milik Devina.


“Berhenti berbicara, kamu terluka cukup parah harus segera di obati !”


Setelah selesai membersihkan darah itu Arin memasukan tangannya ke dalam jaket untuk menggunakan trigger miliknya. Dia memandang ke atap dimana dia meninggalkan barang bawaanya.


“Apa yang kamu lakukan ?”


Devina bertanya ketika gadis itu melihat ke suatu arah. Betapa terkejutnya dia ketika melihat dua buah kantung plastik turun perlahan dari langit menuju arah mereka.


“Apa itu ?”


“Belanjaaku!”


Dengan sangat santai Arin berbicara.


“Naik ke punggungku!”


Arin menyuruh Devina untuk naik ke pungguhnya, ekspresi rumit gadis itu keluarkan.


“Tidak usah, tidak apa-apa!”


Arin menghebuskan nafas lalu berjalan kearah gadis itu, lalu mengangkatnya dan membawanya dipunggungnya.


“Ehh.. Arin hentikan!”

__ADS_1


”Orang yang terluka sebaiknya diam.”


Dia berbicara sembari berjalan perlahan, tangan kananya memegang Trigger. Dua kantung plastik itu terbang di belakang Arin mengikutinya.


“Kamu mau membawaku kemana ?”


Devina bertanya karena Arin berjalan bukan menuju ke rumah sakit, dia menyadari kalau Arin sedang memegang cutter di tangan kananya.


“Ke rumahku, Ada kak Maria di sana!”


Setelah mengatakan itu tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Devina benar-benar merasakan sakit diseluruh tubuhnya dan hanya bisa menahan rasa sakit.


Jalanan di sekitar mereka sangat sepi, tidak ada satupun orang yang melewat di sekitar mereka. Itu karena Arin menggunakan kekuatannya untuk menghindar bertemu dengan orang lain, dia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui dirinya adalah seorang Esper.


Saat sudah dekat dengan rumah, ekspresi dari gadis yang di gendong olehnya terlihat rumit, berbagai ekspresi dia keluarkan, tetapi seperti bingung ingin mengatakan apa. Arin yang menyadari itu hanya diam.


“Apa kamu seorang Trigger ?”


Sampai akhirnya Devina yang sudah tidak dapat menahan rasa ingin tahunya berbicara.


“Ya.”


“Kenapa kamu menyembunyikan kekuatanmu ?”


“Bicaranya nanti saja!”


“Hmmmm.”


Seperti tidak ingin membicarakan hal itu, Arin tidak menjawab pertanyaanya lagi dan hanya berjalan.


------------------------------------


Ina merasa cemas sembari duduk di sofa.


“Aku sudah mengirimnya pesan untuk beli makanan ko!”


Maria menjawab.


Mereka masih asik bermain game, semakin malam bukan semakin lelah, mereka semakin heboh dan berisik.


“YOSH, karena sudah malam, ayo main game horor!”


Maria dengan percaya diri mengajak semua orang, dia ingin membalaskan kekalahannya saat terakhir kali bermain.


“VR horor lagi ?”


“Siapa takut.”


“Aku tidak ingin ikutan!”


Hanya satu orang yang terlihat tidak bersemangat, Gina menjauh lalu duduk  di sofa.


“Kenapa apa kamu takut Gin ?”


“Berisik, aku tidak peduli, biarkan Ina aja yang bermain!”

__ADS_1


“Haha, biar aku setting dulu ya.”


Chanan mengambil consol lalu melakukan setting.


“Aku benar-benar tidak ingin bermain!”


DUG!!!!!!


“KYAAA, a-.. apa itu ?”


Terdengar suara sangat keras dari pintu depan, seperti sebuah pintu yang di banting. Gina terkejut melompat lalu bersembunyi di belakang Ina.


Mereka menoleh ke arah pintu, di sana ada Arin yang membawa seseorang di punggunya.


“Maaf, aku menggunakan  kakiku untuk membuka pintu !”


“Ah ternyata Arin!”


“Eh siapa itu rin ?”


Semua menanyakan identitas dari orang yang di bawa olehnya.


“Ah.. halo !”


Wajah Devina menjadi merah cerah karena merasa malu di lihat banyak orang.


“Ah Devina!”


“Bentar-bentar kamu terluka!”


“Apa yang terjadi ?”


Haqi dan Maria menyadari kalau gadis itu sedang terluka lalu mendekat kearah Arin. Mereka sekilas dapat melihat luka pada wajah Devina.


“Apa yang sebenarnya terjadi ?. kamu penuh dengan luka!”


Maria terkejut lalu memeriksa keadaan gadis itu.


Arin berjalan membawanya menuju sofa, lalu membiarkan gadis itu duduk di sana.


Semua orang terkejut karena lukanya cukup fata.


Maria memeriksanya menggunakan angel Eye miliknya, Bahu dari Devina terkilir, terlihat bekas benturan padah tubuhnya. Seluruh tubuh gadis itu hampir penuh dengan luka gores.


“Ina ayo bantu aku bawa alat kesehatan dari kamarku, Gina cepat rebuskan air panas!”


“Baik kak!”


“Oke!”


Mereka terlihat sangat panik lalu berlari dengan cepat menuju apartemen Star.


“Haqi, Chanan bawa belanjaan di halaman rumah, aku akan ganti baju dulu.”


Arin berjalan menuju kamar mandi, Kedua pria itu melihat kalau jaket belakangnya di penuhi dengan bercak darah.

__ADS_1


__ADS_2