
Setelah sampai di apartemen Star mereka langsung naik ke lantai 3, menuju kamar Maria. Sesampainya di kamar dia menyiapkan beberapa perlengkapan yang biasa digunakannya. Setelah itu Maria lansung mengobati beberapa luka ringan yang di alami Arin, lalu mulai memijat kaki Arin yang mengalami luka.
“Apa masih susah digerakan ?”
“Tidak terlalu.”
“Urat pada kakimu ada yang membengkak, tapi dalam 2 hari mungkin akan sembuh.”
Lalu dia mengoleskan Salep buatannya sendiri, untuk mengurangi memar yang terjadi.
“Baiklah sudah selesa,i selanjutnya Maya.”
Dia menghampirinya lalu mengoleskan beberapa Alkohol ke beberapa luka di tubuhnya.
“Uh perih.”
“Tahan lah, jika luka bakar ini tidak diberihkan mungkin akan berbekas.”
Terlihat ekspresi gadis itu yang menahan rasa sakit ketika tangan kanannya di beri alhokoh.
Setelah beres memeriksa Maya, dia mendekati Cindy yang berbaring di kasurnya.
(Luka Ringan di kepala, beberapa bagian tubuh juga terluka, yang paling parah adalah bahunya itu retak.)
“Kalian Para pria keluar dulu, aku akan mengobati dia.”
“Eh kenapa ?.”
“Oh jadi kau ingin melihat seorang gadis telanjang ha ?”
Maria memanandangi mereka dengan mengejek. Lalu semuanya menunggu di depan kamar.
“Aku akan merobek baju mu, karena jika di buka biasa bahu itu akan menjadi lebih buruk dari sekarang.”
“Ya.”
Dia mengambil gunting yang berada di laci di meja belajar, lalu dia mulai menggunting bajunya, saat tergerak sedikit Cindy merasa sangat kesakitan di bahu sebelah kanannya.
“Sebagian besar luka di bagian tubuh lain tidak terlalu parah, luka di wajah juga tidak parah dan aman, Bahu itu sedi tulang nya mengalami retak, aku akan memberikan pijitan tradisional, ini akan sakit tahan lah.”
Lalu Maria memberikan pijitan akupuntur kepada sekitar bahunya.
“AAAAAAKKKKHHHH.”
Cindy yang merasakan sakit berteriak dengan kencang terdengar hingga keluar ruangan.
“Rin ko kak dari dari kak Maria bisa tahu luka dan posisinya organ dalam yang terluka ?”
Maya yang kebingungan dengan tindakannya bertanya kepada Arin.
“Dia memiliki Kekuatan Angel Eyes.”
“Angel Eye apa itu ?”
“Mata yang dapat melihat menembus objek, kak Maria dapat melihat organ dalam manusia dengan sangat jelas dan sempurna.”
Maria mengoleskan bagian yang luka dengan salep yang dia buat dan mulai membersihkan beberapa luka yang tersebar di seluruh tubuhnya.
“Luka bakar ini lebih parah dari pada Maya.”
Dia mengoleskan Alkohol dan dan Obat merah, Cindy yang tidak bisa menahan rasa sakit menangis selama pengobatan.
Setelah itu dia mengambil bajunya yang berada di lemari dan memakaikannya lalu mulai membalut bahu dan lengannya agar tidak menyebabkan luka lebih parah.
“Baiklah selesai, Jika bahumu masih terasa sakit, Makan lah obat penahan rasa sakit ini.”
Maria membuka pintu kamarnya kembali dan memberitahu para pria kalau sudah selesai. Saat mereka masuk tiba-tiba Cindy mulai menangis dan berbicara sendiri.
“Saat mereka membutuhkan bantuan aku selalu membantu, padahal kita selalu bersama sejak SMP, Yang memulai kekerasan adalah mereka, dulu aku selalu berusaha agar mereka tidak melakukan kekerasan.”
__ADS_1
Maria, Arin dan Maya yang berada di dekatnya mulai memperhatikan Cindy yang berbaring dan menutupi wajah dengan tangan kirinya.
“Cin-.”
Alvan yang ingin mengatakan sesuatu dihentikan oleh Haqi dan Chanan yang berada dipinggirnya, kedua orang itu menggelengkan kepala mereka.
“Tapi aku juga malah melakukan apa yang mereka lakukan, salah satu teman baikku berusaha menghentikanku tapi aku tidak mendengarkannya, saat ini mereka berbalik menyerang dan menghinaku, menyalahkan semua yang mereka lakukan kepadaku, aku kira kita adalah teman.”
Cindy pun tidak menangis cukup keras sehabis bercerita. Arin yang kesal mendengar ceritanya berdiri dan memandanginya.
(Entah kenapa aku kesal melihat gadis ini.)
Dia merasa kesal setelah melihat Cindy merengek kepada mereka.
Mungkin Arin melihat dirinya yang dulu cengeng dan hanya bisa bersembunyi di belakang punggung orang, serta meminta bantuan kepada orang lain saat dia memiliki masalah, itu lah yang membuat dia sangat kesal, saat memandangi gadis yang menutupi wajahnya itu. Lalu dia mulai berbicara kepadanya.
“Apa kau bodoh.”
“..….”
“Teman ?, orang yang ingin sesuatu darimu mana mungkin teman !!”
“.……”
Semua orang mulai memandangi Arin yang berbicara.
“Teman itu bukanlah mereka yang selalu bersama kita, Tapi mereka yang datang mengulurkan tangan ketika kita sedang kesulitan.”
“.….”
Semua orang yang mendengar ucapannya terkejut dan mengeluarkan ekspresi berbeda.
(Wah aku tidak menyangka Arin akan berkata seperti itu.)
Maria tersenyum dan memandanginya.
(Aku tidak akan percaya jika tidak mendengarnya langsung hari ini, akan aku ceritakan kepada Intan hahaha.)
Haqi dan Chanan memandangi satu sama lain dan tersenyum, sedangkan Alvan hanya terdiam dan terpesona mendengar itu dan tidak mengatakan apa-apa.
Arin berjalan menuju pintu kamar, Cindy melihat kearahnya.
“Jika masih ingin menjadi tidak berguna menangislah terus dan kau akan menyesali itu, tetapi kau bisa buktikan kepada mereka kalau kau bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.”
“.…..”
“Antar aku kembali Kak, buat alasan agar ibu tidak khawatir dan marah.”
“Baik, tentu saja.”
Kemudian Arin dan Haqi keluar dari kamar Maria dan menuju rumahnya, kemudian Maria melihat kearah Cindy dan berakata.
“Aku tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi satu hal, yang kau lakukan itu sudah keterlaluan, Jika para lelaki di sana tidak menghentikanku waktu itu kau pasti sudah berada di daftar nama hilang saat ini.”
“Eh… ?”
Dia terkejut dengan perkataan yang keluar dan memasang ekspresi yang sedikit bingung.
“Ya yang sudah kalian itu sangat keterlaluan, sudah lama aku ingin menghajar Semua Knight of Prince, jika Ketua kelas tidak menghentikan kami saat itu-, hahaha tidak-tidak, jika kami telat datang mungkin kalian akan berakhir di rumah sakit hari itu hahahaha.”
Maya ikut berbicara dan malah mengejeknya dan tertawa.
“Hei kalian berdua bukan kah sedikit kejam memperlakukan gadis yang sedih seperti itu ?”
Chanan kasian melihat Cindy yang diejek berusaha menenangkan kedua gadis itu.
“Hahaha itu adalah hasil dari yang dia perbuat dan lakukan sendiri.”
“Lebih baik kau berlajar dan meminta maaf kepada seluruh orang yang telah kau bully itu.”
__ADS_1
Maria dan Maya yang tidak terlalu peduli mulai mengabaikannya.
“Cindy aku tidak tau harus berbicara apa, tapi apa yang dikatakan oleh Arin itu ada benarnya, mereka yang ingin sesuatu dari mu bukan lah teman.”
“Al.”
“Tapi meski pun begitu, kau masih memiliki teman seperti Kalia, Daniel dan tentu saja aku.”
“.…..”
“Aku hanya mengatakan bahwa manusia itu bisa berubah, jadi pastikan kau berubah kearah yang lebih baik.”
“Ya terimakasih.”
Untuk sementara waktu dia menangis, Maria yang kamarnya menjadi berisik hanya bisa menghela nafas.
“Jadi kapan kalian akan kembali ini sudah malam.”
“Ah aku akan memulihkan sedikit kekuatanku kak abis itu aku akan pulang haha.”
“Oh kau tidak akan menginap May ?”
“Tidak besok juga ada sekolah, lain kali saja bersama Intan menginapnya.”
Maria yang bertanya malah asik mengobrol dengan Maya dan mengabaikan 3 orang sisanya. Lalu Alvan memotong pembicaraan mereka berdua.
“Aku sudah mengirim pesan kepada seseorang untuk menjemput Cindy mungkin sekitar 5 menit lagi akan datang.”
Beberapa menit setelah itu Handphone miliknya berdering dan dia melihat ke jalan di sana sudah ada mobil berwarna hitam menunggu.
“Cindy ayo aku akan mengantarmu pulang.”
Dia membantu bangun dari kasur dan berjalan perlahan, sebelum keluar dari kamar Cindy berbalik melihat kearah Maya dan Maria.
“Terima kasih untuk hari ini, karena sudah menyelamatkan ku, akan aku balas semuanya suatu hari nanti.”
“.……”
“.……”
Cindy pergi keluar dengan Alvan, Chanan yang melihat keduanya tidak merespon perkataan Cindy hanya bisa menarik nafas dan mengikutinya turun dari apartemen. Sesampainya di dekat mobil di sana terlihat Haqi yang keluar dari rumah Arin sambil memegangi kepalanya dan berjalan mendekati mereka.
“Oh sudah mau kembali, tidak menginap saja ?”
“Tidak kak, aku tidak bisa merepotkan kalian lebih dari ini, terima kasih sudah menyelamatkanku hari ini.”
“Tidak apa-apa.”
Cindy dan Alvan masuk ke dalam mobil bagian belakang.
“Kalau gitu pergi dulu.”
“Ya hati-hati.”
Mobil itu pergi menuju Rumah dimana CIndy tinggal.
“Jadi bagaimana qi ?”
“Apanya ?”
“Tante Amalia.”
“Huh… susah sekali meyakinkannya karena ada noda darah di jaketnya Arin, harusnya tadi kita membukanya dulu.”
“Jadi ketauan ?”
“Tidak aku bilang kalau kita membantu Maria dalam bidang kesehatan, jadi ayo kita kembali ke kamarnya agar tidak salah berbicara saat bertemu tante besok.”
“Ya tentu.”
__ADS_1
Mereka berdua kembali menuju lantai 3.