
..."Memboroskan harta benda tuannya"...
Jalanan gelap gulita, untuk menghemat listrik para warga telah mematikan lampu penerang jalan. Sudah tengah malam, tidak akan ada lagi orang yang lewat. Apalagi dalam cuaca seperti sekarang ini.
Suara gerimis dan desir angin terdengar begitu jelas di keheningan malam. Dedaunan dan ranting yang bergesekan dengan atap, seperti jari berkuku panjang sedang mencakar-cakar. Kain gorden melambai-lambai lembut seperti ada yang meniup.
Setelah memeriksa banyak kertas, entah kertas apa saja, Bu Lurah ketiduran di sofa ruang tengah. Kertas-kertas tersimpan rapi di dalam map hijau diletakkan di atas meja.
Perempuan berkebaya kuning gading berdiri mematung menatapnya. Bibirnya sedikit mengerucut lalu meniup. Map tiba-tiba terbuka, kertas-kertas yang tadinya ditumpuk rapi di dalamnya langsung berhamburan ke mana-mana.
Satu lembar mendarat di wajah Bu Lurah, kertas yang terlihat sudah sangat usang, mengusik tidurnya yang memang tidak lelap. Dia ingin membuka mata dan bergerak, tetapi matanya terasa lengket dan badan sangat lemas, untuk menggerakkan jari saja susah.
"Sri ... Sri ... Sri .... Kowe tego, yo." Suara ini terdengar sayup-sayup oleh Bu Lurah, rasanya seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.
(Kowe tego yo: kamu tega ya)
"Siapa?" Pertanyaan ini hanya menggema di dalam batin Bu Lurah. Keadaannya saat ini pun seperti antara sadar dan tidak.
Tubuhnya yang lemas semakin lama semakin terasa berat seperti ada yang menindih.
"Aku Nyai Bibet, Danyang sanggar. Kowe keturunane Parmun, tapi tumindakmu olo. Ora elok blas."
(Kamu keturunannya ... tindakanmu jahat. Tidak pantas sama sekali)
Parmun adalah kakek moyangnya Bu Lurah, lurah pertama Desa Pantungan yang mendirikan sanggar. Jadi, secara tidak langsung ada ikatan moral antara Bu Lurah Sriwedari dengan Nyai Bibet.
Nyai Bibet tidak ingin menyakiti keturunan orang yang telah membangun tempat khusus untuknya. Tempat yang dibangun sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan karena sudah diijinkan membangun pemukiman di tempat ini.
Dua pohon besar di punden adalah tempat tinggal Nyai Bibet dan Ki Gopet. Lewat mimpi, keduanya meminta supaya dua pohon itu jangan ditebang. Sampai kapan pun tidak boleh.
Memilih sanggar sebagai bentuk penghargaan itu karena waktu dulu desa ini masih baru dibangun, penduduk belum banyak dan masih lebih berupa hutan ketimbang desa, sering terdengar suara gamelan mengiringi perempuan menembang di area dua pohon besar itu, sesekali juga terjadi penampakan perempuan berkebaya kuning gading sedang menari diiringi gamelan alat musik bonang, ditabuh oleh seorang pria muda nan tampan berbusana keraton.
Para danyang itu tidak keberatan berbagi tempat dan hidup berdampingan dengan manusia, asal ketenangan dan wilayah khusus mereka tidak diganggu.
Selama ini pun semua berjalan baik-baik saja. Walaupun tidak bisa melihat keberadaan para danyang, para warga tetap meyakini mereka ada dan selalu memberikan penghormatan. Tidak disangka akan ada orang yang berniat merusaknya dan orang itu adalah keturunan dari perintis desa ini sendiri.
Digunakan ataupun tidak, sudah sepantasnya tempat itu tetap dijaga, kalau perlu dilestarikan karena merupakan peninggalan leluhur yang dipersembahkan untuk danyang desa ini.
Nyai Bibet hanya ingin menyadarkan Bu Lurah supaya tidak bertindak kebablasan. Danyang sanggar itu tidak akan segan-segan murka bila Bu Lurah tidak mengindahkan peringatannya, dan tetap melanjutkan niat untuk membongkar dua tempat keramat.
"Pergi! Jangan mendekat!" Teriakan ini pun hanya ada dalam batinnya.
Napas Bu Lurah ngos-ngosan, dadanya sampai terlihat naik-turun sangat kasar, bulir-bulir keringat pun terus mengalir membasahi wajah dan leher.
Dalam pikirannya Bu Lurah melihat, sambil melangkah mendekat, tangan perempuan berkebaya kuning gading itu terjulur seperti hendak mencekik.
Matanya menatap nanar, bibir menyunging senyum tipis nan sinis. "Urungkan niatmu, Sri! Urungkan! Aku tau tujuanmu! Jangan jadi lemak penyelar daging, kamu!"
"Tidaaak!" Bu Lurah berteriak histeris saat tangan-tangan berjari lentik itu menyentuh kulit lehernya.
"Sri!" Pak Agung tergopoh-gopoh keluar dari kamar. Sesampai di ruang tengah, dia mendapati tangan istrinya sedang bergerak liar, seperti sedang menyerang membabi-buta. "Sri, bangun! Bangun!"
Plak
Satu pukulan mendarat di muka Pak Agung. Pria itu bergegas mencekal kedua pergelangan tangan sang istri, lalu memegang menggunakan satu tangan, dan tangan yang lain mengguncang kasar bahunya.
"Sri, bangun!"
__ADS_1
"Pergiii! Aaarrrggghhh!"
Mengibas kepala ke sana-kemari, sangat liar, Bu Lurah membuat Pak Agung kewalahan hingga terpaksa memukul lengannya cukup keras hingga akhirnya Bu Lurah membuka mata, menatap nanar langit-langit rumah, napasnya memburu, keringat bercucuran.
"Ayo, pindah ke kamar."
Bu Lurah menatap suaminya. Dahi mengernyit, matanya menyipit. Setelah beberapa saat barulah dia bereaksi, tiba-tiba mendorong Pak Agung dan langsung duduk tegak.
"Kamu mau bunuh aku, Mas?!"
Masih berusaha menyeimbangkan diri supaya tidak terjerembap karena barusan menabrak meja, tak urung wajah Pak Agung mengernyit bingung.
Sambil mengelus lehernya yang basah karena peluh, Bu Lurah menatap nanar pada Pak Agung. "Kamu mencekikku. Iya, 'kan?" Tuduhan tanpa dasar diucapkan tanpa sungkan.
"Sembarangan kamu! Tadi itu kamu mimpi buruk teriak-teriak seperti kesurupan makanya aku keluar. Lihat ini pipiku masih sakit kamu pukul." Pak Agung mengelus pipinya.
Mimpi buruk? Aku barusan mimpi buruk apa? Perempuan itu diam termangu.
"Tsk, kertas-kertas penting di lantai semua."
Perhatian Bu Lurah langsung teralihkan, tiba-tiba wajahnya menegang. "Jangan ambil!" Buru-buru dia bangkit dari duduk dan merampas satu lembar kertas yang barusan dipungut Pak Agung dari lantai. "Balik tidur sana nanti aku nyusul."
Berpikir kalau sang istri masih terpengaruh oleh mimpi buruk yang barusan dialami, Pak Agung menuruti saja apa katanya. Menghela napas dan menggeleng kecil lalu melangkah pergi.
Pak Agung tidak habis pikir Bu Lurah mimpi apa? Kok, Bisa-bisanya sampai menuduh seperti itu. Membunuh. Ada-ada saja.
Sisa malam terlewati dengan tenang. Begitu pagi datang matahari bersinar sangat cerah, cakrawala pun biru cemerlang.
Kaki-kaki tangguh para bapak tani, ada yang berjalan, ada yang mengayuh sepeda, bergerak penuh semangat hendak mengunjungi sawah yang kemarin terendam air.
Dari teras rumah, Ningsih yang sedang menyapu menyempatkan diri melambai pada segerombolan pesepeda remaja putra-putri, berseragam putih abu-abu yang hendak berangkat sekolah. Mereka dulu adalah muridnya waktu masih SMP.
Mendengar dentingan suara standar sepeda, Ningsih buru-buru melongok ke beranda. Ruangan seluas rumah, tetapi tanpa dinding itu lebih tinggi dua anak tangga dari teras.
Melihat baju compang-camping yang dikenakan bapaknya, Ningsih langsung tahu si bapak hendak ke mana.
"Bapak tidak ke kantor desa? Lagian belum sarapan juga, kok, sudah mau ke sawah."
"Baru jam tujuh ini. Bapak cuma sebentar. Mau lihat keadaan padinya bagaimana. Mudah-mudahan tidak hanyut. Punya Mbah Pariman yang sawah dekat sungai, habis katanya."
Mbah Pariman rumahnya di belakang rumah. Jadi, tadi Pak Wahyu sempat bertemu dan mengobrol waktu sedang membersihkan sampah di kebun belakang.
"Tidak banjir bandang saja sudah bersyukur, Pak. Ya, sudah. Bapak hati-hati jalannya pasti licin."
Mata bulat besar mengiringi kepergian Pak Wahyu sampai yang bersangkutan menghilang di tikungan. Lalu, menatap sendu pada jalan gang yang mencetak telapak kaki Pak Wahyu dan roda sepedanya. Pasir koral yang beberapa minggu lalu dituang di situ sudah hanyut tak tersisa.
"Sarapan dulu, Ndok!" Bu Rusmini melongok dari jendela.
"Iya, Buk." Sekalian menyimpan sapu dan pengki, Ningsih masuk ke dalam rumah lewat pintu dapur.
_________
Matahari yang terasa cukup menyengat, rasa-rasanya tidak akan mungkin bisa dikalahkan mendung. Sungguh kebalikan dari hari kemarin.
Di Balai Desa, Bu Lurah berdiri mematung menghadap ke jalan, seperti sedang menunggu. Sudah hampir satu jam perempuan itu berada di situ. Awalnya mondar-mandir sambil sesekali berbicara di telepon genggam---di Desa Pantungan benda itu masih termasuk barang cukup mewah yang tidak semua orang punya.
Menjelang tengah hari, Bu Lurah mengajak Pak Gonden pergi, mengendarai motor masing-masing.
__ADS_1
"Kang Wahyu! Kang!"
Mendengar ada yang memanggil, Pak Wahyu yang sedang mengobrol dengan Ningsih di tempat parkir sepeda SMP, kebetulan waktu istirahat, bergegas berpamitan pada putrinya lalu berlari-lari kecil menghampiri Pak Kasun Kulon.
"Ada apa, to, Pur?"
Namanya Purwo, orangnya masih sangat muda, sepantaran Ningsih.
"Bu Lurah sama Kang Gonden pergi, katanya ada urusan. Apa mungkin ketemu sama petugas survei yang tadi pagi Kang Wahyu bilang?"
Dahi mengernyit, Pak Wahyu merasa ada yang aneh. Petugas survei dari kabupaten seharusnya datang bertamu dulu ke kantoran sebagai bentuk sopan santun.
Lagi pula, buat apa Bu Lurah dan Pak Gonden perginya terkesan diam-diam begitu.
"Ayo, ikut aku, Pur. Boncengan saja, kamu yang di depan."
"Ke sanggar?"
Pak Wahyu hanya mengangguk sambil terus berjalan ke area parkiran.
Sementara itu, Bu Lurah dan Pak Gonden sudah berada di jalan setapak belakang sanggar, dari situ, baik punden maupun sanggar sama-sama terlihat. Bersama mereka ada dua orang pria bertampang juragan. Keduanya adalah orang-orang yang pernah dilihat Ningsih di depan Rumah Bu Lurah, dua laki-laki yang mengenakan perhiasan besar-besar.
"Di lahan sanggar dan punden ini, rencananya mau aku buat toko besar, macam agen tempat kulakan gitu, sama toko bahan bangunan." Pria paruh baya, mengenakan topi yang umum dikenakan para belantik atau istilah kerennya topi koboi, menunjuk-nunjuk ke arah sanggar. "Pas banget dekat pasar, pinggir jalan pisan."
"Jadi kira-kira kapan ini bisa disahkan, Bu?" Pria satunya, lebih muda, berpakaian santai, kaus oblong dan celana pendek banyak saku, turut bicara.
"Sabar dulu, Pak Candra. Paling tidak, nanti habis acara nyadranan." Bu Lurah yang biasanya arogan, sekarang terlihat seperti mati kutu, tutur katanya halus dan sopan, bahkan juga tersenyum ramah.
"Wah, memangnya Bu Lurah tidak pengen segera ...." Pria bertopi koboi menggerak-gerakkan kedua tangan di depan dada, memeragakan sedang mengemudi mobil.
Wajah Bu Lurah seketika memerah dan Pak Gonden matanya berbinar. Dasar manusia-manusia tidak amanah.
Suara motor mengalihkan perhatian mereka. Dalam hati, Bu Lurah cukup terkejut saat melihat Pak Wahyu yang datang, tetapi di permukaan tetap terlihat sangat tenang.
"Waduh, mereka kok, bisa tau kita di sini?" Pak Gonden tidak mampu menutupi syok di wajahnya.
"Tutup mulutmu, Gon!" Bu Lurah menghardik, tetapi saat kembali berbicara pada tamunya terdengar ramah, "Pak Candra dan Pak Yudi tenang saja. Saya yang urus."
Cara kedua laki-laki itu menatap disertai senyum miring, terlihat sangat merendahkan lawan bicara. Namun, sepertinya Bu Lurah tidak ambil pusing.
"Apa-apaan ini, Bu Lurah?" Pak Wahyu berdiri di hadapan Bu Lurah, tetapi matanya naik-turun cepat memperhatikan kedua laki-laki yang jelas terlihat bukan orang dari dari kabupaten. "Orang-orang ini siapa?
"Kang, bicaranya nanti di kantor saja, tidak enak---"
"Diam kamu! Aku tanya sama Bu Lurah, bukan kamu!"
Pak Gonden langsung tutup mulut, matanya mengerling Bu Lurah yang terlihat tetap tenang alih-alih takut. Dagunya malah terangkat angkuh.
"Pak Candra dan Pak Yudi sebaiknya pulang dulu---"
"Tidak bisa! Jelaskan dulu ada apa ini---"
"Wahyu!" Bu Lurah membentak, bahkan memanggil Pak Wahyu tanpa embel-embel.
Terperanjat bukan kepalang, Pak Wahyu dan yang lainnya, kecuali kedua laki-laki tamu, nanar menatap Bu Lurah.
[Bersambung]
__ADS_1