
Selesai makan evan memberikan obat kepada yang ada disana, mereka pun meminumnya, evan memeriksa kondisi mereka.
" tubuh rasanya segar dan bugar lagi nih." kata pak sandi
" iya enaknya punya anak dokter, kondisi kita jadi terawat." kata pak handoko
" kamu enggak kenapa kenapa kan nak." kata bu sofie mengkhawatirkan kondisi evan
" enggak apa apa bu, aku baik baik aja, malahan tambah segar nih." kata evan
" gimana enggak segar, orang ada isteri cantik disebelahnya." canda bu fitri. Setelah istirahat sebentar habis makan, mereka pergi ke halaman villa, mereka menyalakan karaoke lalu menyanyi bersama. Kehangatan itu membuat rasa kekeluargaan semakin bertambah, tanpa ada rasa sungkan lagi diantara mereka.
" si rio tanyain kamu terus nak, dia ingin buru buru pulang jadinya." kata bu lela
" iya tumben dia mau buru buru pulang, makanya sekarang dia mengejar supaya cepat selesai kuliahnya." kata pak sandi
" kedepannya kita harus sering berkumpul seperti ini, kita harus ajak anak anak kita yang lainnya juga supaya lebih kenal ya." kata bu sofie
" iya bu saya setuju, mereka juga jangan asyik sendiri sendiri, kebahagiaan seperti ini akan sulit didapat, kamu memang pembawa kebahagiaan buat kita nak." kata bu lela
" maximal 1 bulan sekali kita harus berkumpul, nanti kita gantian aja di rumah siapa, supaya kita bisa saling kenal lebih dekat lagi." kata bu fitri
" saya setuju atas idenya bu." kata bu sri
" ini bu amel aja pengen kesini, tapi dia khawatir akan kandungannya." kata bu sofie
" sama pulang dari liburan ini, kita menantikan kabar bahagia dari anak kita juga ya." kata bu fitri
" doakan saja pak, bu. Oh iya pak, bu mohon masukannya untuk nama yayasan panti asuhan yang insyaAllah akan segera dibangun." kata evan
" Kasih Kebersamaan aja, dengan kebersamaan ini kita juga memberikan kasih sayang kepada yang lainnya." kata bu fitri
" setuju nama yang bagus, memiliki makna kebersamaan." kata bu sofie
__ADS_1
" iya setuju." jawab yang lain. Mereka pun menikmati malam dengan rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang semakin erat.
" sayang gimana kamu senang enggak liburannya." tanya bu lela ke yasmin yang sedang asyik main sama ira dan jaka
" senang banget bu, terimakasih banyak ya bu." kata yasmin
" sama sama anak pinter, yang penting kamu bahagia ya, gimana tadi naik pesawatnya." kata bu lela
" tadi aku awalnya takut jatuh bu, tapi ibu peluk aku jadi enggak takut lagi." kata yasmin
" kamu enggak sendirian sayang, dirumah ada ibu dan kakak kakak juga ada kami, di sekolah ada ira dan jaka sama bu guru yang sayang sama yasmin. Kamu harus semangat ya. Kalau ada yang ganggu kamu bilang sama ibu guru aja, jangan kamu layani ya." kata bu fitri
" iya bu, makasih semuanya sudah sayang sama aku." kata yasmin, bu fitri pun memeluk yasmin
" kamu mau hadiah apa sayang, nanti kita beli ya." kata bu fitri
" udah cukup bu, boneka yang kemarin aja belum aku mainin semuanya. bu boleh kan nanti kalau sebagian mainannya aku kasih ke teman yang membutuhkan." tanya yasmin
" boleh dong sayang, itu kan udah milik kamu, kamu mau apakan itu mainan terserah kamu apalagi mau kamu bagi bagi sama temannya. Kalau kurang nanti bilang aja ya ke ibu." kata bu fitri
" nanti kan kak evan mau bangun rumah buat teman teman yang membutuhkan tempat tinggal, kamu bisa main sama mereka." kata bu sofie
" beneran bu, asyiik aku bakalan banyak teman, ira nanti kita main kesana ya." kata yasmin
" iya yas, kita pergi kesana ya, awas jangan lupa ajak ajak aku kalau mau kesana." kata ira
" bu, boleh enggak aku makan sosis bakar." tanya yasmin
" boleh sayang, yang terpenting kamu makan ya." kata bu marni
" iya bu, pasti aku makan kok." jawab yasmin
Evan sedang memperlihatkan coretan coretan denah bangunan yayasan yatim piatu, evan juga menjelaskan gagasan yang akan dibuat disana. Pak handoko, pak sandi dan yang lain setuju atas ide evan dalam pengelolaan rumah yatim piatu tersebut.
__ADS_1
" kapan mulai pengerjaan pembangunannya." kata pak handoko
" mudah mudahan izinnya cepat selesai, setelah itu baru dimulai pembangunannya pak." kata evan
" untuk diakta notaris pendirian yayasan, biar ibu ibu saja yang ada disana, kita hanya pendukung aja." kata pak sandi
" betul itu, kita pendukung aja, biar ibu ibu aja yang aktif disana." kata pak handoko
" kalau begitu nanti saya minta KTPnya ya ibu ibu untuk akta pendirian yayasan Kasih Kebersamaan." kata bu marni
" ini bu sekarang aja, kalau nanti nanti saya suka lupa." kata bu sofie mengeluarkan KTPnya dari dompet yang dia bawa. Yang lain pun ikut mengeluarkan KTPnya, bu marni memphoto KTP mereka, setelah itu mengembalikannya, bu marni juga meminta KTP Evan, Nazwa dan bu citra, setelah itu menghubungi pak hendrik untuk di buatkan akta notaris pendirian yayasan sosial.
" semoga niat kita ini menjadi ladang amal kita, dan akan menolong kita kelak, semoga pahala ini juga bisa mengalir kepada orang orang yang kita sayangi dan telah mendahului kita." kata evan
" aamiin." jawab mereka serempak
" selain mencukupi kebutuhan makannya, pakaiannya, kita juga harus memperhatikan pendidikan mereka." kata pak handoko
" nanti suasana di panti itu harus benar benar seperti di rumah, supaya mereka bisa merasakan kehangatan keluarga." kata bu sofie
" minimal mereka juga nanti sebulan sekali kita ajak mereka liburan dan mungkin kita juga bisa mengajak sesekali makan di restoran." kata bu lela
" saya setuju tuh, terkadang menurut kita makan di restoran itu hal biasa tapi untuk mereka hal itu mungkin hanya angan angan saja." kata bu fitri.
" kita bismillah saja, semoga niat kita ini selalu mendapat kemudahan." kata evan
" aamiin." jawab mereka lagi.
" untuk anak anak yang besarnya bisa dilatih untuk memiliki keterampilan, nanti bisa diberdayakan di perusahaan DP atau DFG bahkan di rumah perawatan kecantikan E&N juga yang terpenting mereka bisa mandiri." kata evan
" betul itu, kita lihat keahlian mereka seperti apa, kalau mereka ingin berdagang atau merintis usaha kita berdayakan juga." kata pak sandi
" sungguh mulia tindakan ini, kita melakukan tindakan nyata, kakek bangga sama kamu nak." kata kakek baskoro. karena waktu sudah malam mereka pun pergi istirahat.
__ADS_1
" anak kita pasti bangga melihat ayahnya selalu peduli sama orang lain," kata nazwa sambil tiduran dan memeluk evan diatas kasur.
" sama, mereka juga pasti bangga memiliki ibu yang cantik dan pintar." kata evan, lalu mengecup keningnya nazwa, suasana di dalam kamar pun menjadi panas akibat pergulatan mereka. Selesai bergulat mereka membersihkan diri lalu tidur sambil berpelukan. Rona bahagia diwajah nazwa terlihat jelas, dia tidak menyangka bahwa dia bisa secepat itu menikah dan bahkan menikah dengan orang yang baru dia kenal, akan tetapi dia merasa bahwa beruntung dia bisa mendapatkan evan sebagai suaminya.