
Selesai makan bu marni dan adiknya masih mengobrol, evan mengajak ella dan yasmin untuk menonton TV di ruang keluarga. Setelah itu bu marni mengajak adiknya ke ruangan keluarga.
" bu, bajunya bagus banget." kata ella
" iya bu, alu suka banget." kata yasmin
" itu nazwa yang pilih modelnya, syukur kalau kalian suka. Oh iya besok sama lusa kalian izin enggak masuk sekolah ya, ibu sudah izin ke wali kelasnya. besok kita pergi ke makam ayah kalian." kata bu marni
" yeay... besok enggak sekolah." kata yasmin
" nanti kalau kak evan sama kak nazwa nikah, kak nazwa tinggal disini kan." kata ella
" iya dong, kan udah resmi nikah," kata bu marni
" asyik, jadi aku bisa nanya kalau ada pelajaran yang aku enggak bisa." kata ella
" oh iya dek, kamu tau enggak rekan bisnis si dino itu siapa." kata bu marni
" waktu di mobil sih mereka bilang perusahaan besar Sandi group kalau enggak salah." kata pak darman
" oooh, memangnya usaha si dino apa," kata bu marni
" pengembang perumahan, si dino itu yang suka mensupply batu bata merah dan yang lainnya." kata pak darman
" terus kamu usaha apa selain bertani." kata bu marni
" palingan kuli bangunan aja kak, kalau enggak kuli di ladang orang, kakak tau sendiri lahan kita itu diambil semuanya sama kakak ipar." kata pak darman
__ADS_1
" kalau kamu mau, kamu bisa kerja di perusahaan kakak sama evan, kamu juga tau daerah daerah yang menghasilkan tanaman obat jadi nanti kamu bisa di bagian pembelian bahan bahan obat, nanti kalian pindah saja kesini. Gimana menurut kamu." kata bu marni
" boleh kak, kalau memang kakak tidak keberatan saya ketja sama kakak." kata pak darman
" enggaklah dek, saudara kakak yang peduli cuma kamu dan sekarang usaha kakak lagi berkembang jadi kenapa enggak ajak kamu, nanti anak kamu bisa sekolah disini sama dini juga kalau mau kerja bisa di tempat tadi, evan mau buka cafe juga soalnya disana." kata bu marni
" iya paman dan bibi, supaya kita bisa saling jaga dan mempererat lagi hubungan keluarga kita." kata evan
" beneran kak, aku bisa kerja, aku udah lama pengen kerja di kota, supaya bisa bantu bantu keluarga sama pengen buktikan sama bi wati itu." kata dini isteri pak darman
" iya boleh, nanti kalian bisa tinggal di rumah kakak yang dulu." kata bu marni
" alhamdulillah kak, akhirnya saya bisa keluar dari kampung jauh dari bi wati, kasihan anak dan isteri selalu jadi bahan ejekan dan cemoohannya." kata pak darman
" kita buktikan saja, enggak perlu kita ambil pusing untuk masalah harta keluarga yang diambil kakak ipar, biarkan saja nanti juga akan kena karmanya sendiri tanpa kita harus membalasnya." kata bu marni
" kakak juga betahan karena anak anak, dan usaha bisa berkembang juga karena anak anak." kata bu marni
" kalau evan kerja di rumah sakit sebagai apa, kan masih kuliah udah gitu punya usaha sendiri buat apa masih kerja disana." kata pak darman
" dia dokter di rumah sakit itu, dan enggak perlu datang setiap hari jadi masih bisa kuliah dan mengurus usaha sama calon isterinya itu." kata bu marni
" kok bisa kamu jadi dokter padahal kamu masih kuliah." kata pak darman masih belum paham.
" ceritanya panjang, yang jelas walaupun dia masih kuliah tapi dia sudah punya surat izin praktek dokter, yang ngasihnya aja langsung pejabat kesehatan, makanya kakak buat usaha baru juga atas dorongan evan, jadi dia mau nikah juga kakak udah tenang semua biaya dia yang handle semuanya." kata bu marni
" hebat kamu nak, ayah kamu pasti bangga dan kamu itu persis ayah kamu yang gigih, pekerja keras dan bertanggung jawab." kata pak darman. Mereka pun pergi ke kamarnya untuk istirahat, begitu pula evan, dia merasa lelah makanya dia langsung tidur.
__ADS_1
Di pagi hari evan dan yang lain sarapan dan siap siap untuk petgi ke makam ayahnya. Pak darman dan keluarganya enggak ikut serta karena masih cape, jadi hanya evan, bu marni, ella dan yasmin yang berangkat mereka diantar pak budi. Evan menjemput nazwa, setelah pamitan ke keluarga nazwa, mereka betangkan menuju ke pemakaman keluarga wijaya, setelah menempuh perjalanan selama 47 menit mereka sampai di pemakaman keluarga. Sebelumnya Bu marni pergi ke penjaga makam meminta supaya ditemani ke area pemakaman. Bu marni pun mengenalkan yasmin dan nazwa kepada penjaga makam tersebut.
" kamu benar benar mirip sama nak devano, gagah, tampan dan berkharisma." kata bapak penjaga makam
" terimakasih pak, maaf saya merepotkan bapak untuk mengurus pemakaman ini." kata evan
" ini sudah kewajiban saya nak, dari leluhur bapak sampai saat ini yang terus merawat pemakaman keluarga tuan wijaya, lagian bapak setiap bulan selalu menerima uang dari ibu kamu, tanpa beliau kehidupan kami mungkin tidak seperti sekarang ini, ini bakti keluarga kami kepada tuan wijaya dan saya pun diperlakukan dengan baik sama keluarga." kata bapak penjaga makam. Evan memberikan salam kepada ahli kubur yang ada disana, dan Mereka pun tiba di makam pak devano. Bu marni menaburkan bunga dan menyiram kuburan dengan air mawar yang disiapkan..
Evan pun duduk disebelah batu nisan ayahnya tersebut bersama nazwa.
" pak, maaf aku baru datang kesini, aku datang sama ibu, ella dan yasmin. Pak aku juga datang kesini sama calon menantu bapak, besok aku mau nikah sama dia pak, semoga aku bisa memberikan kebahagiaan buat ibu, adik adik dan tentunya isteri aku, maaf jika aku belum bisa seperti bapak dalam mengemban tanggung jawab dalam memimpin keluarga ini, maaf belum bisa bahagiakan bapak," lirih evan, tak terasa air matanya pun menetes, evan pun mengirimkan doa buat ayahnya dan leluhurnya, setelah itu evan pergi ke makam eyang wijaya leluhurnya itu. Evan mengirimkan doa untuk leluhurnya tersebut. Sambil memejamkan mata, Evan merasakan berada di tempat biasa dia melakukan latihan.
" eyang maaf aku baru pertama kali kesini menjumpai eyang disini," lirih evan
" cu... Cu... Eyang tau kamu sibuk.... Terimakasih kamu sudah mengirimkan doa buat eyang dan leluhurmu, itu yang terbaik untuk kami dan yang selalu kami nanti nantikan, cu panggil ibu dan adik adikmu sama calon isteri mu kesini, eyang ingin melihat mereka dari dekat." kata eyang wijaya. Evan pun meminta ibu, adik dan nazwa kesana.
" ada apa nak." kata bu marni
" enggak ada apa bu, aku hanya mau mengenalkan eyang wijaya aja, beliau adalah leluhur kita, jadi aku mohon ke kalian dek supaya selalu mendoakan leluhur kita ini." kata evan
" iya kak, aku akan selalu doakan mereka." kata ella dan yasmin, evan merasakan bahwa eyang wijaya tersenyum dan mengelus kepala mereka, begitu pula sang penjaga makam dia pun merasakan kebahagiaan dan tersenyum bahagia. Evan pun memberi salam untuk pamitan lalu mengajak keluarganya pergi dari pemakaman tersebut. Setelah berada di luar pemakaman penjaga makam mengobrol dengan evan.
" ternyata jatuhnya warisan leluhur tuan wijaya itu ke kamu nak, dulu orang tua bapak bercerita bahwa tuan wijaya adalah orang terpandang yang baik hati dan beliau adalah seorang tabib," kata bapak penjaga makam
" kok bapak bisa tau." kata evan penasaran
" tadi bapak melihat keakraban kamu sama beliau seperti orang yang sering bertemu, dan terlihat beliau sangat bahagia." kata bapak penjaga makam.
__ADS_1
" terimakasih pak sudah merawat makam keluarga saya, kalau ada apa bapak hubungi saya aja." kata evan lalu mereka bertukar nomor. Evan memberikan sedikit rezeki ke bapak tersebut, Setelah itu evan dan keluarganya pamitan untuk pulang.