
..."Seseorang dikenal oleh orang lain atas hasil karyanya"...
Keempat murid Mbah Taryo bergegas datang untuk menolong Pak Yudi dan Pak Candra. Berdua-dua berusaha melepaskan kedua tangan Ningsih dari leher mereka.
Luar biasa, bahkan tenaga empat orang sakti hanya mampu sedikit merenggangkan cengkeraman gadis itu. Hanya memberi sedikit ruang bagi Pak Yudi dan Pak Candra untuk menarik napas dua tiga kali. Dan ketika tenaga sangat besar kembali meluap, cengkeraman Ningsih pun kembali menguat.
Wajah kedua pria itu sudah berubah keunguan, mata melotot, dan lidah terjulur-julur. Bu Lurah dan Pak Gonden mundur, berdiri merapat pada pagar, wajah mereka mengernyit ngeri, mata menyipit dan sesekali malah merem. Rasanya ingin sekali meninggalkan tempat ini secepatnya, tetapi apa daya, lutut gemetar sampai berdiri saja harus menyandar pada pagar.
Tak kunjung berhasil, akhirnya salah satu dari orang itu menarik diri, berdiri tepat di belakang Ningsih. Setelah terlihat mengatur napas sejenak, kedua tangannya bergerak cepat hendak menyerang punggung gadis itu, tetapi ....
Bugh!
Ughf!
Tubuh pria itu langsung ambruk setelah kepalanya dihantam oleh sebuah helm. Suara mesin sepeda motor baru mereka sadari setelah peristiwa itu terjadi. Pak Gonden dan Bu Lurah refleks saling merapat, sedangkan ketiga pria yang memegangi Ningsih tidak hirau. Keselamatan klien guru mereka lebih penting.
Pak Wahyu sudah melompat turun sebelum mesin motor berhenti sepenuhnya. Dalam tiga langkah lebar sudah mencapai Ningsih.
"Ndok, lepaskan Ndok." Pak Wahyu berbisik lembut di telinga Ningsih sambil menepuk-nepuk pipinya, tetapi gadis itu tetap bergeming.
Tidak hirau pada tatapan marah pria yang telah berhasil ditaklukkan hanya dengan lemparan helm, Jati berdiri di samping Pak Wahyu---di belakang Ningsih. Telapak tangan kanan ditempelkan ke punggung Ningsih, sambil memejamkan mata, dalam hati merapal aji-aji lalu suara dalam benaknya berkata,
"Biar aku saja yang bicara, Le."
"Silahkan, Eyang."
"Lepaskan, Jum."
"Aku tidak trima sanggar itu dihancurkan, Kang Siman!"
"Bukan begini caranya. Kasihan ndok ini kalau sampai jadi pembunuh. Lagi pula apa yang kamu khawatirkan? Lha, wong, Ki Gopet sama Nyai Bibet saja tenang-tenang."
"Tapi, Kang---"
"Lepaskan. Jangan bandel!"
Tiba-tiba cengkeraman Ningsih terlepas, tubuh gadis itu seketika lemas, kepala terkulai di lengan bapaknya.
Namanya Jumini, nenek moyang keluarga Ningsih yang dulunya adalah salah satu penari terbaik sanggar. Seperti halnya Eyang Karto Wiryo Siman ikut Jati, Mbah Jumini ini ikut Ningsih.
Namun, Mbah Jumini tidak sakti mandraguna seperti Eyang Karto Wiryo Siman. Kekuatan Mbah Jumini yang tidak seberapa hanya bisa keluar bila Ningsih sedang marah besar. Tadi dia lepas kendali dan kekuatannya meningkat berkali-kali lipat karena pengaruh pelindung yang dipasang Nyai Bibet pada paha Ningsih.
__ADS_1
Uhuk uhuk uhuk
Terbatuk-batuk, tubuh-tubuh yang barusan terhindar dari maut ambruk ke tanah, megap-megap seperti ikan menggelepar di darat.
Pria yang tadi dilempar helm, bergerak cepat hendak menyerang Jati, tetapi saat Jati menatap tajam langkahnya seketika terhenti.
"Pak Wahyu, sebaiknya bawa Dek Ning pulang. Biar yang di sini Jati yang urus." Tatapan Jati tidak lepas dari pria yang kini berdiri kaku dengan tangan kanan terangkat siap memukul.
"Hati-hati, Nak Jati." Sebelum melangkah pergi, Pak Wahyu menoleh pada Pak Gonden dan Bu Lurah. "Buka mata kalian lebar-lebar. Kalau sampai Mbah Danyang murka, desa ini bisa diluluhlantakkan."
Bila Desa Pantungan ini benar-benar luluh lantak, maka sampai bertahun-tahun ke depan orang-orang pasti tidak akan lupa siapa penyebabnya. Sebab buah dikenal pohonnya.
Keduanya hanya terdiam, bahkan Bu Lurah tidak lagi bisa menutupi kegelisahan hati dengan mengangkat dagu seperti biasanya. Kepala bersanggul cepol satu itu malah sedikit menunduk.
"Sebaiknya bapak-bapak semua juga pergi. Jangan dilanjutkan, jangan membuat Mbah Danyang murka." Jati berbicara sangat sopan.
"Kamu bukan warga desa sini, tidak usah ikut campur!" Pak Yudi bangkit dibantu oleh salah seorang murid Mbah Taryo, lantas sedikit sempoyongan berjalan mendekati Jati. Berdiri berhadapan matanya menatap nanar.
"Eyangnya Jati bersahabat dengan Mbah Danyang. Eyang berpesan, jangan sampai murid Ki Guru Gede mengalami nasib serupa dengan gurunya."
Keempat murid Mbah Taryo terkejut. Jati masih sangat muda, tetapi mengetahui tentang Ki Guru Gede, dukun sakti aliran hitam yang pernah berjaya sekitar setengah abad lalu, itu berarti ocehan pria muda ini bukan omong kosong.
Lagi pula, aura yang terpancar dari Jati mampu menggetarkan jiwa, caranya bertutur dan bersikap sangat arif, berwibawa dan penuh karisma, sorot matanya teduh, namun mengandung penghakiman.
Tidak belajar dari pengalaman. Barusan hampir mati dicekik masih saja nekat.
"Bagaimana Bu Lurah?"
Mata bergulir ke sana-kemari melihat bergantian ke orang-orang yang ada di situ, bibir Bu Lurah hanya bergerak-gerak tanpa ada kata terucap. Hati gamang, tidak tahu harus menjawab Pak Yudi apa.
"Kami sudah keluar banyak, lo, Bu Lurah ...." Dengan ini Pak Candra berniat menekan Bu Lurah. Pokoknya rencana jangan sampai batal. Kesulitan ini pasti bisa diatasi dengan bantuan Mbah Taryo. Begitulah pikir Pak Candra.
"Te-terserah." Bu Lurah gugup, wajahnya tampak kusut. "Gon, temani mereka. Aku pusing mau istirahat ...."
"Loh, eh ... Bu Lurah ... jangan ditinggal!" Pak Gonden rasanya ingin kabur dan menenggelamkan diri di sumur.
Dia benar-benar tidak menyangka masalahnya akan jadi seserius ini. Menyesal pun sudah tidak ada gunanya.
Terus melangkah sambil memijit pelipis, Bu Lurah mengabaikan teriakan Pak Gonden. Kepala rasanya berdenyut-denyut hingga mata berkunang-kunang, berjalan pun sempoyongan.
"Biarkan saja. Ayo dilanjut." Pak Yudi menatap Jati. "Kami sudah keluar uang untuk menyewa tempat ini, surat perjanjian juga sudah ditandatangani. Jadi kamu jangan macam-macam!"
__ADS_1
Tersenyum teduh, Jati berusaha tetap ramah. "Kalau begitu silahkan dilanjutkan."
Alih-alih senang karena pria muda ini tidak menghalangi, orang-orang itu justru merasa muak dengan sikap tenang Jati.
Orang yang tadi dilempar helm maju lagi, tetapi setelah berhadapan muka secara langsung malah gelagapan, tidak tahu mau berbuat apa. Salah satu teman menarik lengannya, mengajaknya kembali ke punden sambil menyumpah serapah.
Sepeninggal mereka, Jati mengerling Pak Gonden yang berdiri gemetaran merapat ke pagar. Jati tersenyum sembari mengangguk kecil.
"Orang-orang keras kepala, tidak tau adat," ujarnya lirih, seperti bicara pada diri sendiri.
Keempat murid Mbah Taryo berdiri di depan pohon jati yang kini telah kembali menyatu. Tidak ada lagi bekas potongan gergaji.
"Wah,wah ... bandel juga jinnya, Kang." Salah seorang berujar dengan nada meremehkan.
"Halah! Tinggal digergaji lagi." Orang yang tadi dilempar helm, bergegas mengambil gergaji mesinnya.
"Ayo, Kang buktikan! Jangan membuat Mbah Taryo malu. Kalahkan danyang penunggu punden dan sanggar ini Kang!" Pak Yudi seperti kurang waras, berteriak sambil terbahak-bahak.
Suara deru gergaji mesin yang sebentar hidup lalu mati lagi, menarik atensi mereka semua. Berkali-kali dihidupkan, berkali-kali pula mati lagi.
Angin bertiup semilir membawa aura mistis yang sangat kental, menciptakan kegelisahan. Pak Yudi dan Pak Candra mengelus tengkuk yang rasanya meremang, mata melirik sekitar, waspada.
"Tunggu apa lagi? Ayo, Kang!" Tangan masih memegang tengkuk, Pak Yudi kembali berteriak.
Keempat orang itu bukannya tidak mau bertindak, tetapi masalahnya mesin gergaji tidak bisa dihidupkan. Angin yang tadinya hanya semilir, tiba-tiba berubah kencang tanpa aba-aba, menyapu orang-orang yang ada di punden. Keempat murid Mbah Taryo memasang kuda-kuda, kaki menjejak dan jari mencengkeram kuat-kuat mencoba bertahan, sedangkan tubuh Pak Yudi dan Pak Candra terhempas hingga menggelesar di tanah.
"Berpegangan akar pohon, Pak!" Salah seorang berteriak.
Pak Gonden duduk meringkuk, berlindung di bawah pagar. Jati berdiri tegak, tidak goyah sedikit pun, hanya rambutnya saja yang acak-acakan diterbangkan angin.
Pohon-pohon di sekitar punden dan sanggar meliuk-liuk, daun-daun beterbangan, langit pun tiba-tiba menjadi gelap gulita. Sayup-sayup terdengar musik gamelan mengalun di antara suara angin yang menderu-deru. Jati memejamkan mata, Eyang kakung memanggilnya.
"Le ...."
"Iya, Eyang."
"Nyai Bibet meminta kita untuk memusnahkan sirep."
"Baik Eyang."
Membuka mata, lalu Jati beranjak menuju salah satu los, di situ dia duduk bersila. Di pandangan mata gaib, Desa Pantungan ini ternyata gelap gulita diselimuti asap hitam. Asap hitam yang diciptakan oleh para jin prewangan yang tidak terhitung jumlahnya, bergerak bebas ke sana-kemari, bahkan juga ada yang melayang-layang di udara, menebar energi negatif yang telah berhasil mengacaukan alam manusia.
__ADS_1
Jubah putih yang Jati kenakan berkibar ditiup angin, sorban sewarna jubah menambah kearifan parasnya, pria muda itu tubuhnya bersinar. Bibir tidak tersenyum, tetapi entah bagaimana wajahnya bisa terlihat semringah, melangkah tenang menembus pekat. Para Jin kelas teri yang hanya kebagian tugas sepele, lari kocar-kacir mencari selamat.
[Bersambung]