
..."Orang menjadi pandai dan mahir karena terus belajar dan berlatih"...
Sesuatu yang seharusnya dirahasiakan dari warga desa, eh, malah meluap ke permukaan dengan cepat. Entah siapa yang menyebarkannya. Mungkin saja ada tetangga yang mendengar pertengkaran di rumah Bu Lurah, atau mungkin ada yang mendengar saat Ningsih marah-marah di rumah, atau bisa juga murid sanggar. Mereka cerita pada orang tuanya lalu ... ya, tahu sendirilah, namanya juga tinggal di kampung, cepat banget berita menyebar.
Orang-orang di pasar banyak yang berkasak-kusuk membicarakannya. Saat Bu Lurah berangkat ke kantor desa melewati jalan pasar banyak mendapat tatapan sinis, bahkan ada beberapa yang jelas-jelas mengabaikan, padahal berpapasan.
Namanya lewat di jalan yang lagi banyak orang, ya, pasti pelan-pelan. Jadi, tidak mungkin Bu Lurah tidak mendengar obrolan mereka, juga tidak mungkin tidak merasa disinisi, soalnya orang-orang itu biasanya selalu menyapa walau sekadar basa-basi, tetapi sekarang lihat saja itu. Semua tak acuh dan tatapannya sinis.
Sesampai di kantor desa, Bu Lurah langsung menyuruh Pak Gonden, Bayan Dusun Kidul, untuk memanggil para sesepuh dan para RT, sedangkan untuk para Kasun, Sekdes serta para pamong lainnya tidak perlu dipanggil karena mereka sudah ada di kantor desa.
Pak Wahyu pun mengajukan diri untuk menjemput Mbah Mun yang paling sepuh. Kasihan kalau orang setua itu harus mengayuh sepeda. Mbah Mun, walaupun sudah umur delapan puluh tahun, tetapi masih bisa naik sepeda sendiri, masih sehat dan cukup tangkas. Setiap hari pun masih ke sawah, mencari rumput atau kayu bakar juga. Akan tetapi, rasanya, kok, tidak etis membuat orang setua itu harus mengayuh sepeda sendiri menempuh jarak yang cukup jauh.
Letak kantor desa berada di belakang balai desa, di samping kanan ada gudang lalu lumbung padi, di samping lumbung padi adalah bangunan SMP. Dari jendela ruang kelas tempatnya mengajar, Ningsih bisa melihat aktivitas di balai desa. Senyum sinis tersungging di sudut bibirnya saat melihat Bu Lurah memberi perintah orang-orang yang sedang mengatur kursi, tunjuk sana-sini seperti juragan besar.
Tak lama kemudian dahinya mengernyit, bertanya-tanya dalam hati, akan ada acara apa itu? Ketika melihat para sesepuh dan orang yang dia tahu menjabat sebagai ketua RT berdatangan, Ningsih pun berasumsi bahwa akan ada rapat desa untuk membahas nyadranan.
Seperti sedang sidang saja, Bu Lurah dan para Kasun duduk di depan menghadap hadirin. Bu Lurah di tengah, empat Kasun—dua di kiri dan dua di kanan.
Bu Lurah berdiri dan mulai berbicara dengan berapi-api, seperti sedang orasi, "Aku langsung ngomong ke inti saja biar tidak buang-buang waktu. Kapan hari aku sudah bicara sama para sesepuh ...."
Selagi Bu Lurah terus berbicara, orang-orang yang menghadiri rapat terlihat tidak tenang. Wajah-wajah kecewa saling berbisik dan mengerling sinis padanya yang terus berbicara seperti kerasukan.
Brak
Seketika hening. Bu Lurah menatap tajam Pak Wahyu yang barusan menggebrak meja. Tatapan balasan Pak Wahyu pun tak kalah tajam.
"Itu namanya menyalahi adat, Bu Lurah. Mari dipikirkan lagi, bersama-sama mencari jalan keluar. Jangan sampai kemajuan yang ingin Bu Lurah capai itu malah merusak budaya Desa Pantungan ini."
__ADS_1
"Coba, Pak Wahyu pikir! Apa punden dan sanggar itu ada gunanya, hah?! Kalau mau selamatan, bisa di balai desa atau sendang, to?!
"Kamu jangan asal bicara, Ndok!" Mbah Mun menimpali, nada suaranya tinggi sampai bergetar. Kepala pria paling tua di antara semua yang hadir itu terus bergoyang-goyang, seperti penderita tremor.
Punden adalah cikal-bakal Desa Pantungan. Di situ Ki Gopit, danyang desa ini tinggal. Sanggar itu pun dibangun untuk menghormati Nyai Bibet—istri Ki Gopit—yang konon katanya gemar menari. Sudah menjadi warisan turun-temurun dan diyakini sebagai pelindung desa, mana bisa dibongkar begitu saja. Kalau Mbah Danyang murka, desa bisa tertimpa musibah.
"Kalau begitu dipindahkan saja, gimana?" Pak Gonden harus menerima tatapan nanar semua orang, kecuali Bu Lurah, karena perkataannya barusan.
"Kalau desa ini terus-menerus percaya sama takhayul, kapan majunya, hah? Punden dan sanggar dibongkar untuk hal yang lebih bermanfaat, untuk memajukan desa, jalan-jalan yang masih tidak karuan itu juga akan diperbaiki. Salahnya di mana?" Bibir merah yang terus melontarkan argumen untuk membenarkan niatnya, mengundang kegeraman semua yang hadir.
Rahang tegas Pak Wahyu tampak semakin menonjol, tangannya mengepal di atas meja. "Kalau memang mau memperlebar pasar, kenapa tidak memanfaatkan area pembuangan sampah yang hampir tidak pernah ada sampahnya itu?"
"Iya, benar itu!"
"Wah! Aku setuju itu!"
Usulan Pak Wahyu mendapatkan banyak respons positif. Wajah Bu Lurah langsung merah padam. "Jagan sok tau! Lahan itu juga sudah termasuk dalam rencana---"
"Kalau begitu aku rasa Bu Lurah sudah berlebihan." Tanpa merasa sungkan, Pak Wahyu menyela Bu Lurah. "Punden dan sanggar itu kalau dijadikan satu pun masih tidak lebih besar dari area pembuangan sampah yang bahkan bisa dijadikan tempat angon kambing."
(Angon: menggembala)
"Nah! Benar itu." Mbah Surip akhirnya turut bersuara. Setuju dengan Pak Wahyu, area pembuangan sampah itu sudah cukup luas, tidak perlu lagi ditambah, apalagi sampai harus mengorbankan Punden.
Brak, brak, brak
Bu Lurah mengamuk, memukul meja berkali-kali dan beruntun. Semua terdiam. Kecuali ....
__ADS_1
"Aku sependapat dengan Bu Lurah," Pak Gonden bersuara lantang. Matanya menatap tajam. "Kita tidak butuh sanggar dan punden itu. Akan lebih bagus kalau dimanfaatkan---"
"Gon! Kamu ngomong seperti itu tu, sadar apa tidak, to? Ngawur! Kamu lahir dan besar di desa ini, bisa-bisanya mikir begitu!" Berapi-api, muka Pak Wahyu yang aslinya cokelat, kini terlihat semakin gelap bercampur merah padam, urat-urat di pelipis menonjol dan berkedut, seperti cacing menggeliat di bawah kulit.
"Demi kemajuan desa, apanya yang ngawur, Kang?!" Pak Gonden membalas tidak kalah sengit. Wajah berkumis lebat itu pun tampak semakin garang. "Benar kata Bu Lurah, kalau masih terus percaya takhayul, desa ini tidak akan pernah bisa maju!"
"Kamu---"
"Tidak ada bantahan!" Bu Lurah menyela Pak Wahyu. "Keputusanku sudah bulat, punden dan sanggar akan dirobohkan untuk memperluas pasar, juga biar tidak merusak pemandangan. Nyadranan bisa dilakukan di balai desa atau sendang. Titik!"
"Apa gunanya kamu ngajak kami rembukan kalau akhirnya juga ambil keputusan seenaknya sendiri? Tajam pisau karena diasah. Sekolah tinggi-tinggi jadi pinter, tapi malah keblinger. Bocah ciloko kamu itu. Titenono, yo ... titenono pokok." Mbah Mun marah-marah sambil beranjak meninggalkan balai desa.
(Ciloko: celaka. Titenono: lihat saja nanti, awas kamu)
Pak Wahyu mengejarnya, tanpa peduli sopan santun lagi, pergi begitu saja untuk mengantar Mbah Mun pulang. Sepeninggal mereka, yang lain pun membubarkan diri, hingga hanya Bu Lurah dan Pak Gonden yang tinggal.
"Kamu ... bereskan semua kursi dan meja!" Setelah memberi perintah, Bu Lurah langsung beranjak pergi. Pak Gonden hanya bisa meringis sambil garuk-garuk kepala.
Dari tempatnya, Ningsih mengetatkan rahang dan mengepalkan tangan. Keributan di balai desa bisa dia dengar sangat jelas. Hatinya geram bukan kepalang.
_________
Sepeda motor meluncur mulus di jalan persawahan yang penuh dengan bekas-bekas roda memanjang dan dalam. Bagian-bagian jalan yang berlubang dan digenangi air pun sepertinya tidak menyulitkan si pengendara.
Helm digantung di stang, rambutnya berkibar diterpa angin yang berembus sepoi-sepoi. Tas ransel hitam yang tampaknya tidak berisi banyak muatan melekat di atas punggung. Baju seragam warna hijau kecoklatan melekat pas di tubuhnya yang atletis, dan sepatu boot warna hitam menambah kesempurnaan penampilannya.
Pria muda itu adalah seorang Mantri Hutan, sudah terbiasa dengan kondisi jalanan yang buruk. Bahkan yang lebih buruk dari yang sekarang dia lintasi ini pun sudah pernah diterjangnya juga. Dia datang berkunjung ke Desa Pantungan karena desa ini---dalam beberapa minggu lagi---akan menjadi tempat tugasnya.
__ADS_1
[Bersambung]