
..."Bersusah hati karena perbuatan salah seoarang kerabat atau sahabat karib"...
Sebagai warga baru, Jati kerap melakukan pendekatan kepada warga, berinteraksi dengan mereka di saat-saat tertentu. Misalnya, waktu sarapan nasi pecel di salah satu warung di dekat pasar seperti sekarang ini. Dengan begitu, banyak informasi yang dia dapat. Terutama tentang keluhan beberapa warga yang semalam merasakan udara cukup panas, padahal hujan sedang turun dan angin pun bertiup. Selagi asyik mengobrol, Pak Wahyu muncul, membeli sarapan untuk dua orang.
"Tumben beli sarapan, Pak Wahyu?" Si penjual menyeletuk.
"Iya, Yu. Kangen sama nasi pecelnya sampeyan." Tidak ada yang lucu dalam perkataan Pak Wahyu, tetapi bapak-bapak yang nongkrong di situ tergelak karenanya.
(Yu: Mbak)
Selama kurang lebih lima belas menit duduk menunggu pesanannya selesai, Pak Wahyu mengobrol banyak hal, juga mendengar berbagai macam keluhan tentang perasaan yang dialami para warga tadi malam.
Ketika Pak Wahyu beranjak, Jati segera menyusul. "Memangnya Pak Wahyu semalam tidak merasakan apa-apa?" Pertanyaan belum sempat di jawab, tetapi Jati sudah buru-buru menggandeng tangan Pak Wahyu lalu mengajaknya berjalan lewat dalam pasar alih-alih lewat jalan umum.
Hanya menurut saja meski sebenarnya heran. Pak Wahyu, entah bagaimana bisa merasa sangat yakin kalau setiap tindakan pria muda ini selalu didasari alasan tertentu.
"Ada apa, to, Nak Jati." Keduanya berdiri berhadapan di beranda rumah, napas sedikit memburu karena barusan jalan terburu-buru.
"Jawab pertanyaan Jati dulu, Pak. Pertanyaan yang tadi."
Pak Wahyu menggeleng. "Semalam bapak, emh ... melekan. Sudah kebiasaan melekan setiap malam Jumat Kliwon. Sebenarnya bapak sempat dengar ada suara rame-rame di depan rumah, tapi bapak males lihat, hujan-hujan masa iya ada orang keluar rumah." Secara tersirat, Pak Wahyu telah mengungkapkan kalau semalam memang mendengar suara-suara makhluk gaib.
(Melekan: tidak tidur)
"Pak Wahyu bisa merasakan atau melihat---"
"Bapak tidak bisa melihat. Tapi kadang-kadang perasaan ini tajam, bisa merasakan kehadiran mereka, juga bisa mendengar."
Pak Wahyu hanya orang awam, tidak memiliki ilmu kebatinan. Melekan adalah caranya untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Kalau karena sering melekan serta didukung hati yang tulus dan lurus, lantas naluri Pak Wahyu lebih peka dan juga bisa terhindar dari serangan ilmu hitam, ya, anggap saja itu bonus.
"Memangnya ada apa, to?" Pak Wahyu menatap lekat, kedua alisnya bertaut.
Menoleh ke sana-kemari, setelah yakin tidak ada orang yang melihat, Jati mendekatkan kepala ke telinga Pak Wahyu. "Di pertigaan jalan pasar, ada asap hitam keluar dari dalam tanah, mengelilingi orang-orang yang melintas di sana. Itu sirep yang sudah membuat orang-orang merasa tidak nyaman semalam."
"Loh, siapa yang ngirim? Padahal tadi bapak lewat sana juga, tapi tidak merasakan apa-apa."
"Yang ngirim siapa, nanti Pak Wahyu akan tau dengan sendirinya." Suara Jati semakin pelan. "Bapak itu kebal, tidak terpengaruh oleh sirep ...."
"Sebaiknya masuk, ngobrol di dalam." Bu Rusmini yang mendengar ada orang di beranda, bergegas keluar. Ternyata hanya menjumpai suaminya dan Jati.
Melihat Bu Rusmini, sejenak mata Jati melebar dan wajah menegang, lalu buru-buru menyapa, "Selamat pagi, Bu Rusmini."
Biasanya, senyum ceria pria muda ini selalu bisa menentramkan hati, tetapi entah kenapa saat ini Bu Rusmini malah merasa muak. Rasanya juga sangat enggan beramah-tamah dengan Jati.
__ADS_1
Alih-alih membalas salam Jati, Bu Rusmini malah menoleh ke suaminya. "Ndok nunggu sarapannya, Pak." Cara bicaranya sangat tidak ramah, sungguh berbeda dari biasanya.
"Pak Wahyu, tunggu." Begitu Bu Rusmini sudah kembali ke dalam, Jati mencekal lengan Pak Wahyu.
"Ada apa---" Pak Wahyu langsung terdiam karena Jati menempelkan jari telunjuk di bibir.
"Bu Rusmini kena, Pak." Jati berbisik.
Pak Wahyu termangu. Pantas saja sejak tadi istrinya uring-uringan. Dia pikir karena toh merah darah yang tiba-tiba muncul di paha Ningsih yang membuat Bu Rusmini begitu khawatir hingga suasana hati jadi buruk. Tidak tahunya karena pengaruh ilmu hitam.
Ya. Ilmu hitam sirep yang dikirim, tidak hanya bisa membuat orang lupa pada topik, tetapi juga bisa mempengaruhi stabilitas emosi.
"Terus gimana, Nak Jati?"
"Kita masuk saja dulu, Pak."
Keduanya melangkah masuk dan mendapati Ningsih sedang duduk di ruang tengah. Mata Jati terpaku menatapnya.
Senyum Ningsih langsung merekah. "Selamat pagi, Mas Jati."
Suara renyah Ningsih mengalihkan perhatian Jati yang sebenarnya tengah terpesona oleh pendar cahaya putih yang menyelimuti tubuh gadis itu. Ningsih dilingkupi cahaya putih, sedangkan Bu Rusmini dikelilingi asap hitam. Rupanya di keluarga ini hanya Bu Rusmini yang tidak kebal sirep.
"Selamat pagi, Dek Ningsih." Senyumnya lebih semringah, karena merasa lega, ternyata Ningsih telah dilindungi. Sekarang tinggal membebaskan Bu Rusmini.
"Biarkan Ndok makan dulu!" Bu Rusmini datang, meletakkan sendok di atas meja sedikit kasar.
Jati buru-buru menangkap tangan perempuan itu. Bu Rusmini melotot marah, Jati menatap tajam. Keduanya terlihat seperti sedang adu ilmu kebatinan.
Pak Wahyu sudah bisa menduga apa yang sedang dilakukan Jati, tetapi Ningsih tidak. Gadis itu menatap bingung. "Pak, ada apa, to, ini?" Pertanyaan Ningsih belum sempat dijawab, Bu Rusmini sudah bereaksi.
"Lo, kok ...." Untuk sesaat Bu Rusmini terlihat seperti orang yang baru tersadar dari lamunan, kemudian tampak kebingungan dan sedikit linglung. Tatapan matanya masih tidak fokus.
"Syukurlah, Bu Rusmini sudah tidak apa-apa."
Pak Wahyu menghela napas lega. "Terima kasih, Nak Jati."
"Memangnya Ibu kenapa, Pak?"
"Sudah tidak apa-apa, Ndok. Tadi itu Ibu ketempelan."
"Ketempelan?" Bu Rusmini tercengang. "Padahal ibu belum ke mana-mana lo, Nak Jati. Kok, bisa ketempelan."
"Sudah, sudah. Sudah tidak apa-apa, Bu Rus. Sebaiknya minum air putih dulu." Jati membantu Bu Rusmini duduk di sebelah Pak Wahyu, sedangkan Ningsih bergegas bangkit dari duduk, pergi ke meja makan mengambil minum.
__ADS_1
"Apa ada hubungannya sama toh merah darah itu, Pak?" Bu Rusmini lantas ingat, pikirannya jadi kacau dan bawaannya ingin marah setelah melihat toh merah darah yang ada di paha Ningsih.
"Buk ...." Ada nada memperingatkan dalam suara Ningsih. "Minum dulu, Buk." Sembari memberikan gelas berisi air pada sang ibu, matanya melirik sekilas pada Jati.
"Toh merah darah?" Melihat gelagat mereka, Jati sekarang jadi penasaran. "Kalau boleh tau, siapa yang punya toh merah darah, Bu?"
Ketiganya saling bertukar pandang. Perlahan, Ningsih duduk di sebelah Jati karena kursinya sudah diduduki Bu Rusmini.
"Emh, begini, Nak Jati. Bapak perhatikan, sepertinya Nak Jati ini, kok, punya kelebihan. Sebenarnya, tadi bapak mau tanya soal ...."---Pak Wahyu berdehem dua kali, lalu melanjutkan---" ... bapak cuma pengen tau, kalau-kalau, Nak Jati pernah mendengar tentang gadis pamali?"
Kedua mata belo Ningsih mengerling bergantian dari ayah ke ibunya. Rasanya risi juga hal seperti ini dibicarakan langsung di hadapannya.
(Belo: mata besar, bisa dibilang bola pingpong juga)
Diam-diam melirik Ningsih, dari gerak-geriknya, Jati sudah bisa meraba juga siapa sekiranya gadis pemilik toh merah darah itu.
"Pak Wahyu dan Bu Rusmini, tidak perlu khawatir. Eyang kakung Jati pernah bilang, toh merah darah memang tanda kalau si pemilik sangat disukai oleh makhluk halus, tetapi tidak selalu berarti pamali---"
"Berarti ada arti lainnya, Mas?" Ningsih begitu antusias sampai tanpa sadar memekik. Jati sampai mejengit saking kagetnya.
Pria muda itu semakin yakin gadis bertoh merah adalah Ningsih sendiri, apalagi setelah dia melihat selaput cahaya yang mengelilingi gadis ini.
"Iya, Dek Ningsih. Jadi tidak usah khawatir karena yang menyukai gadis manusia itu tidak selalu lelembut laki-laki, bisa juga perempuan. Karena Sayang, bermaksud melindungi."
Sementara Ningsih dan Bu Rusmini saling bertukar pandang dan menghela napas lega, Pak Wahyu langsung menatap Jati penuh arti, dan tersenyum lega saat Jati mengangguk samar.
Kini, Pak Wahyu paham kalau apa yang terjadi pada Ningsih ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi semalam. Tidak perlu khawatir karena toh yang ada pada Ningsih adalah tanda pelindung. Siapa pun itu, Pak Wahyu sangat berterima kasih.
______
Mbah Mun pagi-pagi juga sudah bertandang ke rumah Pak Padianto, memberikan air minum yang sudah dibacakan mantra untuk menolak sirep.
Duduk lemas di kursi, tidak henti-hentinya Pak Padianto mengelus dada sambil menyebut, "Gusti, Gusti ....
Sedih, kelakuan Bu Lurah benar-benar melukai perasaannya. Makan hati berulam jantung.
"Sudah kejadian. Mau gimana lagi. Ikhlaskan anakmu, karena sudah tidak bisa diingatkan lagi."
"Gusti, Gusti ...." Seperti tidak mendengar perkataan Mbah Mun, Pak Padianto masih terus menggumam, larut dalam kesedihan.
Bu Lurah adalah putri satu-satunya, sudah tentu dia tidak akan tinggal diam. Dia harus mengingatkannya lagi. Berdiri dengan niat hendak pergi menemui Bu Lurah, tiba-tiba tubuh Pak Padianto ambruk.
[Bersambung]
__ADS_1