
..."Sudah banyak pengalaman"...
Pak Yudi dan Pak Candra sangat ngebet kepengin mendapatkan hak sewa lahan tersebut. Bahkan kalau bisa malah ingin memilikinya---pelan-pelan pada akhirnya ke sanalah tujuan mereka.
Selain karena tempatnya strategis, Mbah Taryo juga mengatakan lahan sanggar dan punden ini penuh hoki. Berhasil menguasainya, maka usaha yang mereka bangun pun akan selalu mendapatkan keuntungan besar.
Mbah Taryo pun pernah mengatakan, walaupun untuk menguasai lahan itu tidak akan mudah, dia bersedia mengawal, membantu sampai keinginan kedua kliennya itu terwujud.
Urusan ini, bagi Pak Yudi dan Pak Candra semata-mata hanya sekadar tentang bisnis, tentang uang, tidak lebih. Awalnya Mbah Taryo pun tidak punya niat lain selain hanya membantu, tetapi setelah mendapat sedikit perlawanan, kini dia ingin menjajal kehebatan dan kalau perlu menaklukkan para danyang penunggu tempat keramat tersebut.
Dengan bantuan siluman lutung yang memimpin kerajaan jin prewangan di Hutan Winangan, hutan perbatasan Madiun-Nganjuk, Mbah Taryo yakin mampu mengalahkan Danyang Punden dan Danyang Sanggar. Setelah itu, namanya akan semakin disegani dan ditakuti tidak hanya di alam manusia, tetapi juga di dunia gaib.
Mundur dua hari dari yang direncakan, akhirnya hari ini pukul sebelas siang, eksekusi penebangan pohon pun dilaksanakan. Suara gergaji mesin meraung-raung dari arah punden. Terdengar sampai berkilo-kilo meter jauhnya.
Bu Lurah, Pak Gonden, Pak Yudi dan Pak Candra, menyaksikan jalannya eksekusi penebangan pohon dari pintu pasar yang menghadap ke timur. Di arah timur pasar itulah punden dan sanggar berada.
Karena pengaruh sirep, yang peduli terhadap suara itu hanya orang-orang tertentu saja. Beberapa warga lewat, tetapi tidak satu pun ada yang tertarik untuk memperhatikan. Seolah penebangan pohon keramat itu adalah hal yang wajar. Pohon jati itu besarnya kira-kira dua pelukan pria dewasa, tingginya sekitar empat puluh meter. Daunnya jarang-jarang, terlihat sangat gersang, bahkan lebih mirip pohon yang sudah mati.
Satu orang mengoperasikan gergaji mesin dan tiga orang memegang tali panjang yang ujung-ujungnya telah diikat pada bagian tengah pohon. Dilihat dari tingkat kepercayaan diri mereka dan kemampuan memanjat pohon untuk mengikatkan tali pada badan pohon di tempat yang cukup tinggi, sudah jelas kalau mereka itu bukan orang-orang sembarangan. Orang biasa, dibayar mahal punĀ sudah tentu tidak akan mau melakukan pekerjaan yang ada hubungannya dengan dunia gaib yang sudah pasti berakibat fatal. Orang-orang itu adalah murid-murid Mbah Taryo. Meskipun tidak sesakti gurunya, tetapi bernyali besar juga.
__ADS_1
Suara mesin meraung-raung, seperti mesin sepeda motor balap kesulitan menanjak menarik perhatian Jati yang sudah nangkring di atas sepeda motornya---hendak pergi mengontrol Hutan Panjuran---alih-alih menuju ke arah jalan raya, malah melaju ke arah dari mana suara mesin itu berasal. Entah kenapa, hatinya seperti terpanggil.
Sementara itu, Bu Rusmini tergopoh-gopoh keluar dari rumah lalu berdiri di teras, sejenak celingukan seperti orang bingung. Setelah merasa yakin suara itu berasal dari mana, bergegas berlari ke jalan. Berdiri di pintu barat pasar, wajahnya syok.
"Duh, Gusti. Orang-orang itu bikin perkara besar." Menggerutu sambil tak henti-hentinya tangan mengelus dada.
Entah karena syok atau karena suara berisik mesin gergaji itu, Bu Rusmini tidak menyadari kedatangan Jati. Pria muda itu tidak kalah syok. "Astaga! Lah, kok, pohonnya mau ditebang ...."
Bu Rusmini memutar badan cepat. "Nak Jati. Kebetulan sekali. Ibu minta tolong panggilkan Pak Wahyu di kantoran." Mungkin karena panik, tanpa sadar Bu Rusmini mengguncanng-guncang lengan Jati cukup kencang.
"Iya, Bu Rus, iya. Tenang, Bu, tenang. Jati ke kantoran sekarang. Jati minta, sebaiknya Ibu masuk ke rumah. Jangan berdiri di sini." Jati khawatir Danyang Punden marah dan mengamuk tanpa pandang bulu. Setelah Bu Rusmini berlari-lari kecil masuk ke dalam rumah, Jati segera melajukan sepeda motornya.
Hati gusar, pikiran rasanya tidak karuan, mata fokus ke depan, Jati tidak menyadari kalau berpapasan jalan dengan Ningsih yang mengendari sepeda menuju arah berlawanan.
Di punden, orang-orang yang bertugas menebang pohon dibuat gusar karena meski sudah ditebas putus dan juga sudah ditarik sekuat tenaga, pohon itu tidak tumbang juga.
Tadinya, untuk mempersingkat waktu, mereka berencana merobohkan pohon itu tepat di atas sanggar, tetapi apa boleh dikata, pohon itu bergeming sama sekali.
"Waduh! Bagaimana ini, Bu Lurah." Wajah Pak Gonden pucat, mulutnya dari tadi melongo sampai gigi dan lidah terasa kering, menelan ludah tampak kesulitan.
__ADS_1
Wajah Bu Lurah pun terlihat tegang, bintik-bintik keringat bermunculan di dahi. Telapak tangan pun basah karena sedari tadi mengepal. Hatinya masih menolak percaya pada takhayul, tetapi apa yang disaksikannya sekarang bukanlah mimpi. Melihat orang-orang itu begitu kesulitan, hatinya jadi kacau. Masih saja dia berkeras hati kalau dunia gaib itu tidak ada? Akan tetapi, apa yang ada di depan matanya itu jelas-jelas nyata. Sesuatu yang mustahil, tetapi nyata. Bu Lurah jadi merasakan dilema juga. Hati dan pikirannya saling bertentangan.
"Bu Lurah tidak usah khawater. Semua akan baik-baik saja dan berjalan lancar sesuai rencana." Pak Yudi mencoba meyakinkan Bu Lurah, padahal dari nada suaranya yang serak dan sedikit bergetar, bisa disimpulkan kalau sebenarnya dia juga merasa gentar. Seumur-umur, baru kali ini dia menyaksikan murid-murid dukun andalannya mengalami kesulitan.
Sibuk mengusap peluh di dahi, Bu Lurah tidak menanggapi perkataan Pak Yudi. Matanya terus terpaku pada empat orang yang sekarang sedang berusaha merobohkan pohon yang sudah terpotong, tetapi nyatanya masih berdiri tegak, seperti menantang. Setelah usaha yang sia-sia, keempatnya diam terpaku, mata-mata nanar menatapke arah pohon, mulut berkomat-kamit membaca mantra.
"Tarek!"
Salah satu memberi instruksi, keempatnya serempak menghentak tali, menarik sekuat tenaga. Tidak hanya tenaga biasa, tetapi juga tenaga gaib. Dalam diri masing-masing ada jin prewangan yang mendukung.
Mereka yang menyaksikan begitu tegang, serius, dan fokus, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Ningsih, padahal sepeda yang dinaikinya cukup menimbulkan suara berisik saat roda menyenggol bebatuan. Melepas sepedanya begitu saja tepat di hadapan keempat orang yang ada di pintu pasar, Ningsih sukses membuat keempatnya melonjak kaget.
Sebelum mereka sempat bereaksi, tangan Ningsih sudah mencekik leher Pak Yudi dan Pak Candra. Mata gadis itu memerah, menatap murka penuh kebencian. Tenaganya sangat besar, kedua pria itu tidak mampu melawan. Bahkan Pak Gonden dan Bu Lurah tidak mampu walau hanya sekadar menggeser tubuh Ningsih. Tubuh gadis itu bergeming, sama seperti pohon jati di punden.
Sudah biasa makan emping pun, seharusnya mereka lebih bijak lagi dalam memilih lawan.
"Jangan kurang ajar kamu! Lepaskan, lepas!" Bu Lurah berteriak panik, sambil terus berusaha melepaskan tangan Ningsih dari leher Pak Yudi atau dan Pak Candra.
[Bersambung]
__ADS_1