WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Layar Menimpa Tiang


__ADS_3

..."Kawan menjadi lawan"...


"Coba kalian pikir,"---jari telunjuknya mengetuk-ngetuk atas pelipis. Pelan, tetapi penuh penekanan---"lebih penting mana? Sanggar dan punden atau perbaikan jalan? Kita harus kreatif dan punya inisiatif, tidak bisa terus bergantung pada pemerintah, apalagi sekarang pemerintahan masih kisruh, krisis."


Sudah kepalang tanggung, musyawarah dadakan pun akhirnya diadakan. Hanya dihadiri perangkat desa yang ada di kantor desa saja. Seperti biasa, perempuan penguasa desa itu memimpin jalannya perundingan dengan arogansi tinggi dan lidah pun pintar bermain kata.


Seolah-olah hanya dia yang bisa berpikir, hanya dia yang memikirkan kepentingan dan kemajuan desa, padahal nyatanya hanya demi ambisi pribadi semata.


"Kalau aku, ya, lebih penting perbaikan jalan ...."


Dasar, layar menimpa tiang adalah ungkapan yang sangat pantas untuk Pak Gonden. Menjilat penguasa, tega melawan rekan-rekan sejawat yang selama ini hampir selalu seia sekata.


"Itu sama saja kamu membunuh anak yang satu untuk memberi makan anak yang lain. Bagusnya di mana? Kalau memang mau dijual lalu dibangun toko, kenapa tidak lahan pembuangan sampah itu saja?"


Sebenarnya Pak Wahyu meradang, tetapi saat berbicara nada suaranya hanya tegas, tidak membentak. Hal itu justru membuat aura arif dan berwibawa menguar dari dalam diri Pak Wahyu.


"Aku sependapat sama Kang Wahyu. Daripada Mbah Danyang murka, lebih baik biarkan saja jalan-jalan tetap seperti itu. Kita sudah terbiasa. Lagi pula, tidak boleh sembarangan menjual aset desa, kan, Kang Gon?"


Di bawah tatapan tajam Bu Lurah yang selalu mengangkat dagu, hanya Pak Wahyu dan Pak Purwo saja yang berani bersuara menentang, yang lain sepertinya mau cari aman.  Walaupun hati menggerundel, mulut tetap terkunci.


"Nah! Pemikiran seperti itulah yang membuat desa kita ini tidak maju-maju. Primitif." Menunjuk-nunjuk ke arah Pak Purwo penuh semangat, Bu Lurah seolah hendak menegaskan bahwa laki-laki muda itu adalah contoh konkret kemunduran dalam berpikir. "Lagi pula sudah aku bilang berkali-kali, tanah itu tidak dijual, hanya disewakan. Dan mereka tidak mau sama lahan pembuangan sampah karena letaknya tidak di pinggir jalan, terlalu masuk katanya."

__ADS_1


"Apa pun alasannya, aku tetap tidak setuju kalau lahan sanggar dan punden yang diusik! Masih ada lahan lain, kenapa harus---"


"Karena Ningsih, kan?! Karena Ningsih ngotot ingin melatih anak-anak menari makanya, Pak Wahyu, tidak setuju!"


Merasa berkedudukan lebih tinggi, Bu Lurah kerap bersikap seenaknya pada yang lebih tua. Menyela dan membentak tanpa sungkan, padahal Pak Wahyu saja berusaha menahan diri, tetap bersikap sopan dan sebisa mungkin berbicara dengan nada biasa.


Berpikir negatif terhadap pihak yang berlawanan memang sudah hal yang sangat wajar, padahal niat Pak Wahyu tidak seperti itu. Kasun Kidul itu menentang, murni karena alasan yang sudah sering kali diutarakan---sanggar itu adalah warisan leluhur. Soal latihan menari, di mana pun bisa. Jadi, salah besar kalau Bu Lurah berpikiran seperti itu.


"Aku tidak peduli Bu Lurah mau ngomong apa saja. Bentak-bentak aku seenaknya, bukan masalah. Tapi kalau sampai bawa-bawa Ningsih dan ngomong yang bukan-bukan ... awas saja ...."


Sepertinya paham betul apa yang dimaksud oleh Pak Wahyu, apalagi kalau bukan tentang Pak Agung dan Ningsih, raut wajah Bu Lurah tampak sedikit berubah, yang tadinya sinis tiba-tiba jadi sedikit tegang.


Mungkin di dalam benaknya memang sudah terbersit rencana untuk menggoreng kedekatan Pak Agung dan Ningsih menjadi isu yang lebih panas, makanya saat Pak Wahyu menyenggol perihal itu dia merasa ditohok.


"Benar apanya, hah?!"


"Eh---i-itu ten-tang Mbah Danyang murka ...." Pria bertubuh tambun yang punya kebiasaan berkedip cepat beruntun bila sedang gugup atau kaget ini, setelah berbicara langsung menghela napas lega sambil menepuk-nepuk dada.


Bahkan dalam suasana tegang pun, aksinya barusan masih mampu mengundang senyum---senyum yang terpaksa dikulum karena situasi tidak mengizinkan.


"Terima kasih Kang Didik. Bu Lurah dan Kang Gonden boleh saja tidak percaya, tapi setidaknya kejadian beberapa hari yang lalu bisa menjadi contoh." Kejadian yang dimaksud oleh Pak Purwo adalah hujan yang sempat turun tiada henti, hingga menyebabkan sawah kebanjiran dan sungai-sungai yang melintasi daerah Dusun Kidul, Kulon, dan Etan meluap.

__ADS_1


Ujaran Pak Purwo mau tidak mau membuat Bu Lurah teringat kembali pada peristiwa aneh yang beberapa hari terakhir ini dialaminya. Tanpa sadar Bu Lurah tertegun dan hal itu oleh yang lain dianggap sebagai tanda-tanda kalau dia sudah kehabisan argumen.


"Ayo, yang lain jangan hanya diam saja. Ikut bersuara tidak usah takut." Pak Wahyu mengambil kesempatan untuk memprovokasi yang lain.


"Sudah cukup!" Sadar dari tertegun, suaranya langsung menggelegar, sampai-sampai semua yang hadir bahunya menjengit. Sialnya, Bu Lurah tertegun tidak hanya terkenang peristiwa aneh yang pernah dia alami, tetapi juga sedang memutar otak.


"Kalau memang begitu maunya, baik, tidak apa-apa. Tapi,"---matanya bergerak ke sana-kemari menatap yang hadir satu per satu, suasana pun menjadi hening dan berat---"perbaikan jalan tetap akan dilakukan, menggunakan uang khas desa, iuran dari warga dan ...."


Hening. Wajah-wajah tegang---geram---tatapan tidak beralih dari sosok bertubuh montok yang selalu percaya diri hingga tahap arogan, sampai-sampai bibir merah segar dan sanggul cepolnya juga terasa sangat menyebalkan saat dilihat.


" ... tahun ini tidak ada nyadranan besar-besaran!" Berisik suara keluhan tidak menghentikan Bu Lurah bicara, "Tidak ada wayang kulit, tidak ada teledek, iuran dari warga akan digunakan untuk tambahan dana pembangunan dan ... mulai sekarang akan diberlakukan aturan, siapa yang mempunyai sawah dan kendaraan pengangkut hasil panen, akan ditarik iuran khusus! Terserah kalian pilih yang mana?!"


"Lah kok, malah jadi tidak karuan." Syok bercampur geram, suara Pak Wahyu malah seperti orang kehilangan asa, sedangkan yang lain malah hanya terbengong karena terlalu terkejut.


Licik. Bu Lurah tahu betul kalau dua pilihan itu sama-sama sulit. Dengan cara begini, dia ingin memaksakan kehendak secara halus. Dia yakin, orang-orang yang memiliki sawah luas dan juga memiliki kendaraan roda empat sebagai alat pengangkut hasil panen pasti akan sangat keberatan dengan adanya aturan tersebut. Jadi, ada kemungkinan mereka akan lebih memilih mendukung niatnya untuk menyewakan lahan sanggar dan punden.


Dalam waktu yang begitu singkat, Bu Lurah mampu memikirkan ide brilian. Untuk saat ini, dia tidak mau terlalu frontal karena itu hanya akan menyulitkan diri sendiri.


Sangat sadar posisinya tidak menguntungkan hanya dengan satu pendukung. Dia bermaksud menggalang lebih banyak dukungan. Orang-orang kaya dan terpandang adalah sasarannya.


Jangan buru-buru. Tidak apa lambat, asal selamat. Soal orang-orang yang mau menyewa lahan sanggar dan punden, Bu Lurah yakin, mereka masih bisa menunggu.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2