
Dr. Helmi dan dr. Bambang pun mengobrol dengan evan
" kamu belajar darimana nak, sepertinya kamu masih muda banget." kata dr. Helmi
" saya belajar ilmu pengobatan waktu masih di kampung, dokter, dan itu pun pengobatan tradisional, saya baru lulus SMA dokter, baru mau masuk kuliah di kedokteran." kata evan
" hebat banget kamu, saya yang sudah tua ini pun kalah kemampuannya dari kamu." kata dr. Bambang
" kebetulan aja dokter saya bisa menyembuhkan." kata evan
" jadi kamu melakukan pengobatan tanpa melakukan operasi atau suntik obat." kata dr. Helmi
" saya melakukan pengobatan dengan jarum akupuntur dan untuk memulihkannya saya memberikan resep obat." kata evan
" saya senang bisa bertemu dengan kamu nak, lain kali saya ingin mengobrol banyak dengan kamu," kata dr. Helmi
" siap dokter kalau ada kesempatan kita bisa mengobrol lagi, toh kemungkinan kita akan sering bertemu juga kalau perusahaan ini sudah berjalan." kata evan
" tapi nak, kalau nanti saya atau dr. Bambang membutuhkan bantuan kamu untuk menyembuhkan pasien kamu bisa kan membantu kami." kata dr. Helmi
" siap dokter, tapi kalau memang sang pasien dan keluarganya percaya kepada saya, karena saya kan belum dapat lisensi kedokteran." kata evan
" nanti saya akan bantu walaupun kamu belum lulus kuliah, keahlian kamu sudah membuktikan itu, nanti saya kan bicara dengan yang lain masalah izin praktek kamu." kata dr. Helmi
" bukan tidak ingin mengobrol tapi karena waktu dan kita mau melakukan uji laboratorium dan uji klinis obat ini, saya pamit duluan." kata dr. Helmi
" iya dokter, terimakasih." kata evan. Dr. Helmi dan dr. Bambang pun pamitan ke bu marni lalu mereka pun pergi.
" anak ibu hebat banget." kata bu marni lalu memeluk evan dengan gembira dan mencium pipi evan
" bu malu ih." bisik evan
__ADS_1
" biar aja, wajar dong ibu memeluk dan mencium anaknya karena gembira. Mentang mentang sudah punya pacar." kata bu marni sambil melirik ke arah nazwa. Setelah itu bu marni mengajak evan dan nazwa ke ruangannya lagi. Di dalam ruangan bu marni menanyakan bagaimana tanggapan orang tua nazwa.
" gimana tanggapan ayah dan ibu kamu nak, tentang hubungan kalian ini." kata bu marni
*******kembali ke malam sebelumnya di rumah nazwa *****
pas pulang dari rumah evan bersama kakeknya, di perjalanan pak baskoro memperhatikan cucunya itu.
" duh cucu kakek udah dewasa ya, kakek lihat cincin yang kamu pakai sama dengan yang dipakai nak evan, apa tandanya itu." kata kakek baskoro, nazwa pun menyembunyikan cincin itu dengan malu malu sehingga wajahnya memerah.
" iya kek tadi sebelum aku sama kak evan nonton, aku jalan jalan dulu di mall itu, aku melihat toko perhiasan, kak evan bilang kenapa ada yang kamu suka?, aku jawab cincin yang couple itu bagus banget. Eh kak evan ngajak aku masuk ke toko itu dan meminta penjaga toko mengeluarkan cincin yang aku suka itu, lalu aku diauruh mencobanya eh pas banget di jari manis aku ini sama kak evan juga, jadi kak evan membelinya." kata nazwa
" memangnya nak evan punya uang gitu, pasti itukan mahal, kamu enggak maksa dia beli kan." kata kakek baskoro memastikan
" enggak kek, aku enggak maksa kak evan, kata kak evan itu uang pribadi miliknya dari orang yang kak evan terima dari orang yang diobati, dan tadi juga aku diperlihatkan ada uang masuk ke rekeningnya kek dari orang yang ditolong waktu kita pulang, gede banget loh kek, aku juga dibayarin untuk pendaftaran kuliah." kata nazwa
" terus kamu sudah yakin sama nak evan, karena selama ini kakek enggak pernah lihat kamu jalan sama cowok manapun dan kalian juga baru saling mengenal." kata kakek baskoro
" kakek juga merasa seperti itu, dia anak yang baik, sopan dan kakek tau ayahnya seperti apa, terus apa rencana kedepannya pasti dong kalian sudah membicarakannya dan bagimana tanggapan ibunya nak evan kepada kamu." kata kakek baskoro
" kak evan bilang kalau aku mau tunangan dulu enggak masalah yang penting ayah, ibu dan kakek merestui hubungan kita, bu marni baik kek, beliau enggak melarang kami untuk pacaran yang penting jangan sampai keluar batas, bu marni juga sama kaya kak evan apa ayah, ibu dan kakek merestui hubungan kita ini. Kalau memang setuju enggak masalah untuk tunangan dulu sebelum kita menikah." kata nazwa
" kakek setuju dan merestui hubungan kalian, semenjak bertemu nak evan kakek sangat suka kepadanya." kata kakek baskoro. Mereka pun sampai di rumah, di rumah sudah ada ibu dan ayahnya nazwa.
" kalian enggak merepotkan bu marni kan kak, dek." kata bu citra
" enggak bu, aku sama adek hanya main aja kok." kata nazwa
" iya bu aku main aja sama yasmin dan kak ella sebelum kakak datang, baru setelah itu kita makan pizza sama sama, kak evan yang membelikannya." kata jaka
" kalian harus siap siap karena sepertinya sebentar lagi kalian akan punya mantu." kata kakek baskoro
__ADS_1
" apaan sih kek." kata nazwa malu malu
" yah, bu, kakak di belikan cincin sama kak evan loh, mereka berdua pakai cincin yang samaan. Cie...cie...ciee kakak." kata jaka meledek kakaknya itu
" adek apaan sih.." kata nazwa sambil mau mukul adiknya itu, jaka pun berlari karena takut di pukul, pak hadi dan bu citra melihat ke arah jari nazwa, mereka pun melihat ada cincin yang melingkar di jari manis nazwa
" udah malam jangan lari larian, ayo kita makan sama sama." kata bu citra, mereka pun duduk di meja makan
" iya kak ayah baru lihat ada cincin di jari manis kamu, siapa yang membelikan itu, perasaan ayah dan ibu belum pernah membelikan itu." kata pak hadi
" kak evan yah, tadi sebelum nonton aku dibelikan ini sama kak evan." jawab nazwa sambil malu malu
" kok kakak jadi malu malu gitu sih, memangnya kalian benar benar sudah pacaran, dan apa maksud cincin itu." kata pak hadi
" tumben kamu mau pakai cincin, apalagi pemberian cowok kak." kata bu citra
" kak evan bilang kalau memang aku suka, kak evan mau membelikannya, eh beneran kak evan membeli cincin ini. Aku sama kak evan enggak pernah bilang jadian pacaran, tapi kak evan sama ibunya kalau memang aku memang suka dan mau menerima kak evan dan ayah sama ibu serta kakek merestui hubungan kita ini, kak evan dan ibunya akan datang melamar aku untuk tunangan dulu sebelum kita nikah. Kata ayah dan ibu gimana." kata nazwa
" memangnya kamu sudah yakin dan benar benar suka sama evan." kata pak hadi
" iya nak, selama ini kamu sangat tertutup untuk masalah cowok loh, kalian kan baru aja kenal kok sudah membicarakan sampai sejauh itu." kata bu citra
" entah kenapa waktu dari awal ketemu kak evan, aku suka sama dia, dia dewasa, sopan, baik dan aku yakin kak evan akan menyayangi, melindungi dan membahagiakan aku yah, bu." kata nazwa
" kalau memang kamu sudah yakin atas pilihan kamu, bapak sih merestui saja yang penting kamu memang benar benar suka sama nak evan, dengan kata seperti itu membuat bapak juga lebih yakin akan keseriusan dia ke kamu, bukan mau main main, memang sebelumnya juga bapak suka sama dia itu." kata pak hadi
" ibu juga sama sama ayah kamu, lagian nak evan baik, sopan, ibu juga yakin dia bisa membahagiakan kamu apalagi dengan keserius dia mau melamar kamu, karena zaman sekarang kan mereka pacaran hanya main main aja jarang yang langsung serius seperti nak evan ini mau langsung melamar." kata bu citra
" makasih ya yah, ibu, kek atas restunya." kata nazwa
" kapan memangnya nak evan sama keluarganya datang kesini." kata pak hadi
__ADS_1
" kata ibunya kak evan, aku disuruh tanya ke ayah sama ibu dulu, kapan ayah dan ibu ada waktunya." kata nazwa dengan gembira.