
Evan mengambil amplop tersebut lalu membukanya, disana ada sebuah sertifikat rumah dan kuncinya juga.
" apa ini pak, apa bapak enggak salah memberikan ini kepada saya." kata evan
" enggak kok nak, itu hadiah dari kami, mohon jangan menolaknya, karena ini juga bentuk syukur kami dan nazar kami, ini tidak sebanding dengan kebahagian kami, buat apa kami punya banyak harta kalau kami tidak dapat mewariskannya ke anak anak kami nantinya. Harta bisa kami cari lagi tapi titipan anak ini enggak akan bisa kami dapatkan kalau enggak ada bantuan dari kamu, kami sudah mencari dokter kemana mana, tapi berkat kamu kami bisa mendapatkan keturunan." kata pak idris
" iya nak, tolong terima, kalau enggak kami.akan merasa bersalah, walaupun mungkin ini tidak seberapa tapi tolong lihat niat kami dan bentuk nazar kami." kata bu amel
" iya nak terimalah, itu hadiah dari pak idris dan bu amel, saya swbagai sahabat mereka juga turut bahagia melihat mereka ini bahagia, makanya waktu itu saya merekomendasikan kamu sebagai ikhtiar mereka,." kata pak handoko menambahkan kata kata pak idris dan bu amel, dia sudah melihat lokasi rumah tersebut dimana, jadi dia tau rumah apa yang diberikan pak idris itu kepada evan dan menurut dia wajar pak idris memberikan itu karena selama ini temannya itu sudah kemana mana untuk berobat supaya dapat keturunan
" saya jadi enggak enak ini, ini hadiah yang sangat luar biasa buat saya." kata evan
" saya malahan yang enggak enak kalau kamu sampai enggak mau terima, apalagi waktu itu saya belum ngasih apa apa sama kamu." kata pak idris
" pokoknya kamu jangan segan segan sama kita, karena kita akan merasa enggak enak kedepannya kalau memerlukan bantuan kamu." kata bu amel
" kalau kamu tolak juga kami juga bingung mau diapakan rumah ini karena itu sudah atas nama kamu, maaf saya meminta identitas kamu ke handoko enggak izin dulu sama kamu, karena kata handoko kamu pasti akan menolaknya kalau terang terangan memintanya." kata pak idris
" kalau begitu saya terima hadiah ini, terimakasih banyak atas hadiahnya, bapak dan ibu juga jangan segan segan ke saya, selagi saya bisa membantu insyaAllah akan saya bantu." kata evan
" ini bisa jadi hadiah pernikahan kamu nak, kamu bisa menempati rumah ini nanti sama keluarga kamu." kata pak handoko
" kamu mau nikah nak.. Kapan." kata pak idris
" waktunya belum ditentukan pak, tapi pembicaraan sudah ada, saya ikut apa kata ibu saya dan calon mertua saya saja." kata evan
" kenapa kok mau nikah muda begitu.." kata bu amel
" dia ini anak yang memiliki tanggung jawab luar biasa, dia baru kenal sama calonnya saja sudah berani bertunangan dan memang serius ke arah pernikahan, dia enggak mau main main bu, begitu juga masalah pekerjaan dia sangat bertanggungjawab, hasilnya rumah sakit ini semakin dikenal dikalangan pejabat, baru aja dia mengobati pak menteri sampai dia dianggap anak sama isterinya." kata pak handoko
__ADS_1
" iya jeng dia ini anak saya juga, nih saya dirawat dia jadi kaya anak muda lagi kan." kata bu sofie bangga dengan penampilannya sekarang
" iya ya, saya baru sadar, wah nanti kalau sudah melahirkan aku juga mau ah dirawat seperti jeng sofie." kata bu amel
" tenang aja jeng, nanti kita ke tempat perawatan kecantikan milik anak saya ini." kata bu sofie
" awas loh ya janji nanti setelah saya melahirkan ketempatnya nak evan." kata bu amel
" iya jeng tenang..." kata bu sofie.
" iya udah kalau begitu kami pamit ya, nanti kalau mau periksa saya kabari kamu ya, saya harus meeting soalnya." kata pak idris
" siap deh, jaga anak kembarnya, jangan main diluar juga karena dilarang main sama yang dirumah." kata pak handoko
" kaoan sih aku kaya gitu, apalagi udah tau mau punya anak kembar.. Kewalat nanti." kata pak idris. Mereka pun pamitan, evan dan pak handoko mengantar kepergian mereka. Setelah kepergian mereka evan mengobrol sebentar dengan pak handoko
" pak ini gimana, saya merasa enggak enak loh, apalagi kan saya bekerja di rumah sakit ini." kata evan
" iya nak terima, itu rezeki anak baik kaya kamu." kata bu sofie menambahkan. Setelah itu evan pamitan mau ke ruangannya, sampai di ruangannya evan membuka amplop tadi. Setelah melihat nama yang tertera memang atas nama dirinya, evan melihat alamat rumah yang ada di sertifikat itu dia merasa familiar. Lalu membuka handphonenya dan melakukan searching. Ternyata rumah itu dekat apotik dan perumahan tersebut termasuk perumahan elite Yang sempat dibicarakan bersama nazwa waktu itu. Evan menanyakan kepada asistennya dan dr. Helmi apakah masih ada pasien yang perlu ditangani atau tidak, setelah itu dia pun bilang ke asistennya bahwa dia akan pulang lalu pamitan ke pak handoko, pak handoko sendiri sudah siap siap pulang. Maka mereka pun sama sama menuju lobby rumah sakit, evan meminta pak johan menjemputnya di lobby.
" awas loh, ingat kalau mau pembukaan rumah perawatan kecantikannya mau dibuka, pokoknya ibu enggak mau tau kamu harus kabari ibu." kata bu sofie
" iya bu, saya audah meminta ke ibu dan nazwa untuk mengingatkan juga." kata evan
" nah gitu kalau sudah ada maunya, kamu juga nanti akan merasakannya." kata pak handoko
" ini juga buat kamu pah, supaya enggak melirik yang lain." kata bu sofie. Pak handoko dan bu sofie pun pamit duluan karena sudah dijemput sopirnya. Tak lama pak johan pun muncul.
" pak kita ke apotik aja ya." kata evan
__ADS_1
" siap nak," kata pak johan lalu mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil evan membulak balik amplop tadi, dia merasa ini memang jalan dari Allah untuk dirinya bisa membahagiakan keluarganya, rezeki yang enggak disangka sangka. Di perjalanan evan memberi tau nazwa bahwa dia kan menjemputnya di apotik, pas mobil melewati pintu gerbang depan perumahan yang sesuai dengan sertifikat tadi evan merasakan ada getaran dihatinya. dari ruko yang dia beli itu pun terlihat bagaimana perumahan yang ada disana. Tak lama mobil pun telah sampai di apotik. Setelah turun dari mobil evan pergi ke lantai 2 dimana nazwa berada. Terlihat nazwa dan nita sedang serius membicarakan tentang rumah perawatan kecantikan tersebut sambil makan snack dan jus.
" kakak udah sampai, udah ketemu pasiennya kak." kata nazwa menanyambut kedatangan evan
" iya udah, makanya aku disini, kenapa enggak boleh." kata evan
" apaan sih, jangan mulai deh." kata nazwa
" oh iya van, besok aku pindah kesini ya boleh, soalnya di rumah juga aku enggak kebagian tempat, maklum." kata nita
" iya boleh aja, apa enggak takut disini sendiri soalnya kan belum ada karyawan lainnya, kalau enggak kamu sama nazwa aja dulu di rumahnya." kata evan
" iya kak itu udah dibicarakan kok, memang nita mau di rumah aku dulu, tapi maksud nita barang barang dia dulu disini." kata nazwa
" syukur kalau begitu, tapi kamu harus izin dan ngasih tau orangtua kamu ya," kata evan
" iya van itu pasti, makanya sekarang aku mau beres beres di rumah, karena kamu udah datang aku.pulang dulu ya." kata nita
" iya udah, makasih ya udah mau nemani calon isteri aku." kata evan
" enggak apa apa, lagian kan ini juga awal aku kerja disini, tapi ingat loh gaji aku jangan lupa itu walaupun aku teman kalian." kata nita
" iya... Bulan ini kamu udah dapat gaji. Hati hati ya. Kabari kita kalau ada apa apa." kata evan
" iya nit hati hati di jalan ya." kata nazwa
" siap bos. Makasih ya, besok rencana mau kemana." kata nita
" paling beli peralatan aja." kata evan
__ADS_1
" iya udah ya van, naz aku pulang babang aku audah nunggu tuh." kata nita. Nita pun pergi pulang naik ojek online.