WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Kesempatan Luar Biasa


__ADS_3

Pak hadi pun mendengarkan apa yang dikatakan bu marni.


" kita sudah mendengarkan maksud dari nak evan hadir di rumah kami ini, saya selaku ayah nazwa juga sama bu, kami tidak ingin ikut campur dalam hal ini, saya juga enggak mau memaksakan kehendak kami, memang sebelumnya sudah mengatakan kepada kami tapi apa ada perubahan setelah itu, saya juga enggak tau, nah nak gimana, apa memang kamu menyukai nak evan, sekaligus kamu menerima lamaran nak evan ini." kata pak hadi. Nazwa yang gugup sempat terdiam, membuat evan juga gugup. Suasana pun menjadi hening.


" saya menerima lamaran ini karena memang saya menyukai kak evan dan saya yakin kak evan bisa memberikan kasih sayang dan kebahagian ke aku." kata nazwa lalu terdengar tepuk tangan.


" kita sudah mendengarkan apa yang dikatakan anak saya, bahwa tujuan nak evan kesini diterima. untuk selanjutnya silahkan kalian bicarakan dulu atau memang sudah ada rencana,." kata pak hadi


" rencana ke arah selanjutnya memang sudah kita bicarakan, kita ingin menyelesaikan kuliah terlebih dahulu sambil kita mengetahui kekurangan kami masing masing, akan tetapi jika memang kami sudah siap lahir dan bathin tidak menutup kemungkinan untuk bisa segera mungkin." kata evan


"saya senang mendengarnya, jujur saya salut akan keberanian nak evan untuk melamar anak saya, bapak yakin nak evan bisa memberikan kebahagiaan kepada nazwa dan bertanggung jawab dan ini sudah nak evan buktikan. kami selaku orangtua hanya bisa mendukung setiap keputusan anak anaknya, tapi ingat walaupun kalian saat ini sudah bertunangan jangan sampai melampaui batas, melanggar norma norma yang ada sebelum adanya ijab qobul, bapak yakin kalian bisa menjalankan kepercayaan kami selaku orangtua." kata pak hadi. Sebagai bentuk simbolis pertunangan itu bu marni menyuruh evan untuk memakaikan cincin di jari manis nazwa dan sebaliknya. Bu marni pun memakaikan kalung di leher nazwa sebagai bentuk penerimaan dia kepada nazwa. Lalu dia memeluk dan memberikan ciuman di pipi nazwa.


" kalian sudah mengambil keputusan ini, kalian harus bisa mempertahankannya, kakek bahagia melihat ini, mudah mudahan kakek bisa menyaksikan kalian bersanding di pelaminan." kata kakek baskoro. Para tamu memberikan ucapan selamat kepada evan dan nazwa serta kepada orangtua mereka. Pak hadi dan bu citra menyuruh yang hadir untuk makan.


" selamat ya nak, semoga hubungan kalian langgeng sampai nanti." kata pak joko


" terimakasih pak." kata evan dan nazwa


" selamat nak, saya turut bahagia dan tentunya pak devano disana pun bahagia melihat putranya sudah dewasa dan bertanggung jawab." kata pak edi


" terimakasih pak, saya tunggu tunggu bapak kok enggak datang juga." kata evan


" iya bapak masih banyak kerjaan nak, tapi besok saya akan usahakan datang ke rumah kamu. Oh iya bu, bagaimana kabarnya, sudah lama kita tidak berjumpa" kata pak edi


" baik pak, terimakasih banyak pak." kata bu marni. Tak lama dr. Helmi dan dr. Bambang datang kesana

__ADS_1


" selamat ya nak, semoga kalian selalu bahagia." kata mereka


" terimakasih dokter." kata evan


" kok bisa ada disini dokter," kata bu marni


" kemarin ibu bilang mau ada acara ini, makanya kami hadir dan kemarin sore pak handoko telepon saya menanyakan nak evan karena kemarin saya menelepon dia untuk membantu memasarkan produk kita bu. Saya bilang nak evan mau melangsungkan pertunangan hari ini, tadi katanya beliau masih dijalan menuju kesini." kata dr. Helmi


" pak handoko menyampaikan kepada kami bahwa dia memiliki pasien yang sulit diatasi karena itu beliau ingin mengundang nak vian ke rumah sakit miliknya untuk melihat pasien tersebut, jujur saja kami tim dokter ahli sudah tidak mampu menyembuhkan penyakit pasien tersebut." kata dr. Bambang. Tak lama pak handoko datang bersama anaknya dr. Surya. Bu marni yang melihat kedatang pak handoko menjadi senang karena dia tau bahwa pak handoko ini pengusaha nasional bahkan internasional dibidang farmasi.


" selamat sore semuanya, mohon maaf saya mengganggu acaranya, dan maaf saya menjadi tamu tak diundang." kata pak handoko, lalu memberikan selamat kepada evan dan nazwa


" selamat ya nak, kita ketemu lagi, maaf saya datang tanpa diundang." kata pak handoko


" salam kenal pak bu. Saya handoko orang yang beruntung di selamatkan anak anak ini, mungkin tanpa mereka saya saat ini enggak bisa hadir disini, saya udah di dalam tanah." kata pak handoko


" salam kenal juga pak, saya senang bisa bertemu dengan bapak, selama ini saya hanya bisa mengagumi bapak dan melihat bapak di televisi." kata bu marni


" salam kenal juga pak, terimakasih sudah menyempatkan waktu ke acara anak anak kami ini. Walaupun bapak pasti sedang sibuk." kata pak hadi.


" enggak masalah itu, saya senang bisa ikut bahagia, kamu kenapa enggak ngabari saya nak." kata pak handoko


" saya enggak mungkin mengganggu waktu bapak. Kok bapak sampai tau saya sedang ada acara disini." kata evan


" saya tau dari dr. Helmi bahwa kamu mau melakukan tunangan, awalnya saya memiliki pasien di rumah sakit dan kebetulan dr. Helmi dan dr. Bambang ini adalah dokter di rumah sakit kami, jadi kami meminta beliau untuk memeriksa penyakit sang pasien, tapi beliau angkat tangan dan menyarankan kamu untuk mencoba memeriksa penyakit pasien itu, setelah itu saya tanya ke beliau apa kenal sama kamu, dr. Helmi bilang kenal karena saat ini sedang mendirikan usaha bersama. Eh akhirnya kita bisa bertemu disini." kata pak handoko

__ADS_1


" pak, saya belum memiliki izin praktek kedokteran apalagi memeriksa pasien di rumah sakit, nanti akan menjadi permasalahan ke rumah sakit bapak lagi," kata evan


" dr. Helmi juga sudah menyampaikan hal ini kepada saya, kalau memang kamu mau memeriksa pasien itu saya yang akan memberikan jaminannya, karena saya sudah merasakan keahlian kamu bukan surat izin praktek, dan kalau kamu bisa menyembuhkan penyakit pasien ini, surat itu akan sangat mudah keluar, karena pasien ini petinggi di departemen kesehatan," kata pak handoko. Orang yang berada disana pun tercengang mendengarkan itu.


" saya belum bisa memberikan pernyataan bisa atau tidaknya menyembuhkan pasien tersebut karena saya belum melihat kondisi pasien, dan secara hati nurani saya, saya bersedia meriksa pasien tersebut tanpa melihat siapa dia." kata evan


" kamu sebenarnya sudah menjadi dokter karena kamu sudah memiliki hati sebagai dokter, kalau begitu apa sekarang bisa memeriksanya, karena saya khawatir kalau ditunda tunda beliau tidak bisa diselamatkan. Dan ini juga bisa menjadi test kamu untuk mendapatkan izin tersebut." kata pak handoko


" gimana menurut kamu naz, bapak dan ibu serta kakek." kata evan


" kalau bapak sih tidak akan melarang kamu, apalagi ini perbuatan mulia, dan ada kesempatan kamu membuktikan kemampuan kamu, lagian acaranya juga sudah selesai." kata pak hadi


" iya kak, toh acara kita sudah selesai, kakak pergi saja." kata nazwa


" iya nak, ini kesempatan luar biasa, kalau sampai kamu bisa mendapatkan izin praktek dokter saat ini, mungkin kamu orang pertama yang mendapatkannya." kata kakek baskoro


" kalau menurut ibu gimana." kata evan


" ibu tidak bisa melarang atau menyuruh kamu, itu tergantung di kamunya," kata bu marni


" iya sudah kalau begitu, saya sekarang bisa memeriksa pasien tersebut." kata evan.


" bagus kalau begitu nak, ini jiwa dokter sejati, terimakasih nak." kata pak handoko.


" pak, ibu, nak vian silahkan makan terlebih dahulu." kata bu citra. Mereka pun mengambil makanan, lalu makan bersama disana

__ADS_1


__ADS_2