
Evan, Nazwa, dan bu marni pun siap siap untuk bertemu dengan pemilik ruko, evan juga mempersiapkan persyaratan untuk pengajuan kredit, setelah siap evan mengantar nazwa pulang dulu untuk ganti pakaian diantar pak johan sedangkan bu marni diantar pak budi karena nanti dia akan langsung ke pabrik untuk mengecek operasional pabrik dan mengambil bahan bahan untuk pembuatan resep kecantikan yang evan minta.
Sampai dinrumah nazwa, orang tua nazwa sedang siap siap pergi bekerja. Evan menyalami mereka.
" gimana kabarnya pak, bu." tanya evan
" alhamdulillah baik nak, kamu sendiri gimana kerja di rumah sakit." kata pak hadi
" alhamdulillah lancar pak, saya sekalian izin mau mengajak nazwa untuk pergi melihat ruko untuk apotik dan rumah perawatan kecantikan." kata evan
" asyiiik, nanti ibu bisa sering perawatan disana dong, kalau sudah jalan nanti ibu promosikan ke teman teman, oh iya kata nazwa kamu mau buat obat kecantikan apa sudah jadi, boleh dong ibu mencobanya." kata bu citra
" boleh dong bu, hari ini ibu mengambil dulu bahan bahannya, kalau sudah jadi nanti ibu kebagian kok." kata evan
" kata nazwa nanti yang mengurus apotik dan rumah perawatan kecantikan itu dia, apa kamu enggak takut, padahal nazwa belum pernah megang operasional perusahaan." kata pak hadi
" enghak apa apa pak, lagian supaya nazwa bisa belajar dan memperaktekan ilmu yang didapat di tempat kuliahnya." kata evan
" oh iya nak, nazwa bilang juga kemarin kamu yang membayar biaya kuliah nazwa, itu berapa biar bapak ganti." kata pak hadi
" enggak usah pak, itu juga kan udah kewajiban saya." kata evan
__ADS_1
" kamu benar benar bertanggungjawab, jadi pengen buru buru kalian meresmikan pernikahan." kata bu citra
" mudah mudahan tahun ini bu, dan kalau itu juga bapak dan ibu menyetujuinya dan nazwa sudah benar benar yakin mau menikah dengan saya." kata evan
" tuh kan kak evan gitu deh, aku kan udah beberapa kali bahwa aku sudah yakin kak, harus gimana sih aku membuktikannya, aku menerima lamaran kakak berarti aku sudah yakin kak. Kalau memang kakak terus begitu seperti kakak yang enggak yakin sama aku." kata nazwa yang baru datang dan mendengar pembicaraan evan dan orang tuanya.
" iya maaf, aku takut aja kamu terpaksa, mumpung kita masih tunangan, kalau sudah nikah kan akan beda lagi urusannya." kata evan.
" iya nak, nazwa itu sangat bangga sama kamu, setiap hari dia selalu bahas tentang kamu, jadi jangan khawatirkan itu lagi, justru kita yang khawatir tentang kamu, apalagi sekarang kamu sudah menjadi idola, dokter muda yang sudah memiliki izin praktek walaupun belum kuliah kedokteran." kata bu citra
" iya bu maaf, kalau saya terserah bagaimana baiknya saja, mau bulan depan juga ayo aja, mungkin nanti ibu saya akan berbicara mengenai ini, mohon maaf sekarang ibu masih sibuk mengurus operasional DFG." kata evan
" jangan cemberut gitu dong sayang, aku minta maaf ya, aku enggak akan bahas itu lagi." kata evan sambil merangkul nazwa yang duduk di sebelahnya.
" habisnya kakak gitu, kakak selalu bahas masalah itu. jujur aku sebel tau kak." kata nazwa
" iya maaf ya, aku enggak akan gitu lagi." kata evan. Mereka pun sampai di ruko yang mau dibeli. Tak lama bu marni datang. Pemilik ruko membawa evan dan yang lain masuk melihat lihat di dalam rukonya seperti apa. Pak hendrik selaku tim legal meminta surat surat kepemilikannya untuk dilakukan pengecekan keabsahan kepemilikan ruko tersebut. Evan dan pemilik ruko pun mengobrol.
" kenapa pak rukonya mau dijual padahalkan daerah ini rame." kata evan membuka obrolan dengan pemilik ruko
" sebenarnya sayang pak, tapi karena orangtua saya sakit dan saya tidak ada pemasukan lainnya, mau tidak mau saya jual aset saya ini karena untuk pengobatan ibu saya perlu biaya lebih, mudah mudahan ini jodoh sama kamu nak, saya sudah menawarkan dari beberapa bulan lalu." kata pak koswara pemilik ruko
__ADS_1
" aamiin, mudah mudahan saja pak, oh iya ibunya sakit apa dan sekarang ada dimana ibunya pak mungkin saya bisa membantu mengobati ibunya." kata evan
" memangnya nak evan ini dokter, kok kelihatannya masih muda banget." kata pak koswara
" memang saya baru 19 tahun pak, saya dokter di rumah sakit C, kalau bapak mau bawa saja ke rumah sakit C, nanti saya akan obati.," kata evan, dia pun menunjukan kartu izin prakteknya di rumah sakit tersebut.
" ibu saya ada di rumah sakut umum dok, kalau dibawa kesana saya takut enggak bisa bayar biayanya." kata pak koswara
" nanti bilang saja saya yang merekomendasikannya, bapak rujuk saja ibunya ke rumah sakit C, paling bapak bayar ruang inap saja, itupun kalau memang bapak berkenan." kata evan
" ini seriusan nak eeh dokter." kata pak koswara
" untuk apa saya berbohong kepada bapak, saya yidak meminta biaya apapun kan, bapak bawa saja ibunya kesana, saya akan usahakan membantu menyembuhkan penyakit ibunya bapak, saya minta data ibunya saja untuk didaftrakan di rumah sakit, sehingga pas datang langsung bisa ditangani." kata evan. Pak koswara memberikan data ibunya ke evan, evan langsung menelepon ke rumah sakit untuk mendaftarkan ibunya pak koswara. Dan menyuruh pihak rumah sakit untuk menelepon pak koswara. Pak koswara menerima telepon dari rumah sakit C yang memberitahu bahwa ibunya sudah didaftarkan di rumah sakit tersebut, dan jika tidak keberatan siang ini akan menjemput ke rumah sakit umum dibawa ke rumah sakit C.
" terimakasih ya nak, oh iya saya jadi lupa bagaimana jadi membeli ruko ini." kata pak koswara
" insyaAllah jadi pak, tapi untuk transaksinya tunggu sebentar ya karena saya sedang ajukan ke bank, orang bank akan kesini. Jadi transaksi jual beli akan dilakukan sekarang, dari sini bapak bisa ke rumah sakit umum untuk merujuk ibunya ke rumah sakit C." kata evan
" iya nak. Saya akan ikuti saran kamu, saya ingin melihat ibu secepatnya sehat kembali." kata pak koswara.
" iya pak, semoga saja ibu bapak cepat bisa pulih," kata evan,. Orang orang dari bank pun sudah datang jadi transaksi bisa dilakukan, evan mentransfer uang sebagai tanda pembayaran, setelah dilakukan kontrak kredit pihak bank pun mentransfer sisanya. untuk perubahan kepemilikan ruko tersebut dilakukan oleh pihak bank.
__ADS_1