
Evan dan pak pandu pergi kembali ke ruangan sebelah untuk mengobati luka luka anggota perampok yang salah satunya ketua mereka. Evan membersihkan luka dan mengoleskan salep ke luka ketua perampok lalu membalut dengan kain kasa. Ketua perampok pun merasa sudah pulih.
" silahkan kamu balik kesana lagi, beritahu mereka siapkan kendaraan yang terisi full bensinnya, saya kasih waktu 30 menit, jika ingin para sandera selamat, dan kamu disini untuk memastikan tidak akan terjadi tembakan lagi." kata ketua perampok tersebut
" saya saja yang disini, biar dokter ini yang pergi kesana memberitahu tim." kata pak pandu
" enggak bisa... Tapi kalau mau disini enggak masalah jadi sandera kami." kata ketua perampok
" iya pak, bapak kesana saja biar saya disini, saya tidak apa apa." kata evan
" tapi nak......" kata pak pandu
" enggak apa apa pak, tidak akan terjadi apa apa sama saya." kata evan menyela ucapan pak pandu, evan juga membisikan ke pak pandu supaya tim siap siap melakukan penyergapan setelah diberikan tanda dengan tembakan 3 kali dan mulai siap siaga dari sekarang. Dengan berat pak pandu pun keluar gedung, sesampainya di tempat tim pak pandu memberikan informasi tadi supaya menyiapkan mobil dan pak pandu juga memberitahu bahwa tim keamanan harus siap siaga untuk melakukan penyergapan.
" siapa anak itu, kok bisa bilang seperti itu." kata ketua tim
" dia anak almarhum pak devano, mungkin bapak bapak pernah dengar tentang beliau dulu, evan juga suami dari cucu saya, mereka baru kemarin melangsungkan pernikahan." kata kakek baskoro. Lalu dia memerintahkan tim yang selama ini dia latih untuk siap siaga.
Di gedung tersebut evan meminta untuk memeriksa kondisi sandera, evan mengobati luka luka di tubuh para petugas keamanan yang dijadikan sandera.
" kamu siapa nak." kata petugas polisi
" saya evan, saya dokter yang tadi diminta kesini, untuk perawatan selanjutnya setelah kita keluar dari sini, selain yang ada disini apa ada sandera lain pak." kata evan
__ADS_1
" setahu bapak tidak ada hanya kami bertiga dan nak Salva ini aja." kata petugas polisi. Evan melakukan komunikasi dengan hacu bagaimana kondisi di sekitar. Hacu memberi kabar bahwa ada ruangan untuk mengurung para wanita di area belakang yang akan di perjual belikan oleh komplotan penjahat tersebut ada sekitar 17 orang. Evan menyuruh hacu untuk menjaga mereka jika mengancam sandera itu evan menyuruh hacu menghabisi perampok tersebut dan menyuruh paman DULJA untuk membantunya menghabisi para penjahat yang ada di gedung tersebut.
" saya akan mengatasi para penjahat terlebih dahulu yang ada disini, nanti saya jemput bapak bapak." kata evan, evan keluar ruangan. Lalu menendang para penjaga ruangan tersebut. Plaaak....plaaaakk... Aahh...aaah terdengar suara jeritan, evan menghajar 4 penjaga ruangan tersebut, lalu mengambil pistol yang ada di mereka. Lalu pergi ke ruangan tadi yang di pake untuk mengobati ketua perampok, di tempat lain terdengar suara jeritan juga yang dilakukan paman Dulja, evan terus menyisir gedung tersebut.
" paman dulja apa sudah tidak ada orang lain, saya akan membawa sandera keluar gedung." tanya evan
" aaauuum...aaauuum. Sudah dibereskan tinggal yang ada di sekitar belakang gedung saja." kata paman dulja. Evan kembali ke ruangan tempat sandera lalu mengajak mereka keluar.
" siapa kamu... Aku enggak mau pergi." kata salva
" saya dokter, ayo kita keluar sekarang, kita ketemu sama orangtua kamu." kata evan
" aku enggak bisa jalan, kaki aku sakit." kata salva
" sisir belakang gedung terlebih dahulu, disana ada tempat untuk menyekap para wanita yang diculik." kata evan kepada tim yang sedang menyerbu. Evan yang menggendong salva dan 3 polisi sampai di tempat tim keamanan berkumpul, evan menyerahkan salva ke tim medis untuk dilakukan pemeriksaan, evan tadi belum sempat melihat kondisi salva secara keseluruhan. Orang tua salva pun langsung memeluk anaknya itu.
" nak kamu enggak apa apa, itu darah siapa." kata kakek baskoro melihat evan duduk di tanah dan terlihat ada ada darah di pakaian evan, dia sangat khawatir.
" ini darah perampok itu kek, oh iya kek ini tadi aku mengambil ini dari perampok." kata evan lalu menyerahkan pistol yang tadi dia pake. Setelah 20 menit penyergapan, tim keamanan membawa 17 orang yang di sekap di gedung belakang. Tim medis melakukan pemeriksaan. Lalu terdengar suara ledakan. Boooom.....boooom....boooom, tim keamanan meledakkan gedung yang dijadikan tempat penyekapan. Evan meyuruh Hacu dan paman dulja untuk kembali keasalnya. Setelah 40 menitan tim keamanan membawa mayat mayat perampok. tim keamanan pun meledakkan gedung setelah melakukan penyisiran.
booooom......booooom..... Boooom.. Gedung itu pun hancur. Tim keamanan tidak mau meninggalkan gedung itu utuh supaya tidak dipakai kembali untuk kejahatan.
" kamu hebat nak...bisa melumpuhkan dan membawa sandera dengan selamat. Kok kamu tau di belakang gedung ada tawanan penculikan." kata pak pandu lalu menepuk pundak evan
__ADS_1
" tadi aku dengar dari para penjahat itu pak, mereka bilang setelah mereka kabur akan kembali kesana untuk menjemput para tawanan itu." kata evan berbohong
" memang bangunan itu tertutup, seandainya tadi kamu enggak bilang pasti itu akan luput dari penyergapan kami." kata pak pandu
" kamu luar biasa, tekad dan perjuangan kamu sungguh luar biasa. Perkenalkan saya Endris saya ketua tim di angkatan darat." kata endris
" saya evan pak, terimakasih sudah mempercayai saya." kata evan
" oh iya dimana kamu belajar beladiri dan menembak." kata pak endris
" saya belajar dari ayah angkat saya, kalau menembak insting saja pak mungkin karena dulu ayah saya polisi." jawab evan
" luar biasa, kapan kapan kamu datang ke kesatuan saya, nanti kamu bisa mengasah cara menembak kamu supaya pebih jago lagi." kata pak endris
" siap pak dan saya kabari kalau ada kesempatan." kata evan, evan dan pak endris pun bertukar nomor telepon. Tak lama datang rombongan mobil kesana. Setelah berhenti turunlah pak handoko dan pak sandi serta bu lela dan bu sofie. Bu lela dan bu sofie langsung menjumpai evan.
" kok ibu ada disini, kenapa enggak istirahat." kata evan
" bagaimana ibu bisa istirahat, sedangkan kamu aja ada disini, kamu ini ya mengambil resiko, padahal kamu baru aja nikah," kata bu sofie memarahi evan seperti memarahi anaknya.
" iya, ibu buru buru dari bandara habis ngantar raka, ibu enggak tenang melihat kamu ada disini." kata bu lela
" iya bu maaf, aku enggak kenapa kenapa kok, lagian kan ini kewajiban aku juga untuk menolong orang bu." kata evan
__ADS_1
" bapak salut akan tanggungjawab kamu sebagai dokter, tapi gara gara kamu bapak kena omel ibu, untung aja bapak udah kamu obati tadi sore kalau enggak bapak bisa pingsan." kata pak handoko. Orang orang yang hadir disana kaget dan bingung kenapa ibu evan banyak.