WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Resiko 1


__ADS_3

Di sore hari para tamu baru pulang, mereka sangat senang karena mereka mendapat perawatan kesehatan dari evan. Di saat itu kakek baskoro mendapat kabar bahwa sedang terjadi baku tembak di daerah pinggiran kota antara polisi dengan perampok dan pengedar narkoba, dalam menangani kasus tersebut langsung di pimpin pak edi, kakek baskoro walaupun sudah pensiun, beliau masih suka menjadi pelatih mereka makanya beliau mendapat informasi tersebut.


" kakek harus keluar, pak edi dan anak buahnya sedang melakukan penggerebekan di pinggiran kota dan dia sedang terpojok, kakek harus mengatur anggota lainnya." kata kakek baskoro, dia pun langsung meminta di jemput.


" pak, bapak kan enggak perlu turun tangan langsung, masih ada tim lain, itu sangat berbahaya pak." kata pak hadi


" ini adalah tanggung jawab bapak, memang bapak audah pensiun tapi jiwa bapak masih sebagai penegak hukum dan yang sedang ada disana adalah anak didik bapak." kata kakek baskoro


" kalau begitu saya ikut kek, saya bisa menangani para petugas yang terluka." kata evan


" tapi nak, ini sangat berbahaya, kakek tidak mengijinkan kamu ikut." kata kakek baskoro


" seperti yang kakek bilang, saya ini dokter yang harus menyelamatkan orang, apalagi ini orang orang yang berjasa memberikan kenyamanan buat masyarakat, saya akan merasa bersalah kek. Toh saya hanya di garis belakang tidak langsung terjun ke area komplik." kata evan


" iya sudah kalau begitu kamu boleh ikut, tapi ingat kamu harus mengikuti intruksi, jujur saja kakek tadi mau mengajak kamu karena tim dokter disana kewalahan." kata kakek baskoro


" iya sudah aku siap siap dulu kek." kata evan, lalu pergi ke kamarnya di ikuti nazwa


" kak, apa enggak bisa kakak enggak usah ikut, berbahaya kak." kata nazwa sambil memeluk evan


" sayang aku hanya dibelakang aja untuk mengobati, lagian aku khawatir akan kondisi kakek, kalau aku enggak ikut siapa yang akan menjaga kakek." kata evan, nazwa yang mendengar itu pun sangat terharu karena evan melakukan itu untuk menjaga kakeknya.


" makasih ya kak, tapi kakak harus hati hati, aku enggak mau terjadi apa apa sama kakak." kata nazwa


" iya sayang, doakan saja ya." kata evan lalu mereka turun kebawah, keluaga mereka sedang menonton berita di televisi bahwa benar sedang terjadi baku tembak. Disana terlihat beberapa polisi sedang kesakitan karena terluka. Tak lama mobil polisi datang, evan dan kakek baskoro pamitan lalu pergi.

__ADS_1


" hati hati kek, nak." kata mereka, mobil polisi pun bergerak cepat keluar dari perumahan menuju ke daerah pinggiran kota yang terjadi komplik, disana sudah berkumpul pihak polisi dan tentara, mereka belum bisa bergerak karena dari pihak perampok dan pengedar narkoba sudah menyandra beberapa polisi dan ada warga juga yang mereka jafikan sandra. Setibanya disana evan dan kakek baskoro turun dari mobil, kakek baskoro memberitahu tim medis bahwa cucunya akan membantu menangani luka luka dari pihak keamanan.


" nak kamu kenapa kesini, ini sangat berbahaya." kata pak edi yang sedang berbaring karena dia mengalami luka tembak di bahunya.


" ini sudah tanggungjawab saya sebagai dokter pak." kata evan, dia mengecek kondisi pak edi, lalu mengeluarkan jarum jarumnya dan menusukannya ke tubuh pak edi, evan merasakan lokasi proyektil peluru dimana, dengan bimbingan yang evan rasakan dia mengeluarkan proyektil peluru tersebut dari tubuh pak edi, lalu evan memberikan energi ke tubuh pak edi untuk menstabilkan kondisinya, setelah itu mengoleskan obat luka, setelah mencabut jarum jarumnya menyuruh pak edi untuk meminum obat luka dalam.


" kok bisa terjadi kondisi seperti ini pak." tanya evan


" kita dapat laporan bahwa ada perampokan dan penculikan, kami langsung tindak lanjuti dan mengejar sampai ke area ini, sampai disini kami di hujani peluru dan ternyata ini markas mereka sejak dahulu dan ini sarang mereka, kita enggak tau jumlah mereka berapa. Dan yang parahnya mereka telah menculik anak seorang pengusaha untuk dijadikan sandera, awalnya mereka hanya menculik untuk meminta tebusan, akan tetapi sekarang anak tersebut jadi sandera." kata pak edi, disisi tim lain mereka sedang mengatur penyergapan untuk melepaskan sandra. Evan membantu tim dokter lain untuk mengobati yang luka. Di saat itu terdengar suara dari dalam bangunan.


" kirimkan dokter kesini, kalau enggak kami akan membunuh sandera." teriakan dari dalam gedung


" oke... Kami akan kirimkan dokter kesana, kami akan mengirim 2 dokter untuk memastikan sandera juga tidak kenapa kenapa." kata tim keamanan


" jangan menipu kami, kalau ketahuan mereka bukan dokter dan membawa senjata maka kami tidak akan segan segan meledakan bangunan ini." teriak dari dalam gedung.. Tim keamanan pun menuju ke arah tim dokter sedang mengobati.


" saya yang akan kesana." kata evan


" kamu kok bisa ada disini, memangnya kamu dokter." kata ketua tim, evan menunjukan surat izin prakteknya


" iya dia dokter, tapi nak itu sangat berisiko." kata pak edi


" semua pasti ada resiko pak, saya bisa mengatasinya." kata evan


" kalau memang kamu siap, kamu berangkat kesana sekarang nanti ditemani anggota saya." kata ketua tim, evan pun siap siap bersama anggota tim, ketua tim memberikan briefing.

__ADS_1


Di rumah bu marni dan yang lainnya menyaksikan siaran langsung kejadian tersebut.


" bu lihat kak evan bu," kata yasmin


" mau apa dia itu." kata bu marni gugup


" kak evan yang akan masuk ke dalam gedung itu bu, sebagai tim dokter." kata nazwa, dia sudah menangis, bu citra memeluk anaknya tersebut.


" bapak ini gimana, kok mengijinkan evan yang masuk ke gedung itu sih." kata pak hadi, dia pun langsung menelepon kakek baskoro


" apa kata bapak." kata bu citra


" dokter lain tidak mau, dan evan sendiri yang mengajukan untuk masuk ke dalam gedung, bapak bilang evan punya solusinya." kata pak hadi


" tapi pihak keamanan aja enggak tau berapa jumlah penjahat itu, kondisi di dalam seperti apa." kata bu citra khawatir. Bu marni pun menerima telepon dari bu sofie dan bu lela apa benar evan pergi ke tempat kejadian untuk memastikan penglihatan mereka.


Di tempat kejadian evan dan anggota tim sudah mulai berjalan maju ke gedung, evan berkonsentrasi, untuk memastikan keselamatannya dia memanggil HACU dan menghentakan tiga kali kakinya DULJA...DULJA....DULJA... Mereka pun datang, evan memberitahu mereka untuk tidak menampakan diri mereka. Evan menyuruh mereka untuk melihat situasi di dalam gedung.


" kok kamu tidak takut nak, siapa nama kamu." kata anggota tentara


" takut sih takut pak, tapi ini resiko sebagai dokter. Nama saya evan, nama bapak siapa." kata evan


" nama saya Pandu, saya salut sama kamu berani mengambil resiko ini." kata pak Pandu. Mereka terus berjalan, di depan gedung tersebut evan dan pak pandu di periksa oleh penjahat. Setelah dipastikan tidak membawa senjata mereka disuruh pergi ke ruangan, mereka melihat evan masih muda jadi mereka tidak menaruh curiga apa apa. Di dalam ruangan ada beberapa anggota perampok sedang berbaring dengan berlumuran darah.


" dimana sandera, sebelum saya mengobati anggota kalian saya ingin memastikan mereka selamat." kata pak pandu

__ADS_1


" mereka ada di ruangan sebelah." kata mereka. Evan dan pak pandu pun meminta melihatnya, setelah mereka melihat bahwa mereka baik terutama anak pengusaha tidak kenapa kenapa hanya shock saja, walaupun anggota polisi ada yang tertembak di kaki dan bahu mereka, tapi masih dalam keadaan sadar.


__ADS_2