
..."Betapa pun seseorang dianggap mulia/besar sekali saja melakukan kesalahan besar, pasti tidak akan dihormati lagi"...
Iring-iringan warga yang turut mengantarkan jenazah Pak Padianto ke tempat peristirahatan terakhir, berduyun-duyun melintasi jalan setapak yang diapit oleh persawahan.
"Eh! Awas, hati-hati. Ya, ampun!"
"Berhenti sebentar, Bapak-bapak!"
"Sini, sini, lewat sebelah sini!"
"Eeeh ... jangan injak rumput sebelah situ, bawahnya becek lumpurnya dalam!"
Keributan kecil terjadi ketika kaki salah satu orang yang memikul keranda tiba-tiba terperosok ke lubang bekas roda kendaraan. Untung tidak sampai terjatuh.
Dua hari tidak hujan, tetapi di bagian-bagian tertentu jalan masih menyisakan genangan air cukup dalam, apalagi ditambah rembesan air dari sawah. Bekas roda kendaraan yang telah mengering menjadi salah satu hal yang harus diwaspadai selain banyaknya bebatuan yang berserakan.
Buruknya jalanan, telah memakan korban sandal Pak Agung---putus saat terpeleset batu. Kaki tanpa alas tidak lantas membuat pria itu bersedia digantikan orang lain. Dia tetap melangkah tegar meski beban di bahunya membuat telapak kakinya semakin terasa sakit. Tidak ada seorang pun yang berinisiatif meminjamkan sandal miliknya karena mereka sendiri membutuhkan.
Letak pemakaman Dusun Lor cukup jauh di pinggir hutan. Berjalan kaki kira-kira butuh waktu tiga puluh sampai empat puluh menit. Sesampainya di tempat tujuan, hampir semua yang hadir menghela napas lega sambil menyeka peluh yang membasahi wajah dan leher.
Terlepas dari suasana suram karena di penuhi dengan kuburan dan batu nisan, tempat yang dinaungi pohon-pohon besar dan rindang ini terasa sangat sejuk, ibarat air pelepas dahaga. Ada beberapa orang yang lebih memilih duduk-duduk di tepian ubin kuburan untuk melepas lelah, tidak hirau dengan proses pemakaman yang sedang berlangsung. Setelah prosesi pemakaman yang tidak memakan waktu lama itu selesai, semua hadirin pun bergegas undur diri.
Bila tadi saat berangkat mereka berjalan dalam rombongan, beda lagi pada saat pulang---memencar mencari jalan masing-masing. Banyak yang lebih suka melewati pematang sawah. Walau sempit dan sedikit becek, tetapi tidak ada bebatuan.
Sepulang dari pemakaman, Bu Lurah menolak mampir ke rumah sang bapak. Semarah-marahnya hati seorang anak, pasti tetap akan merasa kehilangan bila ada anggota keluarga yang meninggal.
Itulah yang dirasakan Bu Lurah di sudut terdalam hatinya. Kendati sangat kecil, tetap ada rasa hampa karena kini dia sudah tidak lagi memiliki orang tua. Semasa hidup tidak dianggap ketika sudah tiada baru terasa kehilangan.
Ketidakhadiran Bu Lurah di rumah almarhum Pak Padianto pun menimbulkan banyak persepsi dan praduga. Kasak-kusuk di antara para warga yang membantu di dapur untuk acara selamatan pun tidak bisa dicegah.
Mereka beranggapan kalau Bu Lurah itu anak durhaka, kurang ajar, tidak punya welas asih dan masih banyak lagi anggapan lainnya.
Duduk di sofa ruang tamu, Bu Lurah memijit-mijit pangkal hidung dan pelipis. Kepalanya semakin berdenyut-denyut hingga mata terasa pedih dan berair. Menyandar sedikit mendongak membuatnya merasa lebih nyaman, perlahan mata menutup dan wajah sedih Pak Padianto serta-merta muncul tepat di atasnya.
__ADS_1
"Urungkan, Ndok ...."
Seketika itu juga mata Bu Lurah kembali terbuka, menatap nanar ke atas. Tidak ada siapa-siapa.
Tok tok tok
Terlonjak kaget, tubuhnya refleks duduk tegak. Segala beban hatinya seketika terlupa begitu saja saat melihat yang berdiri di depan pintu adalah Pak Yudi dan Pak Candra.
Mimpi buruk dan kematian sang bapak yang sesaat lalu sempat menyebabkan hatinya gundah, sirna tanpa bekas, digantikan oleh ketamakan yang tersirat jelas di matanya yang berbinar.
"Mari masuk, Bapak-bapak!" Luar biasa, kakinya yang barusan ngilu sekarang bergerak lincah menyongsong para tamu.
"Kami datang untuk turut berbelasungkawa atas meninggalnya ayah Bu Lurah." Terasa sangat jelas ucapan Pak Yudi ini hanya sekadar basa-basi, tetapi bagi Bu Lurah, itu terdengar wajar dan tulus.
"Terima kasih, Pak Yudi. Bapak memang sudah sepuh dan sakit-sakitan." Entah bagaimana bisa Bu Lurah begitu lancar mengatakan kebohongan. Rasanya seperti meluncur begitu saja.
Usia enam puluh tahun memang sudah cukup tua, tetapi kondisi Pak Padianto selama ini baik-baik saja. Walaupun punya riwayat tekanan darah tinggi, tetapi hampir tidak pernah sakit, apalagi sakit-sakitan seperti yang dibilang Bu Lurah barusan.
Kali ini wajah Bu Lurah tidak mengernyit, mungkin karena sudah terbiasa---setiap kali bertemu pasti diasapi rokok.
Tanpa basa-basi, Pak Candra mengeluarkan amplop cokelat dari saku celana lalu meletakkan di atas meja. "Ini sedikit uang muka untuk Bu Lurah. Lumayan, bisa buat tambah-tambah belanja selamatan."
Melihat amplop cokelat yang tampak cukup tebal, mata Bu Lurah semakin berbinar, bibir merah tersenyum lebar. "Wah, terima kasih, Pak Candra."
Buru-buru Bu Lurah mengambil amplop tersebut, meletakkan di pangkuan lalu menutupinya dengan kedua tangan.
Tersenyum penuh arti, Pak Yudi dan Pak Candra saling mengerling dan main mata.
Sudah terlanjur terjerumus, Bu Lurah tanpa sadar telah terperangkap dalam lingkaran setan yang dipasang oleh kedua pria itu.
Atas permintaan keduanya yang sudah sangat tidak sabaran, akhirnya Mbah Taryo mengirim guna-guna pada Bu Lurah lewat mereka. Asap rokok yang dihembuskan Pak Yudi ke wajah Bu Lurah pun bukan sembarang asap. Itu sirep yang akan membuat Bu Lurah menuruti saja apa mau Pak Yudi dan Pak Candra.
"Bu, Mbah Dukun bilang, minggu-minggu menjelang akhir bulan ini waktu yang sangat bagus untuk memulai pembongkaran sanggar dan punden." Pak Candra mulai melancarkan niatnya, cara bicaranya sangat meyakinkan.
__ADS_1
"Terserah Pak Candra dan Pak Yudi. Pokoknya saya setuju saja. Kapan pun mau dibongkar dan dibangun, Bapak berdua atur saja."
"Wah, kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai dari menebang pohon di punden? Besok saya bawakan tukang gergaji mesinnya." Pak Yudi sampai menepuk meja saking antusiasnya.
"Bole, boleh ... boleh sekali, Pak." Bu Lurah pun tak kalah bersemangat, kepalanya mengangguk-angguk cepat.
Pak Yudi dan Pak Candra kembali saling bertukar pandang dan tersenyum puas. Dengan bantuan Mbah Taryo, semua urusan berjalan sangat mudah.
Untuk beberapa orang yang tidak mempan sirep dan masih berusaha menghalangi rencana pembongkaran, akan menjadi urusan Mbah Taryo sendiri. Entah apa yang direncanakan oleh dukun itu, Pak Yudi dan Pak Candra tidak tahu, tidak mau ikut campur pun.
Karena keputusan sudah diambil, Pak Yudi dan Pak Candra pun segera berpamitan.
Pak Agung yang baru pulang dari rumah almarhum Pak Padianto, sempat melihat mobil mereka di depan rumah.
"Siapa mereka itu, Sri?"
"Bukan urusanmu. Tidak usah tanya-tanya."
"Kok, kayak makelar." Masa iya, bapak baru saja dikuburkan, Sri sudah mau---
"Sudah dibilang bukan urusanmu!"
Pak Agung menghela napas berat, menggeleng lemah, prihatin pada istrinya. Sikapnya itu, lo, tidak menjukkan seperti orang yang sedang berduka.
___________
Di gubuk bambu tengah hutan, tempat khusus untuk pemujaan, Mbah Taryo yang sedang semadi bibirnya menyunging senyum tipis. Sebentar lagi keinginannya untuk berhadapan langsung dengan Danyang Sanggar akan terwujud. Lewat Pak Yudi dan Pak Candra, dukun sesat itu sedang mencoba memprovokasi Nyai Bibet. Mbah Taryo begitu yakin bisa mengalahkan Nyai Bibet dengan bantuan Ki Tumenggung dan para jin prewangannya.
Sudah diingatkan oleh Ki Tumenggung, sebaiknya jangan jumawa. Karena, semahal-mahal gading kalau patah tiada guna. Sehebat-hebatnya Mbah Taryo yang terkenal sebagai dukun sakti di daerah Madiun, Nganjuk dan sekitarnya, sekali saja melakukan kesalahan atau kalah, bisa-bisa kehilangan muka dan dicemooh oleh para rivalnya. Kalaupun mati, yang akan lebih dikenang pasti kekalahannya yang memalukan dibanding sepak terjang kehebatannya selama ini.
Akan tetapi, rasa penasaran ingin adu kekuatan sudah mengaburkan akal sehat Mbah Taryo. Dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan terburuk karena yakin akan bisa mengatasi Danyang Sanggar.
[Bersambung]
__ADS_1