
..."Pekerjaan yang sulit harus dikerjakan dengan hati-hati atau pekerjaan sulit yang mustahil dilakukan"...
Malam begitu tenang, angin sepoi-sepoi berembus lembut, langit kelam semarak oleh bintang-bintang. Dari balik awan, bulan bersinar temaram menjadi saksi peristiwa yang berlaku di bumi.
Memutari seluruh atap untuk mencari jalan masuk, gumpalan asap hitam itu sudah ada di atas atap rumah Pak Wahyu sejak beberapa puluh menit yang lalu. Selaput tipis berpendar keperakan yang menutupi rumah tidak memberinya celah sedikit pun.
Tidak juga berhasil, asap itu memutar semakin cepat di satu titik. Kecepatan seperti gangsing yang baru dilepas dari pelontarnya hingga menyerupai ujung bor raksasa yang hendak menembus kepadatan bumi.
Berdiri mengambang di antara pohon jati raksasa di punden, mata Nyai Bibet menatap nanar. Jin perempuan yang dikirim untuk merasuki Ningsih tampak jelas di penglihatannya, meraung-raung marah sambil mencakar-cakar selaput keperakan yang telah Nyai Bibet pasang.
Jin itu adalah jin perusak jiwa. Merasuki tubuh manusia bukan untuk membunuh, melainkan untuk membuat manusia yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa, gila.
Ingin mencelakai Ningsih yang dilindungi langsung oleh Nyai Bibet, itu ... bagai hela rambut dalam tepung. Sakti mandraguna pun tidak akan bisa dengan mudah menyentuh gadis kesayangannya Danyang Sanggar itu.
Suara mesin sepeda motor dari arah jalan persawahan mengalihkan perhatian Nyai Bibet dan jin kiriman.
"Bocah bagus baru pulang." Ki Gopet tiba-tiba sudah ada di sebelah Nyai Bibet.
Jati. Pengendara sepeda motor itu adalah Jati. Sudah lewat tengah malam baru pulang kerja. Tadi dia mengalami hari yang cukup sibuk, melakukan rasia penebangan liar di Hutan Panjuran, wilayah dekat desa asalnya, Desa Panjuran.
"Ladalah! Ngincar cah bagus jadinya."
Jin perempuan itu sangat marah, butuh seseorang untuk dijadikan pengganti target yang tidak bisa diraihnya---sebagai pelampiasan.
Sebenarnya siapa pun atau apa pun tidak masalah, yang penting amarahnya terlampiaskan, tetapi karena ada sasaran yang seperti datang menyerahkan diri, tanpa pikir panjang lagi langsung memelesat cepat ke arah Jati yang baru saja memasuki pekarangan loji, masih duduk di atas sepeda motor, hendak melepas helm.
"Salah pilih orang." Nyai Bibet tersenyum mencemooh.
Pemuda itu bisa merasakan ada makhluk gaib sedang menuju ke arahnya, alih-alih panik, dia malah bergeming dan memejamkan mata. Helm dicengkeram di tangan kanan.
Semakin dekat, udara di sekitar terasa semakin berat, bulu kuduk Jati meremang. Cepat bagai kilat, dia mengacungkan tangan yang memegang helm, menyambut kedatangan jin perempuan itu.
Dugh!
__ADS_1
"Aaaa! Kurang ajaaar!" Meraung marah. Jin perempuan itu terpental setelah bertabrakan dengan helm yang sudah dialiri kekuatan oleh Jati.
Turun dari sepeda motor, Jati berdiri tegak, kedua tangan berada di depan perut---satu posisi tengadah dan yang lain menelungkup di atasnya---mata dipejam, bibir dikatup rapat, batin merapal aji-aji.
Asap hitam kembali memelesat ke arah Jati, tetapi alih-alih menyerang asap itu malah hanya berputar cepat mengelilinginya.
Tubuh Jati berpendar, semakin lama pendar cahaya semakin terang, tubuh pria muda itu seperti mengembang, memaksa asap yang berputar mengelilingi mau tidak mau juga memperlebar diameter lingkaran.
Berdekatan dengan Jati, jin itu merasa kepanasan. Hasrat ingin menyerang sangat besar, tetapi keadaan tidak memungkinkan, dia terus berputar sambil menggeram-geram. Hingga akhirnya, perlahan, dari kedua sisi, asap melingkar itu menarik diri dan mengumpul menjadi satu di tengah lalu memelesat ke angkasa dalam bentuk gumpalan dan lenyap, menyisakan jerit melengking sangat nyaring.
Menghela napas panjang, Jati perlahan membuka mata, lalu menengadah. "Jin kiriman. Semakin tidak aman saja ...."
Ya, Jati tahu itu jin kiriman. Dia juga tahu jin itu menyerangnya hanya sebagai pelampiasan, yang artinya si jin telah gagal dalam menjalankan tugas.
Kira-kira dikirim untuk siap? Terbersit dugaan kalau tujuan kiriman itu adalah Ningsih, tetapi Jati buru-buru mengibas kepala, menepis pemikirannya. Walaupun sudah tahu kalau Ningsih dilindungi, tetapi membayangkan gadis itu selalu dirong-rong makhluk gaib, rasanya miris juga, tidak tega.
Tanpa menoleh ke sekitar, pria muda itu bergegas masuk ke dalam loji. Ada beberapa makhluk halus yang muncul menyaksikan keributan tadi. Jati tidak ambil pusing, asal tidak mengganggu dia pun akan berpura-pura tidak tahu mereka ada.
"Kurang ajar!" Raung kemarahan terdengar dari gubuk bambu yang ada di dalam hutan ini.
Dengan makhluk itulah Mbah Taryo mengikat kontrak, namanya Tumenggung, siluman lutung. Jadi, walau prewangan yang dikirim mengalami kegagalan atau hancur sekalipun, tidak akan berimbas pada Mbah Taryo. Para jin prewangan itu menanggung celaka sendiri karena mereka hanya abdi. Mbah Taryo hanya akan celaka bila Tumenggung'lah yang celaka.
"Dia keturunan Ki Karto Wiryo Siman. Jiwa Ki Siman ada di dalam tubuh pemuda itu, bisa menyatu juga bisa terpisah." Suara siluman ini serak, dalam, lebih terdengar seperti menggeram daripada berbicara.
"Ki Guru Gede pernah menyebut nama itu."
"Mereka musuh bebuyutan. Guru Gede celaka karena terlalu jumawa. Kamu juga bisa celaka kalau tidak hati-hati."
Seperti biasa, Meski hati risau, Mbah Taryo terlihat sangat tenang di permukaan, mengelus jenggot, sudut bibir miring---tersenyum meremehkan.
Kini tujuannya tidak lagi hanya membantu kedua pelanggannya. Mbah Taryo juga ingin menjajal kemampuan Jati dan Danyang Sanggar. Selama ini hanya mendapat lawan enteng, sekalinya mendapat lawan tangguh, alih-alih gentar, Mbah Taryo malah merasa sangat tertantang.
_______
__ADS_1
Di tempat tidur hanya ada Bu Lurah, karena Pak Agung menginap di rumah sakit, sekalian berangkat kerja dari sana. Kebetulan letak rumah sakit dan tempat mengajar tidak terlalu jauh.
Kepala perempuan itu terus bergerak gelisah, wajah basah oleh peluh, tangan *******-***** kain seprai, kedua kaki juga terus bergerak---menendang-nendang kecil.
"Sri, dengarkan nasehat bapak. Jangan dilanjutkan, Ndok. Kamu bisa celaka."
"Jangan ikut campur. Pergi!"
Bu Lurah mundur ketakutan, wajah Pak Padianto mendadak berlumuran darah, terus melangkah maju mengejarnya.
"Dengarkan bapak sekali ini saja, Ndok.
"Pergi! Pergi! Pergiii!"
Brugh
Punggung membentur dinding, Bu Lurah panik. Menoleh ke sana-kemari berharap mendapat celah untuk lari, tetapi yang tampak hanya kegelapan yang sangat pekat.
"Dengarkan bapak, Ndok. Bapak tidak akan lama lagi di sini. Manut, ya Ndok, ya. Jangan serakah. Bondo ora bakal digowo sedo."
(Bondo ora bakal digowo sedo: Harta tidak akan dibawa mati)
"Pergi! Pergiiiiiiii!"
Bu Lurah semakin merapat ke dinding, di sekelilingnya semua gelap, dia hanya bisa melihat bapaknya yang semakin lama tidak berbentuk manusia. Darah, tubuh yang bergerak sempoyongan itu kini menyerupai gumpalan darah dalam ukuran besar.
"Ikut bapak, Ndok. Lebih baik kamu ikut bapak saja." Tangan berdarah-darah itu mengacung kaku ke depan, hendak mencekik Bu Lurah.
"Pergiiiiiiii! Jangan mendekat! Jangan mendekaaaaaat!"
Mata terbuka lebar, menatap nanar langit-langit kamar. Napas memburu, peluh bercucuran. Susah payah menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang terasa sangat kering.
Bu Lurah merasakan seluruh tubuhnya lemas, menempel pasrah pada tempat tidur rasanya sangat enggan bergerak juga.
__ADS_1
Di rumah sakit, Pak Agung yang sedang membaca buku di samping tempat tidur Pak Padianto, dikejutkan oleh sang mertua yang tiba-tiba saja kejang-kejang.
[Bersambung]