
Evan masuk ke kamarnya, melihat bahan apa saja yang dibawa ibunya tadi. Evan mengambil bahan bahan obat tersebut lalu meraciknya sesuai dengan resep yang ada dikepalanya. Evan melakukan meditasi, dia merasakan bahwa saat ini berada di tempat kakek wijaya.
" kakek bangga kepada kamu nak, kamu telah banyak menolong orang, dan sekarang kamu berniat untuk meramu obat supaya bisa lebih banyak lagi membantu orang, kakek tau niat kamu baik dengan membuka perusahaan farmasi ini. Tapi ingat jangan sampai kamu menindas orang orang lemah, kalau memang kamu bisa bantu kamu harus bantu, dan ingat jangan sampai kamu meminta bayaran dari orang yang kamu obati apalagi sampai kamu memeras mereka. Wajar kalau kamu mendapatkan uang dari orang yang kamu bantu itu, tapi enggak wajar kalau kamu sampai memaksa supaya orang yang kamu tolong untuk membayarnya, kakek akan selalu mendampingi kamu. Ayo ikut kakek ke ruangan tempat membuat obat." kata kakek wijaya, beliau pun mengajak evan pergi ke ruangan untuk membuat obat, di ruangan tersebut terdapat tungku pembuatan pil obat. Kakek wijaya mengajari evan cara membuat obat.
" nanti kalau sudah beroperasi pabrik obatnya, kamu harus membuat formasi di pabrik tersebut supaya keampuhan obat yang kamu buat akan terjaga. Walaupun ada orang yang mencuri resep kamu, tanpa formasi itu enggak akan bisa menandingi keampuhan obat dari pabrik kamu." kata kakek wijaya
" bagaimana cara membuat formasi itu kek. Saya tidak mengerti." kata evan
" nanti kakek kasih suatu benda, kamu tinggal letakan di pabrik itu, lebih bagus di area produksi." kata kakek wijaya
" baik kek, terimakasih banyak atas bantuan dan bimbingan kakek." kata evan.
" obat apa yang akan kamu buat ini cu." kata kakek wijaya, evan menjelaskan obat apa saja yang akan dibuatnya. Kakek wijaya membimbing evan dalam membuat pil obat yang diinginkan evan.
" selain formasi kamu campurkan air yang nanti kakek berikan di tempat penampungan air untuk.membersihkan bahan bahan obat ini." kata kakek wijaya
" iya kek, nanti saya yang akan memastikannya sendiri." kata evan. Cukup lama evan berada di ruangan pembuatan k at tersebut, setelah selesai kakek wijaya mengajak kembali ke tempat semula, lalu kakek wijaya pergi. Tak lama kakek wijaya kembali dengan membawa 2 botol air.
" 1 botol kamu campurkan di penampungan air di rumah kamu, 1 botol lagi untuk di pabrik kamu." kata kakek wijaya menjelaskan sambil menyerahkan 2 botol air tersebut kepada evan. Setelah itu evan berpamitan, di dalam kamar wvan membuka matanya, di tangannya ada 2 botol air dan 4 toples kaca yang berisikan pil obat. lalu evan menyimpannya di laci meja belajarnya. Evan melihat jam di dinding, di jam tersebut menunjukan jam 4 pagi. Evan pergi ke kamar mandi bersih bersih lalu mengganti pakaiannya setelah itu dia pergi ke tempat penampungan air di rumah sambil membawa botol air yang diberikan kakek wijaya. Evan menuangkan air dalam botol tersebut ke tempat penampungan air, setelah itu evan kembali ke kamarnya, lalu istirahat.
Jam 7 pagi pintu kamar di ketuk tok....tok....tok
" kak.... Kak... Udah bangun belum." suara ella dari luar kamar
" iya de, sebentar ya." jawab evan dari dalam kamar.
__ADS_1
" di tunggu di ruang makan, kita sarapan bareng." kata ella. Evan bangun lalu pergi ke kamar mandi, srtrlah gosok gigi dan cuci muka dia pergi ke ruang makan.
" tumben kamu nak, kenapa sakit." kata bu marni
" enggak bu, aku semalam buat pil obat itu untuk di uji, nanti aku kasih sample obatnya." kata evan
" serius udah jadi sample obatnya." kata bu marni
" sudah bu, ada di kamar aku. Mau diambilkan sekarang." jawab evan
" nanti aja, kamu makan terlebih dahulu aja." kata bu marni. Mereka pun sarapan bersama. Selesai sarapan evan pergi ke kamar mengambil toples Obat. Ella dan yasmin pamitan pergi ke sekolah di antar pak agus.
" ini bu sample obatnya, semalam aku membuatnya." kata evan, lalu menyerahkan toples sample obat ke bu marni
" kamu membuatnya gimana nak, kok ibu enggak melihat, mendengar bahkan mencium bau obat." kata bu murni
" oh iya bu, apa ayah pernah menceritakan tentang leluhurnya kepada ibu." lanjut evan
" memangnya kenapa nak." tanya bu marni penasaran
" ilmu pengobatan yang aku terima ini warisan leluhur katanya, apa ibu pernah mendengar nama kakek wijaya. Apa ibu tau liontin yang aku pakai ini darimana asalnya." kata evan
" ayah kamu belum banyak cerita tapi kalau nama kakek wijaya ibu pernah dengar dari ayah kamu, kakek wijaya adalah buyut dari ayah kamu, katanya memang beliau itu tabib kata orang dulu yang bisa menyembuhkan penyakit, kalau untuk liontin ayah kamu enggak bilang dari mana asalnya, tapi waktu itu sebelum ibu pergi mengantarkan kamu waktu baru lahir, ayah kamu bilang pakaikan kalung ini untuk tanda dan sebagai pelindung anak kita." kata bu marni sambil merenung mengingat peristiwa waktu itu.
" kalau nanti mau operasional, aku ingin main ke pabrik ya bu, mau memastikan supaya pembuatan obat ini berjalan dengan baik." kata evan
__ADS_1
" pasti boleh dong nak, nanti akan ibu ajak kamu kesana. Rencana kamu hari ini kemana nak." kata bu marni
" enggak kemana mana bu, memangnya ada apa." kata evan
" kalau.memang tidak kemana mana, sekarang kamu ikut ibu ke kantor untuk tandatangan akta pendirian perusahaan dan melakukan uji klinis obat ini." kata bu marni
" iya boleh bu." jawab evan.
" iya sudah kalau begitu, kita berangkat jam 8an ya. Ibu mau siap siap dulu, kamu juga." kata bu marni
" iya bu." jawab evan, lalu pergi masuk ke kamar. Evan mendapatkan pesan.
" kak hari ini mau kemana." kata nazwa
" aku diajak ibu ke kantornya, memangnya kenapa." kata evan
" boleh enggak aku ikut, soalnya sepi di rumah, aku enggak ada kegiatan." kata nazwa
" kamu kesini aja dulu, atau mau aku jemput." kata evan
" beneran boleh, ibu akan mengizinkan juga enggak." kata nazwa
" iya ibu pasti mengizinkan kok." kata evan
" iya udah aku siap siap ya kak, aku kesana sendiri aja." kata nazwa. Evan pun pergi ke kamar mandi, dia mandi, setelah itu evan berpakaian rapih, lalu pergi ke ruang keluarga. Tak lama suara bell berbunyi. Evan pergi melihat siapa yang datang.
__ADS_1
" kamu udah datang, ayo masuk dulu, kamu mau minum apa." kata evan, evan dan nazwa pun masuk ke rumah lalu mereka duduk di ruang keluarga.