WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Mengobati Pak Menteri


__ADS_3

Setelah helikopter menjauh orang orang disana menjadi heboh, dengan melihat logo rumah sakit itu saja sudah membuktikan apa yang tadi dibicarakan nazwa. rio dan teman temannya tadi melongo melihat itu.di tempat kejadian ada juga dosen dari fakultas ekonomi yang mengetahui kejadian itu. Karena dengan kejadian itu membuat nazwa malas untuk mengikuti kuliah. Pak johan pun mencari tau siapa orangtua dan pamannya rio itu karena dia juga kurang senang akan kelakuan rio yang semena mena itu. Dan tanpa sepengetahuan evan, pak johan sudah mengirimkan informasi tentang kejadian tadi ke pak handoko


" pak johan kita ke apotik aja ya, saya sudah malas untuk kuliah." kata nazwa


" baik non, kita berangkat sekarang, saya juga sudah tau siapa orangtua dan paman dia itu." kata pak johan. Nazwa dan nita pun naik ke mobil lalu pergi dari kampus itu, orang orang yang ada disana pun bubar.


Pak handoko yang mengetahui hal itu pun langsung menghubungi pak kamal, dia menceritakan apa yang telah terjadi pada evan di kampus tadi, pak kamal yang mendengar itu menjadi marah dia langsung menyelidiki orangtua rio yang beketja di dinasnya bersama pamnya yang menjadi dokter dan dosen di kampusnya evan. Evan tidak mengetahui hal tersebut sama sekali. Setibanya di rumah sakit evan langsung menuju ke ruang UGD, di luar pintu UGD dr. Helmi sedang mondar mandir menunggu kedatangan evan karena pasien benar benar dalam kondisi darurat. Melihat evan datang dia bergegas menemui evan, lalu dr. Helmi menjelaskan kondisi pasien yang mengalami serangan jantung, dr. Helmi pun memberi tau evan trntang tindakan yang telah dilakukan akan tetapi pasien belum sadar dan kondisinya terus menurun.


" dokter siapa anak ini, kenapa dokter membawa anak kecil seperti ini padahal suami saya sedang sekarat." kata isterinya pasien


" dia dokter hebat yang dimiliki rumah sakit ini, kalau dia enggak bisa menyembuhkan suami ibu, apalagi saya bisa apa. Tolong percaya sama kami, akan tetapi jika tidak percaya silahkan bawa suami ibu ke rumah sakit lain, saya tidak bertanggungjawab setelah itu." kata dr. Helmi lalu bergegas masuk tanpa ada penolakan apapun, setelah masuk Evan melihat instrumen kondisi pasien di monitor yang sudah sangat melemah, evan mengecek tubuh pasien dengan memeriksa nadinya, lalau mensterilkan jarum akupunturnya, setelah itu dia menancapakan 7 buah jarum di dada pasien sesuai instruksi yang ada difikirannya. Melalui jarum tersebut evan menyalurkan energi untuk memulihkan kondisi pasien, evan sampai berkeringat dibuatnya, perawat yang mendampingi evan mengelap keringat di dahi evan. Dr. Helmi melihat proses pengobatan yang dilakukan evan, raut di wajah sang pasien pun sudah memerah yang tadinya sudah pucat. Dr. Helmi tambah takjub akan pengobatan yang dilakukan evan, dilihat seperti biasa tapi dengan melihat evan yang bercucuran keringat pasti membutuhkan energi yang luar biasa juga. Dr. Helmi pun tidak bicara sedikit pun karena takut mengganggu jalannya pengobatan.


setelah hampir 30 menitan evan mencabut jarum jarum yang menancap di dada pasien, evan mensterilkan jarumnya lalu menyimpannya kembali. Setelah itu evan duduk di kursi sambil mengawasi kondisi pasien. 7 menit kemudian pasien pun siuman.


" dimana saya." tanya sang pasien


" bapak sekarang berada di ruangan UGD rumah sakit C pak, apa yang bapak rasakan sekarang," tanya dr. Helmi


" saya merasa lebih nyaman, dada saya pun enggak sakit lagi, terimakasih dokter sudah menyelamatkan nyawa saya, saya kira tadi saya sudah di alam kubur." kata sang pasien

__ADS_1


" sama sama pak itu sudah kewajiban kami, dan bukan saya yang menyembuhkan bapak tapi dikter evanlah yang sudah menyembuhkan bapak." kata dr. Helmi dia enggak mau merebut jasa orang lain


" dimana dia dokter, saya harus mengucapkan terimakasih kepada beliau." kata sang pasien menyangka dokter yang mengobatinya dokter senior.


" itu dia pak yang sedang duduk di ruangan dokter." kata dr. Helmi sambil menunjuk ke arah evan yang lagi duduk istirahat dan sedang minum yang diberikan perawat di ruang tunggu dokter. Sang pasien pun bangun dari tidurnya melihat ke arah yang ditunjuk dr. Helmi


" yang mana dokter, saya tidak melihatnya, disana hanya ada anak muda sama perawat saja." kata sang pasien


" anak muda itu dr. Evan yang saya maksud pak, walaupun masih muda tapi keahliannya melebihi saya, tadi dia dijemput dari kampusnya untuk mengobati bapak." kata dr. Helmi


" dia masih kuliah, tapi kok dia bisa mengobati, pasti belum memiliki izin praktek dokter, dokter jangan mengadangada kalau ini saya adukan rumah sakit ini akan kena imbasnya loh." kata sang pasien


" selamat siang pak menteri, bagaimana kondisi bapak saat ini." kata pak handoko


" baik pak handoko, terimakasih atas pelayanan dan pengobatan terhadap saya, sehingga saya bisa diselamatkan." kata sang pasien ternyata seorang menteri, beliau menceritakan kejadian awalnya dan beliau juga bingung kenapa dibawa ke rumah sakit itu oleh ajudannya.


" pak handoko apa benar anak muda itu dr. Di rumah sakit ini." tanya pak menteri


" betul pak dia dokter disini, kenapa pak ada masalah tentang hal itu." kata pak handoko

__ADS_1


" saya masih enggak percaya aja pak, anak muda yang masih kuliah sudah boleh praktek di rumah sakit dan memiliki keahlian luar biasa sehingga saya bisa diselamatkan." kata pak menteri


" awalnya saja juga sama seperti bapak, tapi kenyataannya memang seperti itu, saya juga dulu di tolong sama dia makanya saya masih berada disini sekarang, dan waktu pak kamal dirawat disini saya mengambil keputusan walapun dia belum memiliki lisensi dokter, tapi saya percaya sama dia, dan ternyata pak kamal bisa diselamatkan dan akhirnya pak kamal sendiri yang memberikan lisensi dokter buat nak evan itu." kata pak handoko menceritakan apa yang telah terjadi. Tak lama evan pun kesana menemui pak menteri dan pak handoko


" maaf pak saya tadi enggak melihat kedatangan bapak," kata evan


" enggak masalah nak, lagian kamu pasti cape habis mengobati pak menteri, udah gitu kamu tadi ada dikampus, oh iya dr. Helmi telepon ke kampus nak evan beritahu mereka bahwa dia enggak bisa masuk kuliah karena hafua mengobati pasien." kata pak handoko


" sudah pak, tadi pas dijemput, saya sudah komfirmasi ke mereka dan kebetulan waktu saya mengisi kuliah umum mereka juga tau bahwa dr. Evan sudah bekerja disini." kata dr. Helmi


" makasih dokter, saya juga lupa tadi memberitahu pihak kampus." kata evan


" terimakasih ya dokter sudah menyelamatkan saya," kata pak menteri


" sama sama pak, itu sudah kewajiban saya, panggil saja nama saya pak, enggak pantas saya dipanggil dokter." kata evan sambil tersenyum


" selain keahlian kamu yang luar biasa, kamu juga tidak sombong, tetus gimana kondisi saya saat ini." kata pak menteri


" apa yang harus saya sombongkan pak, saya tidak memiliki apa apa untuk disombongkan. Bapak sudah sehat pembuluh darah dan jantung bapak sudah tidak ada masalah, untuk lebih menyakinkan bapak, nanti akan dilakukan cek medis, akan tetapi saya baru menangani penyakit jantung bapak, untuk masalah kolestrol dan yang lainnya saya baru bisa mengobati bapak nanti siang karena kondisi bapak tadi, saya akan menuntaskan pengobatan bapak hari ini, itupun jika bapak berkenan." kata evan

__ADS_1


" dikira saya perlu beberapa hari lagi, kalau begitu enggak masalah." kata pak menteri. dr. Helmi menyuruh perawat untuk membawa pak menteri ke ruangan cek medis. Baru setelah itu membawa pak menteri ke ruangan perawatan.


__ADS_2