
..."Selalu merasa khawatir]...
Dada masih terasa sesak saat mata menghangat kelopaknya pun refleks berkedip-kedip cepat, buru-buru Ningsih mengusapnya. Ternyata dia masih belum bisa merelakan bangunan bersejarah warisan leluhur yang selama ini berusaha dia lestarikan kembali telah musnah. Hanya menyisakan lantai semen yang sudah pecah-pecah dan foto-foto kenangan yang sekarang ada di rumahnya.
Menghela napas panjang, Ningsih berusaha menenangkan hatinya yang kembali bergejolak. Dia datang ke tempat ini hanya ingin mengenang sebelum orang-orang yang menyewa lahan mendirikan bangunan baru.
Pasir dua truk yang datang kemarin, kini menggunung di area yang dulunya adalah pelataran sanggar. Dada Ningsih rasanya seperti disumpal, semakin lama semakin terasa penuh saja.
Larut dalam kesedihan, Ningsih sampai tidak menyadari ada sepeda motor berhenti di luar pagar. Setelah memarkir sepeda motornya, Pak Agung yang baru pulang dari mengajar, melangkah perlahan mendekati Ningsih.
"Maaf mengganggu, Dek Ning."
Bahu menjengit, sambil mengelus dada Ningsih menoleh. Melihat Pak Agung, wajah Bu Lurah pun ikut terbayang. Benci, tetapi Ningsih tetap ramah.
"Selamat sore, Pak Agung. Ada apa, ya?"
Wajah manis yang sampai detik ini masih punya tempat khusus di hati dan ingatan, membuat Pak Agung tertegun. Mengusir rasa yang dalam dan tulus tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi Pak Agung sangat tahu diri, tidak akan mengejar gadis yang jelas-jelas tidak bisa dia miliki, apalagi gadis itu sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama. Lagi pula, Pak Agung sudah pernah mendengar dari istrinya kalau sekarang Ningsih sangat dekat dengan Mantri Hutan yang baru.
Di rumah hanya saat sore dan malam, Pak Agung hampir tidak punya waktu untuk berinteraksi dengan warga lain. Kehadiran Jati pun hanya tahu kabar saja, belum pernah bertemu langsung dengan orangnya.
"Emh, sebenarnya sudah lama aku pengen bicara sama Dek Ning, tapi tidak sempat terus." Pak Agung mengelus tengkuk untuk menyamarkan gugup.
"Bicara soal apa, ya, Pak?" Walau sudah berusaha bersikap ramah, tetapi nada kaku dalam suaranya membuat Ningsih terdengar ketus. Membuat Pak Agung semakin gugup saja.
"Emh ... anu ... ten-tentang Bu Lurah dan sanggar ...."
Mendengkus sarkas, sekarang Ningsih tidak mau lagi berpura-pura ramah. "Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, Pak. Lagi pula untuk apa minta maaf sama Ningsih? Toh, Ningsih bukan pemilik sanggar dan ... Bu Lurah pun sepertinya sudah mendapatkan hukumannya."
Menatap terpaku dengan mata sedikit melebar, Pak Agung rasanya tidak percaya Ningsih bisa berbicara selugas itu. Ningsih yang dia kenal selama ini adalah gadis yang ramah dan cara bertuturnya halus.
Baru beberapa puluh hari tidak bertegur sapa, Ningsih sudah berubah. Situasi belakang ini rupanya mampu mengubah seseorang begitu cepat.
Pak Agung tidak tahu harus berkata apa lagi, tetapi mau berpamitan, kok, rasanya berat juga. Dia masih ingin bersama Ningsih untuk yang terakhir kali.
Keinginan Pak Agung pupus saat itu juga, saat Jati datang. Masih di atas sepeda motornya, pria muda itu tersenyum ramah sambil menggangguk.
"Mas Jati ...." Ningsih tersenyum lebar.
Tidak ada alasan lagi untuk tetap berada di sini karena kehadiran Jati sudah mengalihkan seluruh perhatian Ningsih.
"Selamat sore, Pak."
Menjengit kaget, Pak Agung baru sadar kalau sedari tadi matanya terus terpaku pada Ningsih. Buru-buru dia membalas sapaan Jati, "Selamat sore, Pak. Emh ... sebaiknya saya permisi. Mari."
Bergegas pergi, Pak Agung melangkah seperti orang diusir. Dia tidak tahu siapa pria itu karena baru sekali ini bertemu, tetapi Pak Agung yakin dia adalah Mantri Hutan yang baru.
Sebelah alis Jati terangkat, mata menatap jahil pada Ningsih yang masih memperhatikan Pak Agung.
"Berat melepas, huh?"
"Berat melepas apa?" Ningsih mengernyit. "Memangnya, Mas Jati tidak tahu dia siapa?"
"Memangnya siapa?"
"Pak Agung, suaminya Bu Lurah."
__ADS_1
"Oooo ... ganteng, ya?"
"Laki-laki, ya, pasti ganteng, Mas." Ningsih tahu kalau Jati sedang menggodanya. Dia berbicara sambil melengos lalu memaku tatap pada pohon-pohon bambu yang meliuk-liuk kecil tersapu angin sepoi-sepoi.
"Padahal aku mau lihat anak-anak latihan nari, kok, ternyata sudah selesai."
"Mendung, takutnya turun hujan." Ningsih menghela napas panjang. "Sebentar lagi akan dibangun toko di sini dan di punden ...." Gadis itu menggigit bibir yang bergetar.
Jati menepuk lembut kedua bahu Ningsih dari belakang. "Sudah mau gelap, ayo, pulang, Dek."
Buru-buru Ningsih mengusap mata sambil mengangguk. Dia menurut saja saat Jati menggandengnya.
"Seminggu lagi di Waduk Daswi ada orkes lo, Dek. Nonton, yok."
"Acara apa, Mas?"
"Nyadranan Desa Mahbang."
"Ningsih tidak suka orkes."
Sambil naik motor berboncengan, mereka terus bercengkerama. Beberapa warga yang berpapasan dengan mereka tersenyum ramah. Kedekatan Mantri Hutan mereka yang baru dengan keluarga Pak Wahyu, sudah bukan rahasia lagi. Bisa dimaklumi.
_________
"Mas! Ada Ningsih, ada Ningsih, bawa piso di kamar, Mas!"
Baru saja memarkir sepeda motornya, Pak Agung sudah ditubruk Bu Lurah yang ketakutan dan meracau tidak karuan.
Bagaimana mungkin Ningsih ada di sini? Lha, wong, dia barusan bertemu di bekas sanggar.
"Syukurlah, Pak Agung sudah pulang." Parti muncul sambil menepuk-nepuk dada, wajahnya tampak pucat dan lelah.
"Mulai kapan dia begini, Yu?"
"Belum lama, Pak. Lha wong, dari tadi anteng terus di kamar."
Bagai duduk di ambung-ambung taji, jiwa Bu Lurah selalu dihantui rasa gelisah. Ada kalanya dia sangat tenang dan hanya berdiam diri di kamar, tetapi bisa sewaktu-waktu mengamuk tiba-tiba berteriak histeris, pergi, pergi, pergi. Dan barusan berlari ketakutan sambil menyebut-nyebut nama Ningsih.
"Pak Agung, mbok ya, Bu Lurah di bawa ke rumah sakit gitu, lo. Kasihan."
"Iya, Yu. Pasti itu."
Merencanakan sesuatu, kan, tidak harus koar-koar. Sebenarnya, Pak Agung sudah menghubungi saudaranya di Surabaya, meminta mereka menjemput menggunakan mobil. Dia pun sudah mengundurkan diri dari tempat mengajar---hari ini adalah hari terakhir dia masuk kerja.
Bu Lurah itu anak tunggal. Sebenarnya masih ada kerabat dari ayah dan ibunya, tetapi tinggal di luar pulau. Sekarang hanya Pak Agung yang bisa diharapkan.
Membawa Bu Lurah ke kamar, Pak Agung terus memeluknya hingga tertidur. Prihatin, pria itu memandangi wajah istrinya, terbersit rasa bersalah karena akhir-akhir ini telah mengabaikannya.
Sebenarnya bukan salah Pak Agung juga, Bu Lurah'lah yang memulai semuanya. Walau bagaimanapun, Pak Agung menikahi Bu Lurah bukan karena terpaksa, melainkan memang karena benar-benar cinta. Namun, rasa itu perlahan pudar saat Bu Lurah mulai sering bersikap seperti penguasa otoriter. Entah kapan tepatnya, yang jelas sikap arogan dan selalu meremehkan jauh lebih parah ketika perempuan itu mulai menjabat lurah.
Merasa tertekan dengan sikap istrinya, Pak Agung mau tidak mau jadi sering membandingakan Bu Lurah dengan Ningsih. Dia melihat Ningsih bukan saja sebagai gadis yang cantik, tetapi juga sebagai sosok perempuan ideal dan mulai sering memikirkan gadis itu.
Bahkan, sempat berfantasi seandainya Ningsih adalah istrinya. Namun, setinggi apa pun dia berkhayal, Pak Agung sadar betul kalau keinginannya itu mustahil untuk dicapai.
Mengelus lembut rambut istrinya, rasa bersalah Pak Agung terasa semakin dalam. Seandainya saja dia bisa menjadi suami yang baik, berwibawa, lebih tegas dan bisa mengarahkan, Bu Lurah pasti tidak akan jadi begini.
__ADS_1
Mata menghangat, buru-buru dia mengusapnya. Untuk menebus rasa bersalah karena telah teledor sebagai suami, Pak Agung sudah memutuskan akan selalu ada di samping Bu Lurah. Berjanji, apa pun yang terjadi dia tidak akan meninggalkannya.
Keluar dari kamar, Pak Agung menggunakan handphone Bu Lurah untuk menghubungi seseorang---meminta orang itu besok datang ke rumah. Pak Yudi yang barusan menerima telepon dari Pak Agung tampak tertegun.
"Kok, malah nglamun, to, Kang. Telpon dari siapa, to?"
Mereka sedang berada di ruang tamu rumah dukun pengganti Mbah Taryo. Mau protes karena jimat pelindung pemberiannya yang dibungkus kain dan dijadikan liontin kalung tali hitam, tidak mempan. Mereka masih saja diganggu oleh makhluk gaib suruhan Nyai Bibet. Saat ini dukunnya masih ada di ruangan khusus sedang semadi.
"Dari suaminya Bu Lurah. Besok kita disuruh ke sana."
"Untuk apa?"
Pak Yudi hanya menggeleng karena memang tidak tahu Pak Agung mau apa.
"Batalkan!" Pria sangat kurus berpakaian serba hitam, muncul dari arah dalam, menghampiri mereka lalu meletakkan amplop berisi tebal di atas meja. "Ambil kembali uang kalian."
"Apa maksudnya ini, Mbah?"
"Aku mundur, Pak Yudi. Danyang Sanggar dan Danyang Punden itu terlalu sakti. Aku tidak mau ambil resiko. Jimat yang aku beri tidak ada gunanya, to?"
"Waduh, Kang. Terus gimana ini?" Pak Candra wajahnya langsung pucat. Sebenarnya dia sudah mau menyerah, tetapi Pak Yudi masih terus berharap pada Mbah Sengon ini. Sekarang, Mbah Sengon juga mundur. Kalau Pak Candra, sih, lebih baik menyerah juga.
"Dukun letek!" Pak Yudi menarik kalung jimatnya lalu membantingnya ke lantai. "Ayo, pulang, Ndra!" Mengambil amplop, lalu pergi sambil menggerutu.
(Letek: pengecut, cemen)
"Pak Candra."
Tangannya dicekal, Pak Candra mau tidak mau berhenti. "Iya, Mbah."
"Hati-hati. Ada yang mengikuti. Sebaiknya mundur sebelum terlambat. Bu Lurah itu bisa jadi contoh, to."
"I-iya, Mbah." Pak Candra buru-buru pergi. Karena dibilang ada yang mengikuti, dia terus-terusan menoleh ke belakang.
Mbah Sengon memungut jimat yang tadi dibanting Pak Yudi. Tiba-tiba saja jimat itu melayang tanpa ada yang memegangi.
"Sudah, sudah, jangan marah. Kamu tidak lihat apa? Sudah ada yang mengincar mereka."
Kalung itu sejenak berputar-putar lalu mendarat di telapak tangan Mbah Sengon.
Mobil yang dikendarai Pak Yudi dan Pak Candra melaju sangat kencang di jalanan sunyi yang kiri-kanannya adalah perkebunan.
"Kang, pelan-pelan saja, to!" Pak Candra menarik-narik lengan Pak Yudi. Wajahnya pucat pasi.
"Bukan aku, Ndra! Sumpah!" Pak Yudi berusaha mengendalikan kemudi sambil terus menekan pedal gas, tetapi tidak ada gunanya.
"Ada orang, Kang! Awaaas!"
Menghindari seseorang yang tiba-tiba melintas, Pak Yudi membanting setir ke kiri dan ....
Brak
Mobil menabrak pohon jati raksasa yang ada di pinggir jalan. Bagian depan penyok sangat dalam, kapnya terbuka dan asap pun mengepul, kaca hancur berantakan.
[Bersambung]
__ADS_1