WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Ada Nyawa, Nyawa Ikan


__ADS_3

..."Seseorang dalam kondisi payah; masih hidup belum mati, tetapi salah sedikit nyawa melayang"...


Meskipun tadi pagi sudah mendengar keributan di balai desa secara langsung, tetapi saat Pak Wahyu menyampaikan ulang hasil rembukan, rasanya jauh lebih menjengkelkan, selera makan Ningsih seketika sirna. Suasana hati yang sudah buruk semakin campur aduk.


"Pak, Ningsih masih berusaha untuk menghidupkan lagi sanggar itu. Tidak bisa langsung. Butuh waktu, Pak, butuh waktu! Sia-sia usaha Ningsih kalau begini caranya."


Gigi gerahamnya mengetat dan sementara tangan *******-***** gagang sendok yang ada di pikirannya adalah Bu Lurah. Gemas sekali rasanya. Ibarat pepatah bilang, ada nyawa, nyawa ikan. Walaupun sudah hampir mati, sanggar itu tetap masih ada peluang untuk bisa kembali dilestarikan.


Dulu saat satu-satunya guru menari masih ada, Ningsih adalah salah satu dari sekitar lima belas murid yang ikut berlatih. Itu pun dulu waktu Ningsih masih SMA. Setelah dia dan teman-temannya kuliah, serta guru yang mengajar pindah ke Surabaya, sanggar itu sempat sepi tanpa aktivitas sama sekali karena mereka kuliahnya di kota yang jauh.


Hanya Ningsih yang kuliah di kota terdekat. Sambil kuliah terus berusaha melestarikan sanggar dengan cara mengajak anak-anak warga sekitar untuk latihan menari. Walaupun hasilnya tidak memuaskan, gadis itu tidak pernah menyerah.


Pak Saji, lurah yang menjabat sebelum Bu Lurah Sriwedari, telah menyerahkan sanggar untuk diurus oleh Ningsih, karena hanya Ningsih yang dinilainya benar-benar berdedikasi tinggi pada kesenian tradisional, makanya gadis itu merasa punya tanggung jawab besar untuk terus melestarikannya.


Menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, Ningsih mencoba menahan tangis.  Hatinya begitu gusar, pikiran pun tidak menentu. Dada rasanya sesak, tenggorokan seperti tercekik, matanya sudah menghangat, tetapi masih berkeras tidak membiarkan cairan bening itu merembes ke luar.


Baginya air mata hanya akan menunjukkan sisi lemah dan dia tidak mau terlihat lemah walau di depan bapak dan ibunya.


Bu Rusmini mengelus lembut bahu putrinya. "Sudah, tidak apa-apa. Kalau hanya untuk latihan menari, itu ... beranda rumah kita juga bisa digunakan."


"Bukan itu masalahnya, Buk. Di sanggar ada Mbah Putri. Itu rumahnya Mbah Putri. Kalau dirobohkan, Mbah Putri pasti marah. Bisa kena bencana desa ini."


Apalagi punden juga mau dirobohkan. Ya, ampun! Tidak bisa dibayangkan betapa murkanya kedua danyang tempat itu. Tempat keramat bagaimana bisa seenaknya akan dibongkar? Sebagai orang-orang yang masih sangat percaya takhayul, Ningsih dan kedua orang tuanya tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir.


"Ya, sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mending sekarang kamu istirahat dulu." Setelah mengelus rambut putrinya, Bu Rusmini menggulung rambutnya sendiri yang panjang dan biasa diikat rendah pas di tengkuk, kini menjadi sanggul cepol satu.


"Sudah, Ndok. Bener kata Ibumu, jangan terlalu dipikirkan. Bapak tidak akan nyerah begitu saja. Bapak akan ajak para warga bersatu untuk menolak keputusan Bu Lurah. Ya, sudah, kalau tidak mau makan, sana, istirahat."


Tidak berkata apa pun lagi, Ningsih melangkah gontai menuju ke kamarnya. Melihat keadaannya saat ini, siapa pun akan berpikir kalau gadis itu sudah menyerah. Akan tetapi, sudah pasti tidak. Tidak semudah itu mematahkan semangat dan tekad gadis yang dalam darahnya mengalir jiwa pecinta seni tradisional itu. Sekarang dia hanya terlalu marah dan syok. Lihat saja nanti kalau suasana hatinya sudah tertata, dia pasti akan kembali bersemangat.


Awalnya Ningsih mengira kalau dirinya tidak akan bisa tidur karena pikirannya sedang kalut, tetapi nyatanya, malah terlelap tidak lama setelah berbaring. Sekitar satu setengah jam kemudian, gadis yang tadi marah-marah sampai seperti kehilangan semangat hidup, sekarang sudah berpakaian rapi, siap pergi ke sanggar. Wajahnya tampak segar dan ceria, tidak ada sisa-sisa murung sama sekali.


Sambil mengikat rambut, Ningsih melangkah ke beranda. Rumah sepi, mungkin kedua orang tuanya sedang ke sawah. Setelah mengunci pintu, gadis tinggi semampai berkulit sawo matang itu bergegas meninggalkan rumah.


Sudah hampir pukul tiga, anak-anak pasti sudah menunggu.


Karena jalanan sudah biasa sepi di jam-jam seperti sekarang ini, Ningsih menyeberang tanpa menoleh kanan-kiri dan ....


"Oe, oe, oe! Mbak awas!" Untung saja rem sepedanya pakem. Kalau tidak, Ningsih pasti sudah tertabrak. Sebagai gantinya, wajah tampan pemuda itu tampak mengernyit aneh, seperti menahan sakit. Bagaimana tidak sakit, lha, wong adik kecilnya terbentur palang sepeda. Tahu, kan? Sepeda yang tinggi dan ada palang antara sadel dan stang.


Karena terkejut Ningsih tiba-tiba nyelonong saja di jalan sepi, akhirnya sambil mengerem dia langsung melompat dari sadel, padahal seharusnya tidak perlu, kedua kakinya saja sudah cukup panjang untuk jadi penyangga sebenarnya. Ya, namanya juga gerak refleks, mana bisa dikira-kira.


"Waduh! Masnya tidak apa-apa, kan?" Nada suaranya menunjukkan kekhawatiran, tetapi bibir yang ditutup tangan tidak bisa menahan senyum. Ningsih tahu kalau pria muda ini kesakitan karena itunya terbentur.


Cengengesan sambil mengelus tengkuk, pria muda ini terlihat konyol. "Tidak pa-pa ... emh ... sakit dikit, sih."


Tidak bisa menahan tawa, akhirnya Ningsih medengkus sambil menutup mulut untuk menyamarkannya, tetapi segera menahan diri, menyadari kalau itu sangat tidak sopan. Apalagi orang ini tampaknya bukan warga desa sini.

__ADS_1


"Mas, bukan warga desa sini, ya?"


"Bukan. Aku---"


"Walah, Pak Mantri!" Kedatangan Bu Rusmini mengalihkan perhatian keduanya.


Dikira ke sawah, tidak tahunya malah pergi mencari orang ini. Ningsih membatin. Eh! Kok, bisa ibuk mengenal pendatang ini?


"Maaf, Bu Rus, saya hanya pingin lihat-lihat suasana desa."


"Ibu kenal sama Masnya?"


"Ini Pak Mantri Hutan yang baru---"


"Bu Ningsih!" Kali ini anak-anak dari sanggar yang menginterupsi---memanggil dari seberang pasar.


"Aish, sampai lupa. Ya, sudah Ningsih pamit, Buk. Mari, Mas." Setelah mengangguk kecil Ningsih segera beranjak.


"Putrinya, Bu Rus?"


"Iya. Mari, ngobrol di rumah saja, Pak."


Keduanya pun turut beranjak. Masa, iya, mengobrol di tengah jalan. Pria muda itu namanya Jati Siman, calon Mantri Hutan yang baru. Datang tadi pagi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Berhubung tadi pagi Bu Lurah masih sibuk rapat di balai desa, Pak Mantri Hutan yang lama menyerahkan Jati pada Bu Rusmini, soalnya Pak Mantri Hutan yang lama mau berangkat kerja.


Tampan, tahi lalat kecil di dekat sudut mata kanan bagian bawah membuat parasnya tampak lebih istimewa.


Anak-anak memberi tahu Ningsih kalau Bu Lurah ada di sanggar, menunggu di teras. Suasana hati yang barusan membaik seketika bergolak lagi. Begitu berhadapan tatapannya tajam tidak bersahabat.


"Murid-muridnya sudah menunggu dari tadi, eh, gurunya baru datang." Bu Lurah menyambut Ningsih dengan ujaran sarkastik.


Meski hati gemas setengah mati, sampai-sampai rasanya ingin menjambak sanggul cepolnya, tetapi Ningsih mengabaikan Bu Lurah. Dia tidak ingin ribut di depan anak-anak.


Gigi gerahamnya mengetat, membuka pintu sangat kasar, tanpa ba-bi-bu langsung nyelonong masuk. Kelima muridnya mengikuti sambil melirik Bu Lurah takut-takut.


"Kalian latihan sendiri dulu, ibu mau bicara sama Bu Lurah."


"Bu Ningsih, apa benar sanggar ini mau dirobohkan?" Pertanyaan salah satu murid menahan langkah Ningsih.


"Nanti kita belajar nari di mana, Bu? Di tempatku latihan nari adanya musiman." Maksudnya, di desa dia hanya akan ada latihan menari bila musim pertunjukan atau pentas seni. Biasanya, sih ... kalau musim kelulusan, Agustusan, ya, pokoknya yang semacam itulah.


"Kalian tidak usah khawater, ada atau tidak ada sanggar, ibu pasti tetap melatih kalian." Berbicara memang mudah, meluncur begitu saja, tetapi saat membayangkan sanggar ini sebentar lagi—mungkin—akan rata dengan tanah, ulu hatinya terasa pedih.


Langkahnya kaku dan berat. Sambil berjalan, Ningsih mengatur napas untuk menata batin. Ah! Gagal! Saat melihat wajah Bu Lurah dihiasi senyum tipis nan sinis, pertahanan Ningsih langsung ambrol, emosinya meluap.


"Apa peduli, Bu Lurah, saya terlambat datang mengajar atau tidak? Sanggar ini hidup atau mati, toh, Ibu tidak pernah mau tau!"


Bagaimana Ningsih berjuang untuk melestarikan sanggar ini, Bu Lurah juga tidak pernah ambil pusing.

__ADS_1


Sekarang seenaknya saja ingin mematahkan usaha serta harapan orang yang sangat mencintai seni dan budaya dengan mengatakan, sanggar tidak berguna lebih baik dirobohkan dan dijadikan lebih bermanfaat.


"Kamu jangan kurang ajar, ya! Kamu pikir kamu ini siapa? Hanya karena bisa nari terus merasa diri paling benar dan hebat---"


"Bu Lurah ke sini mau apa? Langsung bilang saja ...." Tanpa melotot pun matanya sudah bulat besar, apalagi saat melotot seperti sekarang ini. Terlihat seperti mata penari Bali.


"Dengar baik-baik ...."---Bu Lurah mendekatkan wajahnya ke wajah Ningsih, matanya juga melotot, tetapi jadinya malah serem karena bibirnya yang merah segar itu---"mulai besok tidak perlu lagi ada kelas menari."


Hah?!


Selagi Ningsih masih syok, Bu Lurah sudah bergegas pergi. Dia merasa ngeri juga saat menatap langsung ke mata gadis itu. Entah kenapa bulu kuduknya turut meremang.


Suasana hati Ningsih kembali buruk, bahkan lebih buruk, tetapi berusaha semaksimal mungkin tetap tenang di hadapan murid-muridnya.


Ah! Tetap tidak bisa. Emosi tidak stabil, Ningsih kerap salah melakukan gerakan. Akhirnya menyuruh anak-anak pulang lebih awal dan berpesan supaya besok langsung saja datang ke rumahnya.


Dia tetap akan memperjuangkan sanggar ini, tetapi tidak mau melibatkan anak-anak. Kalau besok dia memaksakan tetap latihan di sanggar lalu Bu Lurah datang lagi, khawatirnya anak-anak akan ketakutan.


Sekitar pukul lima, Pak Agung datang, tanpa basa-basi Ningsih langsung menyuruhnya pergi. Sebenarnya kasihan juga melihat wajah memelas pria itu, tetapi mau bagaimana lagi? Ningsih masih kesal luar biasa, melihat Pak Agung rasanya seperti melihat Bu Lurah saja.


Sudah pukul enam, hujan turun cukup deras jadi alasan bagus buat Ningsih tetap tinggal di sanggar karena dia lupa membawa payung.


Ruangan ini kosong melompong, tidak ada perabot lain selain satu meja dan satu kursi yang sekarang sedang Ningsih duduki, sudah usang, tetapi masih kuat karena terbuat dari kayu jati asli.


Sanggar ini cukup besar---seukuran rumah-rumah penduduk pada umumnya. Di bagian ujung yang berseberangan dengan pintu, permukaan lantai lebih tinggi tiga anak tangga, menyerupai panggung. Memang dulunya, selain untuk berlatih, sanggar ini juga sering digunakan sebagai tempat pertunjukan seni.


Bila nyadranan tiba, di sanggar inilah pertunjukan wayang kulit dan teledek diadakan. Saat hari pertunjukan tiba, dinding papan bagian depan dibongkar sementara untuk mempermudah warga yang ingin menonton. Halaman depan cukup luas, menyambung dengan tanah kosong milik warga. Jadi, bisa menampung banyak orang.


Hanya digunakan setahun sekali, selebihnya, ya, hanya dibiarkan begitu saja sanggarnya, sampai akhirnya Ningsih berinisiatif untuk melestarikannya lagi.


Di dinding masih ada tiga foto para penari zaman dulu, hitam putih dalam bingkai kayu biasa tanpa ukiran. Hati Ningsih terenyuh melihat senyum ceria para gadis desa zaman dulu, yang sepertinya sangat bangga menjadi bagian dari penari sanggar ini.


Mata Ningsih menatap menerawang ke arah foto-foto itu. Tangannya buru-buru mengusap pipi yang terasa geli oleh sesuatu yang mengalir, dipikirnya ada atap yang bocor lagi, tetapi ternyata air matanya sendiri.


Selagi masih mengusap air mata, tiba-tiba terdengar suara gending beserta gamelan, sangat jelas. Alih-alih terkejut atau takut, Ningsih malah berdiri dari duduknya dan mulai menari.


Setiap gerakan mengandung emosi. Lihat saja itu, tubuh meliuk-liuk lentur bagai tanpa tulang, pergelangan tangan berputar-putar dan menyentak begitu luwes. Semakin cepat suara gending dan gamelan, semakin liar pula Ningsih menari, hingga tubuhnya roboh ke lantai.


Lereno, Ndok Cah Ayu ... ora usah dadi ati.


(Beristirahatlah, gadis cantik ... tidak perlu diambil hati)


Samar-samar Ningsih melihat perempuan cantik berkebaya kuning gading, mengelus lembut kepalanya.


"Mbah Putri." Setelah menggumam, Ningsih jatuh pingsan.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2