WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Sakit Kepala Panjang Rambut


__ADS_3

..."Berpura-pura pada orang lain"...


Di hari yang sama setelah berhasil membongkar sanggar, malamnya Mbah Taryo pergi ke Hutan Winangan hendak bersemadi, memohon petunjuk Ki Tumenggung untuk langkah selanjutnya. Akan tetapi, sambutan Ki Tumenggung sungguh di luar dugaan. Raja siluman lutung itu tiba-tiba murka. Tenaga sudah pulih, tanpa ampun dia menghajar Mbah Taryo.


"Minggat dari sini dan jangan pernah kembali lagi!"


Mbah Taryo yang sudah duduk bersila menghadap tungku pendupaan, terlempar hingga menghantam dinding terkena sapuan tangan Ki Tumenggung. Dalam sekejap, pondok bambu di tengah hutan Winangan itu pun roboh.


Tubuh Mbah Taryo terkapar pasrah tertimbun reruntuhan. Hanya bambu tidak akan membunuhnya, tetapi tetap saja rasanya sakit.


"Aduh duh duh ...." Suara erang kesakitan terdengar dari bawah tumpukan bambu.


"Jangan pernah lagi datang ke sini. Dan jangan lagi ikut campur urusan sanggar itu. Kalau masih bandel, aku sendiri yang akan menghabisimu."


Bambu-bambu terlempar ke mana-mana, Mbah Taryo muncul dan langsung bersujud. "Apa salahku, Ki? Kenapa tiba-tiba dilarang ikut campur? Padahal sudah separuh jalan."


"Tidak usah banyak tanya! Turuti saja kata-kataku! Aku tidak peduli kamu akan merusuh di mana, tapi jangan sekali-kali mengusik Desa Pantungan lagi!"


Mana mungkin Ki Tumenggung akan berkata jujur kalau sebenarnya dia sudah dikalahkan oleh Ki Gopet. Aib besar semacam itu tidak boleh sampai bocor, bisa kehilangan muka dia.


Waktu itu, bertarung mati-matian, Ki Tumenggung sempat merasa di atas angin dan jumawa karena ada peluang untuk bisa mengalahkan musuh bebuyutannya. Akan tetapi, di saat Ki Tumenggung sedang menggempur habis-habisan dengan nafsu menang sekaligus membunuh, tiba-tiba Ki Gopet mengeluarkan senjata pamungkas kelemahan Ki Tumenggung.


Senjata yang seharusnya sudah musnah saat dulu terjadi perang antara kubu Ki Tumenggung dan Kubu Ki Gopet. Siapa yang menyangka, Danyang Punden itu ternyata masih memilikinya. Ki Tumenggung boleh saja sakti, tetapi cara berpikirnya ternyata sangat naif. Bagaimana dia percaya begitu saja kalau senjata sakti bisa dimusnahkan dengan mudah?


Sebenarnya, Ki Gopet menyembunyikan senjata berupa keris emas berlekuk tujuh itu di salah satu pohon jati raksasa. Keris sakti yang hanya dengan melihatnya saja tubuh Ki Tumenggung langsung lemas dan mata tidak bisa melihat.


Ki Gopet menyebarkan rumor kalau senjata itu sudah musnah karena tidak mau repot terus-terusan dirong-rong oleh siluman yang ingin merebutnya. Dia tidak ingin ketentraman manusia yang tinggal di dekatnya juga terancam.


"Tapi, Ki. Sanggar itu sudah dibongkar---"


"Bukan urusanmu lagi! Dan jangan ikut campur, mulai sekarang aku tidak sudi membantu. Manusia-manusia serakah."

__ADS_1


"Tapi, Ki. Kita sudah membuat perjanjian---"


"Minggat!" Ki Tumenggung mencengkeram tubuh Mbah Taryo.


"Ki, jangan Ki. Ampun, Ki. Baik, baik aku manut, Ki." Tubuh rasanya seperti diperas, Mbah Taryo kesakitan luar biasa.


"Awas kalau ingkar! Aku mengawasimu, Taryo!"


"Iya, Ki, iya---Kiii---aaarrrggghhh!!!"


Tubuh Mbah Taryo dilempar, berputar-putar di udara beberapa saat, lalu lenyap menyisakan lolongan panjang.


"Manusia memang sangat merepotkan!" Ki Tumenggung telah bersumpah tidak akan lagi menjalin kerja sama dengan manusia, mengukuhkan kembali prinsip yang sudah dilanggarnya.


Dilempar sedemikian rupa, ternyata Mbah Taryo tidak apa-apa. Dalam kondisi segar bugar, pria tua itu sekarang sedang duduk bersila, berhadapan dengan kedua tamu yang datang pagi-pagi. Tergopoh-gopoh seperti dikejar setan karena semalam mereka memang dikerjai oleh dedemit suruhan Nyai Bibet.


Sama seperti halnya Bu Lurah, Nyai Bibet juga memperingatkan Pak Yudi dan Pak Candra.  Pagi ini, mereka datang ke Mbah Taryo dengan niat mencari perlindungan. Minta jimat atau aji-aji penolak bala supaya makhluk gaib itu tidak bisa menggangu lagi.


"Jangan diam saja, to, Mbah. Gimana ini? Setan perempuan itu juga mengancam akan mencelakai keluarga kami, lo, Mbah." Pak Yudi gemas karena Mbah Taryo dari tadi hanya diam sambil mengelus jenggot.


Diamnya Mbah Taryo karena sibuk berpikir bagaimana enaknya menyampaikan kalau dia sudah tidak mau ikut campur lagi.


"Pokoknya kami tidak mau gagal, Mbah. Hari ini juga, Mbah Taryo harus membantu kami menebang pohon jati di punden itu!"


Mbah Taryo berhenti mengelus jenggot dan menatap lekat.  "Hentikan, Pak Candra."


"Loh, berhenti gimana, to, Mbah? Tidak bisa. Pokoknya harus tetap lanjut. Mbah sendiri yang bilang kalau di sana itu peruntungannya besar."


Tidak bisa disangkal. Dari penerawangannya, lahan sanggar dan punden itu memang diterangi oleh cahaya keemasan, cahaya pembawa keberuntungan. Mbah Taryo tidak bisa melihat dengan jelas wujud nyata dari cahaya keemasan tersebut, tetapi aura positif yang sangat memikat jelas memancar bersama sinarnya.


Bahkan Mbah Taryo punya niat semadi di sana pada malam Jumat Kliwon untuk mencari tahu, sebenarnya pusat cahaya itu di mana dan berasal dari benda apa. Akan tetapi, niatnya sudah gagal bahkan sebelum terlaksana.

__ADS_1


Mbah Taryo tidak tahu kalau sinar keemasan itu sebenarnya berasal dari keris emas berlekuk tujuh milik Ki Gopet.


Mbah Taryo menggeram. "Peruntungan besar kalau harus ditukar dengan nyawa, memangnya Pak Candra mau, huh?"


"Kan, ada Mbah Taryo yang bisa mengatasi." Ada nada sarkas dalam suara Pak Yudi.


"Lupakan. Aku tidak bisa membantu lagi. Resikonya berat. Lebih baik cari tempat lain."


"Tidak bisa begitu---"


"Pergi kalian. Kalau masih nekat, tanggung sendiri akibatnya."


Pak Yudi melongo, Pak Candra menatap tak percaya. Dukun sakti andalan mereka sudah menyerah.


"Jangan seenaknya memutuskan begitu, Mbah!" Pak Yudi meradang, tangannya menepuk tikar sampai telapak terasa panas.


"Kita sudah lama merencanakan ini, Mbah. Masak tiba-tiba dibatalkan begitu saja?!" Wajah Pak Candra sampai terlihat linglung saking tidak percayanya bahwa dukun andalan mereka yang tangguh sudah menyerah.


"Pergi kataku!" Hanya dua kata tegas itu yang Mbah Taryo ucapkan, setelahnya dia diam bergeming.


"Pengecut. Dukun sialan tidak berguna. Sia-sia aku bayar mahal!"


"Jaga mulut, Pak Yudi." Suara Mbah Taryo tetap tenang. "Apa mau tak buktikan, aku ini dukun berguna atau tidak. Tinggal pilih siapa yang mau celaka. Pak Yudi sendiri atau Pak Candra?"


Pak Yudi dan Pak Candra seketika membelalakkan mata. Mereka tahu pasti kehebatan Mbah Taryo. Mereka pun yakin pasti ada sesuatu yang tidak bisa Dukun itu langgar sehingga tidak sungkan-sungkan mundur.


Namun, ambisi sudah membutakan mata hati Pak Yudi dan Pak Candra sehingga mereka tidak rela rencana dihentikan begitu saja. Lagi pula, sudah sejauh ini. Masa, iya, harus mundur?


"Kita cari dukun lain saja, Ndra." Pak Yudi menepuk pundak Pak Candra, lalu beranjak pergi.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2