WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Tak Lekang oleh Panas, Tak Lapuk oleh Hujan


__ADS_3

..."Tetap, tidak berubah selamanya"...


...(Tentang adat)...


Adat-istiadat dan tradisi itu tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Selamanya akan tetap ada dan menjadi bagian dari budaya. Jangan merusak cita-cita mereka yang ingin kembali melestarikan warisan leluhur ini, Sri.


Suara Mbah Putri masih terngiang di telinga Bu Lurah. Secepat datangnya, secepat itu pula perginya. Hujan dan angin tiba-tiba berhenti bersama Mbah Putri yang mendadak sirna.


Sekukuh-kukuhnya hati Bu Lurah menolak percaya takhayul, akan goyah juga bila terus-menerus dihadapkan pada peristiwa-peristiwa aneh seperti tadi. Namun, hati kecilnya masih tetap berkeras, tidak ingin mengurungkan niat.


Sementara Bu Lurah masih terpaku di tempat, Pak Candra dan Pak Yudi saling bertukar pandang, mata keduanya masih membola, wajah juga masih syok, sama-sama menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Untuk meyakinkan diri kalau hujan barusan itu nyata, Pak Candra menyentuh rambut. Basah, bahkan ada air yang menetes dari rambutnya.


Pak Yudi melakukan hal yang sama, mengibas bahu dan lengan juga. Basah. Jelas-jelas basah. Berarti hujan barusan itu nyata. Namun, anehnya tidak ada bekas basah di tanah pelataran punden ataupun di rumput-rumput halaman belakang.


Bahkan tidak ada tanda-tanda kalau barusan ada angin dahsyat. Pucuk-pucuk pohon bambu itu begitu tenang, seperti tidak pernah terombang-ambing sebelumnya.


"Ndra, sepertinya ada yang tidak beres." Pak Yudi menggumam lirih, setelah itu berdeham beberapa kali. Tenggorokannya masih terasa sangat kering.


Pak Candra hanya mengangguk. Matanya sibuk melihat sekitar hingga akhirnya sampai pada Bu Lurah. "Kang Yud ...." Pria ini mengedikkan kepala hingga dagu mengarah pada Bu Lurah.


Menoleh ke arah Bu Lurah yang masih berdiri terpaku, Pak Yudi bergegas menyentuh bahunya "Bu Lurah tidak apa-apa, to?"


Tidak ada respons. Kedua pria itu kembali bertukar pandang dan sama-sama mengangkat bahu.


"Bu Lurah!" Pak Candra menepuk bahu Bu Lurah sedikit kasar, nada suaranya pun tinggi.


"Astaga!" Bu Lurah melonjak kaget karenanya.


Wajah Bu Lurah pucat pasi, entah air atau keringat yang mengalir turun dari pelipis, napasnya sedikit memburu, dan berberapa kali menelan ludah sambil menepuk dada pelan.


Pak Candra melirik ke dalam sanggar, Ningsih dan anak-anak masih berlatih, tak hirau dengan keberadaan mereka.

__ADS_1


"Bu, sebaiknya kita pergi dari sini. Mari bicara di tempat lain saja."


"Sa-saya rasa lebih baik begitu, Pak Yudi. Mari, ke rumah saya saja."


Ketiganya beranjak pergi tanpa berpamitan pada Ningsih. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, kedua pria itu sudah duduk di ruang tamu kediaman Bu Lurah, sedangkan Bu Lurah pergi ke dalam menemui Parti.


"Buatkan es sirup, cepat. Biar aku yang bawa ke depan, habis ini kamu boleh pulang."


Akan membahas hal yang bersifat rahasia, Bu Lurah tidak mau ambil risiko makanya sengaja menyuruh Parti pulang lebih cepat.


"Baik, Bu Lurah. Makan malam sudah siap, tinggal dihangatkan saja nanti."


"Hem."


Tidak butuh waktu lama, Bu Lurah sudah kembali ke depan membawa dua gelas es sirup warna oranye.


"Mari, silakan diminum."


Keduanya mengucapkan terima kasih, tetapi tidak ada yang mengambil minuman yang telah disuguhkan. Sepertinya ada hal mendesak yang ingin mereka bicarakan.


"Pak Yudi percaya pada takhayul?" Tidak ada arogansi dalam suaranya. Mungkinkah Bu Lurah sudah mulai merasa takut karena sering didatangi Mbah Putri?


"Percaya tidak percaya, kenyataannya makhluk halus itu memang ada lo, Bu Lurah. Dan saya yakin, sanggar dan punden itu benar-benar ada penunggunya." Cara Pak Yudi berbicara terkesan biasa saja, seperti tidak menganggap para danyang itu menakutkan.


"Tapi, Bu Lurah tidak usah khawater." Pak Candra segera menimpali perkataan Pak Yudi saat melihat wajah Bu Lurah mengernyit. "Kalau memang dibutuhkan, kami bisa mencarikan dukun sakti yang bisa mengusir makhluk halus penunggu sanggar dan punden."


"Benar itu. Kami punya langganan dukun sakti yang selama ini selalu bisa kami andalkan." Aroma tembakau berhamburan saat Pak Yudi berbicara.


Bu Lurah yang dasarnya tidak suka basa-basi dan lugas, spontan mengernyitkan hidung, tidak tahan bau asap tembakau itu. Namun, Pak Yudi tidak hirau, terus saja merokok.


Jadi, sebenarnya sejak awal mereka sudah memperhitungkan segala kemungkinan. Hal-hal mistis berbau takhayul pun sudah menjadi sesuatu yang biasa untuk keduanya. Namanya juga saudagar, tidak mungkin polos, pasti punya pegangan dan orang pintar sebagai pendukung.

__ADS_1


"Soal begituan, saya percayakan sama Pak Yudi dan Pak Candra saja. Saya tidak mengerti dan sebenarnya kurang percaya sama yang begituan."


Kejadian akhir-akhir ini sedikit membuat hati Bu Lurah tidak tenang. Akan tetapi kalau orang-orang ini punya solusi, itu malah bagus. Serahkan saja pada mereka dan dia tinggal terima beres. Berpikir begitu, beban hati Bu Lurah sedikit berkurang.


"Boleh-boleh!" Pak Yudi sangat antusias. "Kalau Bu Lurah mengalami kesulitan sama orang-orang itu, kami juga bisa bantu. Tidak usah pakek ribut-ribut ...."


"Masa, iya, Pak?" Wajah Bu Lurah seketika cerah. Masa bodoh dengan takhayul atau apalah. Kalau ada cara lebih mudah untuk mencapai tujuan, Bu Lurah tidak akan keberatan sama sekali.


Pak Yudi dan Pak Candra terkekeh ringan. Lalu Pak Candra berkata, "Kalau begitu, percayakan semuanya pada kami."


Menghela napas lega, wajah Bu Lurah langsung semringah. Cara apa pun itu, dia benar-benar tidak peduli. Setelah mendengar usulan mereka, Bu Lurah malah semakin tidak sabar untuk menjalankan rencana supaya keinginannya bisa segera terwujud.


Mata hati perempuan itu benar-benar sudah tertutup. Amanat sebagai seorang pemimpin yang harus dia pikul, diabaikan begitu saja dan lebih menuruti nafsunya sendiri. Tiba-tiba saja, keheningan terasa begitu mencekam saat angin sepoi-sepoi berembus membawa serta suara gamelan yang mengiringi sinden menembang. Bu Lurah mengelus tengkuk yang meremang, rasansanya dingin seperti ada yang meniup.


"Kowe cidro bakal ciloko, Cah Ayu."


(Kamu ingkar janji, bakal celaka)


"Ihs!" Bu Lurah menoleh dan langsung menyadari kalau di belakangnya adalah dinding. Jadi mustahil ada orang di situ.


"Ada apa, to, Bu?" tanya Pak Yudi. Pria itu memperhatikan dinding di belakang Bu Lurah lekat-lekat dengan mata menyipit.


"Tidak apa-apa, Pak. Hanya geli, tertiup angin." Setelahnya, Bu Lurah tersenyum canggung.


"Ya, sudah. Kalau begitu kami pamit dulu."


"Oh, iya. Silahkan, Pak. Hati-hati di jalan."


Kedua pria itu bergegas pergi meninggalkan Bu Lurah yang masih terus memegangi tengkuknya.


"Kamu merasa tingkah bu lurah aneh apa tidak, Kang Yud?" tanya Pak Candra begitu sudah di dalam mobil.

__ADS_1


"Sudah biarkan saja," ujar Pak Yudi acuh tak acuh.


[Bersambung]


__ADS_2