WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Salut Kamu Tetap Rendah Hati


__ADS_3

Evan dan nazwa menjemput Nita dan Dina untuk pergi kuliah. Di perjalanan mereka pun ngobrol membahas perkembangan perusahaan E&N. handphone evan pun bergetar, lalu dia mengangkatnya setelah melihat siapa yang meneleponnya.


" assalamualaikum pak, bagaimana kabarnya." kata evan


" alhamdulillah baik nak, kamu dimana sekarang." kata pak akmal dari sebrang telepon


" saya sedang diperjalanan kuliah pak sama isteri, ada yang perlu saya bantu pak." kata evan


" ini nak teman bapak lagi sakit parah, dokter yang menanganinya sudah angkat tangan, isterinya telepon bapak tadi, apa kamu bisa menyembuhkan dia." kata pak a.kmal


" saya belum bisa bilang bisa atau enggak karena saya harus tau kondisi pasien seperti apa." kata evan, pak akmal pun menceritakan riwayat penyakit temannya itu. Pak akmal juga memberi tahu latar belakang pasien ini. Evan pun meminta dikirim biodata pasien. Setelah itu evan memanggil hacu untuk menyelidiki pasien. Setelah itu evan pun memberitahu pak akmal


" iya sudah pak, kalau bisa kirim ke rumah sakit C aja, biat nanti saya kesana dijemput helikopter kalau sudah ada, saya akan ikut kuliah dulu." kata evan


" baik kalau begitu nak, saya akan menghubungi pihak keluarga supaya mengirim teman ke rumah sakit C." kata pak akmal, lalu menutup teleponnya.


" siapa kak, kakak harus ke rumah sakit." tanya nazwa


" pak akmal sayang, ada temannya yang sakit, mungkin nanti aku enggak bisa bareng kamu pulangnya, kamu sama pak johan aja ya pulangnya." kata evan


" oh iya kak, lagian aku ada nita sama dina kok." jawab nazwa, evan mengantar dina lalu mengantar nazwa dan nita, setelah itu pergi ke kampusnya. Evan pun mengikuti kuliahnya, evan mendapat kabar dari pak akmal bahwa pasien sudah dalam perjalanan ke rumah sakit C, dan pak akmal sedang dalam perjalanan menjemput evan. Sesi kuliah pertama selesai lanjut sesi kedua. Pak johan di minta untuk menjemput pak akmal oleh pihak rumah sakit di lapangan. setelah tiba pak akmal pergi ke ruangan dosen untuk meminta izin supaya evan tidak mengikuti kuliah. para dosen yang melihat kedatangan pak akmal pun menyambutnya, mereka tidak mengira bahwa petinggi dari dinas kesehatan mau hadir ke tempat mereka.


" selamat datang pak, mohon maaf kalau tidak ada penyambutan, karena saya tidak tau akan kedatangan bapak di kampus ini." kata Dekan fakultas kedokteran, beliau diberitahu oleh dosen yang melihat pak akmal datang kesana.


" tidak apa apa pak dekan, saya kesini juga terburu buru karena ada teman yang sakit, saya mau menjemput anak saya yang kuliah disini, karena perlu bantuan dan pertolongan dia." kata pak akmal

__ADS_1


" siapa pak nama anak bapak." kata pak dekan


" evan devano putra, dia baru kuliah disini. Jadi saya mau minta izin supaya dia ikut ke rumah sakit sekarang." kata pak akmal


" oh evan, tolong panggilkan dia." kata pak dekan, dosen yang disuruh pun pergi ke ruang belajar evan, dosen tersebut memanggil dosen yang sedang mengajar, lalu memberitahu tujuan dia. Setelah itu evan di panggil, evan yang sudah tau pun mengemasi bukunya lalu pergi keluar ruangan setelah pamitan. Dosen tadi membawa evan ke ruangan dosen.


" kenapa bapak jemput, saya bisa pergi ke rumah sakit sendiri." kata evan


" kamu itu ya, kenapa malu dijemput saya." kata pak akmal, evan hanya tersenyum.


" bapak, ibu dosen saya pamit dulu, mudah mudahan lain waktu saya kesini lagi, maaf ya saya pinjam anak ini dulu karena memang sedang urgent." kata pak akmal


" silahkan pak, kami senang dan bangga bahwa ada anak didik kami yang sudah menjadi dokter hebat walaupun masih kuliah." kata pak dekan, evan dan pak akmal pamitan lalu menuju ke helikopter yang sedang menunggunya. Evan berpesan ke pak johan supaya menunggu nazwa, evan juga mengabari nazwa bahwa dia mau berangkat ke rumah sakit, dan kalau sudah mau pulang atau ada apa apa kabari pak johan. Helikopter pun terbang menuju rumah sakit. Sekitar 27 menit mereka sudah tiba di rumah sakit, evan dan pak akmal langsung menuju ke ruangan ICU. di koridor sudah banyak orang dari pihak keluarga yang menunggu. Pak akmal langsung membawa evan masuk ke ruangan ICY. Disana sudah ada dr. Helmi dan dr. Bambang. Setelah memakai baju dokternya evan memeriksa kondisi vital pasien di monitor yang terus menurun, setelah itu di memeriksa langsung kondisi pasien.


Saat itu Evan menyuntikan energi untuk memulihkan kondisi vital pasien. Evan mendapat informasi kondisi pasien dan cara penyembuhannya. Evan mensterilkan jarumnya lalu menusukan ke dada, perut pasien, kelihatannya sederhana tapi evan merasa kelelahan, keringat pun keluar dari dahi evan, dia memerlukan banyak energi dalam melakukan hal tersebut karena memang kondisi pasien sudah parah. Setelah 37 menit evan mencabut jarum jarumnya, lalu menyimpannya. Evan pun sedikit pusing dan hampir terjatuh, untung dr. Helmi sigap membopong evan duduk di kursi.


" sama sama dokter, apa yang perlu saya bantu dokter." kata dr. Helmi


" tolong siapkan obat jantung dan lambung, nanti minumkan setelah pasien siuman, 17 menitan lagi pasien siuman sekarang sedang memulihkan dulu kondisi vitalnya." kata evan


" baik dokter," kata dr. Helmi, dia pun bergegas keluar ruangan ICU, di luar banyak yang bertanya bagaimana kondisi pasien, dr. Helmi hanya bilang kondisi pasien sudah stabil tinggal menunggu siuman dan memohon supaya mereka berdoa. Dr. Helmi mengambil obat yang di minta lalu kembali ke ruangan ICU. Pas 17 menit pasien sadar, dr. Helmi pun memberikan obat ke pasien supaya diminumnya. Pasien pun meminum obat tersebut tanpa ada penolakan sedikit pun, evan yang sudah mulai pulih pun menghampiri pasien lalu memberikan energi supaya penyerapan obat bisa cepat. Indikator di monitor pun sudah menunjukan stabil. Pasien pun merasa tubuhnya sudah tidak sakit lagi, dia melihat ke sekeliling ruangan.


" Mal, kok kamu ada disini, saya dimana sekarang." kata pak Tanjung sang pasien


" saya dapat kabar dari ibu, bapak sedang sakit, tadi saya menyuruh ibu membawa bapak kesini. Gimana kondisi bapak sekarang." kata pak akmal

__ADS_1


" saya sudah tidak merasakan sakit lagi mal, beneran saya masih hidup ini." kata pak tanjung


" bapak masih hidup, tadi anak saya yang menyembuhkan bapak." kata pak akmal


" siapa anak kamu yang jadi dokter, setahu saya enggak ada penerus kamu." kata pak tanjung


" ini anak angkat saya pak, dia yang menyembuhkan saya. Sini nak bapak kenalkan, ini dokter senior bapak." kata pak akmal


" perkenalkan saya evan." kata evan mengenalkan diri


" saya tanjung, kelihatannya kamu masih muda, memangnya kamu sudah memiliki izin praktek." kata pak tanjung


" saya baru 19 tahun pak, sekarang baru semester pertama kuliah dikedokteran," kata evan


" tenang aja pak, dia udah punya lisensi dokter, saya yang memberikannya, pak handoko, pak bayu, anaknya pak sandi, pak gubernur, pak menteri yang menyembuhkan dia ini." kata pak akmal


" kamu bisa mengobati dari mana, dokter yang menangani saya aja sudah angkat tangan." kata pak tanjung


" saya dapat warisan dari leluhur saya, leluhur saya adalah tabib pengobatan, makanya saya kuliah untuk mengkolaborasikan pengobatan modern dan tradisional." kata evan


" dia itu sebagai peracik obat juga pak, dia punya pabrik obat." kata pak akmal


" hebat kamu, masih muda tapi kemampuan kamu luar biasa." kata pak tanjung


" biasa saja pak, saya hanya pelantara aja untuk kesembuhan bapak." kata evan

__ADS_1


" kamu ini bisa saja, tapi saya salut dengan kemampuan kamu yang luar biasa, kamu tetap rendah hati." kata pak tanjung.


__ADS_2