WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Rasa yang belum pernah ada


__ADS_3

Bu marni dan evan kembali ke ruang keluarga, karena udah malam mereka pergi istirahat ke kamar masing masing. Evan pun melakukan meditasi di kamarnya, di rasa sudah cukup dia pun istirahat.


Di pagi hari evan menerima pesan dari Nazwa


" kak jadi lari di lapangan, kalau jadi aku ke rumah kakak sekarang, soalnya aku kirim pesan ke ella belum ada balasan." kata nazwa


" oh jadi dong, ini lagi siap siap. Dia suka susah kalau bangunnya." jawab evan


" iya udah aku berangkat ya, nanti aku tunggu di gerbang komplek." kata nazwa


" iya, sampai ketemu." jawab evan. Evan pun memakai sepatu larinya lalu pergi untuk lari. evan duluan sampai di gerbang tak lama nazwa muncul.


" halo kak, ella enggak ikut." kata nazwa


" enggak dia belum bangun, iya udah kita aja." kata evan, mereka pun pergi lari menuju ke lapangan, evan merasakan rasa yang belum pernah ada dia rasakan sebelumnya. Evan dan nazwa berlari berdampingan, setelah 2 putaran nazwa merasakan cape.


" kenapa kamu cape ya, iya udah kita jalan aja." kata evan


" iya kak, kok kak evan kuat ya." kata nazwa


" aku biasa soalnya dan dulu aku suka naik gunung setiap hari ambil rumput." kata evan


" kok ambil rumput sih kak, memang kak evan tinggal dimana." kata nazwa. Evan menceritakan kisah perjalanan hidupnya. Nazwa akhirnya paham kenapa evan memiliki orang tua lain selain bu marni yaitu pak braja dan bu surti. Evan mengajak nazwa untuk beristirahat di warung yang biasa menjadi tempat istirahatnya. Evan merasakan lain jika berdekatan dengan nazwa.


" kamu mau minum apa." kata evan


" aku air mineral aja kak." kata nazwa, evan pun mengambilkan minuman untuk dia dan nazwa


" ini non yang waktu itu ya." kata ibu pemilik warung


" iya bu, jangan panggil non bu, saya nazwa bu, kok ingat bu saya sih bu, oh iya waktu itu saya lupa bayar jangan jangan." kata nazwa


" itu sudah dibayar sama nak evan." kata ibu pemilik warung


" aiknya nak evan kok enggak ikut atau jangan jangan kalian ini..." kata ibu pemilik warung


" jangan jangan apa sih bu, ella sama yasmin auaah bu kalau bangun pagi, kebetulan aja pas keluar komplek kita ketemu." kata evan

__ADS_1


" iya bu, saya juga enggak tau kalau kak evan ini tinggal di komplek yang sama dengan saya." kata nazwa malu malu


" ibu lihat kalian cocok loh jadi sepasang kekasih, mudah mudah mudahan saja kalian berjodoh sampai ke pelaminan, nak evan ganteng, non nazwa cantik." kata ibu pemilik warung


" aamiin." kata evan dan nazwa berbarengan


" tuh kan sampai barengan gitu dan mengaminkan juga." kata ibu pemilik warung


" kalau itu baik kenapa enggak bu." kata evan


" kamu mau sarapan apa." lanjut evan


" apa aja boleh kak," kata nazwa


" iya udah kita lihat dulu aja makanannya ya." kata evan lalu berdiri ke warung sebelah, evan memesan nasi uduk, nazwa memesan nasi kuning sama lauk lainnya. Lalu mereka makan di tempat tadi.


" kak evan jadi membuat SIMnya, tadi kakek tanya soalnya." kata nazwa


" jadi nanti siangan sama ibu kesana." jawab evan


" iya udah sama kakek aja, katanya sekalian dia mau nostalgia ke temlat kerjanya dulu." kata nazwa


" yang habis lari, mana kak nazwanya kak kok enggak di ajak kesini." kata ella


" dia lulang dulu, nanti dia kesini." kata evan


" cie... Cie yang udah jadian. Traktir makan dong kak." kata ella


" apaan sih dek... Ingetnya makan terus... Olahraga kamu supaya sehat." kata evan


" kan ada kakak yang obati kalau aku sakit." kata ella


" ada apa sih pagi pagi udah ribut aja." kata bu marni


" ini bu, kak evan habis lari sama kak nazwa." kata ella


" anak ibu benar benar udah besar ya, oh iya nak kayanya ibu enggak bisa antar kamu deh, soalnya mau rapat membahas perusahaan farmasi, gimana kamu bisa sendiri enggak, nanti diantar pak agus aja." kata bu marni

__ADS_1


" iya bu enggak apa apa, tadi nazwa juga bilang kakek baskoro katanya mau ke kantor polisi mau mengenang dulu, aku bareng sama kakek baskoro aja. Aku kasih tau ke nazwa kalau begitu." kata evan, dia pun mengabari nazwa


" oh ya sudah kalau begitu, nanti ibu akan masukan kamu ke pemilik saham juga, soalnya kan kamu yang punya konsep dan resep obatnya." kata bu marni


" terserah ibu aja, enggak juga enggak jadi masalah bu." kata evan. Bu marni mengajak mereka sarapan, setelah sarapan evan juga siap siap karena mau di jemput kakek baskoro.


Jam 9 kakek baskoro datang bersama nazwa.


" maaf ya pak, jadi merepotkan, tadinya saya mau antar tapi karena ada pekerjaan jadi enggak bisa." kata bu marni


" enggak apa apa bu, saya juga sekalian mau mengenang masa masa dulu, ayo nak kita berangkat mumpung masih pagi." kata kakek baskoro, evan pun pamitan, nazwa juga sama ikut pamitan juga.


" saya juga mau pergi ke kantor juga pak, ella sama yasmin di rumah dulu ya." kata bu marni


" iya bu, kita di rumah aja, kak evan enggak lama kan perginya." kata ella


" enggak dek." kata evan. Mereka pun pergi termasuk bu marni.


Jam 10.27 menit mereka tiba di kantor polisi, setelah turun kakek baskoro disambut sama anggota yang ada disana sambil memberikan hormat.


" selamat datang komandan, apakabarnya nih." kata pak Edi salah satu anggota polisi


" baik... Gimana kondisi dan situasinya aman." kata kakek baskoro


" siap... Terkendali komandan." jawab pak edi


" perkenalkan ini cucu saya nazwa dan ini mungkin kalian bisa tau siapa." kata kakek baskoro. Pak edi yang kelihat sudah senior itu melihat evan lekat lekat..


" pak.... Pak..... Devano, kamu siapanya pak devano nak." kata pak edi


" penglihatan kamu enggak salah pak edi, nak evan ini anak pertamanya pak devano." kata kakek baskoro. Pak edi langung merangkul evan, saking senangnya dia sampai menangis..


" beneran kamu anaknya pak devano." kata pak edi


" iya pak, saya anaknya pak devano, walaupun saya belum pernah lihah ayah." kata evan. Pak edi mengajak kakek baskoro, evan dan nazwa masuk ke kantor.


" ya tuhan nak, bapak senang banget nak, waktu itu saya ikut mencari kamu... Kapan kamu bertemu ibu mu,.... Gimana kok bisa kamu kembali nak...." kata pak edi

__ADS_1


" satu satu dong pak edi... Nak evan juga bingung jawabnya." kata kakek baskoro


" maaf... Maaaf.. Saya saking senangnya ini." kata pak edi. Evan menceritakan segalanya ke pak edi, tentang pertemuan dengan orangtuanya.


__ADS_2