
..."Sangat karib atau tidak terpisahkan"...
"Bagaimana mungkin Bu Lurah bisa gagal, Mbah Taryo? Padahal Mbah sendiri bilang kalau prewangan yang dikirim untuk membantu Bu Lurah sangat sakti." Pak Yudi berbicara berapi-api, rasanya tidak percaya dukun yang selama ini selalu berhasil menjalankan tugas tiba-tiba mengalami kegagalan.
Di ruangan itu ada tiga orang, Pak Yudi, Pak Candra, dan pria tua kisaran usia tujuh puluh tahun berpakaian serba hitam, Mbah Taryo. Kedua saudagar itu duduk berhadapan dengan Mbah Taryo, lesehan di atas tikar. Mbah Taryo terlihat tenang-tenang saja, mengelus-elus jenggot putih panjang hampir mencapai dada, tatapannya terpaku pada tikar.
"Itu karena dia kurang percaya. Bu Lurah tidak sepenuhnya yakin dengan adanya ilmu-ilmu kebatinan atau mistis."
Mbah Taryo benar, Bu Lurah menerima bantuannya hanya karena sudah tidak ada pilihan, makanya prewangan yang dikirim untuk membantu tidak bisa berbuat banyak karena tidak bisa satu pikiran. Batin Bu Lurah tetap menolak percaya pada takhayul. Padahal seharusnya, orang yang dibantu dan prewangannya itu harus sehati dan sepikiran, bagai inai dengan kuku, tidak terpisahkan dan terus saling mendukung.
Prewangan yang dikirim itu marah karena Bu Lurah hanya mau coba-coba. Masih untung dia langsung pergi. Kalau sampai murka dan balik menyerang, Bu Lurah bisa edan. Kalau Bu Lurah sudah edan sebelum pelanggan Mbah Taryo mendapatkan lahan, itu sama saja usahanya sia-sia.
"Lalu bagaimana, Mbah? Masak tidak ada cara lain? Masak kalah begitu saja, Mbah?" Nada bicara Pak Candra sangat menuntut sekaligus sarkas.
"Tunggu waktu yang tepat. Aku harus semedi dulu minta petunjuk dan bantuan para prewanganku. Lawanku kali ini sedikit merepotkan." Wajah yang sudah ditumbuhi banyak kerutan itu terlihat tetap tenang walaupun yang dibicarakannya bukan hal menyenangkan.
"Lalu soal sirep untuk orang-orang yang menentang Bu Lurah gimana, Mbah?"
"Pak Yudi, tidak usah khawater. Itu mudah diatur."
Masih sambil terus mengelus jenggot dan kepala manggut-manggut kecil, Mbah Taryo memejamkan mata. "Kalian ini pilih lawan, kok, tidak kira-kira." Dia bergumam sangat pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri.
Pak Yudi dan Pak Candra yang turut mendengar, saling bertukar pandang. Mbah Taryo mengeluh, ini belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah danyang sanggar itu memang begitu kuatnya?
"Tidak usah khawater. Aku pasti bisa mengatasinya."
Sebagai dukun hebat yang tidak pernah gagal, pantang bagi Mbah Taryo untuk terlihat ragu, apalagi sampai mundur sebelum bertempur. Meskipun lawannya kali ini tangguh, Pria tua itu tetap percaya diri karena memiliki pendukung sangat kuat yang menurutnya tanpa tanding.
_______
__ADS_1
Pukul tujuh kurang sedikit, Pak Wahyu keluar dari rumah, jalan kaki sambil menenteng rantang. Dengan alasan bahwa Jati sudah berbaik hati mengantar Ningsih ke sanggar, Bu Rusmini rela merepotkan diri sendiri untuk memberi perhatian lebih pada pria muda itu. Dia memasak cukup banyak untuk makan malam, mengemas sebagian dalam rantang untuk diberikan pada Jati.
Sebenarnya bisa diraba, niat hati seorang ibu yang memiliki anak gadis, apalagi anak gadisnya sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Di mata Bu Rusmini, Jati pria yang baik, tidak ada salahnya berusaha mendapatkan Jati sebagai menantu, daripada Ningsih dilirik oleh pria yang sudah beristri.
Gara-gara niatan hati sang istri, jadilah akhirnya Pak Wahyu menemani Jati makan malam di ruang tengah loji, lesehan sambil mengobrol.
"Pak Wahyu, sebelumnya Jati minta maaf kalau lancang ...." Jati meletakkan sendok di atas piring, berhenti makan dan menatap Pak Wahyu.
"Oh, tidak apa-apa, ngomong saja, Nak Jati." Atas permintaan Jati sendiri yang merasa risi dipanggil 'pak', akhirnya Pak Wahyu memanggilnya 'nak'. "Memangnya ada apa, to?" Pak Wahyu pun ikut berhenti makan.
"Ini soal Bu Lurah. Dengar-dengar, Bu Lurah mau bongkar punden dan sanggar. Apa benar itu, Pak?"
Pak Wahyu mengangguk. "Bener, Nak Jati. Katanya lahan mau disewakan sama orang, mau dibangun toko bangunan dan agen gitu."
"Sebaiknya jangan, Pak. Ya, maaf lagi kalau kesannya Jati ini ikut campur, Jati hanya mau mengingatkan saja."
"Oh, tidak apa-apa, tidak usah sungkan. Lagi pula, kami semua juga tidak setuju sama rencana Bu Lurah."
"Ngomong saja, Nak Jati. Tidak usah ragu."
"Emh, begini, Pak. Sebaiknya, Pak Wahyu dan yang lain berhati-hati karena sepertinya Bu Lurah mendapat bantuan dari pihak ghoib ...."
Pak Wahyu mengernyitkan dahi. "Tapi satau bapak, Bu Lurah itu pikirannya terlalu modern, tidak percaya yang begituan, lo, Nak Jati."
Terdiam, Jati menatap piring yang isinya masih banyak. Dia berpikir, kalau Bu Lurah tidak percaya hal-hal gaib, lalu bagaimana bisa ada prewangan dalam tubuhnya?
"Tapi ...." Pak Wahyu termangu.
"Tapi apa, Pak?"
__ADS_1
"Bisa jadi dua orang yang akan menyewa lahan itu yang mencari bantuan ke dukun."
Masuk akal. Jati tidak menampik kemungkinan itu. Dia paham betul kalau juragan atau para pedagang masih banyak yang menggunakan jasa dukun untuk memperlancar urusan.
"Ya, pokoknya, Jati minta Bapak harus lebih berhati-hati. Kalau Bu Lurah bersikap tidak seperti biasanya, itu perlu diwaspadai."
"Terima kasih atas peringatannya, Nak Jati." Sebenarnya Pak Wahyu ingin bertanya apakah Jati bisa melihat hal-hal gaib, tetapi tidak jadi. Rasanya, kok, tidak etis.
"Sama-sama, Pak. Mudah-mudahan semua baik-baik saja."
Tanpa diucap, keduanya sepakat mengakhiri obrolan dan melanjutkan makan dengan lahap.
Jati adalah keturunan orang sakti. Kakek canggah dari pihak ayah, dulu adalah orang pintar yang memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi. Menggunakan kemampuan di jalan kebajikan, menolong sesama, bukan mencelakai seperti dukun-dukun aliran hitam.
Waktu Jati masih di dalam kandungan, sang ibu sering bermimpi didatangi oleh kakek buyut suaminya, canggahnya si Jati itu, kadang minta makan, minta minum, dan juga menginap. Karena mimpi seperti itu sering terjadi, akhirnya para sesepuh keluarga besar Siman pun yakin kalau Jati adalah titisan Mbah Karto Wiryo Siman. Hal itu diperkuat dengan kemampuan Jati yang sudah bisa melihat dan mengobrol dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain sejak dia masih sangat kecil.
Topik tentang Bu Lurah tidak hanya menjadi bahan gosip teman makan Pak Wahyu dan Jati, tetapi juga dijadikan bahan obrolan oleh sesepuh desa dan Pak Padianto.
"Jangan membuat Mbah Danyang tambah murka. Ingatkan si Sri itu, jangan main dukun."
Mbah Mun, dianggap sebagai sesepuh tentunya tidak semata-mata karena usianya sudah tua, pasti ada faktor lain. Ya, walaupun tidak sakti mandraguna, tetapi Mbah Mun bisa merasakan, melihat, dan berkomunikasi dengan makhluk halus. Pria tua itu mendatangi Pak Padianto untuk memberitahu sekaligus memperingatkan, kalau sekarang ini Bu Lurah sedang bersekutu dengan dukun jahat.
"Sri itu tidak percaya dukun atau takhayul, lo, Mbah. Mana mungkin main dukun?" Pak Padianto menyangkal bukan karena ingin membela, melainkan hanya ingin menyampaikan apa yang dia tahu saja.
"Sri tidak sendiri. Ada temannya dua orang. Mereka orang-orang yang ada di sekitar Sri itu auranya gelap semua. Sampai wajahnya saja tidak kelihatan."
Batin merintih. Sebagai orang tua, Pak Padianto tidak ingin putri satu-satunya celaka, tetapi dia juga tidak ingin putrinya itu mencelakai banyak orang demi ambisi pribadi. Pak Padianto sebenarnya sudah bisa meraba kalau ada niat terselubung di balik keinginan Bu Lurah menyewakan lahan.
Menyewakan lahan lalu menggunakan uangnya untuk perbaikan jalan supaya desa semakin maju, hanya alasan saja.
__ADS_1
[Bersambung]