WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Hati Gatal Mata Digaruk


__ADS_3

..."Menyalahkan orang yang tidak bersalah"...


Dibawa ke rumah sakit terdekat di daerah Nganjuk, Pak Padianto dinyatakan menderita stroke. Pembuluh darah di otak pecah disebabkan oleh tekanan darah yang terlalu tinggi akibat syok.


Sebagai putri satu-satunya, Bu Lurah terlihat tidak ambil pusing pada kondisi sang ayah. Alih-alih menemaninya, Bu Lurah malah lebih mementingkan urusan pribadi. Dia berulah di sanggar dan yang menjaga Pak Padianto adalah Pak Agung.


"Apa-apaan ini, Bu Lurah?!" Tanpa takut sedikit pun, Ningsih berteriak di hadapan Bu Lurah yang datang bersama Pak Gonden, berniat menyegel pintu sanggar dengan palang kayu.


Perempuan bertubuh montok itu cukup terkejut. Untuk sesaat bibir dower merah segarnya membuka menutup, tidak tahu mau bicara apa.


Ningsih tidak terpengaruh sirep, ini di luar dugaannya. Padahal dia datang dengan percaya diri, yakin bahwa gadis itu pasti juga tidak bakal ribut lagi soal sanggar seperti para pamong di kantor desa.


Tadi pagi, Bu Lurah sudah menguji kemanjuran sirepnya dan terbukti ampuh. Saat dia sengaja mengungkit soal niat membongkar sanggar dan punden, alih-alih menentang, orang-orang di kantor desa malah bilang, terserah kebijakan Bu Lurah.


Bu Lurah tidak tahu saja kalau Pak Wahyu sebenarnya hanya berpura-pura kena sirep juga, atas anjuran Jati, untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan.


Berbekal keyakinan itu, makanya Bu Lurah berpikir kalau Ningsih pasti juga terpengaruh sirep, tetapi nyatanya tidak. Hatinya masygul dan semakin pesimis pada kemampuan dukun yang disewa Pak Yudi dan Pak Candra.


"Loh, Ningsih kok, tidak kena, Bu ...." Pak Gonden berbisik.


"Diam kamu! Dasar tidak berguna!"


Dibalas hardikan, Pak Gonden pun langsung bungkam. Padahal kerap diperlakukan sewenang-wenang, tetapi Pak Gonden masih saja mau dekat-dekat Bu Lurah.


Mau bagaimana lagi? Lha, wong, yang mengenalkan Bu Lurah dengan kedua pria yang akan menyewa lahan itu, ya, Pak Gonden sendiri. Walaupun dalam proses perundingan jarang dilibatkan, tetapi tetap saja pada akhirnya dia akan mendapatkan komisi bila lahan sanggar dan punden ini berhasil disewakan.


Demi rupiah, jadi keset pun tidak masalah, begitulah kira-kira pemikiran Pak Gonden. Pria itu diam mematung, matanya melirik ke dalam sanggar. Di sana anak-anak yang belum pernah melihat Ningsih begitu marah, berdiri ketakutan sambil saling berbisik.


"Kamu setuju atau tidak, sanggar ini akan tetap dibongkar." Akhirnya keangkuhan Bu Lurah kembali. Dagu terangkat tinggi sampai mendongak karena Ningsih jauh lebih tinggi---Bu Lurah hanya setinggi bahu Ningsih.


Mengacungkan jari telunjuk tepat di depan hidung Bu Lurah, mata Ningsih pun melotot. "Mau menantang aku? Baik ...." Tiba-tiba Ningsih mengambil salah satu kayu yang sedianya untuk menyegel pintu. Tanpa bisa dicegah, bergegas membawanya ke halaman belakang sanggar lalu melemparnya ke sungai.


Bu Lurah dan Pak Gonden hanya bisa melongo. Kayu itu tidak ringan, tetapi Ningsih mengangkatnya hanya dengan satu tangan.


Bergegas kembali, Ningsih berdiri menantang di hadapan Bu Lurah. "Sudah lihat, kan? Aku tidak main-main."


"Kurang ajar kamu, ya!"


"E, e, e! Jangan main tangan to, Bu Lurah!"

__ADS_1


Bu Lurah sudah mengangkat tangan hendak menampar Ningsih, tetapi Pak Gonden sigap menangkap tangannya.


"Minggir!" Seperti kesetanan, Bu Lurah mendorong Pak Gonden sampai terjatuh.


Berdiri berhadapan begitu dekat, Ningsih sama sekali tidak gentar. Matanya menyipit, bibir tersenyum miring. "Aku sudah bilang, kalau Bu Lurah berani mengusik sanggar ini, aku tidak akan tinggal diam! Jadi jangan salahkan---"


Plak


Kepala Ningsih sampai melengos, memejamkan mata rapat-rapat, dan  mengetatkan gigi erat. Tamparan tangan berjari-jari montok yang dihantamkan sekuat tenaga itu bukan main rasanya. Isi kepala Ningsih sampai serasa dikocok.


Tidak ingin terlihat lemah, Ningsih mengabaikan rasa panas pada pipi kirinya. Mata terbuka menatap nanar, kedua tinjunya mengepal erat, mencoba menahan diri supaya tidak membalas perbuatan Bu Lurah.


"Masih ada yang kanan kalau Bu Lurah belum puas." Ucapan yang terlontar dari sela-sela gigi yang dikatup rapat, penuh penekanan dan menantang, justru membuat Bu Lurah terpaku. Entah kenapa, tiba-tiba bulu kuduknya meremang, kepala terasa membesar, tubuh pun rasanya sangat ringan.


"Sudah, Bu Lurah ...."


"Heh!"


Saat Pak Gonden menyentuh lengannya, Bu Lurah terlonjak kaget, padahal Pak Gonden menyentuh sangat pelan.


"Tidak bisa!" Bu Lurah berteriak marah untuk menutupi gugup. "Abaikan dia! Ayo, dipasang itu---"


"Cukup, Ndok!"


Bu Rusmini datang tergopoh-gopoh bersama salah satu murid Ningsih. Tadi, karena ketakutan, salah satu murid Ningsih berinisiatif memanggil Pak Wahyu, tetapi yang ada di rumah hanya Bu Rusmini.


"Sudah, Ndok, sudah. Ayo, pulang sama ibu." Bu Rusmini mengelus-elus punggung dan bahu Ningsih untuk menenangkan. Bu Rusmini menatap Bu Lurah dengan mata sendu. "Maafkan Ningsih kalau sudah keterlaluan, Bu."


"Kenapa Ibu minta maaf? Ningsih tidak salah."


"Sudah, Ndok. Jangan ribut di sini. Pulang. Kita bicarakan di rumah." Bu Rusmini sampai berbicara memelas untuk membujuk putrinya.


"Tidak mau, Buk. Dia yang harus pergi, bukan aku." Berbicara pada sang ibu, suaranya lebih halus, tetapi tetap saja terkesan keras dan penuh penekanan.


"Aduh, Gusti. Pipimu, Ndok!" Bu Rusmini baru menyadari kalau ada bekas jari di pipi Ningsih. Tatapan matanya seketika nanar, bahkan Bu Lurah sampai refleks mundur selangkah. "Keterlaluan kamu itu, Dek Sri!"


Ehem ehem ....


Perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan Pak Wahyu yang melangkah tergesa menghampiri istri dan putrinya. "Sudah, Buk, Ndok. Ayo, pulang saja." Suaranya teduh, membujuk.

__ADS_1


"Tapi, Pak---"


"Sudah. Bapak bilang pulang, ya, pulang." Pak Wahyu mengelus pipi kiri Ningsih yang terlihat lebih tembam. "Biar di sini bapak yang urus."


Tidak bisa menolak, akhirnya Ningsih menurut. Pulang bersama sang ibu dan anak-anak pun disuruh pulang.


Menghadap Bu Lurah dan Pak Gonden, mata Pak Wahyu menatap nanar. "Hati-hati, bakal kena karma kalian. Dan kamu, Dek Sri ... awas saja kalau berani kasar lagi sama Ningsih."


Terkejut dan tidak percaya karena ternyata Pak Wahyu juga tidak terkena sirep, Bu Lurah dan Pak Gonden hanya bisa terpaku, membiarkan pria itu pergi begitu saja.


Tak lama kemudian Pak Gonden menyeletuk, "Sepertinya Pak Wahyu juga kebal, Bu."


"Dasar tidak berguna kamu ini! Aku tidak mau tau, cari kayu lagi buat nyegel pintu sanggar." Sambil bersungut-sungut, Bu Lurah pergi meninggalkan Pak Gonden.


Hati gatal, mata digaruk. Siapa yang salah, siapa yang dimarah. "Aish, selalu aku yang ketiban marah." Pak Gonden menggerutu sambil  garuk-garuk kepala.


Kabar tentang kegagalan sirep telah sampai ke Pak Yudi dan Pak Cndar. Keduanya kembali mendatangi Mbah Taryo setelah mendapat laporan dari Bu Lurah.


"Ada apa lagi kalian ini. Ganggu aku semedi." Mbah Taryo bermuka muram, sepertinya benar-benar tidak senang karena aktivitasnya terganggu.


"Begini, Mbah. Bu Lurah bilang ada warga yang kebal sirep."


"Heeem ...." Seperti biasa, Mbah Taryo mengelus-elus jenggotnya. Tetap tenang menyikapi laporan Pak Yudi. "Aku sudah mengira, pasti ada orang-orang tertentu yang tidak mempan sirep. Tapi kalau tidak merepotkan, ya, biarkan saja."


"Sangat merepotkan, Mbah. Seorang gadis, guru menari di sanggar dan ayahnya." Pak Candra memberi penekanan di setiap kata yang diucap. Tampaknya kesal sekali.


"Heeem ... pantes. Kesayangan penunggu sanggar pastinya." Mbah Taryo memejamkan mata, terdiam cukup lama, kemudian menggumam, "Prawan ayu tenan."


"Ayu tapi ngrepoti, Mbah."


"Pak Yudi tidak usah khawater. Gadis itu akan aku bereskan malam ini."


"Bagaimana dengan bapaknya. Kata Bu Lurah, dia itu Kasun yang selalu bertentangan dengannya."


"Tenang Pak Candra. Serahkan semua pada Mbah Taryo."


Melihat dukun andalan mereka tampak begitu percaya diri, kedua pria itu pun tersenyum puas.


[Bersambung]]

__ADS_1


__ADS_2