
Setelah melihat tantenya nazwa sembuh, evan meminta dr. Helmi untuk menyuruh pasien istirahat. Evan mengajak kembali nazwa dan orangtuanya ke ruangan di ikuti dr. Helmi. Sampai di ruangan evan memberikan undangan pernikahannya ke dr. Helmi dan nitip untuk dr. Bambang dan pak handoko. Karena sudah malam evan mengajak nazwa dan orangtuanya untuk pulang. Evan pun pamitan kepada dr. Helmi dan perawat disana. Evan pulang sama pak johan sedangkan nazwa pulang sama orangtuanya.
Sampai di rumah evan bersih bersih lalu mengobrol sama ibunya. Evan menyerahkan kartu undangan kepada ibunya, rencana besok mau menyuruh pak agus untuk membagikan ke tetangga rumah lama sedangkan di rumah baru hanya membagikan ke tetangga yang dekat rumah aja. setelah mengobrol mereka pun pergi istirahat.
Pagi harinya mereka menjalankan aktivitas seperti biasa, evan pergi ke kampus setelah menjemput nazwa, nita dan dina. Di fakultas ekonomi hari itu diadakan kuliah umum dari pelaku usaha. Semua mahasiswa berkumpul di Auditorium fakultas ekonomi. Nazwa dan nita pun mengikuti acara tersebut, mereka ingin mengetahui bagaimana cara mengelola perusahaan dari pelakunya langsung. Sambutan demi sambutan pun dilaksanakan. Selanjutnya pembawa acara memperkenalkan siapa pelaku usaha yang akan mengisi kuliah umum tersebut lalu mempersilahkan beliau untuk keatas podium.
Pak sandi pun naik ke atas podium, lalu menceritakan latar belakang bagaimana dia bisa membangun sebuah perusahaan, mengembangkannya sampai seperti saat ini. Setelah pak sandi menjelaskan, pembawa acara mempersilahkan untuk mahasiswa bertanya. mahasiswa yang mau bertanya dipersilahkan untuk maju ke depan, ada beberapa mahasiswa termasuk nazwa yang mau bertanya.
" perkenalkan nama saya nazwa dari jurusan manajemen, saya ingin bertanya bagaimana caranya bapak bisa bertahan dalam menghadapi persaingan, dan apa yang harus dilakukan supaya tidak kalah dalam persaingan tersebut, tentunya persaingan sehat. Terimakasih." kata nazwa. Pak sandi pun menjelaskan bagaimana caranya bertahan dan caranya supaya bisa bertahan yaitu dengan melakukan inovasi, memperbaiki pelayanan terhadap konsumen. nazwa pun turun dari podium, disaat mau kembalinke kursinya ada yang memanggilnya.
" nak.. Nak... Kamu nazwa itu kan yang di rumah perawatan kecantikan." kata bu lela sambil berdiri
" eh ibu, iya bu, saya nazwa yang di rumah perawatan kecantikan." kata nazwa lalu menghampiri bu lela, lalu menyalaminya. mahasiswa yang hadir pun heran kenapa nazwa bisa kenal sama isteri pengusaha kondang, banyak pemikiran bahwa nazwa adalah saudara pengusaha tersebut. Saat itu pak sandi pun turun dari podium
" kok ibu kenal sama adik ini." kata pak sandi
" iya kenal dong pak, dia ini calon menantu kita, calonnya nak evan. Waktu itu ibu ke tempat perawatan kecantikannya sehabis pulang dari rumah sakit,." kata bu lela, nazwa kaget mendengar ada yang menyebut evan anaknya lagi.
" pantes aja ibu tambah cantik... oh ini anak yang dibicarakan itu. Pantas saja evan buru buru mau nikah habisnya kamu cantik, tadinya kalau saya punya nak perempuan akan saya nikahkan dia sama evan, makanya si ibu bilang evan anaknya." kata pak sandi, nazwa pun menyalami pak sandi, pak sandi pun mengajak nazwa duduk di dekatnya.
" pantas saja kamu tanya seperti itu, jangan takut di dunia usaha persaingan hal yang wajar kok, hadapi saja, saya yakin evan bisa membuat terobosan terobosan. Malahan saya salut sama kalian masih muda bisa membangun sebuah perusahaan, oh iya nak evan kuliah di kampus ini juga." kata pak sandi
" iya pak, kak evan di kampus ini juga di fakultas kedokteran." jawab nazwa. Dosen yang ada disana pun tidak mengira bahwa ada mahasiswanya yang kenal sama pengusaha kondang. Pak sandi pun mengenalkan nazwa ke para dosen, bahwa nazwa adalah calon isteri anak yang baru diangkatnya.
" ibu kenapa pucat begitu, ibu sakit.." kata nazwa
__ADS_1
" enggak tau nak, kok ibu jadi pusing begini ya." kata bu lela, lalu dia pingsan, untung saja nazwa sigap menahan tubuh bu lela
" bu... Bu.. ibu kenapa." kata pak sandi, kaget mengalami kejadian tak terduga tersebut, para dosen pun kaget atas kejadian itu. Nazwa memanggil nita supaya mengantarkan handphonenya yang tadi dia titip.
" pak telepon kak evan aja pak." kata nazwa
" untung kamu ingetin saya ya... Oh iya pak dosen tolong panggilkan anak saya di fakultas kedokteran namanya evan..." kata pak sandi
" nama lengkapnya siapa pak, semester berapa." kata dosen
" evan devano putra, semester 1 pak" kata nazwa.. Sang dosen pun menghubungi fakultas kedokteran. Asistennya pak sandi pun terlihat gugup dia menelepon rumah sakit C
" pak, ibu dibawa ke rumah sakit aja, saya sudah menghubungi rumah sakit C untuk datang kesini." kata sang asisten
saat itu evan sedang mengikuti mata kuliah, tak lama ada staf yang masuk kesana dan berbicara ke dosen yang sedang mengajar.
" siapa yang namanya evan devano putra." kata sang dosen
" saya pak." jawab evan sambil mengangkat tangan
" di fakultas ekonomi ada yang membutuhkan pertolongan kamu katanya pak sandi." kata sang dosen, evan langsung berfikiran buruk, jangan jangan nazwa kenapa kenapa.
" baik pak, saya izin kesana." kata evan lalu pergi meninggalkan ruangan perkuliahan. Evan buru buru pergi ke auditorium fakultas ekonomi. Evan meminta pak johan supaya cepat cepat pergi kesana, dari pihak fakultas pun mengirim dokter pergi ke fakultas ekonomi. Evan membutuhkan waktu 7 menit untuk sampai disana. Evan diikuti pak johan masuk ke auditorium karena pak johan khawatir atas kejadian waktu itu terulang.
" kak tolongin bu lela, tadi dia pingsan, sekarang ada di ruangan itu." kata nazwa yang melihat evan datang
__ADS_1
" aku kira kamu sayang, syukur kalau kamu enggak apa apa." kata evan sambil mengelus kepala nazwa, mahasiswa yang melihat itu pun ada yang merasa cemburu, marah, iri.... Evan pun bergegas ke ruangan dimana ibu lela dibawa diantar nazwa, dokter dari fakultas kedokteran pun mengikutinya. Helikopter dari rumah sakit C pun sudah tiba, dr. Bambang dan suster pun masuk ke auditorium. Evan memeriksa kondisi bu lela
" tolong nak menjauh dari pasien dulu, saya mau memeriksanya." kata dokter yang mengira evan itu anaknya bu lela
" kamu mau apa, biar dia saja yang memeriksa." kata pak sandi
" tapi pak dia bukan dokter, dia baru semester 1 di fakultas kedokteran kami." kata sang dokter itu
" memang dia masih semester 1 tapi dia udah jadi dokter dan udah memiliki izin praktek." kata dr. Bambang
" eeeeh.... Dr. Bambang, serius pak dia itu dokter padahal masih muda dan baru belajar kedokteran." kata sang dokter
" tolong yang lainnya keluar ruangan kecuali pak sandi smaa nazwa." kata evan
" baik dokter, ayo tolong keluar ruangan ini biar dokter evan menangani pasien dulu." kata dr. Bambang. Setelah mereka keluar evan mensterilkan jarumnya, evan meminta nazwa untuk membantu membuka pakaian bu lela. Evan menusukan jarum jarumnya di punggung bu fitri sambil menyalurkan energi untuk kestabilan tubuhnya. Untungnya penyakit bu lela tidak parah. Setelah 17 menit evan mencabut jarum jarumnya, setelah mensterilkan evan menyimpan kembali jarum tersebut ke tasnya. Pak sandi pun merapihkan kembali pakaian yang terbuka
nazwa yang melihat calon suaminya itu berkeringay dia mengambil tissue yang ada di meja lalu mengelap di kening evan.
" makasih ya sayang." kata evan
" sama sama kak." jawab nazwa.
" ibu sakit apa nak." kata pak Sandi
" ibu hanya kecapaian dan suka telat makan pak, dan kemarin ibu mengalami shock akibat kecelakaan raka pak. Sekarang udah enggak apa apa kok, tinggal perlu istirahat aja, 7 menitan lagi ibu akan siuman." kata evan
__ADS_1