
..."Orang hina (miskin) berlaku sebagai orang besar (kaya); berharapkan yang bukan-bukan"...
Hujan terus turun, sungai-sungai Dusun Kidul, Kulon dan Etan, yang selama ini tidak pernah banjir meski intensitas hujan yang tercurah cukup tinggi, kini satu per satu mulai meluap.
Di sawah, parit-parit besar saluran irigasi juga turut meluber, banyak tanggul jebol, padi-padi yang sudah hampir siap panen semuanya rebah terendam air. Sawah yang seharusnya terlihat menguning indah, kini tampak seperti lautan berair cokelat.
Akan tetapi, anehnya sendang yang pada dasarnya adalah sungai kecil penuh bebatuan, diapit hamparan pasir di kiri dan kanan, airnya tidak pernah tinggi, apalagi sampai meluap dan membanjiri rumah warga sekitar, padahal, kan, hujannya merata, mengguyur seluruh Desa Pantungan tanpa terkecuali.
Di sendang itu ada sumber mata air bawah tanah yang tidak pernah kering meskipun di musim kemarau. Di tepi galian sumber mata air yang cukup dalam, dibangun dinding melingkar, seperti sumur, setinggi pinggang orang dewasa.
Di atas pasir sekitar dinding sumur, terdapat banyak kembang setaman yang ditaburkan, bahkan juga ada sesajen berupa makanan yang dibungkus daun pisang dan jajanan pasar.
Danyang penunggu sendang diyakini sebagai pelindung Dusun Lor karena memang letaknya di sana. Warga Dusun Lor yang peradabannya masih jauh lebih tertinggal dari dusun-dusun yang lain, memang lebih fanatik untuk urusan tradisi dan adat-istiadat, apalagi para sesepuh Desa Pantungan banyak yang tinggal di situ.
Dengan kejadian banyak sungai meluap dan sawah kebanjiran di dusun-dusun yang selama ini menjadikan punden sebagai pusat ritual, sementara di Dusun Lor aman-aman saja, akhirnya banyak kasak-kusuk yang menghubungkan peristiwa itu dengan Bu Lurah yang hendak membongkar sanggar dan punden.
Walaupun luapan air sungai tidak sampai menyebabkan banjir bandang, tetapi tetap saja sangat meresahkan.
Roda sepeda yang dikendarai Pak Padianto membelah air yang menggenang di jalan. Plastik bening yang dikenakan sebagai pengganti mantel, melambai-lambai diterbangkan angin, topi caping yang talinya diikat di bawah dagu pun terlihat seperti sedang berontak hendak melepaskan diri.
Pria paruh baya itu tidak hirau sama sekali, terus mengayuh melawan arah angin yang seakan-akan ingin menghempaskan tubuh ringkihnya.
Untuk bertemu putrinya pria itu sampai nekat seperti ini. Dia harus bicara dengan Bu Lurah mengenai rencana pembongkaran sanggar dan punden.
Ningsih yang sedari tadi kerap melongok ke jendela untuk mengecek ayahnya sudah pulang dari sawah atau belum, merasa prihatin saat melihat pria itu melintas di jalan depan rumah.
Mau ke mana hujan-hujan begini? Keluarganya apa tidak melarang?
"Duh, Mbah Padi. Hujan-hujan, kok ya, nekat." Bu Rusmini yang barusan muncul di sebelah Ningsih berujar miris.
"Eh?! Itu Mbah Padianto, Buk?" Wajar saja kalau Ningsih tidak mengenali orang itu adalah Pak Padianto karena memang situasinya cukup bisa mengelabui mata. "Kasihan sekali."
"Bu Lurah itu belum genap setengah tahun menjabat, sudah aneh-aneh. Seperti pacet hendak menjadi ular saja. Mungkin Pak Padi didesak para sesepuh untuk bicara sama dia."
"Tapi, ya, tidak harus sekarang---"
"Eh, Ndok. Tadi siang Pak Gonden ke sini mau minta kunci sanggar. Disuruh Bu Lurah."
Wajah manisnya seketika berubah masam. "Jangan mimpi." Tiba-tiba gadis itu beranjak, mengambil payung besar yang tergantung di tiang rumah.
"Loh, loh, kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Mau ke rumah Bu Lurah. Ningsih harus bicara---"
"Jangan nekat. Besok-besok, kan, masih bisa!"
"Tidak bisa, Buk. Ningsih tidak mau Mbah Putri keburu marah. Lihat saja keadaan desa ini sekarang. Lagian kalau besok cuacanya bagus, Ningsih mau ajak anak-anak latihan di sanggar lagi. Tidak peduli Bu Lurah mau marah atau apa. Bakal Ningsih hadapi."
"Ya, sudah. Kalau begitu ibu ikut." Bu Rusmini tidak berdaya pada kekerasan hati putrinya, yang kalau sudah ingin melakukan sesuatu tidak bakal mundur walaupun dihalang-halangi.
"Ibu di rumah saja, tunggu bapak pulang. Sudah hampir jam lima ini."
Bu Rusmini hanya bisa menatap kepergian putrinya dengan hati miris. Memperhatikan kaki Ningsih terbenam sampai ke atas mata kaki, air tetap saja menciprat meski sudah melangkah perlahan. Ningsih menarik celana kulotnya sampai ke lutut untuk menghindari basah yang lebih parah. Payung pun tidak banyak menolong karena angin membuat air hujan seperti berhamburan ke segala arah.
Sepertinya harus diadakan kerja bakti membersihkan got, sampah dan pasir pasti sudah menumpuk dan menyumbat laju air, makanya sampai luber ke jalan seperti sekarang ini. Rumah-rumah yang di dekat sungai malah sudah kemasukan air yang meluap.
Ningsih masuk ke beranda rumah Bu Lurah, Parti ada di sana sedang duduk-duduk sendiri. Motor Pak Agung tidak ada, berarti orangnya juga tidak ada. Ningsih menghela napas lega.
"Kulo nuwun, Mbak Parti!" Nigsih sampai harus berteriak untuk mengatasi berisik suara hujan dan angin.
"Monggo, Mbak Ningsih. Hujan-hujan, kok nekat, toh!"
"Mau ketemu Bu Lurah. Ada urusan penting, Mbak."
"Ngantar kunci sanggar?" Wajah Parti yang tadinya ramah tiba-tiba masam. "Mbak Ningsih mau nyerah gitu aja? Aku memang tidak bisa nari, tapi ya, tidak setuju kalau warisan leluhur yang sudah ada dari jaman dulu itu dibongkar. Mbah Danyang Gopet dan Nyai Bibet bisa marah besar."
"Aku tidak percaya yang begitu-begituan! Pokonya tidak percaya!" Bahkan di tengah hujan deras suara Bu Lurah dari arah dalam terdengar sangat jelas.
"Sedang bertengkar sama Pak Padianto." Parti menjelaskan tanpa di minta.
"Ya, sudah, aku masuk kalau begitu." Tanpa menunggu jawaban, Ningsih segera beranjak.
Di ruang depan, Bu Lurah dan Pak Padianto sedang duduk berhadapan, bersitegang. Wajah mereka sama-sama merah padam.
"Nah! Ini dia!" Kedatangan Ningsih seketika menarik perhatian Bu Lurah. Perempuan itu langsung berdiri menghampiri. "Mana kuncinya?!"
Masih di ambang pintu sudah ditodong. Ningsih kesal bukan main. "Bu Lurah jangan mimpi! Sampai kapan pun sanggar itu tetap akan berdiri di sana---"
"Tidak bisa! Besok akan ada petugas yang datang untuk survei. Berikan kuncinya!"
"Saya datang buat ngingetin Bu Lurah. Kalau Bu Lurah tetap maksa bongkar punden dan sanggar, bencana akan melanda desa ini."
"Nah! Dengarkan itu. Ndok Ningsih saja tau, lah kamu kok malah sembrono." Pak Padianto pun menghampiri. Jadilah keributan berpindah di depan pintu.
__ADS_1
Bu Lurah tambah murka. "Halah! Omong kosong saja itu, padahal alasan dia ngotot mempertahankan sanggar supaya bisa bebas diam-diam ketemu sama Mas Agung, Pak!"
Mata Ningsih yang tanpa melotot pun sudah terlihat besar, sekarang semakin terlihat lebih besar dan menonjol ke luar.
"Tarik kata-katanya, Bu Lurah." Alih-alih berteriak, gadis itu malah hanya bicara menggeram dari sela gigi yang terkatup rapat. Namun, hal itu justru membuatnya terkesan lebih angker. "Itu fitnah." Hilang rasa hormat, Ningsih menunjuk tepat di depan wajah Bu Lurah.
Aneh, Bu Lurah tidak membalas. Matanya menatap nanar dan bibir yang terkatup rapat hanya berkedut-kedut, seperti tidak bisa dibuka atau kehilangan kemampuan berbicara.
"Sudah, Ndok Ningsih. Ayo, duduk dulu---"
"Sebelum Mbah Putri sendiri yang datang menemui Bu Lurah, sebaiknya segera urungkan niat untuk membongkar punden dan sanggar. Ini tidak main-main!"
Pak Padianto pun hanya bisa diam terpaku saat merasakan aura aneh menguar dari Ningsih, sedangkan Bu Lurah langsung teringat peristiwa dua malam yang lalu. Di mana dia didatangi oleh perempuan cantik berkebaya kuning gading.
Ah! Omong kosong. Perempuan itu tetap berkeras menolak percaya takhayul.
Plak
Sangat kasar, Bu Lurah menampar tangan Ningsih. "Aku tidak takut! Setan, demit, aku tidak takut."
"Sri!"
Semua perhatian beralih ke pintu utama, di mana Pak Agung sedang melangkah bergegas.
"Bapak sama Dek Ningsih, hujan-hujan begini, kok, bisa ada di sini---"
"Pak Agung, tolong ajari istri Bapak ini untuk menjaga mulut dan kasih pengertian kalau tempat keramat itu tidak boleh seenaknya diusik! Dan satu lagi, sebaiknya Pak Agung tidak usah datang lagi ke sanggar. Ningsih tau maksud Bapak baik, tapi orang lain yang pikirannya picik bisa salah sangka."
Melirik sinis sekilas ke arah Bu Lurah, Ningsih lalu bergegas pergi, tidak hirau pada teriakan dan umpatan yang dilontarkan Bu Lurah.
__________
Dua pria tua mengenakan pakaian hitam-hitam lengkap dengan blangkon, sedang khusyuk bersemadi di depan pendupaan dalam sebuah ruangan khusus.
Mbah Mun dan Mbah Surip sedang melaksanakan ritual penolak bala untuk menenangkan amarah para danyang, supaya bencana yang lebih besar tidak menimpa Desa Pantungan.
Tidak jelas apakah hujan yang terus-menerus turun hingga menyebabkan banjir ini adalah karena murka para danyang. Sebagai sesepuh, mereka hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan---memohon perlindungan.
Mulut keduanya terus berkomat-kamit, asap dari kemenyan yang dibakar di tungku kecil pendupaan menebar aroma yang sangat kas.
Cahaya lampu cublik sebagai satu-satunya penerang, bergoyang-goyang diterpa embusan angin yang menyelusup masuk lewat celah-celah dinding papan.
__ADS_1
Begitu hening, aura kelam seolah memenuhi tempat ini.
[Bersambung]