WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Orang Tua Diajar Makan Pisang


__ADS_3

..."Orang yang sudah tahu (ahli, pandai) tidak usah diajari"...


Pertarungan antara Jati dan Ki Lodra berlangsung cukup sengit walau tidak seimbang. Jati tidak terluka sedikit pun, sedangkan Ki Lodra hampir babak belur. Sebelum benar-benar babak belur dihajar habis-habisan oleh Jati, Ki Lodra segera melarikan diri dan jiwa Jati pun kembali ke raganya.


Pasar sangat hening, biasanya juga seperti ini, tetapi rasanya keheningan kali ini sangat tidak wajar. Jati tahu, ini pasti berkat campur tangan gaib para danyang yang membuat warga untuk sementara waktu tidak bisa melewati area ini. Mengedar pandangan ke sekitar, Jati melihat sepeda motornya yang diparkir di luar pagar punden dan sepeda Ningsih yang tergeletak begitu saja. Jati pun bergegas bangkit, alih-alih mengendarai sepeda motornya, dia malah menuntun sepeda Ningsih.


Untuk sementara permasalahan di Desa Pantungan sudah teratasi. Di waktu yang sama, di Hutan Winangan tempat tinggal Ki Tumenggung, Ki Gopet bertamu dan sekarang keduanya tengah bercengkerama dalam suasana yang tidak ramah.


"Dulu kamu tidak setuju kita hidup berdampingan dengan manusia, tapi sekarang kamu malah jadi budak manusia." Ki Gopet berujar dengan nada sarkas.


Di hutan ini, pohon-pohon besar tinggi menjulang, tumbuhan merambat melilit batang---menutup permukaan kulitnya hingga ada yang bergelantungan di dahan---dedaunan rapat bagai atap, semak-semak pun begitu rimbun dan tingginya hampir separuh tinggi pohon. Di atas tanah berumput tinggi yang dihuni berbagai macam binatang melata, Ki Gopet berdiri berhadapan dengan Ki Tumenggung---sama tinggi dan sama besar.


Melipat kedua tangan di depan dada, mulut siluman lutung terkatup rapat, mata menatap nanar---menegaskan permusuhan---dipermukaan tampak angkuh, tetapi sebenarnya dalam hati merasa sangat tertohok oleh perkataan Ki Gopet.


Ki Gopet sengaja datang dengan niat baik, meminta supaya Ki Tumenggung tidak lagi ikut campur urusan para manusia. Kalimat sama persis dengan yang telah diucapkan Jati pada Ki Lodra bagaikan bumerang---menyerang balik prinsip Ki Tumenggung.


"Aku bukan budak manusia! Aku hanya memanfaatkan mereka!" Masih berusaha mengelak, suaranya menggelegar seperti geledek.


Mana mungkin mau mengakui terang-terangan bahwa dirinya telah melanggar prinsip sendiri. Orang tua diajar makan pisang. Ki Gopet sudah sangat hafal tabiat siluman lutung, tidak ada gunanya dia mengelak.


"Memanfaatkan? Dengan cara mengikat kontrak dengan mereka lalu manut saja disuruh ini itu. Apa bedanya dengan budak, huh?"


"Tarik kata-katamu, Gopet!" Raung kemarahan Ki Tumenggung sampai menggetarkan alam sekitar. Alih-alih kabur bersembunyi, para jin prewangan malah menampakkan diri, hendak maju menyerang karena berpikir sang junjungan butuh bantuan. "Jangan ada yang mendekat!"


Raungan itu membuat mereka serta-merta mundur, tetapi tidak meninggalkan area, mengintip dari balik pohon, semak-semak, juga ada yang di atas pohon.


"Tidak! Tidak ada yang salah dengan perkataanku karena itu kenyataannya." Ki Gopet masih tetap tenang. Jangankan marah, dia malah tersenyum penuh arti untuk membuat Ki Tumenggung semakin kesal.


"Aaarrrggghhh! Lawan aku, Gopet! Akan aku robek mulut lancangmu!" Tangan Ki Tumenggung mengayun ke depan hendak memukul Ki Gopet, tetapi Danyang Punden Desa Pantungan itu bertransformasi ke ukuran manusia, lalu memelesat ke udara dan mendarat di bahu Ki Tumenggung.


"Aku akan meladeni tantanganmu. Tapi dengan satu perjanjian---"


"Kurang ajar!"


Menghindari sapuan tangan Ki Tumenggung, Ki Gopet berjumpalitan di udara lalu mendarat di salah satu cabang pohon dan berkata, "Kalau aku berhasil mengalahkanmu, kamu tidak boleh lagi ikut campur urusan Desa Pantungan."


Bagi Ki Tumenggung lebih baik kalah dalam pertarungan daripada harus mengakui telah melanggar prinsip sendiri. Kalah dalam pertarungan setidaknya harga diri masih terjaga. Dia bukan pengecut.


"Baik! Dan kalau aku yang menang, Hutan dan Desa Panjuran akan menjadi wilayah kekuasaanku!"


Tersenyum tipis, Ki Gopet menganggukkan kepala. Dia tidak akan kalah karena tahu betul kelemahan Ki Tumenggung. Pertarungan hanya akan menjadi seperti formalitas karena Ki Gopet sendiri tidak ingin mempermalukan Ki Tumenggung begitu saja.


Ukuran raksasa tidak jaminan bahwa Ki Tumenggung bisa dengan mudah menindas Ki Gopet yang hanya seukuran manusia. Justru dalam ukuran manusia, Ki Gopet bisa lebih leluasa mengerjai Ki Tumenggung. Danyang Punden Desa Pantungan itu berjumpalitan menghindari sapuan tangan lawan, lalu mendarat di kepalanya.

__ADS_1


"Jangan kurang ajar, Gopet!" Siluman lutung itu meraung sambil mengayun tangan ke atas hendak menggencet Ki Gopet, tetapi akhirnya justru memukul kepala sendiri karena sasaran sudah melompat pergi. "Gopeeet!"


Dalam sekejap tubuh Ki Tumenggung berubah menjadi gumpalan cahaya merah, lalu mengejar Ki Gopet ke mana pun. Mengimbangi lawan yang dalam bentuk cahaya pergerakannya sangat gesit, Ki Gopet pun bertransformasi menjadi gumpalan cahaya kuning keemasan.


Kedua cahaya beda warna itu saling menyerang dan terkadang berkejaran. Di lain waktu berbenturan hingga menimbulkan percikan bunga api, tetapi di lain kesempatan berbenturan sangat keras menyebabkan keduanya sama-sama terpental. Ada saat kedua cahaya itu sama-sama berputar cepat, hingga bayangan yang berkelebat menyerupai cincin raksasa.


setelah dirasa cukup bermain-mainnya, Ki Gopet pun bertranformasi lagi. Kali ini wujudnya adalah keris emas, membuat cahaya Ki Tumenggung serta-merta redup, kemudian kembali berubah ke wujud asli. Namun, segera setelahnya sosok siluman lutung lenyap dan hanya meninggalkan suara raungan panjang yang menggetarkan seluruh hutan.


Ki Gopet pun kembali ke wujud manusia. Di tangan kanannya memegang sebuah keris bercahaya keemasan. Keris itu adalah kelemahan Ki Tumenggung, hanya dengan melihat saja tubuhnya bisa lemas dan seluruh kekuatannya pun melemah.


"Hasilnya sudah pasti, Tumenggung! Aku pamit! Kamu jangan coba-coba menipu kalau tidak ingin keris ini mendatangimu dan akan aku porak-porandakan tempat tinggalmu."


Tidak menunggu respons karena keberadaan Ki Tumenggung pun tidak tahu di mana, Ki Gopet segera menghilang. Sementara itu, Ki Tumenggung yang tenaganya tiba-tiba terkuras, sedang tengkurap di lantai gua tempat tinggalnya.


"Bagaimana bisa keris itu masih ada di tangannya? Jangan-jangan sebenarnya keris pusaka itu tidak pernah hilang. Dasar licik." Dalam keadaan tidak berdaya, Ki Tumenggung hanya bisa menyumpah serapah dan sudah tentu tidak bisa berkomunikasi dengan Mbah Taryo untuk memperingatkan.


Tidak mengetahui jika Ki Tumenggung tengah dalam masa memulihkan tenaga, dua hari kemudian Mbah Taryo bersama Pak Yudi dan Pak Candra pun melakukan perjalanan untuk mendatangi Bu Lurah.


Di pihak Bu Lurah sendiri kejadian dua hari lalu itu rasa-rasanya hanya seperti mimpi. Ingatannya hanya samar-samar. Bila dipaksakan untuk mengingat lagi, kepala sangat sakit seperti ditusuk-tusuk.


Dua hari ini, bayangan Ningsih kerap muncul, baik di dalam mimpi maupun saat sedang melamum, membuat ingatannya semakin tidak jelas mana yang nyata dan mana yang mimpi atau ilusi.


Dalam hati, Bu Lurah mulai merasa sedikit waswas bila bertemu Ningsih, tetapi nyatanya gadis itu terlihat biasa saja. Walau tidak ramah, tetapi juga tidak terang-terangan menunjukkan kemarahan.


Pulang dari kantor desa, Bu Lurah tidak langsung mengganti pakaian atau makan dulu, tetapi duduk di ruang tengah sambil sibuk mencari-cari di dalam tas yang biasa dia bawa kerja. Map hijau berisi tumpukan kertas cukup tebal ditarik ke luar dan selembar kertas brosur yang menempel di luar map pun terjatuh.


Bu Lurah buru-buru memungutnya Kemudian tertegun memandangi brosur mobil yang sudah cukup lama memang tersimpan di dalam tas itu. Menghela napas panjang, hasrat hati Bu Lurah untuk memiliki mobil kembali menggelora.


Lurah dari desa miskin, apa hebatnya? Tetap saja naik motor butut.


Perkataan yang dilontarkan oleh salah seorang yang dia pikir sahabat saat sedang bergosip di acara reuni,  sampai sekarang masih sering terngiang-ngiang.


Bu Sriwedari, naik apa ke sini? Wah, kalau tau sampeyan naik bus, bisa aku jemput tadi. Kan, aku nyetir mobil sendiri lewat daerahnya Bu Sri.


Ujaran-ujaran semacam itu, seolah bersimpati pada nasib Bu Lurah, padahal sebenarnya bertujuan meremehkan, kerap dia dapat saat ada agenda khusus di kabupaten atau kecamatan.


Geram, tanpa sadar Bu lurah meremas kertas brosur di tangannya. Dia tersentak kaget saat Parti tiba-tiba masuk.


"Ada apa?"


"Ada tamu, Bu. Sudah menunggu di ruang tamu."


"Siapa?"

__ADS_1


"Tiga orang pria. Yang dua sudah sering datang, tapi yang satu baru sekali ini datang."


"Hem."


Di ruang tamu Bu Lurah mendapati Pak Yudi, Pak Candra, dan Mbah Taryo. Duduk setelah berbasa-basi, dahi Bu Lurah mengernyit, mata memicing, wajahnya tampak tidak antusias melihat kehadiran pria tua berambut panjang kusut, blangkon batik yang dikenakan juga sudah kusam, baju serba hitamnya seakan menebar aroma kemenyan yang sangat kental, ditambah lagi janggut panjang yang terus di elus-elus itu juga tampak menggelikan.


Mbah Taryo tidak hirau pada sikap Bu Lurah yang seakan memandang remeh dan jijik padanya. "Kita ke sanggar sekarang," ujarnya tenang tanpa basa-basi sambil menatap Bu Lurah tanpa berkedip.


"Untuk apa ke sana?" Bu Lurah menyeletuk seperti orang lupa pada kepentingannya.


Pak Yudi terkekeh. "Bu Lurah tidak lupa kita sudah keluar uang banyak untuk uang muka lahan sanggar itu, kan?"


"Tapi ...." Bu Lurah tiba-tiba seperti kehilangan kata-kata. Mbah Taryo menatap terpaku padanya. Membuat jiwa perempuan itu merasa gelisah. "Ba-baiklah, kita ke sana sekarang."


Pak Yudi dan Pak Candra saling bertukar pandang puas. Mbah Taryo memang bisa diandalkan.


Saat keluar dari rumah lalu mengendarai sepeda motornya, Bu Lurah tidak mengetahui kalau di dalam mobil Pak Yudi dan Pak Candra ada beberapa pria lainnya. Akan tetapi, saat sampai di sanggar dia terkejut tiba-tiba ada lima orang keluar dari mobil sambil membawa macam-macam peralatan untuk merobohkan bangunan.


"Loh, kok banyak orang?!"


"Kami berencana membongkar sanggarnya dulu, Bu Lurah. Pundenya nanti belakangan."


"Kok, tidak dibicarakan dulu. Pak Yudi ini bagaimana---"


"Ingat, Bu. Uang muka yang kami berikan tidak sedikit. Dan kami tidak mau menunda-nunda lagi. Makanya Mbah Taryo kami ajak."


"Lagi pula, bukannya Bu Lurah sudah setuju sanggar ini boleh dirobohkan kapan pun kami mau. Kesepakatan hitam di atas putih pun sudah, mau tunggu apa lagi?" Pak Candra menimpali.


Bu Lurah termenung. Tiba-tiba hatinya merasa gamang, ini baru terjadi untuk pertama kalinya. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang sangat berat membebani hatinya. Akan tetapi, dia tidak mungkin mundur karena apa yang mereka katakan benar.


Mbah Taryo menatap Bu Lurah. "Tidak usah khawater, ada aku di sini."


Brak


Mereka terlonjak kaget. Pintu sanggar tiba-tiba terbuka dan Ningsih berdiri di ambang pintu masih dalam balutan seragam guru.


"Kalian mau apa?"


Pak Yudi dan Pak Candra refleks merapat pada Mbah Taryo. Beda dengan Bu Lurah dan Ningsih yang ingatannya tentang peristiwa dua hari itu tidak jelas, ingatan Pak Yudi dan Pak Candra sudah tentu sangat-sangat jelas. Ningsih tidak ingat pada peristiwa dua hari yang lalu karena yang waktu itu mengamuk adalah Mbah Jumini.


Mata belo gadis itu bergulir ke sana-kemari, menatap orang-orang satu per satu, lalu beralih pada benda-benda yang mereka pegang.


"Kalian mau membongkar sanggar?!" Ningsih maju, menutup pintu lalu berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. "Tidak akan aku biarkan!"

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2