
..."Berbadan kurus dan bermuka pucat"...
Berdiri di pertigaan jalan dekat pintu utara pasar, mata Jati menatap tajam pada tanah yang dulu pernah digali Pak Gonden. Di dalam sana, ayam hitam yang dikubur masih terus mengeluarkan asap hitam.
Sejenak telapak tangan kanannya mengepal, mulut berkomat-kamit sambil perlahan berjongkok, kemudian tangannya menapak di atas bekas galian, bercahaya sangat terang menembus ke dalam tanah lalu membungkus bangkai ayam hitam.
Saat tiba-tiba bangkai ayam itu bergerak, meronta-ronta dan terdengar suara menggeram-geram, tangan Jati menekan semakin kuat, mulutnya sangat cepat terus merapal aji-aji.
"Pergi dari sini dengan cara baik-baik atau perlu aku kasari, huh?"
Suara menggeram-geram dari dalam tanah semakin terdengar jelas. "Jangan ikut campur!"
"Kamu mengganggu ketentraman manusia, tentu saja aku harus ikut campur." Tenang dan halus tutur katanya, tetapi tegas mengandung ancaman.
Tiba-tiba dari segala penjuru muncul gumpalan asap hitam bercahaya kemerahan, dengan suara seperti sabetan kain, memelesat cepat ke arah Jati. Tanpa menoleh, pria muda itu menarik sorbannya. Begitu terlepas dari kepala, kain putih panjang dalam sekejap berubah menjadi cambuk, sekali disentak langsung bergerak sendiri, mengayun ke sana-kemari untuk menyerang sekaligus melindungi Jati.
"Heem, tambeng. Baik kalau begitu maunya." Telapak tangan Jati mencengkeram tanah kuat-kuat hingga terjadi guncangan gempa.
(Tambeng: keras kepala; bandel)
Semakin lama tangan Jati amblas ke dalam tanah. Seiring cahaya dari telapak menggulung semakin kuat, suara menggeram itu pun kini meraung-raung minta ampun.
Bersamaan dengan Jati menarik tangan kanannya, cambuk di tangan kiri memanjang sangat cepat lalu ujungnya membelok---membuat lingkaran seperti ****---mengikat semua jin yang menyerang menjadi satu. Kegaduhan yang mereka timbulkan sangat memekakkan telinga. Meraung, menjerit, juga ada yang melolong seperti serigala.
Jati melempar jin yang barusan dia tarik dari dalam tanah, menjadi satu dengan para jin yang telah terikat, lalu menciptakan balon cahaya dari kedua telapak tangan untuk mengurung mereka di dalamnya, langkah terakhir yang dia ambil adalah melakukan tendangan melingkar sangat cepat sambil terbang dan balon cahaya itu terpental ke udara.
Jin-jin bertubuh kurus, bermuka pucat---seperti mayat ditegakkan---dikirim kembali ke alamnya, yaitu Hutan Winangan.
Satu sudah dibereskan, masih ada dua lagi di perbatasan Dusun Kulon dan Dusun Lor, lalu di Dusun Lor sendiri. Jati melangkah tenang ke arah utara. Sosoknya hilang muncul dan tahu-tahu sudah berada sangat jauh dari tempat semula.
Sementara itu di punden dan sekitarnya, hujan turun sangat-sangat deras, langit gelap gulita sesekali benderang oleh kilat yang menyambar, guntur pun tidak henti-hentinya menggelegar, dan angin bertiup seperti mengamuk. Sayup-sayup suara gamelan juga masih terdengar.
Berjalan sambil merambat pata pagar dan pepohonan yang tumbuh di sekitar, akhirnya salah seorang murid Mbah Taryo berhasil mengambil tali yang telah diikat ke pohon jati. Menggunakan tali itu, mereka semua susah payah berhasil sampai ke teras sanggar tanpa dihempaskan angin.
Mereka tidak menyadari kalau fenomena itu hanya mendera mereka yang sudah berniat jahat ingin merusak tempat keramat. Selain di area punden dan sanggar, suasana terlihat tenang-tenang saja.
"Kurang ajar, anak muda itu sudah berhasil memusnahkan sebagian sirep." Orang yang tadi dilempar helm menggeram marah.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana, Kang?!" Salah satu temannya bertanya dengan berteriak untuk mengatasi suara angin.
"Mbah Taryo mengirim kita hanya untuk coba-coba. Setelah hujan angin ini reda, kita pulang. Biar Mbah Taryo dan Ki Tumenggung sendiri yang turun tangan."
"Loh, loh, masa pulang tanpa hasil to, Kang Paidi!" Pak Yudi kesal luar biasa.
"Mbah Taryo sendiri berpesan, kalau tidak sanggup, jangan memaksakan diri. Mbah Taryo sendiri yang akan turun tangan!" Tidak kalah kesal, pria bernama Paidi ini berteriak gusar.
"Bagaimana kalau kita robohkan sanggarnya!"
"Kalau dirobohkan kita mau berteduh di mana, Pak Candra?!" Pak Paidi, pria korban pelemparan helm, semakin tambah gusar. "Berteduh di pasar? Memangnya mau diterbangkan angin?!" Tali yang tadi digunakan sudah diterbangkan angin, entah di mana sekarang.
Pak Candra sudah membuka mulut hendak membalas perkataan Pak Paidi yang terdengar kurang ajar, tetapi urung dan kembali dikatupkan saat suara gamelan tiba-tiba terdengar sangat jelas, berasal dari dalam sanggar.
Keenam pria itu saling bertukar pandang. Pak Yudi yang tidak bisa menahan rasa penasaran, berniat mengintip dari celah dinding papan, tetapi baru saja hendak menempelkan dahi ke dinding, tubuhnya tiba-tiba terpental sampai keluar dari teras, disambut angin dahsyat lalu dihempaskan kembali ke dinding.
Kejadiannya begitu cepat, yang lain hanya bisa melongo syok tanpa bisa berbuat apa-apa. Mengerang kesakitan, Pak Yudi menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Baru saja Pak Paidi membungkuk hendak membantu Pak Yudi berdiri, tiba-tiba terjadi guncangan sangat hebat.
Satu gumpalan cahaya datang mengelilingi mereka, sedetik kemudian, keenam tubuh itu jatuh bergelimpangan di atas tikar dalam sebuah ruangan, aroma tajam kemenyan yang terbakar di tungku pemujaan serasa menusuk hidung.
Keempat murid Mbah Taryo segera bersimpuh menyembah sembari mengucap terima kasih bersamaan, sedangkan Pak Yudi dan Pak Candra buru-buru merapat ke dinding, ketakutan, karena belum pernah melihat Ki Tumenggung.
"Lihat saja pembalasanku." Sambil mengelus-elus jenggotnya, Mbah Taryo menggumam. "Bocah itu tidak bisa diremehkan juga."
"Sudah aku bilang jangan meremehkannya. Ki Karto Wiryo Siman orang yang sudah mengalahkan Ki Guru Gede ada di dalam tubuhnya. Terlalu jumawa, kamu bisa bernasib sama dengan gurumu!"
Masih sambil terus mengelus jenggotnya, wajah Mbah Taryo tampak begitu tenang. "Hancurkan tubuh pemuda itu, beres."
"Tidak semudah itu. Tapi aku sudah mengirim Lodra. Ratusan jin prewanganku sudah dikalahkan. Kurang ajar!"
Siapa yang menyangka kalau urusan yang tadinya hanya sepele, tentang pertentangan pembongkaran sanggar dan punden akan merembet kemana-mana---kembali mempertemukan mereka-mereka yang di masa lampau pernah saling berseteru.
Dulu, Panjuran, Pantungan, dan Winangan adalah satu kawasan. Sewaktu masih berupa hutan, Ki Gopet, Nyai Bibet, dan Ki Tumenggung adalah penguasanya. Namun, hubungan baik mereka rusak karena Ki Tumenggung tidak rela tempat mereka dijadikan pemukiman penduduk. Dia tidak mau hidup berdampingan dengan manusia yang menurutnya sangat tamak.
Karena Ki Gopet dan Nyai Bibet tetap bersikukuh dengan niatnya, akhirnya Ki Tumenggung murka dan bersembunyi di Hutan Winangan. Menjadikan hutan itu kerajaan jin prewangan, tidak terjamah manusia, dan sangat angker. Dulu, Ki Guru Gede adalah satu-satunya orang yang berani masuk dan bertapa di Hutan Winangan, mampu meluluhkan hati Ki Tumenggung hingga bersedia menjadikannya murid.
Tidak disangka, ternyata Ki Gopet juga telah memilih seorang anak manusia istimewa untuk dijadikan muridnya, dia adalah Ki Sukoharjo Siman, kakek buyut Ki Karto Wiryo Siman, yang pada akhirnya menurunkan semua kemampuannya pada sang buyut, kemudian sampailah pada Jati Siman.
__ADS_1
Permusuhan mereka terus berlangsung turun-menurun, di dunia gaib, wilayah Panjuran masih menjadi sengketa walaupun pada kenyataannya sebagian sudah menjadi tempat pemukiman manusia.
Sementara itu di dunia lain, setelah berjumpalitan di udara, Jati mendarat dalam posisi kuda-kuda waspada. Kaki kiri lurus ke belakang, sedangkan lutut kaki kanan tertekuk rendah, tubuh tegak dan kedua tangan memegang cambuk erat-erat---merentangkannya lurus di depan dada.
"Tubuh barumu lumayan juga, Ki Karto." Siluman lutung kepercayaan Ki Tumenggung ini matanya merah menyala menatap tajam dan suaranya serak berat seperti dalam gorong-gorong
"Kamu salah, Lodra. Dia ini bukan wadahku. Aku hanya numpang tidur di tubuhnya. Yang kamu hadapi murni dirinya sendiri yang sudah menguasai ilmu ngrogo sukmo." Suara ini bertebaran di udara, diombang-ambingkan angin sehingga terdengar bias.
(Ngrogo sukmo: raga sukma; ilmu tingkat tinggi yang mana seseorang, rohnya bisa ke luar dari raga)
Wajah siluman lutung itu terlihat syok. Masih sangat muda sudah menguasai ilmu tingkat tinggi, tidak bisa dipercaya. Ki Lodra yakin dalam prosesnya pasti ada campur tangan Ki Karto Wiryo Siman, tetapi tetap saja menakjubkan.
"Heeem ... kalau begitu serang aku, jangan hanya menghindar!"
"Maaf, Ki Lodra. Eyang pernah bilang kalau kalian bangsa siluman lutung tidak suka hidup berdampingan dengan manusia yang kalian anggap tamak, tapi kenapa sekarang malah mau saja diperbudak oleh manusia?"
"Kurang ajar. Jangan bicara sembarangan! Kamilah yang memperbudak mereka!"
Ucapan Jati telah menyinggung siluman lutung. Makhluk raksasa itu mengayunkan tangan ke arah Jati, tetapi pria muda itu melenting ke atas, bersalto di udara hingga melampaui kepala Ki Lodra, lalu menukik turun sambil mengayunkan cambuknya.Benda putih panjang nan lentur itu melilit leher Ki Lodra. Tangan panjang makhluk itu mengayun ke atas hendak menangkap Jati, tetapi pria muda itu terlalu gesit.
Sambil berjumpalitan menghindar, dia menggunakan kedua tangannya untuk mengayunkan cambuk beserta tubuh raksasa itu ke udara. Terlihat sangat ringan, bahkan wajahnya tampak tetap tenang. Ketika tubuh siluman lutung itu terbanting ke tanah, terdengar suara kekehan Ki Karto Wiryo Siman.
"Masih belum mau menyerah, Lodra?"
"Aaarrrhhhggg!" Ki Lodra meraung sambil menarik sorban Jati yang masih membelit lehernya.
Tubuh Jati melayang hanya untuk mengimbangi kekuatan Ki Lodra yang menariknya, karena kalo dia melawan dengan cara menarik diri, bisa-bisa malah memberi kesempatan siluman lutung itu untuk menangkapnya lewat pantulan sorban.
Setelah melayang memutar, Jati mendarat sebentar lalu melenting cepat ke arah wajah Ki Lodra. Gerakannya secepat kilat menyambar, tahu-tahu kepala Ki Lodra ditendang hingga mendongak dan darah muncrat dari hidungnya, raungan panjang kesakitan siluman itu menggetarkan alam sekitar.
Melihat Jati melayang turun, tangan Ki Lodra menebas ke arahnya. Gerakan siluman itu tidak gesit karena sambil menahan rasa sakit, alih-alih menghindar jauh, Jati malah hanya melompat lalu mendarat di bahu Ki Lodra.
"Kurang ajar!" Ki Lodra mengayun tangan hendak memukul Jati, tetapi pria muda itu sudah melenting menghindar, akibatnya tangan Ki Lodra yang bernafsu menghajar Jati malah mengenai diri sendiri.
Suara tawa terbahak-bahak Ki Karto Wiryo seketika menggema di udara.
[Bersambung]
__ADS_1