
..."Mendapat teguran atau peringatan"...
Peringatan dari Bu Lurah sama sekali tidak Ningsih hiraukan. Gadis itu benar-benar sudah siap untuk memperjuangkan sanggar yang dia cintai. Kalau nanti Bu Lurah dan orang-orang yang kemarin itu datang lagi, Ningsih tidak akan sungkan lagi untuk bertindak tegas.
"Buk, Ningsih ke sanggar dulu!" Sembari memeriksa isi tas kain bawaannya---khawatir lupa bawa payung---Ningsih melangkah ke beranda.
"Iya." Bu Rusmini keluar dari kamar, menyusul Ningsih. Rambutnya dikepang satu, rapi. Bajunya juga bukan daster seperti biasanya, ini rok panjang bunga-bunga dipadukan dengan kaos berkerah warna kuning.
Dahi Ningsih mengernyit. "Mau ke mana, to, Buk?"
"Mau ke loji. Pak Mantri Kusno pindahannya dipercepat, Pak Jati sore ini datang. Ibu sama Parti mau beres-beres dulu di sana."
Loji itu juga salah satu bangunan peninggalan zaman Belanda. Letaknya tepat di samping kiri gapura desa, tidak jauh dari area persawahan. Sudah tua dan usang, tetapi terawat karena ada penghuninya. Secara turun-temurun, loji diperuntukkan bagi para mantri hutan yang bertugas di hutan wilayah Kecamatan Saradan Timur. Desa Pantungan termasuk di antaranya.
"Ya sudah, Ningsih ke sanggar dulu, Buk." Langkah Ningsih tertahan oleh suara mesin sepeda motor yang memasuki pelataran. Si pengedara seorang pria muda, wajahnya sudah tidak asing lagi.
"Loh, Pak Jati ...." Bu Rusmini buru-buru menghampiri diikuti oleh Ningsih.
"Selamat sore, Bu Rusmini, Dek Ningsih." Senyumnya terkembang lebar. Tidak ada lesung pipi, hanya cekungan kecil seperti titik tepat di sudut-sudut bibir, tetapi itu saja sudah cukup membuat paras pria muda itu terlihat semakin menyenangkan untuk dilihat.
Dan senyum Jati itu seperti magnet yang mampu membuat kedua sudut bibir Ningsih tertarik ke samping, tidak mau kalah pamer lesung pipi yang membuat parasnya semakin ayu.
"Kok, sudah datang, Pak? Padahal perkiraan masih nanti jam limaan gitu."
"Ibu ini gimana, to? Sudah datang, ya, sudah. Kok, malah diprotes," ujar Ningsih bercanda.
"Ibu ini tidak protes. Cuma ngomong saja, lo."
Jati terkekeh ringan. "Saya, kan, cuma naik motor, Bu. Barang bawaan juga tidak banyak jadi langsung sekali angkut. Kalau datang kesorean, takutnya hujan."
"Selamat datang, Mas Jati. Tapi maaf, Ningsih tinggal dulu, mau ke sanggar."
"Wah, kalau tidak keberatan biar tak antar."
__ADS_1
"Tidak usah repot-repot, Mas. Lagian sanggarnya dekat, kok."
"Tidak apa-apa, tidak repot. Aku mau sekalian lihat-lihat."
Sempat tarik-ulur sebentar sebelum akhirnya Ningsih menerima tawaran Jati. Sesampai di sanggar ternyata Bu Lurah sudah menunggu. Anak-anak terlihat menjaga jarak, berdiri bergerombol di sudut teras, sedangkan Bu Lurah berdiri tepat di depan pintu.
Sebenarnya Jati berniat segera pergi, tetapi karena ada Bu Lurah, akhirnya mampir untuk menyapa. Ningsih pun terpaksa beramah-tamah meskipun hatinya kesal karena cara Bu Lurah menatap seperti merendahkan. Pasti Bu Lurah berpikir Ningsih gadis gampangan. Mau saja dibonceng orang yang baru dikenal.
Menyadari tatapan Bu Lurah, Jati merasa perlu untuk meluruskan. "Tadi saya mampir ke rumah Bu Rusmini, ya, sekalian saja nawari ngantar Dek Ningsih ke sini. Kebetulan sekali ketemu Bu Lurah."
"Tidak apa-apa, tapi ya, Pak Jati tau sendiri, to, orang-orang kampung itu gimana mulutnya. Hati-hati saja."
Menekan perasaan kesalnya, Ningsih hendak melewati Bu Lurah untuk membuka pintu, tetapi perempuan itu mencekal lengannya.
"Aku butuh kunci sanggar, lo, Dek." Nada suaranya terdengar mendayu, seperti sedang merayu, tetapi tatapan tajam dan ada aura menekan.
Hah?! Mata Jati melebar, syok dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mata Bu Lurah bersinar, sinar itu meluncur keluar hendak masuk ke mata Ningsih. Refleks, tubuh Jati seperti bergerak sendiri, maju dengan niat melindungi Ningsih, tetapi refleks juga kakinya terpaku di tempat ketika tiba-tiba muncul perempuan berkebaya kuning gading tepat di depan Ningsih.
Terjadi begitu cepat, sinar itu mengenai mata Mbah Putri, memantul, lalu kembali masuk ke dalam mata Bu Lurah. Menjerit tertahan, tangan Bu Lurah bergerak cepat menutup matanya. Jati yang masih diam terpaku, terkesiap dan langsung gelagapan saat Mbah Putri menatapnya, buru-buru pria muda itu menunduk sopan.
"Nyuwun sewu. Jati tidak ada niat buruk, Mbah Danyang."
"Gunakan kemampuanmu untuk berbuat kebaikan."
"Iya, Mbah Danyang. Jati paham."
Eh!? Ketika kembali mengangkat wajah, alih-alih berhadapan dengan Mbah Putri, yang ada malah Ningsih sedang menatapnya. Dahi gadis itu mengernyit dan matanya menyipit.
Belum sempat bertanya, perhatian Ningsih teralihkan oleh Bu Lurah yang melangkah pergi. Kaki perempuan itu seperti tidak bertenaga, kedua tangan menggantung lemas, mata menatap kosong lurus ke depan. Seperti orang linglung terus melangkah meninggalkan sepeda motornya di pelataran sanggar.
"Loh, sepeda motornya kok, ditinggal. Bu Lurah juga kelihatan aneh, jalan kayak orang tidak sadar begitu." Ningsih bergumam.
__ADS_1
Ehem, ehem ....
Ningsih menoleh. Dia tahu Jati berdeham untuk menarik perhatian. Sebenarnya gadis itu ingin bertanya, kenapa tadi Jati menunduk sopan padanya, tetapi tidak jadi. Dia tidak mau dianggap gede rasa atau apalah.
"Oh, iya. Terima kasih, Mas Jati, Ningsih sudah diantar," ujarnya berbasa-basi.
Sikap Ningsih yang tampak biasa, membuat Jati berasumsi kalau gadis itu tidak menyadari apa yang barusan terjadi. Jati tahu, barusan Bu Lurah hendak menghipnotis Ningsih atau lebih tepatnya mengguna-gunai. Ada kekuatan sirep dalam matanya, tetapi kalah oleh tatapan Mbah Putri.
Aneh saja rasanya, kok, bisa semudah itu dikalahkan. Tanpa perlawanan pula. Bahkan sirepnya berbalik mengenai Bu Lurah sendiri. Entah kenapa juga, hatinya sama sekali tidak tergerak untuk mengejar Bu Lurah.
Tersenyum sewajarnya lalu Jati mengalihkan pandangan pada anak-anak yang masih berdiri di sudut teras, tampak malu-malu.
"Yang latihan lumayan banyak, ya, Dek Ning," ujarnya sungguh-sungguh.
"Iya, Mas." Ningsih melambai. "Anak-anak, sini. Kenalan sama Pak Mantri Hutan yang baru."
Wajah Ningsih sangat semringah. Jati adalah satu-satunya orang yang mengatakan murid menarinya cukup banyak. Ketulusan bisa Ningsih rasakan dari ucapan pria muda itu. Sepertinya, Jati tahu bagaimana cara memberi apresiasi pada harapan dan tekad Ningsih yang ingin kembali melestarikan sanggar ini dengan kata-katanya yang sangat sederhana, tetapi jitu.
__________
Tin tin tin ....
Suara klakson mobil pick up membuat Bu Lurah terlonjak kaget. Alih-alih bergegas menepi, perempuan itu malah berdiri sambil celangak-celinguk di tengah jalan, seperti tidak menyadari ada mobil yang berhenti menunggu untuk bisa lewat.
Tin tin ....
Astaga! Bu Lurah terkejut setengah mati dan buru-buru menepi.
Si pengemudi mobil pasti bukan warga Desa Pantungan, karena tidak mengenali kalau perempuan itu Bu Lurah, melajukan mobil begitu saja sambil mengomel.
Masih seperti orang linglung, Bu Lurah mencoba mengingat apa yang terjadi. Perlahan, tetapi pasti, wajah Mbah Putri terbayang jelas di benaknya. Bulu kuduk seketika meremang, bahu bergidik ngeri, lalu segera beranjak dengan langkah-langkah lebar. Masa bodoh dengan sepeda motornya. Biar nanti Parti atau Pak Agung yang mengambil.
Kejadian barusan, membuat Bu Lurah yang tadinya jumawa jadi merasa seperti dapat kopi pahit. Dia begitu percaya kalau mantra yang diberikan oleh dukun kepercayaan Pak Yudi dan Pak Candra pasti ampuh, makanya tadi hendak mencobanya pada Ningsih. Namun nyatanya masih kalah oleh Mbah Putri.
__ADS_1
Perempuan itu tidak tahu kalau jin prewangan yang dikirim untuk membantunya marah karena dia hanya berniat coba-coba. Tidak sungguh-sungguh percaya.
[Bersambung]