WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Merebus Tak Empuk


__ADS_3

..."Tidak berubah pendirian; tetap teguh hati"...


Sembari melangkah, Ningsih menatap nanar hanya pada Bu Lurah. Berdiri berhadapan begitu dekat rasanya ingin sekali mencakar wajah perempuan berbibir tebal dipoles merah segar itu.


"Kalau tidak mendengarnya sendiri," suara tegas penuh penekanan meluncur pelan dan tenang dari antara gigi yang dikatup rapat, "aku tidak akan percaya, Bu Lurah benar-benar tega melakukan ini."


Merasa terintimidasi, alih-alih takut atau paling tidak gentar, emosi Bu Lurah malah menggelegak. "Bukan urusanmu! Tau apa kamu tentang memajukan desa? Mau maju, ya, harus ada yang dikorbankan!"


"Huh?!" Mendengkus sarkas, bibir tersenyum miring, tatapan merendahkan, wajah Ningsih berkali-kali lipat lebih menyebalkan dari biasa yang Bu Lurah pernah lihat. "Kenapa aku tidak yakin, ya? Memajukan desa, tapi tidak mau mendengarkan pendapat warga, mengabaikan nasehat para tetua."


Tangan dilipat di depan dada, dagu Ningsih pun terangkat angkuh. Bu Lurah yang sudah kalah tinggi semakin terlihat pendek saja.


Geram luar biasa, Bu Lurah malah kehilangan kata-kata. Mulut terkatup rapat, rahangnya mengetat, jemari tangan pun mengepal dan *******-*****---membayangkan meremas bibir Ningsih yang menurutnya terlalu lancang.


"Itu orangnya, Mbah."


"Aku tahu."


Suara bisik-bisik antara Pak Yudi dan Mbah Taryo mengalihkan perhatian Ningsih. Lagi-lagi refleks, Pak Yudi dan Pak Candra bergeser, berdiri di belakang Mbah Taryo.


Sejenak Mbah Taryo merasakan tatapan Ningsih mampu menggetarkan jiwanya. Tatapan yang menunjukkan tekat sangat kuat. Sekilas, Mbah Taryo bisa merasakan gadis itu tipe pribadi yang dalam ungkapan disebut merebus tak empuk.


Tangguh.


"Panjenengan sudah sepuh, pasti paham apa itu warisan leluhur, Mbah."


Merasa disentil, Mbah Taryo tidak lantas marah. Seperti biasa, dia mengelus jenggotnya, menunjukkan ketenangan luar biasa. "Kalau bisa lebih dimanfaatkan untuk kemajuan desa, warisan leluhur pun tidak apa dibongkar. Mbah Danyang pasti mengerti, kok, Ndok."


"Tapi Ningsih tidak akan pernah setuju. Sampai kapan pun tidak!"


Tatapan Mbah Taryo yang selalu bisa membuat para muridnya mengkerut, sama sekali tidak ada gunanya buat Ningsih. Alih-alih minder, gadis itu malah balas menatap.


"Jangan kurang ajar kamu, ya!" Bu Lurah menarik tangan Ningsih saat gadis itu hendak mendekati Mbah Taryo. Keduanya kini kembali saling berhadapan dan mata sama-sama menatap tajam.


Pada dasarnya, Ningsih dan Bu Lurah memiliki sifat yang sama-sama keras dan penuh tekad, tetapi sayangnya Bu Lurah menyimpan rasa tamak dan egois, sedangkan Ningsih hatinya sangat tulus, melakukan sesuatu benar-benar karena mencintai, tidak ada niat terselubung.


"Bu Lurah yang sudah kurang ajar pada Mbah Putri dan Mbah Kakong. Seenaknya saja mau menyewakan lahan ini pada orang."

__ADS_1


"Sebagai lurah aku berhak memutuskan---"


"Seharusnya diputuskan setelah dirembukkan dan tercapai kata sepakat. Tidak seenaknya sendiri mengambil keputusan, malah sudah hitam di atas putih dan uang muka ...." Sebenarnya Ningsih hendak menyinggung tentang handphone baru Bu Lurah, tetapi urung karena tidak mau jadi fitnah bila ternyata dia salah.


"Sok tau! Sudah, minggir kamu!" Bu Lurah hendak menarik tangan Ningsih, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, gadis itu mendorong Bu Lurah lalu menghampiri Mbah Taryo.


Pak Yudi dan Pak Candra kembali refleks, melangkah mundur menjauhi Mbah Taryo. Orang-orang yang tak lain adalah murid-murid dukun tua itu hanya bisa menonton. Hati geram karena Ningsih sangat berani dan kurang ajar pada guru mereka.


"Mohon pengertian panjenengan, Mbah---"


Tiba-tiba Ningsih terpaku, mulutnya yang belum selesai berbicara tetap terbuka, matanya menatap kosong tidak berkedip.


"Tidak usah digubris. Ayo, mulai!" Hanya dengan sekali perintah, anak buah Mbah Taryo langsung bergerak sangat cekatan.


Waktu itu, luapan amarah Mbah Jumini tidak terbendung karena dipengaruhi oleh tanda pelindung yang telah dipasang oleh Nyai Bibet. Benturan keduanya telah menciptakan energi negatif dalam tubuh Ningsih, membuatnya pingsan cukup lama karena jiwanya sempat terjebak di dimensi mimpi. Dan Jati'lah yang sudah membebaskannya dengan cara melepaskan tanda pelindung. Itu pun atas perintah Nyai Bibet sendiri.


Tanpa pelindung, Mbah Taryo dengan mudah bisa menghipnotis Ningsih. Akan tetapi, di sudut terdalam jiwanya, gadis itu saat ini sedang berjuang untuk lepas. Gelap, sangat pekat, untuk melihat tangan sendiri saja tidak bisa. Aroma kemenyan pun sangat menyengat. Takut berpindah tempat, Ningsih hanya meraba-raba udara.


"Tenangkan hatimu, Ndok." Tiba-tiba ada sura perempuan berbicara.


"Siapa?"


"Baik, Nyai."


"Panggil aku Mbah Jumini."


"Baik, Mbah Jumini. Terima kasih atas petunjuknya."


"Berhati-hatilah, Ndok. Orang tua itu bukan orang sembarangan."


"Sekali lagi terima kasih, Mbah."


Kembali sunyi. Ningsih segera memejamkan mata, mengatur napas, lalu mulai memusatkan pikiran. Matanya yang terpejam seakan memandang pada satu titik di antara alis.


Detik demi detik berlalu, pendengaran Ningsih lama kelamaan serasa pekak. Cahaya itu terlihat di ujung sana---mulai dari titik sangat kecil membesar sedikit demi sedikit---tanpa ragu gadis itu melangkahkan kaki. Setapak demi setapak, kemudian berlari sangat cepat seperti batu yang dilontarkan ketapel dan ....


Tuk tak tuk tak

__ADS_1


Brak brak brak


Tubuh Ningsih menjengit, suara-suara benturan itu langsung menarik perhatiannya. Napas masih ngos-ngosan, matanya menatap nanar tidak percaya. Dinding-dinding sanggar sudah dibongkar bagian depan dan separuh bagian kiri. Kelima orang itu bekerja sangat cekatan, sedangkan yang lain hanya berdiri menonton dari bawah pohon mangga samping kanan sanggar.


"Berhentiii!"


Seketika hening. Jangankan yang lain, Mbah Taryo saja wajahnya menegang saat melihat Ningsih bisa membebaskan diri dari pengaruh hipnotisnya.


Sosok tidak kasatmata yang menyaksikan kejadian itu tersenyum bangga. "Bagus, Cah Ayu," gumam Nyai Bibet.


"Loh, kok, bisa ...." Pak Candra yang tadinya berdiri di samping Bu Lurah, bergegas pindah ke dekat Mbah Taryo.


Tidak gentar sedikit pun, Ningsih merampas linggis dari tangan salah seorang pria lalu bergegas menghampiri orang-orang yang berdiri di bawah pohon mangga. Murid-murid Mbah Taryo hanya bisa terbengong saking terkejutnya. Bu Lurah pucat, Pak Yudi dan Pak Candra mundur sampai menabrak pohon. Hanya Mbah Taryo yang tetap tenang.


Ketika Ningsih mengangkat linggis, Bu Lurah menjerit sambil menutup kepala, begitu pun Pak Yudi dan Pak Candra, padahal Ningsih hanya ingin melempar linggis itu sembarangan. Dia masih sangat waras, tidak akan berbuat kelewat batas.


"Nekat. Awas saja, ya. Lihat apa yang akan terjadi!" Napas Ningsih ngos-ngosan saking marahnya. Jari telunjuk tangan kanan menuding tepat di depan hidung Bu Lurah yang menatap syok---masih terkejut karena linggis tadi.


"Dan panjenengan, Mbah,"---jarinya beralih pada Mbah Taryo, tetapi tidak menuding wajah. Ningsih masih memandang dia sebagai orang sepuh yang harus dihormati---"gelap, pekat, suatu saat bakal terkurung di sana, tidak bisa keluar." Berbicara penuh penekanan, urat leher dan urat pelipis Ningsih sampai menonjol.


Mbah Taryo menatap tajam, bermaksud kembali melancarkan hipnotis, tetapi gagal. Seperti membentur dinding baja, kekuatan yang kembali cukup menyakiti mata, tetapi pria tua itu mampu menyembunyikan di balik sikap tenangnya.


Tidak ada prewangan atau kekuatan gaib yang membantu Ningsih, dia tanpa sadar mampu melawan Mbah Taryo yang hanya mengeluarkan sedikit kemampuan, murni karena tekad dan keteguhan hatinya yang juga penuh ketulusan.


Gadis yang luar biasa, Mbah Taryo memuji Ningsih dalam hati.


"Aduh, Gusti. Ndok!" Berlari tergopoh-gopoh, Bu Rusmini datang langsung menghampiri Ningsih. Dia datang bermaksud menyuruh Ningsih pulang, makan. Ningsih tadi pamit ke sanggar sebentar, tetapi tidak pulang-pulang, makanya disusul.


"Panggil bapak ke sini, Buk. Kalau perlu bawa warga juga. Dia sudah kelewatan, Buk! Lihat sanggarnya sudah dibongkar," suara Ningsih bergetar dan serak, menahan tangis. Dia tidak ingin menangis, pantang baginya terlihat lemah di hadapan orang-orang itu.


"Sudah, Ndok. Biar bapakmu yang urus. Dirembukkan sama yang lain. Sebaiknya kita pulang."


"Tapi, Buk ..."


Bu Rusmini mengelus lengan putrinya. "Sudah seperti ini, memangnya kamu bisa apa? Marah-marah juga percuma." Ketika Ningsih masih bergeming, Bu Rusmini sedikit menyentak tangannya. "Ayo pulang, Ndok."


Dengan berat hati, akhirnya Ningsih menurut. Melangkah di samping sang ibu, air mata yang sudah ditahan dari tadi pun akhirnya menetes juga.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2