
Bu marni sampai menitikan air mata bahagia, karena perusahaan yang didirikan suaminya bisa berjalan lagi.
" ibu bahagia, perusahaan ayah mu bisa berkembang." kata bu marni
" kenapa ibu enggak bicara sama aku," kata evan
" ibu enggak mau membebankan kamu nak." kata bu marni
" lain kali ibu jangan begitu, bilang ke aku kalau ada apa." kata evan
" iya nak, kedepannya ibu pasti bilang." kata bu marni
" ibu jangan terlalu cape memikirkan usaha, serahkan aja ke profesional yang dipercaya, ibu hanya mengawasi dan mengontrol mereka saja. Kalau ibu masih perlu ada aktivitas kan bisa di rumah perawatan kecantikan di jadikan kantor ibu, ibu tinggal manggil mereka aja kesana." kata evan
" iya nak, ibu udah memikirkan itu, dengan kejadian adik mu kemarin, ibu harus banyak waktu untuk kalian." kata bu marni
" segala kebutuhan insyaAllah aku yang akan penuhi, ibu bilang aja, aku dan nazwa sudah menabung untuk keluarga kecil aku untuk kedepannya, jadi ibu jangan merasa terbebani, ibu dan adik adik adalah tanggung jawab aku " kata evan. Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga.
" sayang besok ingatkan aku ya untuk memindah bukukan dana ke tekening perusahaan DP." kata evan
" iya kak, besok aku ingatkan, jadi dana yang mau dipindah bukukan itu dari mana supaya aku siapkan juga buku tabungannya." kata nazwa
" dari rekening aku aja, tabungan buat anak anak kita nanti jangan di ganggu." kata evan, nazwa hanya mengangguk. Evan menelepon dr. Helmi menanyakan kondisi pak tanjung, dr. Helmi memberitahu bahwa pak tanjung kondisinya sudah pulih, tinggal pemulihan untuk menyesuaikan kondisi karena cukup lama berbaring. Selesai mengobrol mereka pergi istirahat, evan dan nazwa masuk ke kamarnya, evan duduk di kasur diikuti nazwa yang menyandarkan tubuhnya di tubuh evan, evan memeluk nazwa, mereka bermesraan. Lalu mereka tidur.
Pagi hari selesai sholat evan pamitan pergi olahraga karena sudah lama dia tidak berolahraga. Evan pergi ke lapangan yang biasa. setelah berlari 7 putaran evan pun beristirahat di warung.
" kemana aja nih nak, baru kelihatan lagi." kata pemilik warung
__ADS_1
" ada bu, tapi akhir akhir ini saya jarang olahraga." jawab evan
" kok pacarnya enggak di ajak olahraga." kata pemilik warung
" di rumah bu, sekarang bukan pacar lagi bu tapi udah jadi isteri saya." jawab evan
" ooooh.. Kok enggak undang undang sih." kata pemilik warung
" kita baru melaksanakan akad nikah aja bu, orang tua kita pengen cepat cepat karena kita sudah jalan bareng takut menjadi fitnah aja. mudah mudahan akhir tahun ini kita resepsinya, insyaAllah saya undang." kata evan
" ibu yakin kamu anak baik, jadi enggak mungkin kaluan melakukan hal hal yang tidak baik." kata pemilik warung
" kita enggak mau ada omongan yang enggak enak aja, walaupun itu pasti masih ada aja yang ngomong," kata evan
" iya nak itu sudah biasa, kita berbuat baik aja pasti ada yang ngomongin, terus memangnya kamu sudah kerja." kata pemilik warung
" terus bukannya kamu kuliah." kata pemilik warung
" iya bu, saya kerja kalau ada panggilan aja, baru datang ke rumah sakit." kata evan, setelah itu evan membayar minuman lalu pamitan pulang. Sampai di rumah evan bersih bersih, lalu pergi ke ruang makan bersama nazwa.
" sayang tadi ditanyain ibu pemilik warung, katanya kamu kemana aja kok enggak ikut." kata evan
" terus kakak bilang apa." jawab nazwa
" aku bilang kamu lagi istirahat di rumah, oh iya bu kemarin aku diajak makan sama bu sofie dan pak handoko, mereka mau kasih aku saham rumah sakit C 10%, aku tolak tapi mereka paksa aku untuk terimanya." kata evan
" pastinya nilai pasar rumah sakit itu besar nak, kita jadinya enggak enak sama mereka." kata bu marni
__ADS_1
" makanya itu aku tolak, tapi mereka maksa, mereka bilang hitung hitung untuk investasi masa depan dan itu pun diberikan karena aku sudah mengangkat nama rumah sakit, apalagi kematin yang aku obati itu senior dibidang kesehatan, pak akmal aja hormat sama beliau. sama kalau jadi tanah untuk perumahan itu jadi, aku minta 1000 meter untuk dibangun panti asuhan bu, nanti jangan di satukan gerbangnya dengan perumahan supaya tidak mengganggu penghuni perumahan." kata evan
" ibu setuju nak, iya mudah mudahan pembelian lahan itu lancar." kata bu marni
" aamiin." jawab mereka.
" ibu juga udah menyerahkan tanggungjawab perusahaan DP dan DFG, ibu juga mulai hari ini akan kerja di kantor kalian di Rumah perawatan kecantikan E&N,." kata bu marni
" ibu juga kalau bisa mengajukan pensiun dini saja, supaya bisa kontrol jaka dan enggak cape, kalau memang ibu juga perlu aktivitas bisa kelola rumah kecantikan. Aku dan nazwa kan masih harus kuliah jadi enggak akan ke pegang." kata evan kepada bu citra
" iya nak, ibu juga kefikiran kesana setelah kejadian kemarin itu, lagian sekarang nazwa sudah ada kamu yang tanggungjawab." kata bu citra
" iya bu, insyaAllah aku bisa membiayai keluarga ini, aku mohon doanya aja." kata evan
" itu pasti nak, enggak kalian minta pun ibu selalu berdoa untuk kalian." kata bu citra
" memang bapak juga sudah bicarakan hal ini sama ibu kalian, buat apa kita ngejar ngejar dunia ini, kalau anak anak kita enggak ke urus, bapak percaya kamu bisa jadi suami yang bertanggungjawab." kata pak hadi
" insyaAllah pak akan aku lakukan apapun itu untuk kebahagiaan keluarga ini." kata evan
" ibu bersyukur mendapat mantu yang baik." kata bu citra
" mohon bimbingan dan arahannya saja pak, bu, maaf juga kalau selama ini aku buat bapak dan itu kecewa, kalau ada yang tidak suka atas sikap dan prilaku aku mohon sampaikan aja." kata evan
" kami malahan bangga memiliki kamu nak, banyak orang yang sayang sama kamu itu tandanya kamu anak yang baik." kata pak hadi. Selesai sarapan pak hadi dan bu citra pamitan pergi kerja, disusul ella pergi kesekolah, evan pun memberikan uang jajan kepada ella, karena yasmin ingin sekolah maka jaka dan yasmin akan diantar bu marni.
Jam setengah 8 evan dan nazwa pergi kuliah sebelumnya menjemput nita dan dina, lalu pergi ke bank terlebih dahulu untuk mentransfer uang pembelian lahan. Setelah itu baru pergi ke kampus. Evan memberi kabar ke bu marni bahwa uang sudah di transfer. Evan mengantar dina ke kampusnya lalu mengantar nazwa dan nita, baru setelah itu dia pergi ke kampusnya. Sesampainya di kampus evan mendapat kabar bahwa semua mahasiswa kedokteran berkumpul di Auditorium karena ada kunjungan dari dinas kesehatan dan dari pihak rumahsakit.
__ADS_1