
..."Khabarnya telah kedengaran tetapi bukti belum ada"...
"Kalau capek, sebaiknya istirahat, Ndok. Ijin tidak ngajar sehari saja, kan, tidak apa-apa."
Bu Rusmini meletakkan sepiring nasi goreng di depan Ningsih yang sudah menunggu, lalu duduk di sebelahnya. Melihat wajah putrinya pucat dan lesu, Bu Rusmini jadi khawatir. Apalagi semalam Ningsih ditemukan pingsan di sanggar.
Awalnya, baik Pak Wahyu maupun Bu Rusmini tidak khawatir walaupun sudah setengah tujuh, tetapi Ningsih belum pulang juga. Soalnya Ningsih sudah biasa seperti itu, keasyikan di sanggar bisa lupa waktu.
Namun, ada kejadian aneh yang dialami Pak Wahyu. Saat masih di kamar mandi, ada suara perempuan yang menyuruhnya segera menjemput Ningsih. Tadinya, dia pikir itu suara Bu Rusmini, tetapi setelah yang bersangkutan ditanya dan menjawab tidak, Pak Wahyu langsung tahu pasti ada yang tidak beres. Dugaannya itu terbukti saat pergi ke sanggar dan mendapati Ningsih pingsan.
"Ningsih tidak apa-apa, Buk. Semalam tidur nyenyak, kok. Oh iya, bapak ke mana? Masih pagi sudah tidak di rumah."
"Pergi ke sanggar, nabur kembang setaman."
Sendok berisi nasi yang sudah hampir masuk ke mulut akhinya diletakkan lagi ke piring. Sanggar disebut, Ningsih langsung teringat peristiwa kemarin dengan Bu Lurah, selera makannya pun hilang seketika.
"Walah, Ndok. Jangan gitu, to." Bu Rusmini mengambil sendok yang barusan Ningsih letakkan lalu menyuapinya. Mau tidak mau gadis itu membuka mulut. "Kemarin siang dan malam sudah tidak makan, sekarang tidak makan lagi ... mau sakit apa gimana, to, kamu ini?" Bu Rusmini sedikit mengomel.
"Percaya tidak percaya, nyatanya makhluk halus itu ada, lho, Pak Wahyu." Suara dari beranda mengundang perhatian Bu Rusmini dan Ningsih.
Dahi Ningsih mengernyit, bertanya-tanya siapa yang sedang berbicara dengan bapaknya?
"Wah, Pak Jati pagi-pagi kok, sudah jalan-jalan ...." Bu Rusmini melongok ke beranda, Pak Wahyu datang bersama calon Mantri Hutan yang baru.
"Kulo nuwun." Jati mengangguk pada Bu Rusmini dan Ningsih. Senyum lebar pria muda itu---entah kenapa--- rasanya mampu membuat hati Ningsih teduh, tentram. Sampai-sampai tanpa sadar Ningsih juga ikut tersenyum lebar.
Manisnya ....
Mata Jati terus menatap Ningsih. Lekukan yang menghiasi kedua pipi gadis itu mampu membuat wajah oval yang tadinya terlihat hanya manis, kini semakin sedap dipandang dan terasa istimewa.
Dugh
"Adu du du ...." Hanya terbentur kursi, sebenarnya tidak sakit, efek terkejutnya yang membuat Jati spontan mengaduh.
"Hati-hati, to, Pak Jati!" Bu Rusmini segera berdiri untuk membantu membetulkan kursi yang sedikit miring.
Ningsih sempat tertawa geli, tetapi tawa itu langsung pudar saat menyadari tatapan Jati ternyata lurus melewati atas kepalanya, bahkan anggukan samar tak luput dari perhatian gadis itu.
"Silahkan duduk, Pak Jati."
Bahu pria muda itu menjengit kecil saat Pak Wahyu menyentuh lengannya. Tersenyum canggung untuk menutupi salah tingkah, Jati perlahan duduk, matanya sesekali masih mengerling ke arah Ningsih.
Pak Wahyu dan Bu Rusmini yang melihat Jati dari sudut pandang berbeda dari Ningsih, tidak menyadari apa yang disadari putri mereka.
"Pak Jati, mau minum teh atau kopi? Biar ibu buatkan."
"Terima kasih, Bu Rus. Kopi saja."
Perhatiannya hanya teralihkan sebentar, tetapi saat kembali melihat ke arah sana, perempuan berkebaya kuning gading yang tadi berdiri di belakang Ningsih sudah tidak ada lagi.
Perempuan sangat cantik, wajahnya mirip Ningsih, tetapi kulitnya kuning langsat, tidak seperti Ningsih yang sawo matang.
__ADS_1
Jati tahu perempuan itu bukan manusia. Tidak ada aura jahat, tetapi sepertinya sedang merasa tidak senang. Siapa perempuan itu?
Diam termangu, sama-sama memikirkan hal yang terasa sangat janggal, tanpa sadar Ningsih dan jati terpaku saling memandang.
Melihat hal itu, Pak Wahyu dan Bu Rusmini pun saling bertukar pandang lalu sama-sama tersenyum. Mereka pikir, kedua anak muda itu sedang dilanda getar-getar asmara pada pandangan kedua.
Sejak kemarin, tepatnya setelah bertemu Ningsih, Jati memang kerap bertanya-tanya tentang Ningsih. Tadi pun saat tanpa sengaja bertemu Pak Wahyu di jalan pasar, yang ditanyakan, ya, Ningsih, makanya Pak Wahyu mengajaknya mampir. Sambil jalan bercerita tentang makhluk dunia lain.
Omong punya omong, sebenarnya Jati Siman ini memiliki kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus. Tidak heran kalau dia bisa melihat keberadaan Mbah Putri yang memang sebenarnya selalu ada di sekitar Ningsih.
Selepas sarapan, Jati Siman berpamitan, hari ini dia harus kembali ke Saradan, tempat tugasnya yang lama. Dia datang ke Desa Pantungan hanya untuk melihat-lihat tempat dinas baru yang akan mulai ditempatinya bulan depan.
Hari ini Desa Pantungan terus-menerus dilanda hujan. Tadi pagi saat jam pasar masih berlangsung, hujan reda, tetapi tak lama setelah pasar tutup hujan turun sangat deras untuk kira-kira selama satu jam. Setelah itu, berhenti lagi, kemudian turun lagi. Terus seperti itu sampai jalanan becek tidak karuan. Bahkan pasir yang digunakan untuk menimbun jalan yang sangat berlumpur pun terkikis, ikut terbawa arus air.
Di antara orang-orang yang enggan bepergian dalam cuaca tidak kondusif seperti ini, ternyata masih ada seorang perempuan yang nekat.
Saat hujan reda, sudah menjelang sore, Bu Lurah bergegas berangkat entah ke mana. Dari desa ke jalan raya naik motor, kemudian motor dititpkan di tempat penitipan. Setelah itu, naik bus.
Saat kembali, Bu Lurah harus memutar melewati jalan desa tetangga, yang walaupun lebih becek, tetapi paling tidak melewati perumahan dan ada penerangan, dibandingkan lewat jalan persawahan becek sepanjang dua setengah kilometer tanpa penerangan sedikit pun.
Karena memutar, sudah tentu jauh lebih lama. Memasuki gerbang desa sudah pukul tujuh malam lewatÂ
Saat melewati area punden dan sanggar yang sepi berpenerangan temaram, orang-orang biasanya membunyikan klakson atau mengucap salam, tetapi Bu Lurah yang tidak percaya begituan, tidak melakukannya.
Terus melaju dengan kecepatan sedang tanpa ada pikiran macam-macam. Tidak disangka-sangka, tepat di jalan depan punden tiba-tiba mesin motornya mati.
Waduh! Motor mogok dan gerimis mulai turun. Gimana ini?
Bu Lurah buru-buru me-stater ulang motornya. Sekali, dua kali, tiga kali ... hanya suara menderu sesaat yang dihasilkan.
Turun dari motor lalu berteduh di bawah pohon damar, matanya melihat ke sekeliling, barulah dia benar-benar sadar sedang berada di mana sekarang.
Suasana jadi terasa hening mencekam. Dalam temaram cahaya keemasan, punden dan sanggar yang dikelilingi area perkebunan dan pohon bambu terlihat menyeramkan.
Seperti ada suara-suara berbisik dalam gemeresik air gerimis yang semakin lama manjadi deras. Pohon-pohon bergoyang tersapu angin terlihat bagai makhluk-makhluk aneh sedang menari.
Bu Lurah tidak percaya takhayul, tetapi bulu kuduknya tidak bisa dicegah untuk bereaksi, tengkuknya meremang, kepala rasanya mengembang.
Perasaan jadi tidak enak, buru-buru dia naik ke motor dan mencoba untuk menghidupkan mesin. Berkali-kali mencoba, tetapi tidak ada hasil.
Angin berembus kencang. Rasa dingin yang tidak wajar menggit kulit, rasa-rasanya menusuk hingga ke tulang.
Di antara suara menderu, terdengar samar-samar alunan gamelan mengiringi suara perempuan sedang menembang.
Adat lan budoyo ojo dilanggar amargo tujuan olo. (Adat dan budaya jangan dilanggar karena tujuan tidak baik)
Eling ... elingo marang kang Panguoso. Dunyo iku mong panggonan agawe mampir ngombe. (Ingat ... ingat pada Sang Penguasa. Dunia itu hanya tempat untuk mampir minum)
Bu Lurah tidak ambil pusing pada suara-suara itu. Dia beranggapan itu pasti suara dari jauh yang terbawa angin.
Karena mesin motor tidak juga hidup, Bu Lurah terpaksa menuntun sepeda motornya sampai di rumah. Jarak lumayan jauh, memutari pasar lalu berjalan lurus di jalanan berlumpur kurang lebih lima ratus meter, kemudian masuk gang menanjak sekitar seratus meter.
__ADS_1
Mendengar suara berisik saat Bu Lurah membuka standard motor, Pak Agung yang memang sedang menunggu kedatangan sang istri, bergegas keluar.
"Ya ampun, Sri, kok, baru pulang? Tidak ada suara mesin motor juga."
"Besok itu motor harus diservis!" Tidak begitu menghiraukan Pak Agung yang terlihat cemas, Bu Lurah langsung melewatinya.
Seluruh tubuh basah kuyup, ingin segera mandi dan ganti baju kering. Perut juga sudah keroncongan dari tadi.
Karena kalau malam begini Parti pulang ke rumahnya sendiri, jadilah Pak Agung yang repot melayani Bu Lurah.
Setelah makan sambil mengomel karena motornya tiba-tiba mogok dan menyuruh Pak Agung membawanya ke bengkel besok, Bu Lurah pergi ke ruang tengah, duduk di sofa sambil melihat-lihat tumpukan kertas dalam map.
Sudah hafal tabiat istrinya, Pak Agung tidak mau mengganggu, lebih memilih masuk kamar dan beristirahat. Kok, ya, kebetulan sekali motor rusak pas besok hari Minggu, mengganggu waktu bersantai saja.
Gerimis masih terus turun, Bu Lurah juga masih terus asyik dengan kertas-kertas itu, entah dokumen apa.
Tok tok tok
Bahu menjengit, matanya langsung mengerling jam dinding. Siapa yang bertamu jam sebelas malam begini?
Suasana yang tadinya biasa saja, tiba-tiba terasa mencekam saat suara ketukan itu terdengar lagi.
"Siapa?" Suara Bu Lurah cukup kencang, soalnya jarak antara ruang tengah dan pintu utama juga cukup jauh, mana ada suara berisik gerimis pula. Kalau tidak berteriak, takutnya tidak kedengaran.
Hening. Sangat hening dan mencekam, suara ketukan yang terus terdengar memaksa Bu Lurah bangkit dari duduk.
"Siapa?!" Sudah berdiri di depan pintu, tetapi suara ketukan di pintu tidak juga berhenti. "Siapa?!" Bu Lurah meninggikan suaranya.
"Aku."
"Astaga naga! Demi Allah!"
Bu Lurah melonjak, buru-buru menjauh, langkahnya sempoyongan hingga menabrak tiang.
Perempuan cantik berkebaya kuning gading itu berdiri tepat di depan pintu, tadi tiba-tiba muncul di samping Bu Lurah begitu saja, makanya Bu Lurah terkejut luar biasa.
"Kamu siapa?!"
Perempuan itu tersenyum miring. "Aku Nyai Bibet. Ati-ati nek tumindak, Sri." (Hati-hati dalam bertindak)
"Ada apa, to, Sri ...." Sapaan Pak Agung membuat Bu Lurah sekali lagi terkejut bukan kepalang.
Sebentar saja perhatiannya teralihkan, sosok perempuan itu sudah menghilang.
Nyai Bibet, semua warga pernah mendengar namanya juga memujanya, tetapi ibarat pepatah, ombaknya kedengaran, pasirnya tidak kelihatan.
Dipuja dan diagungkan namanya, tetapi apa yang sesungguhnya telah Nyai Bibet perbuat untuk desa, selain sebagai Danyang.
Tidak mengindahkan suaminya, Bu Lurah bergegas kembali ke ruang tengah untuk merapikan kertas-kertas, kemudian masuk ke kamar.
Pak Agung pun tidak bertanya-tanya lagi. Sudah terbiasa menghadapi tabiat istrinya yang terkadang sulit dipahami, terlebih sejak menjabat sebagai lurah.
__ADS_1
Sriwedari yang dikenalnya saat kuliah dulu dan saat dia masih hanya sebagai guru, sudah berbeda dengan Sriwedari yang sekarang Lurah Desa Pantungan.
[Bersambung]